Dinikahi calon kakak ipar

Dinikahi calon kakak ipar
Sebulan sudah berlalu, Rhea ...


__ADS_3

Cakra terdiam dikamar yang tidak memiliki pencahayaan. Di kegelapan itu, Cakra tidak bisa menghentikan air matanya yang terus meluruh saat dirinya menatap foto Rheana.


Rheana, wanita yang merupakan istrinya, yang telah ia sakiti berulang kali dan berakhir pergi meninggalkan nya.


Sejak Rheana pergi, Cakra hanya diam di rumah. Ia tidak peduli pada apapun di sekitarnya, contohnya perusahaan.


Untuk sementara perusahaan diurus oleh papa Wawan yang mengerti kondisi anaknya.


Hari ini tepat satu bulan Rheana pergi, dan pihak Cakra pun belum menemukan keberadaan Rheana, begitulah pihak keluarga Chandrama.


Selama satu bulan juga Cakra mengurung diri sambil menatap foto Rheana. Bahkan makan pun tidak Cakra pikirkan.


"Sayang, aku kangen kamu. Kapan kamu akan pulang, aku rindu masakan kamu, aku rindu pelukan kamu, aku rindu segalanya yang ada di kamu." Ucap Cakra dengan suara bergetar.


"Sebulan sudah berlalu, Rhea …" lirih Cakra menangis pilu.


Jika Cakra diberikan kesempatan sekali saja bertemu dengan Rheana, maka ia akan bersujud di kaki istrinya jika di perlukan. Cakra akan meminta maaf dan memohon agar bisa diterima kembali oleh Rheana.


Namun kesempatan sepertinya sudah tertutup, Rheana pergi dan sulit ditemukan, bahkan oleh anak buah Cakra yang jumlahnya tidak sedikit.


"Rheana, aku sangat mencintai kamu." Ucap Cakra seraya memeluk ponsel yang sedang menampilkan foto Rheana.


Cakra menutup matanya, ia berbaring di ranjang dengan kondisi yang benar-benar memprihatinkan.


Tubuhnya semakin kurus, padahal baru sebulan ditinggal oleh Rheana. Cakra sendiri tidak ingat kapan terakhir kali ia makan dengan teratur.


"Sayang, aku mau makan masakan kamu." Lirih Cakra seraya memandangi foto Rheana dengan bulir air mata yang tidak kunjung berhenti.


Tiba-tiba pintu kamar Cakra terbuka, disusul oleh lampu yang menyala. Cakra harus menyipitkan matanya karena cahaya yang terang tiba-tiba.


"Cakra." Panggil Mama Mila dengan lembut.

__ADS_1


Wanita yang merupakan ibunya Cakra itu mendekati putranya yang sama sekali tidak menyahut.


Mama Mila duduk disebelah Cakra sehingga ia bisa melihat bahwa Cakra sekarang sedang memandangi foto istrinya.


"Nak." Mama Mila mengusap kepalanya dengan lembut.


"Makan dulu yuk, Mama bawa makanan untuk kamu. Kamu bisa sakit jika seperti ini," ajak Mama Mila sedih.


Cakra menggeleng. "Aku ingin makan masakan Rheana, Ma." Balas Cakra lirih.


Mama Mila mengatupkan bibirnya, ia menahan suara tangisannya mendengar jawaban dari putranya.


Ia juga sama sedihnya karena belum menemukan Rheana, tapi putranya bisa sakit jika terus dibiarkan seperti ini.


"Kalo kamu nggak makan, gimana caranya kamu bisa cari Rheana, Sayang." Ujar Mama Mila mencoba merayu.


Cakra terdiam, ia semakin dalam menatap foto Rheana yang sedang tersenyum lebar itu.


"Ma, Rheana sangat cantik. Kecantikannya bertambah saat dia tersenyum seperti ini 'kan?" tanya Cakra mengalihkan pembicaraan.


"Rheana pasti sedih jika tau kondisi kamu seperti ini, Cakra." Ucap Mama Mila.


Cakra bangkit, ia menatap sang Mama dengan berkaca-kaca.


"Benar begitu, Ma? Apa itu artinya Rheana masih mencintaiku?" tanya Cakra dengan riang.


"Dia sangat mencintaimu, Nak. Mama bisa melihat banyak cinta di matanya." Jawab Mama Mila tidak berbohong.


Cakra pun akhirnya mau makan setelah dirayu bahwa Rheana akan marah jika dirinya tidak makan. Dan setau Cakra, istrinya itu akan menjadi yang paling cerewet apabila ia telat makan.


Ahh, Cakra merindukan itu semua. Ia rindu ocehan istrinya di pagi, siang dan malam hari.

__ADS_1


Sementara itu ditempat Rheana, negara yang sudah berbeda dengan negara asalnya.


Waktu menunjukkan pukul 2 siang. Waktu Indonesia 6 jam lebih awal dibandingkan Italia, sehingga saat Cakra di Indonesia sedang makan malam, maka Rheana sedang duduk di teras rumahnya sambil memakan camilan.


"Dokter bilang kamu sehat, bunda nggak sabar kamu lahir, Sayang." Ucap Rheana seraya mengusap perutnya yang sudah berusia 10 Minggu.


Sehari-hari Rheana hanya seperti ini. Sudah terhitung satu bulan Rheana berada di negara yang mendapat julukan sepatu boots itu.


Setiap hari Rheana diam di rumah besar milik kakek dan neneknya. Ia selalu menolak jika sang nenek mengajaknya jalan-jalan.


Rheana selalu beralasan bahwa dirinya merasa lelah, padahal ia masih kalut dalam kesedihannya. Kesedihan dimana ia meninggalkan suaminya.


Rheana tidak tau bagaimana keadaan suaminya sekarang, dari kejauhan seperti ini, Rheana hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk suaminya.


"Papa Cakra, Adek harap papa baik-baik disana. Walaupun Mama nggak sama papa, tapi kami sayang papa." Celetuk Rheana menirukan suara anak kecil seakan anaknya lah yang sedang bicara.


Rheana harap Cakra bisa sedikit merasakan ucapan anaknya yang ia buat-buat barusan.


"Aduh, makin panas ya, Dek? Masuk yuk, perut bunda tiba-tiba sakit." Ajak Rheana seraya bangkit dari duduknya.


Rheana pergi ke kamarnya. Rumah tampak sepi karena oma dan opanya sedang pergi ke taman belakang rumah. Aneh memang, siang hari yang panas dua insan itu malah memilih berada di taman.


Rheana sampai di kamarnya, ia tiba-tiba merasa haus dan ingin minum. Namun saat tangannya mengambil gelas, ia malah menjatuhkannya hingga pecah.


"Kak Cakra." Ucap Rheana tanpa sadar.


Rheana bingung mengapa mulutnya malah memanggil nama suaminya.


Sementara di Indonesia, Mama Mila tampak menangis saat Cakra tiba-tiba jatuh tidak sadarkan diri.


"Cakra, hiks … Nak!!!" Mama Mila menangis histeris seraya menepuk pipi putranya.

__ADS_1


KASIAN CAKRA, TAPI DULU DIA KETERLALUAN 😫


Bersambung..............................


__ADS_2