Dinikahi calon kakak ipar

Dinikahi calon kakak ipar
Hari pertunangan


__ADS_3

Dekorasi sederhana, namun mewah itu kini menghiasi rumah kediaman Chandrama. Bukan tanpa alasan rumah itu dihias sedemikan rupa, sebab hari ini akan diadakan acara pertunangan putri sulung keluarga itu.


Velia Putriana Chandrama, putri sulung keluarga Chandrama yang akan melangsungkan pertunangan hari ini dengan pria yang dicintainya, Fikri Aji Wiyasa.


Acara itu berlangsung dengan lancar, para tamu hadirin yang termasuk keluarga tampak sama-sama bahagia setelah pasangan tersebut saling bertukar cincin.


Kini status keduanya adalah pasangan bertunangan, dan pernikahannya akan digelar Minggu depan.


"Aku nggak sabar banget mau nikah, mau ajak kamu pulang." Ucap Fikri seraya menggenggam tangan tunangannya.


Velia tersenyum, ia memegang tangan Fikri yang sedang menggenggam tangannya, lalu menatap wajah pria itu.


"Aku juga sama, Fik. Sebentar lagi kita nikah, dan aku akan jadi milik kamu selamanya. Kita bahagia sama-sama ya," balas Velia lembut.


Fikri mengangguk paham. Hanya 7 hari, ia yakin bisa melewati waktu 7 hari itu dengan penuh kesabaran.


"Samperin oma dan opa aku dulu yuk, jarang-jarang mereka ada di Indonesia." Ajak Velia seraya memegang tangan tunangannya.


Fikri mengangguk, ia mengikuti Velia yang menarik tangannya mendekati Oma Siwi dan Opa Chandra yang tengah asik mengobrol dengan kedua orangtuanya.


"Oma, Opa." Panggil Velia lembut dan sopan.


Yang dipanggil lantas menoleh. Oma Siwi tersenyum, sementara opa Chandra hanya diam dan memasang wajah datarnya.


"Hei kalian, selamat ya! Semoga semuanya lancar sampai hari pernikahan." Ucap Oma Siwi dengan tulus.


"Aku juga berikan doa yang sama." Tambah Opa Chandra ketika sadar bahwa cucu tertua keluarga Chandrama menatapnya.


Velia tersenyum, ia mencium punggung tangan oma dan opanya bergantian.


"Terima kasih sudah berkenan hadir, Oma, Opa." Ucap Velia lembut.


Fikri juga mencium punggung tangan kakek dan nenek calon istrinya dengan sopan.


"Iya, Nak. Tapi kami tidak bisa janji hadir di pernikahan kalian ya, tugas kami masih banyak disana." Ujar Oma Siwi.


"Tidak apa, Oma. Kalian datang hari ini saja sudah membuat kami bahagia," balas Fikri jujur.


Velia dan Fikri pun pamit untuk menemui tamu undangan pertunangan yang lain untuk berterima kasih atas kedatangan mereka malam ini.


Sementara Velia dan Fikri sedang bersalaman dengan para tamu, lain halnya dengan Rheana yang sedang duduk sambil menikmati makanan di tangannya.


"Sayang, mau sesuatu lagi?" tanya Cakra lembut.


Dibalik Rheana yang asik mengunyah, tentu ada Cakra siap mengambil apapun yang istrinya inginkan. Ia bagai pelayan kerajaan yang siap melayani ratunya.


"Nggak, aku kenyang." Jawab Rheana geleng-geleng kepala dengan mulut yang penuh.


Cakra terkekeh, ia duduk di sebelah istrinya yang masih asik mengunyah. Cakra tidak berniat makan apapun, ia sudah kenyang duluan melihat istrinya makan.


"Mas, aku mau minum." Ucap Rheana menunjuk air mineral belasan dekat Cakra.


Cakra segera mengambil dan memberikannya kepada sang istri.


"Pelan-pelan, Sayang. Ini sampai belepotan gini," ujar Cakra lalu menyeka noda makanan di sudut bibir istrinya.

__ADS_1


Rheana tidak membalas, ia sudah sangat kenyang sekarang. Rheana melirik bahunya, jangan sampai ada noda yang mengotori baju cantik itu.


Hari ini Rheana mengenakan dress selutut berwarna biru langit dengan bahan satin dan tidak ketat. Baju itu memang tidak membentuk lekuk tubuhnya, tetapi membuat bagian perutnya terlihat.


Oh iya, Cakra juga memakai baju yang sama dengan istrinya.


Sama bukan berarti Cakra pakai dress juga ya, tetapi pria itu memakai batik dengan warna senda dengan baju yang Rheana kenakan.


Cakra sengaja membeli baju couple seperti itu agar mereka terlihat seperti pasangan. Terkadang Cakra kesal jika beberapa orang menatap Rheana dan tidak sadar jika wanita itu sudah bersuami.


"Mas, aku mau ke Oma dan Opa dulu sebelum ke kak Velia." Ucap Rheana seraya bangkit dari duduknya.


Cakra segera membantu istrinya, ia merengkuh pinggang Rheana dan mengajaknya untuk menemui kakek dan neneknya.


"Oma, Opa!!" pekik Rheana senang.


Kakek dan neneknya menyambut Rheana dengan sangat baik. Oma Siwi langsung membuka tangan untuk memeluk sang cucu.


"Oma merindukanmu, Sayang." Ucap Oma Siwi dengan jujur.


Rheana tertawa, ia tentu merasakan hal yang sama dengan omanya. Rheana lalu beralih menatap sang opa yang tidak mengalihkan pandangannya sama sekali dari Cakra.


"Opa, tidak mau menyapa cicit?" tanya Rheana dengan manja.


Opa Chandra segera menatap Rheana dan perutnya bergantian. Ia tersenyum begitu manis lalu mengusap perut cucunya yang besar.


"Kamu baik-baik kan, Nak?" tanya Opa Chandra dengan suara serak, khas orang yang sudah lansia.


"Sehat, Opa." Jawab Rheana terkekeh.


Cakra paham, bahkan sangat paham. Opanya Rheana itu pasti masih sangat membencinya setelah apa yang pernah ia lakukan kepada cucu tersayangnya dulu.


"Jangan coba-coba menyakiti cucuku lagi jika kau masih ingin hidup tenang, Nak." Ucap Opa Chandra berbisik.


Cakra tersenyum simpul, ia menatap kakek istrinya dengan sopan.


"Saya janji, Opa. Saya tidak akan menyakiti Rheana lagi, dan jika itu sampai terjadi, maka saya siap anda habisi." Balas Cakra dengan yakin.


Opa Chandra mengangguk, berusaha untuk mempercayai suami dari cucunya itu. Dan semoga saja apa yang Cakra ucapkan benar.


"Oma, Opa. Aku akan menemui kak Velia dulu ya, aku belum memberinya selamat." Ucap Rheana.


"Iya, Nak. Kami juga mau berbincang dengan orang tua dan mertuamu." Balas Oma Siwi.


Rheana tersenyum, ia merangkul lengan Cakra kemudian melambaikan tangannya kepada kakek dan neneknya.


"Mas, opa sama oma aku cantik dan tampan 'kan?" tanya Rheana dengan wajah imutnya.


"Sama seperti cucunya." Jawab Cakra sambil mengusap pipi sang istri.


Tidak lama setelah kepergian Rheana dan Cakra, kedua orang tua Rheana dan orang tua Cakra datang menemui opa dan oma.


Mereka berkumpul dalam satu meja untuk berbincang ringan, sekaligus bicara soal hubungan Cakra dan Rheana.


"Saya sudah berusaha untuk tetap percaya kepada putra kalian, dan hari ini saya katakan bahwa, jika sampai Cakra menyakiti Rheana lagi, maka aku akan menghabisinya." Ucap Opa Chandra dengan tegas.

__ADS_1


"Pa." Tegur Papa Rama pelan.


Ia merasa tidak enak dengan besannya, namun opa Chandra tampak cuek dan biasa saja. Tipikal pria seperti opa Chandra itu adalah tidak pernah memusingkan kondisi di sekitar.


Papa Wawan tersenyum, ia menatap kakek dari menantunya itu dengan sopan.


"Baik, Pak. Jika Cakra menyakiti Rheana lagi, maka saya sendiri yang akan mengantarnya kepada anda." Balas Papa Wawan yakin.


Mama Mila tersenyum, ia sudah tidak ragu lagi kepada putranya. Ia sadar dan tahu bahwa kini Cakra sangat mencintai istrinya, dan dia tidak akan berani menyakiti Rheana.


"Cakra pernah hampir gila karena ditinggal Rheana, dan saya yakin dia tidak akan mengulangi hal yang sama." Ujar Mama Mila membuka suara.


"Baik, apapun itu asal cucuku bahagia." Sahut Oma Siwi dengan tenang.


"Ma, Pa. Kalian sudah makan?" tanya Mama Erina, memecah keseriusan diantara keluarga itu.


"Tidak, Erina. Kami ingin istirahat saja," jawab Oma Siwi mewakilkan.


"Baik, mari aku antar ke kamar kalian. Ini sudah malam, dan acara juga sebentar lagi selesai." Ajak Mama Erina sopan.


Opa Chandra bangkit dan pergi tanpa mengatakan apapun. Ia sudah mengatakannya sekali, dan ia tidak akan mengulanginya lagi.


Bagi Opa Chandra, cucunya adalah segalanya.


Sepeninggalan oma Siwi dan opa Chandra, Papa Rama menatap kedua besannya dengan perasaan bersalah.


"Maafkan papa saya ya, Wan, Mila." Ucap papa Rama.


"Tidak masalah, Rama. Kami paham bahwa papa anda sangat menyayangi cucunya." Balas Papa Wawan dan mama Mila hanya mengangguk.


Sementara para orang tua sedang bicara serius, Cakra dan Rheana pun kini sedang menemui pasangan tunangan.


"Kakak, selamat ya. Astaga, aku tidak sabar kalian menikah!!" pekik Rheana sampai ingin melompat, namun dicegah Cakra


"Sayang, kasihan babynya." Tegur Cakra menggeleng pelan.


Rheana langsung sadar, ia lantas mengusap perutnya sendiri.


"Maafin bunda ya, Sayang." Bisik Rheana membuat Fikri dan Velia yang melihatnya tersenyum.


"Dasar ibu hamil." Celetuk Fikri menertawakan.


Rheana melotot, ia merangkul lengan Cakra dengan manja.


"Mas, mereka meledekku." Rengek Rheana menunjuk Velia dan Fikri.


"Apa? Kapan aku meledek hei!!" sahut Velia tidak terima.


"Diam kalian, Istriku tidak pernah salah." Tanpa sadar Cakra akhirnya mau bicara kepada Velia maupun Fikri.


Rheana tersenyum senang, ia akan berusaha untuk membuat Cakra bisa memaafkan kakaknya. Rheana tidak mau Cakra hidup menyimpan dendam.


HARI INI INSYAALLAH 3 BAB, GANTIIN YG KEMARIN CUMA SEBAB, ASAL KALIAN SEMANGAT KOMEN NYA🤗


Bersambung...............................

__ADS_1


__ADS_2