
Seluruh keluarga sudah mendengar kabar bahwa Cakra telah menemukan keberadaan Rheana. Tentu saja hal itu membuat mereka senang.
Namun di satu sisi, keluarga Chandrama baru sadar bahwa Rheana pergi ke rumah nenek dan kakeknya, kini mereka sadar mengapa Rheana sangat sulit ditemukan.
Sementara disisi lain, Ryan terlihat kurang begitu senang mendengar kabar bahwa kakaknya sudah ditemukan. Rasa khawatir langsung mendera hatinya, karena takut jika disana kakaknya sudah bahagia.
"Kita semua akan pergi ke Italia, Mama nggak bisa menunggu lagi." Ucap Mama Erina dengan semangat.
"Nggak usah, Ma. Biar aku aja yang pergi untuk menjemput Rhea, aku akan membawanya kesini." Sahut Cakra lembut.
"Benar apa yang Cakra katakan, Na. Lebih baik Cakra saja yang pergi dan kita tunggu dia disini." Timpal Mama Mila.
"Percaya atau tidak, jika kak Cakra yang datang kesana, maka kak Rheana tidak akan pernah pulang ke sini." Ucap Ryan tiba-tiba membuka suaranya.
"Ryan, maksud kamu apa?" tanya Papa Rama.
"Kak Rheana justru akan kembali pergi jika kak Cakra yang kesana. Tidak ingat kalian semua dengan bagaimana kak Cakra memperlakukan kak Rhea." Jawab Ryan dengan menggebu.
Cakra dan semua orang terdiam, apa yang Ryan katakan barusan membuat semuanya berpikir bahwa apa yang Ryan ucapkan tidaklah salah.
Bisa saja Rheana pergi jika Cakra yang menyusulnya kesana.
"Kalau begitu biar Mama yang pergi." Ucap Mama Erina.
"Tidak, Ma. Aku yang akan pergi, aku yang akan membawa kak Rheana kembali ke rumah ini." Tolak Ryan pelan.
"Tapi Ryan …" ucapan Papa Rama terhenti saat Ryan bicara.
"Pa, aku janji kak Rheana akan pulang bersamaku." Potong Ryan dengan begitu yakin.
Cakra yang sejak tadi diam, menoleh ke arah Ryan.
"Ryan, aku sangat berharap kau bisa membawa Rheana kembali." Ucap Cakra yang begitu pasrah.
"Iya, Kak." Balas Ryan singkat.
"Sudah diputuskan, Ryan yang akan pergi dan kita semua menunggu. Besok kamu berangkat, Nak, agar bisa segera pulang." Tutur Papa Wawan kepada Ryan.
Ryan menganggukkan kepalanya mendengar ucapan ayah dari kakak iparnya.
Keesokan harinya, Ryan benar-benar pergi untuk menjemput kakaknya pulang. Ia pergi ke bandara dengan diantar oleh Cakra dan kedua orang tuanya.
"Ryan, jangan lama-lama ya. Bawa Rheana pulang secepatnya, Mama sangat rindu." Ujar Mama Erina lembut.
Ryan tersenyum, ia mengangguk kemudian memeluk sang ibu erat.
"Iya, Ma. Jangan sedih lagi, aku yakin kak Rheana mau pulang." Balas Ryan lembut.
__ADS_1
"Papa akan menanti itu." Timpal Papa Rama.
Ryan melepaskan pelukannya, ia beralih menatap Cakra yang sedang menatapnya penuh harapan.
"Ryan, aku menaruh harapan besar padamu." Cicit Cakra dengan sungguh-sungguh.
"Dan aku tidak akan menghancurkan harapanmu, jika kau bisa berjanji tidak akan menyakiti kakakku lagi." Timpal Ryan langsung.
"Aku berjanji." Balas Cakra dengan wajah serius.
Pesawat yang akan ditumpangi Ryan segera berangkat, membuat Ryan buru-buru naik pesawat.
Jika ditanya mengapa Ryan begitu berani untuk keluarga negeri sendiri, tentu saja karena sudah terbiasa.
Anak itu biasa pergi bersama teman-temannya ke luar negeri, dan ia juga sudah mengubungi kakek dan neneknya bahwa ia akan berkunjung kesana.
"Kak Rhea, aku akan datang untuk membawamu pulang. Sudah cukup perginya, biarkan pria yang telah menyakitimu menebus segala kesalahannya dulu." Batin Ryan seraya menyandarkan tubuhnya di kursi pesawat.
Sementara itu di kontrakan Velia, wanita itu terlihat begitu bahagia setelah mendengar kabar dari asisten rumah tangga di rumahnya bahwa Rheana telah di temukan di Italia.
Velia membagi rasa bahagianya dengan sang kekasih, Fikri. Pria yang selalu ada di samping Velia, dan siap melakukan apapun demi dirinya.
"Kamu senang?" tanya Fikri seraya mengusap punggung tangan kekasihnya.
"Sangat." Jawab Velia cepat.
Fikri manggut-manggut. "Tapi jika Rheana tidak mau kembali kepada Cakra, bagaimana? Apa kamu tetap akan menikah denganku?" tanya Fikri pelan.
Velia tersenyum lebar, ia mengangguk sebagai jawaban.
"Tentu, karena kembali atau tidak kepada Cakra, itu adalah keputusan Rheana. Aku tidak bisa memaksa nya, dan aku nggak mau buat kamu semakin kecewa jika terus menunda pernikahan kita." Jawab Velia jelas.
Fikri tersenyum senang. Apa yang Velia katakan memang benar, namun ia sangat berharap bahwa Rheana akan mendapatkan kebahagiaan nya, entah dengan Cakra atau bukan.
***
Belasan jam telah Ryan lewati untuk sampai di negara orang. Ia turun di bandara internasional Italia, dan telah dijemput oleh sopir pribadi yang kakek dan neneknya suruh.
Ryan langsung pergi menuju rumah keluarga Chandra, yang mana menjadi tempat tinggal kakaknya juga.
Saat sampai di rumah yang besarnya lebih dari rumah di Indonesia, Ryan ternyata sudah ditunggu oleh kakek dan neneknya.
"Ryan, cucuku!!" panggil Oma Siwi lalu memeluk cucu laki-lakinya.
"Oma, apa kabar? Oma makin cantik saja." Puji Ryan bergurau.
"Tentu saja, karena Opa selalu membahagiakan nya." Sahut Opa Chandra dengan begitu percaya diri.
__ADS_1
"Ya sudah, kamu pasti lelah. Ayo masuk, Sayang." Ajak Oma Siwi seraya menggandeng tangan cucunya.
Ketika masuk, Ryan langsung di sambut oleh seorang wanita yang teramat di rindukannya. Dia Rheana, kakaknya.
"Kakak!!!" panggil Ryan berlari mendekati Rheana dan memeluknya.
"Ahh … Ryan, pelan-pelan." Tegur Rheana saat perutnya ngilu.
Ryan terdiam, ia seperti merasakan sesuatu yang berbeda dari tubuh kakaknya ini. Ryan segera melepas pelukannya, ia menunduk dan terkejut melihat perut sang kakak yang sedikit besar.
"K-kak, kau h-hamil?" tanya Ryan terbata.
Rheana mengusap kepala adiknya.
"Kau pasti lelah, ayo tidur dulu." Tutur Rheana tanpa menjawab pertanyaan adiknya.
Ryan menggeleng. "Jawab dulu pertanyaan ku." Pinta Ryan memohon.
Rheana menghela nafas, ia mengusap perutnya agar semakin terlihat.
"Ya, aku sedang mengandung keponakanmu." Jawab Rheana tertawa.
Ryan menatap mata kakaknya dengan tatapan berkaca-kaca. "Jadi hari itu?" tanya Ryan tidak mampu bertanya karena terlalu terkejut.
"Iya, hari itu anakku baik-baik saja. Aku tidak mengalami keguguran," jawab Rheana lembut.
Ryan tersenyum senang, kini ia tahu alasan lain mengapa kakaknya itu memilih untuk pergi. Kakaknya pasti ingin bahagia berdua dengan anaknya saja, dan melupakan segala rasa sakit yang telah ia tinggalkan.
"Sudah aku jawab, jadi istirahat sana." Tutur Rheana.
Ryan nurut, ia pun segera pergi ke kamar yang akan ditunjukkan oleh pelayan yang ada disana. Ryan akan bicara kepada kakaknya nanti.
Jika ditanya apakah Rheana tahu bahwa Ryan akan datang? Tentu saja ia tahu, Oma dan Opa nya bertanya lebih dulu sebelum mengizinkan Ryan datang kesana.
Rheana tentu saja tidak keberatan jika Ryan yang datang, dan ia akan bicara kepada adiknya itu untuk jangan memberitahu keberadaanya. Ia yakin, Ryan akan mau tutup mulut.
NGGAK SABAR MEMPERTEMUKAN RHEANA SAMA CAKRA😫
Bersambung.........................
VISUAL CHECK (Ada visual, tapi tetap bebas ya imajinasi kalian kaya gimana)
Visual Rheana Dwika Chandrama
Visual Cakra Dharmawan
__ADS_1