Dinikahi calon kakak ipar

Dinikahi calon kakak ipar
Baby Peachyyy??


__ADS_3

Ryan menatap Abel yang terbaring di rumah sakit setelah mendapat perawatan dari dokter. Hati Ryan sangat teriris melihat penampilan Abel yang penuh akan luka di tubuhnya.


Ryan menyesali kebodohannya sendiri, bagaimana mungkin ia tidak tahu apa yang Abel alami selama ini. Gadis itu menderita, bahkan sangat menderita.


Jadi ini alasan Abel tidak bisa lepas dari Rizi, karena ia butuh uang untuk biaya pengobatan ibunya. Ryan bahkan tidak pernah bertanya soal keluarga Abel, karena ia takut menyinggung, namun ternyata benar, bahwa Abel hanyalah gadis sederhana yang begitu menderita.


Ryan mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Abel. Tangan itu terasa sangat dingin, Abel pasti sangat menderita.


Tapi dibalik kejadian tadi, Ryan bersyukur karena akhirnya Abel mau lepas dari Rizi, ia berjanji tidak akan membuat Abel melihat Rizki lagi, sekalipun hanya bayangannya.


"Gue udah ikhlas lo tetap pacaran sama dia, tapi ternyata malah gini, Abel. Kalo tau begini, dari lama gue rebut lo dari dia." Ucap Ryan seorang diri.


Ryan mengusap punggung tangan Abel dan mengecupnya singkat. Ryan juga mengusap luka-luka di tubuh Abel yang terjangkau olehnya.


"Kenapa bisa, Bel? Kenapa bisa lo nanggung semuanya sendiri, padahal gue selalu ada buat lo." Ucap Ryan lagi sambil menatap wajah pucat Abel.


Abel memang tertidur setelah diberikan obat oleh dokter tadi. Ryan benar-benar nyaris membunuh Rizi tadi saat melihat ada luka dalam di tubuh gadisnya.


"Ryan." Suara itu berasal dari arah pintu. Ryan lantas menoleh dan melihat sang kakak ada disana bersama suaminya.


Ryan bangkit, ia memeluk Rheana dengan erat.


"Kakak, maaf membuatmu harus datang kesini." Ucap Ryan seraya terus memeluk Rheana.


Cakra yang melihat itu lantas menarik baju Ryan sampai pelukannya di tubuh Rheana terlepas.


"Jangan memeluknya!" tegur Cakra cemburu.


"Tapi dia kakakku, kau pencemburu sekali." Balas Ryan tidak mau kalah.


Rheana memukul bahu suaminya dan lengan Ryan karena terus saja bertengkar.


"Berisik! Nggak baik membuat keributan di rumah sakit." Ketus Rheana kemudian masuk ke dalam kamar rawat itu.


Rheana melihat Abel dengan sedih, ia tahu sekali bagaimana rasanya mendapatkan siksaan dari orang terkasih. Rheana mengatakan karena pengalamannya dulu bersama Cakra.


Dulu Rheana selalu di siksa oleh Cakra, meski mungkin saja siksaannya masih batas normal. Kini Rheana melihat gadis polos dan cantik mengalami hal yang sama dari kekasihnya.


Cakra mendekati istrinya, ia merangkul bahu sang istri dan mengusapnya pelan.


"Kita usg kandungan kamu dulu gimana, nanti kesini lagi. Biar ngobrol-ngobrol nya enak, Sayang." Saran Cakra lembut.


Rheana menatap suaminya, ia memang datang ke rumah sakit untuk usg jenis kelamin bayi dalam kandungannya, tapi kebetulan Ryan menghubunginya dan meminta agar ia datang ke rumah sakit.


"Ryan, apa yang tejadi padanya?" tanya Rheana tanpa membalas ucapan suaminya tadi.


"Dia disiksa oleh kekasihnya, Kak. Dia tetap bertahan meski menderita, hal itu karena dia takut ibunya tiada." Jawab Ryan menjelaskan.


"Ibunya tiada?" beo Cakra mengerutkan keningnya.


"Iya, Kak. Aku sengaja mengajaknya pergi dari rumah itu meski kekasihnya mengancam akan mencabut biaya pengobatan ibunya." Jawab Ryan semakin menjelaskan.


"Jadi kekasihnya membiayai pengobatan ibunya, itu alasan dia bertahan dengan siksaan pria itu?" tanya Rheana reaktif.


Ryan menganggukkan kepalanya, ia beralih menatap Abel yang masih tidur.


"Aku menyanggupi pengobatan ibunya, meski aku tidak yakin uang tabunganku akan cukup." Lirih Ryan, ia memang belum berpenghasilan, tapi ia janji akan membiayai pengobatan ibunya Abel.

__ADS_1


Cakra beralih mendekati adik iparnya, ia menepuk bahu remaja itu lalu tersenyum lebar.


"Jangan khawatir, aku dan kakakmu akan membantu." Tukas Cakra dengan yakin.


Rheana dan Ryan langsung menatap Cakra ketika mendengar ucapan pria itu barusan. Rheana tersenyum senang mendengar penuturan sang suami.


"Kakak, benarkah?!" tanya Ryan antusias.


"Ya, katakan saja pada kami." Jawab Cakra menganggukkan kepalanya.


Tentu Cakra akan membantu Ryan, remaja itu adalah adik iparnya, yang artinya juga adiknya. Cakra tidak akan membiarkan salah satu keluarganya kesusahan.


"Mas!!" pekik Rheana lalu melingkarkan tangannya di pinggang suaminya.


Rheana tidak sadar melakukan itu semua, ia reflek saja karena terharu dengan ucapan Cakra yang mau membantu adiknya.


Rheana mendongakkan kepalanya. "Kok kamu baik?" tanya Rheana pelan.


Cakra menunduk, mencium bibir istrinya singkat.


"Karena aku tahu bahwa adik iparku menyukainya." Jawab Cakra lalu melirik Ryan yang masih mendengus usai melihat kemesraan kakak dan kakak iparnya.


"Kak Cakra, mulutmu langsung saja bicara." Celetuk Ryan, ia takut Abel mendengarnya dan nantinya malah akan menjauh.


Cakra dan Rheana terkekeh mendengar protes dari mulut Ryan. Mereka tidak masalah jika Ryan mau mulai menjalin hubungan, toh dia sudah dewasa.


"Duhh, mama dan papa siap-siap nikahin lagi." Celetuk Rheana tertawa puas.


Ryan kembali berdecak, namun ia tidak berani melawan. Kini Rheana tidak sendiri, jika ia melawan maka kakak iparnya pasti tidak akan tinggal diam.


"Sayang, yuk ke poli kandungan?" ajak Rheana menggandeng tangan suaminya.


Cakra dan Rheana pun pergi ke poli kandungan untuk mengecek jenis kelamin baby peachyy. Baby peachyy? Kalian baru dengar? Memang. Baru hari ini Cakra dan Rheana mendapatkan panggilan untuk janin dalam kandungan Rheana yang belum di ketahui jenis kelaminnya.


"Baby Peachyy pasti senang kita mau tengok dia." Ucap Rheana seraya mengusap-usap perutnya.


"Iya, Sayang." Balas Cakra sembari ikut mengusap perut besar istrinya.


Mereka pun sampai di ruangan dokter, sebelumnya mereka tentu sudah ada janji temu untuk melakukan usg pada baby Peachyy.


"Silahkan duduk, Nyonya Rheana." Tutur dokter Becca mempersilahkan.


Rheana nurut, ia duduk di kursi yang berada di depan dokter, begitupula dengan Cakra.


"Hari ini mau usg 'kan?" tanya dokter Becca.


"Iya, Dok. Aku tidak sabar mengetahui jenis kelamin bayiku!" jawab Rheana dengan antusias.


Dokter Becca tersenyum dan mempersilahkan Rheana untuk berbaring, sementara dirinya akan menyiapkan alat yang dibutuhkan.


"Wahh sudah jalan 7 bulan yaa, jadi nggak makin nggak sabar tengok jenis kelaminnya." Ucap Becca membuat pasangan suami istri itu tersenyum.


"Iya, Dok. Kami sama-sama tidak sabar, kamu ingin segera tahu." Sahut Cakra dengan senyuman sumringah.


Dokter Becca mengangkat bahu Rheana, lalu mengoleskan gel di perut besar Rheana. Ia lalu mengarahkan sebuah alat yang Rheana dan Cakra tidak tahu.


Alat itu bergerak disekitar perut Rheana untuk mencari posisi pas guna melihat jenis kelamin si baby.

__ADS_1


"Yahh, sayang banget. Baby nya lagi ngumpet nih, mama, papa." Ucap dokter Becca setelah beberapa kali mencoba mencari posisi babynya.


"Jadi nggak keliatan, Dok?" Tanya Rheana sedih.


Cakra paham, ia lantas mengusap puncak kepala istrinya, lalu menghadiahi sang istri dengan kecupan di kening.


"Lain kali kan bisa, Sayang. Mungkin baby Peachyyy belum mau beritahu kita, lagipula sebentar lagi baby nya juga lahir." Tutur Cakra mencoba merayu istrinya yang sedih.


Rheana menghela nafas, ia manggut-manggut mendengar ucapan suaminya barusan. Ia harus bagaimana lagi jika memang baby itu belum mau menunjukkan jenis kelaminnya.


"Nggak apa-apa ya, bunda Rheana." Ucap Cakra seraya mengusap wajah lembut Rheana.


Rheana mengangguk, ia pun bangkit dari posisinya dan turun dari bangsal dengan dibantu oleh Cakra.


"Vitamin yang kemarin masih ada kan, Nyonya?" tanya dokter Becca.


"Masih, Dok." Jawab Rheana.


Dokter Becca tersenyum, ia pun mempersilahkan kedua pasiennya karena pemeriksaan sudah selesai, meski babynya belum mau menunjukkan jenis kelamin.


Sementara itu Rheana, wanita itu sedih karena belum bisa melihat jenis kelamin baby nya, padahal ia sudah menantikan hal ini.


Rheana menunduk, ia mengusap perutnya yang besat. "Nggap apa-apa, bunda bakal tunggu kamu sampai lahir ke dunia." Bisik Rheana.


Cakra menoleh ke arah sang istri, ia merangkul bahu Rheana sehingga si pemilik menatapnya.


"Mas, mau jajan." Ucap Rheana dengan manja.


"Iya, Sayang. Kita cari ya," balas Cakra lembut.


Rheana tersenyum senang, ia sangat beruntung karena Cakra selalu mau dan selalu bisa memenuhi keinginannya yang suka berubah-ubah.


Akhirnya Rheana dan Cakra pergi meninggalkan rumah sakit, mereka akan kembali untuk melihat Ryan nanti.


"Mau jajan apa?" Tanya Cakra menoleh sebentar ke arah Rheana.


"Yang di bakar-bakar, Mas." Jawab Rheana dengan cepat.


"No, ibu hamil nggak disarankan makan yang dilakukan bakar-bakar sayang." Sahut Cakra menolak.


Rheana mengerutkan keningnya. "Kok kamu tahu, darimana?" tanya Rheana heran.


"Aku cari di internet." Jawab Cakra jujur.


Memang benar bahwa Cakra belakangan ini selalu mencaritahu seputar ibu hamil yang usia kandungannya sudah besar. Tujuannya adalah agar ia bisa belajar dan antisipasi apabila istrinya ingin sesuatu.


"Aku yang hamil, kamu yang sibuk belajar Mas." Cetus Rheana dengan senyuman manis.


Cakra tertawa pelan. "Tentu saja, seorang istri sudah mengandung selama 9 bulan dan melahirkan, apa salahnya jika suami ikut belajar." Timpal Cakra sambil terus menggenggam tangan istrinya.


Rheana mencubit pipi Cakra dengan gemas.


"Kok kamu baik sih!!" ujar Rheana membuat Cakra terkekeh.


"Nanti anak kita lebih baik lagi, Sayang." Timpal Cakra lalu mengecup punggung tangan istrinya.


Rheana sangat bahagia setiap kali Cakra mencium tangannya begini. Rheana jadi merasa sangat dicintai ketika menerima perlakuan manis dari suaminya.

__ADS_1


KOMEN KALIAN SANGAT BERHARGA BUATKU 🖤.


Bersambung.................................


__ADS_2