Dinikahi calon kakak ipar

Dinikahi calon kakak ipar
Velia masuk rumah sakit


__ADS_3

Terlihat sepasang kekasih sedang duduk di kafe untuk mengerjakan tugas kampus mereka, sekalian bertemu karena sudah berhari-hari mereka tidak bisa bertemu di luar kampus begini.


Abel fokus mengetik sesuatu di laptopnya, sementara Ryan hanya memperhatikan sambil memegangi tangan kekasihnya.


Abel membiarkan saja tangannya di pegang oleh Ryan, ia juga senang diperlakukan seperti ini oleh orang terkasihnya.


"Ryan, coba kamu lihat." Abel memutar laptop agar Ryan melihat hasil pekerjaannya.


Ryan bukan melihat laptopnya, justru malah melihat wajah Abel yang cantik itu.


"Ryan, ini lihat dulu!" tutur Abel lagi sambil menahan senyuman saat tahu bahwa Ryan malah melihat dirinya.


"Ini aku lagi lihat, Sayang." Sahut Ryan dengan suara yang lembut.


Wajah Abel bersemu merah mendengar suara Ryan begitu lembut dan berat, membuat hatinya berbunga-bunga.


"Laptopnya, Sayang." Kata Abel tidak kalah lembut.


Ryan seketika terkejut mendengar Abel memanggilnya sayang. Panggilan itu jarang sekali diucapkan oleh kekasihnya yang cantik dan imut ini.


"Coba ulang." Pinta Ryan dengan wajah berbinar.


"Ryan, Sayang." Timpal Abel diakhiri senyuman yang lebar.


Ryan bangkit dari duduknya, ia berpindah duduk ke sebelah Abel lalu merangkul bahu kekasihnya.


"Gemesin banget, nikah yuk!" ajak Ryan mengusap bahu Abel lembut.


Abel tertawa, ia memilih untuk tidak menjawab pertanyaan dari kekasihnya ini. Jika terus meladeni Ryan, bisa-bisa tugas kuliah mereka tidak selesai.


"Ryan, aku–" ucapan Abel terhenti karena Ryan memegang bibirnya.


"Ryan, Ryan. Sayang!" tegur Ryan menyipitkan matanya.


Abel tertawa terbahak-bahak, ia sampai memukuli bahu kekasihnya karena merasa lucu mendengar suara Ryan seperti ngambek padanya.


"Anak mama Erina gemesin banget, ihh sini aku cium." Celetuk Abel menarik wajah Ryan lalu mencium pipi kekasihnya meski tidak terlalu menempel.


Ryan ikut tertawa, ia mengacak-acak rambut Abel lalu membawa gadis itu untuk memeluk kekasihnya tidak terlalu erat.

__ADS_1


"Tugas kita nanti nggak selesai, ayo lanjutin." Ajak Abel merengek.


"Iya, Sayang. Sini aku bantuin, aku bagian desain nya kan." Balas Ryan.


Abel mengangguk, meskipun mereka bukan anak fakultas multimedia, namun Ryan cukup mahir untuk mengedit.


Sementara itu di tempat lain, terlihat seorang wanita sedang duduk di meja kerjanya sambil mengusap-usap perutnya.


Wanita itu terdiam karena merasakan sakit di area perutnya saat ini. Rasa sakit ini tidak asing baginya, hampir setiap hari ia merasa nyeri seperti ini karena penyakit yang dideritanya.


"Awww." Velia meringis pelan.


Ia bangkit dari duduknya, lalu berjalan perlahan mendekati pintu ruang kerjanya. Velia ingin meminta bantuan kepada orang lain.


Velia ingin pulang saja, rasa sakit ini sudah ia rasakan sejak tadi sehingga ia memutuskan untuk beristirahat di rumah.


Tangan Velia sudah menggapai gagang pintu, namun belum sempat ia menekannya, tiba-tiba ia jatuh terduduk.


"Akhhh." Velia meringis lebih keras dari sebelumnya.


Pintu tiba-tiba terbuka, Velia melihat asistennya datang dan langsung menolongnya.


"Bu, anda baik-baik saja?" tanya asisten Velia.


Asisten Velia langsung memanggil karyawan yang lain, bahkan ada beberapa karyawan juga sudah memberitahu atasan mereka atau papanya Velia terkait kondisi putrinya saat ini.


"Velia!" papa Rama datang dan langsung memeriksa putrinya.


"Pa, aku nggak apa-apa kok. Aku cuma kelelahan aja, aku mau pulang." Jelas Velia sebelum sang papa bertanya sesuatu.


"Cepat-cepat, antar ke rumah sakit!" kata papa Rama tanpa memperdulikan permintaan Velia yang ingin diantar ke rumah saja.


Beberapa karyawan pun membantu Velia untuk dibawa ke mobil. Papa Rama ikut di dalamnya, ia bersama sopir pribadinya langsung tancap gas menuju rumah sakit untuk membawa Velia.


"Vel, papa sudah bilang agar kamu istirahat saja di rumah." Kata papa Rama dengan sedih.


Velia tidak menyahut, ia hanya diam dengan peluh yang sudah membasahi wajahnya. Velia benar-benar terlihat kesakitan dan itu akan membuat siapa saja khawatir melihatnya.


Sesampainya di rumah sakit, Velia langsung ditangani oleh dokter. Papa Rama mengabari istri dan anak-anaknya, termasuk Fikri juga pastinya.

__ADS_1


"Rheana, kakakmu masuk rumah sakit!" ucap Papa Rama dengan sedih.


Terdengar suara terkejut dari Rheana, ia mengatakan bahwa dirinya akan datang kesana sekarang.


Begitu Pula dengan mama Erina, Ryan dan juga Abel. Mereka mengatakan akan segera datang ke rumah sakit.


Papa Rama lalu menghubungi Fikri, namun berulang kali tidak dijawab. Ia mengerti, pasti menantunya sedang sibuk dengan pertemuan.


Ditempat lain, tepatnya di sebuah kantor. Terlihat sedang terjadi sebuah pertemuan untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan asing.


Dalam rapat tersebut ada Fikri dan juga Cakra yang sengaja menemui si pengusaha asing untuk menawarkan kerja sama.


Di tengah pertemuan, tiba-tiba ponsel Cakra bergetar tanpa suara. Pria itu lekas mengangkatnya saat tertera nama papa mertuanya.


"Permisi sebentar." Kata Cakra lalu keluar dari ruang rapat.


"Iya, Pa. Ada apa?"


"Cakra, kamu bisa tolong ke kantor Fikri. Katakan padanya bahwa Velia masuk ke rumah sakit."


Cakra terkejut, sepertinya papa mertuanya tidak tahu jika mereka sedang berada di pertemuan yang sama.


"Iya, Pa. Baiklah, aku akan memberitahu Fikri."


Usai bicara dengan papa mertuanya, Cakra pun kembali masuk ke dalam ruang rapat. Ia duduk di sebelah Fikri.


"Fikri, ada hal yang harus aku sampaikan." Bisik Cakra pelan agar tidak mengganggu peserta rapat yang lain.


"Ada apa?" tanya Fikri heran.


"Velia masuk ke rumah sakit, cepatlah kesana." Jawab Cakra pelan.


Fikri terkejut, ia lantas bangkit dari duduknya dan undur diri dari rapat karena masalah pribadi.


Fikri pun pergi meninggalkan rapat demi melihat kondisi istrinya. Fikri tentu saja khawatir meskipun ia masih marah kepada istrinya karena sulit untuk diatur.


Walau bagaimanapun, Velia adalah istrinya, ibu dari anaknya. Tentu saja ia akan menghampiri istrinya, meski disana kemungkinan ia tidak akan langsung memaafkan Velia.


"Sekali saja, apa kamu nggak bisa nurutin aku." Gumam Fikri dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


MAS FIKRI, SABAR YAAA. MBAK VEL, KAMU JUGA HARUS NURUT SAMA YOUR HUSBAND😫


Bersambung...................................


__ADS_2