
3 tahun berlalu, tanpa terasa sama sekali waktu berjalan begitu cepat. Kehidupan anak-anak keluarga Chandrama tampak bahagia semua.
Seluruh keluarga Chandrama datang ke acara kelulusan Abel dan Ryan. Benar, hari ini kedua orang itu telah mendapatkan apa yang mereka perjuangkan selama bertahun-tahun silam.
Ryan dan Abel terlihat tersenyum dengan lebarnya ketika nama mereka dipanggil dengan gelar di belakangnya. Hal itu juga menjadi kebanggaan bagi keluarga Chandrama.
Walaupun Abel dan Ryan tidak menjadi mahasiswa dengan lulusan terbaik, namun semuanya tetap bangga pada kedua orang itu.
Kini Abel dan Ryan sedang melakukan sesi foto dengan teman-temannya sementara pihak keluarga masih menunggu giliran.
Dua buah karangan bunga ucapan selamat tampak menjadi background foto Abel dan Ryan. Tentu saja kedua karangan bunga itu dari Rheana dan juga Velia beserta suami mereka masing-masing.
"Papa bangga sama kamu, Ryan. Akhirnya kamu mendapatkan gelar kamu, dan sekarang papa sudah percaya sama kamu untuk memegang kendali perusahaan." Ucap papa Rama seraya menepuk kedua bahu putranya.
Ryan mencium punggung tangan papa dan mamanya bergantian, tidak lupa juga ia memeluk mereka erat.
"Terima kasih banyak, Ma, Pa. Terima kasih atas dukungannya selama ini," kata Ryan mengungkapkan dengan penuh rasa terima kasih.
Mama Erina mengusap punggung putranya dengan penuh kehangatan.
"Sama-sama, Nak. Setelah dari sini, langkah kamu masih panjang." Balas mama Erina hangat.
Sementara Abel, kini ia sedang bersalaman dan memeluk kedua kakaknya Ryan, atau yang sebentar lagi akan menjadi kakak iparnya.
"Terima kasih sudah datang kesini ya, Kak." Ucap Abel kepada Rheana dan juga Velia.
"Sama-sama, selamat atas kelulusannya ya." Balas Velia lembut.
"Selamat ya, sebentar lagi nikah nih ye." Goda Rheana mencolek lengan calon adik iparnya.
Abel tersenyum, ia tampak malu-malu mendengar ucapan Rheana barusan. Memang benar, Ryan sudah berjanji akan menikahinya usai mereka lulus kuliah.
__ADS_1
"Sudah, ayo kita foto dulu. Anak-anak bisa menangis!!" Ucap Cakra kepada semuanya.
"Iya benar, Ayla dan Cilla bisa mengobrak-abrik seluruh tempat jika kelamaan menunggu di mobil." Tambah Fikri.
Semua orang seketika tertawa, namun memang benar. Kedua cucu keluarga Chandrama itu benar-benar sangat aktif diusia mereka yang baru menginjak 3 dan 4 tahun.
"Yaudah ayo-ayo, kita foto bersama." Kata papa Rama.
Mereka pun mulai berfoto dengan background pemandangan gedung kampus Abel dan Ryan. Serta tidak lupa foto dengan background karangan bunga.
"Happy graduation, Abel and Ryan. Gelarnya bakal ditulis di undangan nih yeee." Itulah tulisan yang ada di masing-masing karangan bunga.
"Satu, dua, tiga. Senyum!!" kata Rheana dan mereka semua tersenyum dengan lebar nya.
Sesi foto pertama selesai, mereka lanjut berforo lagi dan kali ini ada Ayla dan juga Cilla di dalam foto tersebut.
Dua bocah cantik bergaun abu-abu tampak sama-sama menunjukkan gaya yang super imut di depan kamera, bahkan sang fotografer tersenyum melihat aksi kedua cucu Chandrama.
Rheana dan Cakra paling terakhir, sebab ketika hendak masuk ke dalam mobil tiba-tiba saja wanita itu merasakan kepalanya sedikit pusing.
"Sayang, kamu nggak apa-apa?" Tanya Cakra Khawatir.
"Mama." Panggil Ayla seraya menarik baju Rheana.
Rheana menatap suami dan anaknya bergantian, ia lalu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Mama nggak apa-apa, mungkin cuma pusing biasa. Ayo berangkat, yang lain sudah pergi." Ajak Rheana pada dua orang paling berharga dalam hidupnya.
Akhirnya Cakra pun mengajak anak dan istrinya pergi, menyusul yang lainnya. Mereka tentu sudah tahu dimana restoran yang akan mereka datangi.
Selama perjalanan, Rheana lebih banyak diam sembari mengusap-usap perutnya sendiri. Entah mengapa sudah 3 tahun lamanya sejak ia memutuskan untuk bisa punya anak lagi, namun sampai hari ini ia belum hamil.
__ADS_1
Rheana sedih, ia kasihan pada Cakra dan Ayla yang sudah sangat menantikan bayi kecil di rumah mereka.
Rheana bahkan sudah memeriksa kesehatan tubuhnya ke dokter, dan dokter bilang semuanya baik-baik saja.
Walaupun selama ini Cakra selalu bilang jika dirinya tidak memaksa punya anak lagi, tapi Rheana sangat tahu jika suaminya menginginkan ia hamil lagi anak kedua.
"Kamu kenapa, Sayang?" Tanya Cakra lembut.
"Aku kenapa belum hamil-hamil lagi ya, Mas." Jawab Rheana pelan.
Cakra menghela nafas, ia mengambil tangan istrinya untuk ia genggam bahkan ia cium berulang-ulang.
"Sayang, kita sudah membahas ini." Sahut Cakra mengingatkan dengan lembut.
"Kamu udah mau punya anak lagi kan, Ayla juga. Dia udah mau punya adik," ucap Rheana.
"Sayang, kita bicara lagi di rumah ya. Aku nggak suka loh lihat kamu sedih-sedih kaya gini." Kata Cakra dengan pelan, namun Rheana paham jika dalam kata lembut itu banyak mengandung ketegasan.
Rheana menghela nafas, ia memegang tangan suaminya lalu menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.
"Maafin aku ya, Mas. Aku parno banget karena belum bisa kasih kamu anak lagi," ucap Rheana dan dibalas oleh Cakra berupa kecupan di kening.
"Nggak apa-apa, Sayang. Aku paham, dan aku harap kita tidak membahas lagi jika itu membuat kamu sedih." Timpal Cakra.
Rheana mengangguk kecil, ia lalu menoleh ke belakang dan melihat putrinya sedang asik dengan buku di tangannya.
Entah mengikuti jejak siapa, tapi Ayla sangat suka membaca buku, apalagi buku yang banyak warna.
Mungkin mengikuti jejak Cakra, sebab Rheana tidak selalu suka baca meskipun ia pintar.
MAMA RHEANA SEDIH GUYS, BTW UDAH MAU TAMAT HUHUHU😫
__ADS_1
Bersambung........................................