
Rheana masih ada di mall, ia kini sedang berada di sebuah toko buku. Sejak masih SMA, Rheana suka sekali mengoleksi buku novel, hanya membelinya tapi jarang ia baca.
Oma sedang pergi ke toko baju, katanya ingin membeli sesuatu disana, dan mereka janjian bertemu di toko buku ini. Alhasil Rheana sekalian saja mencari buku.
Rheana melihat-lihat deretan buku yang ada disana, sampai matanya menatap sebuah judul yang membuatnya penasaran.
Posisi buku itu berada di rak paling atas, dan itu membuat Rheana sulit menggapainya.
"Permisi, boleh aku membantumu?" seseorang tiba-tiba muncul di belakang Rheana dan bicara dengan bahasa asing.
Rheana menoleh, ia tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Rheana paham apa yang pria itu ucapkan, tetapi ia bingung cara membalasnya.
Pria itu mengambil buku yang ingin Rheana baca kemudian memberikannya.
"Ini, Rheana." Ucap pria itu disertai senyuman. Jangan lupa bahasa yang ia gunakan, yaitu bahasa Indonesia.
Rheana mengerutkan keningnya, ia merasa heran dengan pria asing dihadapannya, dari mana pria itu tahu namanya, sedangkan mereka tidak saling mengenal.
"Maaf, bagaimana anda bisa mengetahui nama saya?" tanya Rheana dengan bahasa Indonesia.
"Sudah kuduga, kau pasti lupa padaku." Bukannya menjawab, pria itu malah terkekeh.
"Rhea, ini aku Faraz, teman SMA yang biasa kamu marahi jika aku merokok." Ucap pria itu mencoba membuat Rheana ingat.
Rheana terdiam, mencoba mengingat nama yang barusan disebutkan. Nama itu terdengar tidak asing.
"Ahh, aku ingat! Kamu Faraz yang dulu rokoknya suka aku patahin?!" tanya Rheana setelah beberapa saat berpikir.
Pria bernama Faraz itu tersenyum setelah mendengar bahwa temannya ini mengingatnya.
"Aku sudah melihat kamu sejak kamu masuk mall tadi, ku kira salah orang dan ternyata memang benar." Ujar Faraz dengan masih tersenyum.
Terlihat dia bolong di pipi kanan dan kiri Faraz yang begitu manis. Pria itu memang bukan sahabat Rheana, hanya teman biasa, termasuk Becca juga.
"Ya ampun!! Kau sedang apa disini? Aku tidak mendengar kabarmu sejak kita lulus." Tanya Rheana mulai asik berbincang.
"Aku? Aku melanjutkan S1 ku di sini, dan ternyata aku mendapat pekerjaan bagus juga disini, alhasil aku betah." Jawab Faraz menjelaskan.
"Oh ya?!! Bekerja dimana?" tanya Rheana lagi.
"Di salah satu perusahaan, pusatnya di Indonesia, jadi aku sesekali akan kesana." Jawab Faraz.
__ADS_1
"Aku dengar Becca jadi dokter kandungan?" tanya Faraz seraya mengajak Rheana duduk di kursi yang ada disana.
Rheana manggut-manggut. "Ya, dia menjadi dokter kandunganku, Far." Jawab Rheana.
Faraz terdiam, ia berusaha mencerna kata-kata Rheana barusan yang mengatakan 'kandungan'.
Tatapan Faraz turun ke arah perut Rheana yang tidak terlihat karena Rheana memakai dress longgar.
"Kamu hamil? Kamu sudah menikah?" tanya Faraz.
"Iya, beberapa bulan lalu aku menikah dan saat ini aku sedang mengandung." Jawab Rheana diakhiri senyuman kecil.
Faraz berusaha untuk tersenyum, ia menyadarkan diri dengan geleng-geleng kepala.
"Kenapa tidak mengundangku, kamu jahat sekali," celetuk Faraz seraya tertawa.
"Maaf, tapi aku benar-benar kehilangan jejak mu jadi aku tidak bisa mengudang." Balas Rheana ikut tertawa.
"Jadi kamu dan suamimu tinggal di Itali?" tanya Faraz seketika membuat senyuman diwajah Rheana hilang.
Rheana diam, ia tidak tahu harus menjawab pertanyaan temannya ini dengan apa. Sebab, ia tidak tinggal dengan suaminya, bahkan ia berniat untuk berpisah.
"Iya." Jawab Rheana berbohong.
Rheana tersenyum simpul. "Iya, Faraz. Tidak masalah, aku mengerti bahwa kau sibuk." Balas Rheana paham.
"Sebelum pergi, boleh aku meminta nomor ponselmu?" tanya Faraz ragu-ragu.
Rheana mengangguk kecil, ia pun memberikan nomor ponselnya setelah Faraz memberikan ponsel milik pria itu kepadanya.
"Baiklah, sampai bertemu lagi Rhea." Faraz menjabat tangan Rheana kemudian pergi.
Rheana balas melambaikan tangannya, dan saat yang sama neneknya dan bodyguard datang untuk menjemputnya.
"Nak, ayo pulang." Ajak Oma lembut.
Rheana mengangguk. "Iya, Oma." Balas Rheana nurut.
Faraz yang saat itu masih memperhatikan Rheana tentu saja mengerutkan keningnya bingung. Ia sangat mengenali wanita tua yang mengajak Rheana pergi barusan.
"Apa hubungan Rheana dengan Nyonya Siwi Chandrama." Gumam Faraz yang mengenali sosok keluarga kaya raya.
__ADS_1
Faraz baru ingat bahwa Rheana pernah cerita memiliki nenek dan kakek yang tinggal di Italia, namun ia tidak menyangka Rheana adalah cucu orang yang sangat kaya.
***
Rheana baru sampai di rumah, ia tadi bercerita kepada sang nenek bahwa dirinya bertemu dengan teman masa SMA nya.
Omanya terlihat senang karena Rheana bercerita dengan tawa yang menghiasi wajahnya. Sejak Rheana memutuskan untuk pergi, Rheana jarang sekali tertawa, paling senyuman kecil.
"Kepala pelayan, tolong buatkan jus untuk cucuku dan bawa ke kamarnya." Ucap Oma kepada kepala pelayan disana.
"Baik, Nyonya besar." Balas sang pelayan kemudian segera melaksanakan perintahnya.
"Oma, aku ke kamar ya. Oma istirahat, sebentar lagi Opa kan pulang," tutur Rheana penuh kelembutan.
"Kamu juga ya, sudah cukup untuk hari ini cicitku jalan-jalan." Balas Oma mengusap perut Rheana sebentar kemudian pergi.
Rheana pergi ke kamarnya, ia mengganti pakaiannya menjadi pakaian yang lebih santai, ia juga membersihkan wajahhya dari make-up tipis yang ia gunakan.
Tidak lama kemudian pelayan datang membawakan jus untuk Rheana.
"Nona butuh sesuatu lagi?" tanya pelayan sopan.
Rheana menggeleng. "Tidak, terima kasih." Jawab Rheana ramah.
Rheana menghabiskan jus itu dengan sekali teguk, rasanya benar-benar menyegarkan.
Setelah itu Rheana memilih untuk membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Rheana meraih ponselnya, ia sudah lama tidak membuka sosial media karena takut.
Tentu saja takut, ia takut akan melihat update dari berita-berita disana yang bisa saja memberitakan Cakra. Sebagai pebisnis, Cakra seringkali seliweran di televisi, hanya saja tidak sesering artis.
Dalam otak Rheana, ada beberapa pertanyaan yang setiap hari ia lamunkan.
Apa Cakra mencarinya? Apa Cakra merindukannya? Apa Cakra merasakan apa yang ia rasakan saat ini? Apa Cakra ingin ia kembali?
Dan yang utama adalah, apakah Cakra berusaha untuk mencarinya? Atau malah memilih untuk mencari pengganti dirinya?
Rheana hanya berpikir, ia tidak akan terlalu banyak bicara, karena mulutnya sendiri telah mengatakan bahwa ia telah melepaskan Cakra.
Rheana tidak tahu kapan ia akan menuntut cerai suaminya, ia takut nantinya hal itu malah membuat Cakra mengetahui keberadaannya. Rheana juga belum berani bicara pada Oma dan Opa nya.
MAS CAKRA BUKAN CUMA CARI KAMU, RHE. DIA UDAH HAMPIR STRESSš¤£
__ADS_1
Bersambung...........................