
Cakra menggenggam tangan istrinya, ia berat sekali meninggalkan Rheana saat ini.
Sopir kantor sudah menjemput dan menunggunya, tapi Cakra belum mau pergi sampai sekarang.
"Kak, kita akan bertemu lagi. Aku akan selalu menantikan telepon darimu, pergilah." Tutur Rheana lembut.
Cakra mencium punggung tangan istrinya. "Janji akan selalu mengangkat telepon dariku?" tanya Cakra yang dijawab anggukkan kepala oleh Rheana.
Cakra menangkup wajah cantik Rheana kemudian memberikan banyak kecupan di seluruh wajah tanpa ada yang terlewat.
"Kak, malu dilihat sopir kamu." Tegur Rheana namun tidak dipedulikan oleh Cakra.
"Jangan dekat-dekat dengan teman lelaki kamu itu, aku nggak suka!" celetuk Cakra.
"Iya, Sayang." Sahut Rheana pasrah.
Cakra tersenyum lagi, ia semakin berat untuk meninggalkan istrinya, namun ia sadar bahwa pekerjaan ini adalah tanggung jawab nya.
"Hati-hati, Kak. Aku akan menunggumu pulang," ucap Rheana seraya melambaikan tangannya.
Cakra pun masuk ke dalam mobil dan pergi, hal itu tentu saja membuat Rheana langsung naik kembali menuju apartemennya karena waktu masih begitu pagi.
Rheana kembali berbaring di tempat tidur, ia hari ini tidak ada jadwal kuliah, dan memutuskan untuk mengajak Ryan jalan-jalan.
Rheana sudah meminta izin pada Cakra semalam dan suaminya itu mengizinkan, Ryan pun sudah tahu sehingga mereka janjian bertemu pukul 4 sore nanti.
"Sayang, aku kangen." Tulis Cakra dalam pesannya.
Rheana tertawa, ia langsung membalas pesan dari suaminya yang sejak semalam begitu manja, bahkan tidak mau melepaskannya sama sekali.
Benar, sejak semalam Cakra terus memeluk, mencium bahkan meminta jatah kepada Rheana.
"Punya suami ganteng, lucu lagi." Celetuk Rheana tertawa.
Tawa Rheana sejenak terhenti, ia tidak menyangka bahwa pernikahannya dan Cakra akan sebahagia ini.
Rheana tidak menyangka bahwa Cakra akan percaya kepadanya, dan melupakan kasus Velia, dan malah beralih menyatakan cinta tanpa henti sejak semalam.
Semalam Cakra benar-benar berbeda, pria itu terus membisikkan kata-kata cinta ditelinga Rheana, membuat wanita itu sangat bahagia.
"Aku juga mencintaimu, Kak. Sangat mencintaimu," ungkap Rheana seorang diri.
__ADS_1
Rheana terperanjat, ia berlari ke kamar mandi saat merasakan perutnya seperti di kocok hingga ingin memuntahkan sesuatu.
Ia mual-mual pagi ini, dan kembali merasa pusing seperti kemarin. Jangan sampai dirinya sakit disaat tidak ada siapapun di rumah.
"Kok jadi mual-mual gini sih." Gumam Rheana mencuci mulutnya sendiri.
Rheana menatap pantulan dirinya di cermin, mual yang ia alami seketika membuatnya teringat pada permainan yang selalu Cakra ciptakan.
Setiap kali berhubungan, Cakra selalu menumpahkan cairannya di dalam Rheana, dan besar kemungkinan bahwa itu akan tumbuh di dalam rahimnya.
Tangan Rheana turun menuju perut, ia masih belum tahu, namun ia akan sangat bersyukur jika memang benar dirinya hamil.
Rheana keluar dari kamar mandi, ia memilih untuk tidak sarapan dulu dan akan membeli alat tes kehamilan untuk memastikannya.
Setelah berganti pakaian, Rheana langsung pergi meninggalkan apartemennya menuju apotek terdekat.
Ia tidak menggunakan kendaraan, cukup berjalan kaki untuk sampai di apotek yang ada di dekat apartemennya.
"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang petugas apotek.
"Mau beli testpack, Mbak." Jawab Rheana pelan.
Apoteker itu segera memberikan apa yang Rheana beli. Tidak tanggung, Rheana membeli 5 alat tes kehamilan itu untuk membuktikannya.
Ia menunggu dengan resah hasil tes yang ia lakukan, dan setelah beberapa menit, akhirnya hasilnya keluar.
Rheana melihat semua alat tes kehamilan itu bergaris dua, yang menandakan bahwa dirinya memang sedang berbadan dua.
"A-aku h-hamil." Ucap Rheana terbata, tangannya menutup mulutnya sendiri dengan mata yang berkaca-kaca.
Rheana menangis, ia tidak menyangka bahwa dirinya sekarang sedang hamil, dan ini adalah anak Cakra, anaknya.
Pernikahannya dan Cakra pasti akan semakin bahagia dengan hadirnya buah cinta mereka.
"Kak, aku hamil. Kita akan punya anak," lirih Rheana dengan tergugu karena menangis haru.
Rheana tentu saja tidak akan memberitahu suaminya sekarang, ia akan menunggu sampai Cakra kembali dan memberikan kejutan ini.
***
Sore harinya sesuai dengan janji, Rheana akan jalan bersama Ryan ke mall, ia tidak akan memberitahu siapapun dulu tentang kehamilannya.
__ADS_1
Rheana mau suaminya lah yang pertama mengetahui kabar ini.
Sesampainya di mall, Rheana mendatangi tempat ia janjian dengan adiknya, dan betapa terkejutnya ia melihat bukan hanya ada Ryan, tapi juga ada kedua orang tuanya.
"Mama, Papa." Lirih Rheana.
"Kak, kemarilah." Ryan menghampiri kakaknya, lalu mengajaknya duduk.
Rheana menatap kedua orang tuanya bergantian, ia merasa takut sekali. Bukan takut karena ia merasa bersalah, melainkan ia takut orang tuanya pergi karena kehadirannya.
"Kak, kau mau pesan apa?" tanya Ryan dengan semangat.
Rheana tidak menjawab, ia masih menundukkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca.
"Badan kamu kurus, Rheana. Makanlah yang banyak, Nak." Ucap Papa Rama dengan lembut.
Rheana mengangkat kepalanya, ia menatap sang papa dengan air mata yang tidak bisa dibendung lagi.
"Papa." Lirih Rheana dengan tangisan yang pecah.
"Jangan menangis, Rheana. Kamu tidak cantik jika menangis," hibur Mama Erina.
Rheana bangkit dari duduknya, ia memeluk tubuh kedua orang tuanya yang teramat ia rindukan.
Rheana tidak menyangka bahwa hari ini ia akan mendapat pelukan lagi dari mama dan papanya.
"Hiks … aku rindu kalian." Ungkap Rheana sambil menangis.
"Kami juga, Nak. Namun karena Cakra melarang, makanya kami tidak menemui kamu." Balas Mama Erina.
Rheana melepaskan pelukannya, ia menatap kedua orang tuanya dengan bingung saat mendengar nama suaminya.
"Memang ada apa?" tanya Rheana heran.
"Awalnya kak Cakra melarang kami untuk menemui kamu, Kak. Tapi entah mengapa, hari ini ia mengatakan bahwa Mama dan papa harus bertemu kamu, karena kamu merindukan mereka." Jawab Ryan menjelaskan.
Rheana paham, Cakra suaminya memang sudah sepenuhnya percaya kepadanya, makanya kini ia diperbolehkan untuk bertemu dan berbincang lagi dengan kedua orangtuanya.
"Kak Rhea, mungkin rencanaku berhasil, tapi mungkin juga tidak, aku harap kau bisa menerimanya nanti." Batin Ryan sambil menatap kakaknya yang tersenyum lebar.
LANJUT NGGAK?? KETEMU NGGAK??
__ADS_1
Bersambung...........................