Dinikahi calon kakak ipar

Dinikahi calon kakak ipar
Ryan patah hati


__ADS_3

Awalnya Velia dan Fikri berniat untuk pulang ke rumah, namun nyatanya Velia minta diantar oleh calon suaminya itu ke rumah mertuanya Rheana untuk memberikan hadiah kalung yang telah di belinya.


Ketika sampai di rumah keluarga Dharmawan, Velia di sambut oleh pelayan rumah itu. Katanya, tuan dan nyonya besar sedang pergi, hanya ada Rheana dan Cakra.


Kini Velia dan Fikri duduk bersama Rheana untuk berbincang ringan, sementara Cakra? Pria itu memilih untuk bekerja di kamarnya daripada menemui Velia.


Benar, selain Ryan, Cakra juga masih belum sepenuhnya memaafkan Velia, dan Velia memaklumi hal itu.


"Gimana persiapan sebelum tunangan, Kak?" tanya Rheana kepada kakak dan calon kakak iparnya.


"Lancar, Rhe. Semua sudah kami siapkan," jawab Velia tersenyum.


"Nggak sabar nikah ya, Fik- eh kak Fikri?" tanya Rheana meralat panggilannya.


Fikri terkekeh, ia geleng-geleng kepala mendengar panggilan teman sekaligus calon adik iparnya.


"Santai aja, panggil Fikri juga boleh." Ujar Fikri.


"Nggak sabar nikah? Udah pasti, Rhe. Pengen punya temen tidur, biar bisa di peluk." Lanjut Fikri menjawab pertanyaan Rheana tadi.


Rheana tertawa melihat wajah kakaknya yang tiba-tiba merah karena malu. Ia senang sekali melihat kakaknya akan segera menikah, dan melakukan persiapan begitu matang.


Dalam hati kecil Rheana, ada rasa ingin seperti kakaknya. Dulu, ketika dirinya menikah dengan Cakra itu hanya sebagai pengganti. Ia tidak melakukan persiapan apapun, bahkan undangan pernikahan pun tertulis nama Cakra dan Velia.


Namun Rheana tidak mau menunjukkan itu semua kepada orang lain, ia tidak mau membuat semua orang salah paham dan menilainya iri. Rheana yang sekarang sudah cukup bahagia.


"Rhe, sebenarnya aku kesini mau kasih sesuatu buat kamu." Ucap Velia seraya memberikan paper bag bertulis brand terkenal.


Kening Rheana mengkerut, ia segera membuka paper bag dan ternyata isinya adalah kotak perhiasan.


Rheana mengambilnya, ia membuka kotak itu dan ternyata kalung yang sangat cantik.


"Cantik banget." Puji Rheana memegangi kalung dengan kedua tangannya.


"Di pakai ya waktu aku nikah nanti, biar kita samaan." Ujar Velia dengan senyuman.


Rheana tersenyum, kemudian menganggukkan kepalanya. "Siap, Kak." Balas Rheana.


Velia melirik jam di pergelangan tangannya, dan ternyata sudah semakin sore. Fikri pun tidak jadi ke kantor karena dirinya.


"Kamu bener nggak apa-apa nggak ke kantor?" tanya Velia pelan.

__ADS_1


Fikri tersenyum tipis, ia mengusap puncak kepala Velia lalu mengangguk.


"Iya, Sayang. Tenang aja," jawab Fikri lembut.


"Mau pulang?" tanya Fikri menawarkan.


"Iya, sudah sore juga." Jawab Velia.


Fikri dan Velia pun menatap Rheana, mereka berpamitan pulang kepada Rheana karena hari sudah semakin sore. Velia dan Fikri harus banyak istirahat agar saat hari pertunangan nanti mereka sehat.


"Hati-hati dijalan ya, Kak." Ucap Rheana seraya melambaikan tangannya.


"Iya, Rhe. Kami pamit ya, sampai jumpa." Balas Velia sebelum mobil Fikri akhirnya keluar dari pekarangan rumah Dharmawan.


Rheana hendak membalik badan dan masuk ke dalam rumah, namun tiba-tiba sebuah pelukan hangat terasa di tubuhnya.


"Lama banget, aku kan kangen." Bisik Cakra dengan manja.


Entah sejak kapan Cakra turun dari kamarnya dan menghampiri Rheana bahkan sampai memeluknya begini.


Rheana terkekeh, ia mengusap wajah suaminya pelan.


"Apaan sih, kangen-kangen. Dari tadi juga sama aku," balas Rheana sewot.


"Ya lepas dulu pelukannya, gimana mau masuk." Ujar Rheana seketika membuat Cakra malah menggendongnya.


"Kak!" Pekik Rheana seraya mengalungkan tangannya di leher sang suami.


"Eh aku lupa, udah berapa kali kamu panggil aku 'kak'? Harus di hukum kan?" Bisik Cakra seraya menggigit pelan telinga Rheana.


"Baru sekali, pokoknya aku nggak mau di hukum." Jawab Rheana ingat bahwa baru sekali ia memanggil Cakra dengan panggilan 'kak'.


"Eh nggak boleh gitu, harus profesional." Timpal Cakra geleng-geleng kepala.


Cakra pun membawa Rheana masuk ke dalam rumah, dan ke kamar mereka untuk ia hukum. Sesuai dengan perjanjian tadi di dapur, maka Rheana harus menciumnya.


Cakra merebahkan tubuh istrinya di ranjang, kemudian di susul olehnya yang berada di atas Rheana, namun tidak menindihnya.


"Calon bunda yang satu ini cantik banget, jadi heran dulu aku kemana sampai nggak lihat gadis cantik dan seksi ini." Celetuk Cakra seraya mengusap-usap wajah Rheana.


Rheana mengalungkan sebelah tangannya di leher Cakra, sementara tangan lainnya ia gunakan untuk mengusap dada bidang sang suami.

__ADS_1


"Mungkin tertutup rasa kagum sama kakakku." Jawab Rheana sesuai dengan kenyataan.


Cakra menunduk, ia mencium bibir istrinya karena tidak mau jika Rheana sampai membahas hal dulu. Cakra sudah lupa dengan Velia, kini dalam pikiran dan hatinya hanya ada Rheana Cakra Dharmawan.


Rheana membalas pangutan bibir suaminya, ia juga mencium Cakra atas keinginannya sendiri. Entahlah, bayi dalam kandungannya ini selalu membuatnya ingin dekat-dekat dengan suaminya.


***


Malam harinya di rumah Chandrama, terlihat seorang pria sedang duduk di kamarnya dengan perasaan gundah. Hari ini menjadi hari pertamanya jatuh cinta pada pesona gadis sederhana yang sangat cantik.


Ryan, pria itu adalah adik Rheana dan Velia. Rasa frustasi sedang di rasakan olehnya karena ia jatuh cinta kepada gadis yang sudah memiliki pujaan hati.


Memang sial sekali, baru pertama kali jatuh cinta eh langsung di terpa kenyataan bahwa gadis itu adalah pacar orang.


"Sial, kenapa harus gadis itu." Ujar Ryan kesal sendiri.


Ryan bangkit dari duduknya, ia memilih keluar dari kamar dan mencari udara segar. Ryan menuruni anak tangga untuk pergi ke dapur, mencari sesuatu yang bisa mendinginkan hatinya.


Ketika sampai di dapur, ia melihat ada Velia yang asik menikmati sekotak ice cream seorang diri.


"Ryan." Panggil Velia lembut.


Ryan tidak menyahut, ia hendak pergi dari dapur karena malas ada Velia, namun kakaknya itu memanggil lagi.


"Ryan, ini ice cream kesukaanmu kan. Ayo duduk disini dan makan!" ajak Velia lembut, masih dengan nada yang sebelumnya.


Ryan kembali membalik badan, ia melihat ice cream yang dimakan Velia memang kesukaannya, tapi ia malas jika harus makan bersama kakaknya itu.


Ryan menghela nafas, panas di hatinya mungkin bisa hilang jika dirinya makan ice cream itu.


Ryan mengambil sendok dan mangkuk kecil lalu mencolek beberapa sendok ice cream dan menaruhnya ke mangkok.


"Terima kasih ice creamnya." Ucap Ryan kemudian pergi dengan membawa ice cream yang ia ambil dari kakaknya.


Velia tersenyum, setidaknya Ryan sudah ada perkembangan untuk bicara padanya, dan ia sangat senang.


Velia lanjut memakan ice cream itu, ia sengaja membelinya untuk Ryan waktu itu, namun ternyata tidak sama sekali di sentuh adiknya. Alhasil ia makan sendiri, dan ternyata Ryan datang untuk mengambil ice cream nya.


"Maafin kakak ya, Ryan. Semoga kamu bisa maafin kakak secepatnya," ucap Velia lirih.


RYAN PATAH HATI? SINI AKU OBATIN🤣

__ADS_1


Bersambung.........................


__ADS_2