
Di sebuah apartemen yang berada di kawasan Jakarta, terlihat seorang wanita sedang berdiri sambil menatap pemandangan di hadapannya.
Malam yang bertabur bintang itu semakin berwarna karena lampu-lampu kendaraan yang terlihat lebih kecil daripada seharusnya.
"Hai, sedang apa kamu disini?" tanya seseorang di belakang wanita itu.
Sang wanita menoleh, menampilkan senyuman tatkala melihat pria baik yang telah menolongnya berada disana.
"Tidak ada, aku hanya sedang melihat pemandangan." Jawab wanita itu lembut.
Pria itu mendekat, mengusap kepala si wanita pelan.
"Apa kepalamu sakit lagi?" tanya pria itu penuh perhatian.
"Tidak, dokter juga mengatakan bahwa ingatanku bisa kembali jika aku belajar untuk mengingatnya." Jawab wanita itu pelan.
Pria itu mengangguk pelan, ia menggenggam tangan perempuan itu kemudian menariknya keluar dari kamar si wanita.
"Ma, aku akan mengajak Velia keluar!!" teriak Fikri sampai menggema di satu apartemen.
Velia tersenyum mendengar suara Fikri yang berteriak kencang, ia selalu suka setiap kali Fikri menggandeng tangan nya seperti ini.
"Mau keluar kemana?" tanya Ani, ibunda Fikri.
"Jalan-jalan aja, Ma. Kasihan, seharian dia terus saja di rumah." Jawab Fikri.
Fikri beralih menatap Velia. "Mau kan?" tanya Fikri pelan.
Velia menganggukkan kepalanya. "Iya mau." Jawab Velia.
Fikri pun akhirnya pamit kepada sang Mama untuk mengajak Velia pergi.
Bicara soal Velia, wanita itu adalah wanita yang ditolong Fikri saat dirinya melihat kecelakaan di tol menuju Bandung.
Hari itu Fikri dan ibunya akan ke rumah kerabat, namun siapa sangka jika mereka menyaksikan kecelakaan yang cukup parah.
__ADS_1
Mereka membantu salah satu korban, dan itu adalah Velia. Saat dilarikan ke rumah sakit dan ditangani oleh dokter, pihak rumah sakit mengatakan bahwa Velia mengalami amnesia sementara karena kepalanya terbentur.
Identitas Velia ditemukan, namun hanya ada nama saja, sementara identitas lainnya tidak terlihat karena terbakar.
Karena tidak tahu keluarga Velia, akhirnya Fikri memutuskan untuk membawa wanita itu pulang dan merawatnya sampai hari ini.
Fikri berusaha untuk membantu Velia mengingat agar bisa mempertemukannya dengan keluarga aslinya.
Namun jika boleh jujur, Fikri belum siap untuk berpisah dengan Velia. Ya! Dirinya mencintai wanita itu, dia jatuh cinta dengan kecantikan dan tutur kata wanita itu yang lembut.
"Kita akan kemana?" tanya Velia menoleh, menatap Fikri yang fokus menyetir.
"Cari makanan saja," jawab Fikri dengan senyuman seperti biasanya.
Velia hanya mengangguk pasrah, ia tidak akan protes karena kemanapun Fikri mengajaknya pergi, maka ia akan ikut.
Sementara itu di tempat lain, sepasang suami istri sedang bersantai sambil menonton televisi.
Camilan di depan mereka serta minuman yang dibuat oleh istri nya.
"Sayang, lusa aku akan ke Surabaya. Kamu tidak apa-apa kan sendiri?" tanya Cakra sambil mengusap kepala Rheana yang bersandar di dadanya.
"Mungkin tiga sampai lima hari saja." Jawab Cakra.
Rheana manggut-manggut, ia semakin menduselkan kepalanya di dada sang suami sebelum berpisah.
3 atau 5 hari cukup lama untuk Rheana, ia yang terbiasa bersama Cakra harus berpisah dengan suaminya itu karena tuntutan pekerjaan.
Rheana menguap, hal itu tentu saja disadari oleh Cakra.
"Mengantuk, hmm?" tanya Cakra lembut seraya mengusap pelan wajah cantik istrinya.
Rheana memejamkan matanya lalu mengangguk. "Iya, aku tidur ya." Jawab Rheana.
Cakra mencium kening dan pipi Rheana bergantian.
__ADS_1
"Iya, Sayang. Kamu duluan ya, aku masih ada pekerjaan." Ujar Cakra yang diangguki oleh Rheana.
Rheana bangkit, ia pergi ke kamar nya untuk tidur, dan membiarkan camilan di meja, akan ia bersihkan besok.
Padahal ini baru jam 9 malam, tetapi Rheana merasa sangat mengantuk.
Sementara itu Cakra masih duduk di ruang tamu, ia merogoh saku celananya lalu menghubungi seseorang.
"Halo, Kak. Bagaimana kelanjutan rencanamu?" tanya seseorang di seberang sana.
Cakra terdiam, pertanyaan yang terlontar dari adik iparnya itu sukses membuat pikirannya melayang.
Perlakuan Rheana, sikap lembut dan penuh kasih sayang tulus yang Rheana curahkan berhasil membuatnya melupakan rencana nya itu.
"Ryan, tentu saja rencanaku berhasil. Aku kira kau berada di pihak Rheana, ternyata kau malah memberikanku ide untuk menyiksanya dengan cinta." Jawab Cakra terkekeh.
Terdengar suara tawa dari Ryan diseberang sana. Benar, orang yang selalu bicara dengan Cakra saat membicarakan rencana adalah Ryan, adik Rheana dan Velia.
"Bagus, Kak." Puji Ryan.
Setelah berbincang sebentar, Cakra pun memutuskan panggilan mereka. Cakra pergi ke kamar untuk menyusul istrinya yang kemungkinan sudah tidur.
Sementara itu di rumah Chandrama, tampak seorang remaja yang duduk di balkon kamarnya.
Ia tersenyum getir seraya menatap ponselnya yang baru selesai menyelesaikan panggilan dengan kakak iparnya.
"Aku memberikanmu rencana ini agar kau sadar bahwa kakakku Rheana tidak bersalah, kau akan terjebak dalam rencana ini dan jatuh cinta pada kak Rheana tanpa kau sadari, Kak Cakra." Ucap Ryan dengan senyuman simpul.
Fyi, Ryan sengaja bersandiwara mengkhianati Rheana dan membantu Cakra dalam menyiksanya kakaknya. Ia tentu saja tidak terima jika kakaknya disiksa secara fisik.
Akhirnya Ryan memiliki satu rencana yaitu dengan berpura-pura mencintai dan akan membuangnya saat sudah di terbangkan.
Ryan melakukan itu bukan tanpa alasan, ia bukan anak kecil lagi, dan ia yakin dengan seringnya mereka berinteraksi sebagai pasangan suami istri sesungguhnya, maka akan tumbuh cinta sebenarnya dalam hati Cakra.
"Kak Rhea, aku yakin kau bisa mendapatkan cinta suami mu." Ucap Ryan sambil memandangi fotonya dan Rheana saat dulu.
__ADS_1
TERNYATA RYAN GUYS 😰
Bersambung........................