Dinikahi calon kakak ipar

Dinikahi calon kakak ipar
Kabar duka


__ADS_3

Abel saat ini sedang menemani Rheana yang sedang makan di kantin rumah sakit. Rheana sengaja mengajak Abel, karena dirinya tahu bahwa gadis itu belum makan setelah sejak pagi terus menjaga Ryan.


"Abel, pesan aja nggak apa-apa. Aku tahu kamu belum makan 'kan," ucap Rheana pelan.


"Eum … nggak usah, Kak. Aku belum lapar," balas Abel menolak.


Abel rasanya tidak enak menerima tawaran dari kakaknya Ryan. Ia bingung sekaligus kagum pada Ryan dan keluarganya yang tidak sombong padahal mereka orang kaya.


"Nggak apa-apa, Abel. Pesan aja, masa aku makan sendiri." Ujar Rheana memaksa.


Abel tersenyum canggung, ia akhirnya memesan satu mangkok bubur ayam sama seperti Rheana.


Sambil menunggu pesanan nya datang, mereka berbincang sedikit untuk menghalau rasa canggung diantara mereka, terutama Abel.


"Aku tahu kamu sedih setelah papa aku bicara soal keluarga, tapi kamu nggak perlu khawatir Abel, papa dan mamaku bukan orang yang memandang kasta dan kekayaan kok." Ucap Rheana menjelaskan.


"Iya, Kak." Balas Abel menganggukkan kepalanya kecil.


"Kalo kamu ada yang mau di sampaikan, bilang aja nggak apa-apa." Tutur Rheana seraya memegang tangan Abel di meja.


"Aku ngerasa nggak pantas buat Ryan, Kak. Dari segi manapun, aku memang nggak cocok buat Ryan." Ujar Abel pelan.


"Segi manapun itu kaya gimana maksudnya?" tanya Rheana lembut.


"Aku cuma gadis dari keluarga sederhana, bahkan nyaris sebatang kara sejak mamaku sakit, sedangkan Ryan terlahir dari keluarga berada yang harmonis." Jawab Abel tanpa menatap Rheana.


Rheana tersenyum. "Aku tahu kok, kamu berpikir begitu karena memang ada satu dua keluarga yang memandang status untuk pasangan anak-anaknya. Tapi percaya sama aku, mama dan papaku bukan salah satunya." Sahut Rheana menjelaskan.


"Aku nggak bisa bahas soal pernikahan, karena kalian masih sama-sama menimba ilmu, tapi aku akan bilang bahwa aku setuju kamu sama Ryan." Lanjut Rheana dengan yakin.


Abel menatap Rheana dengan mata bulatnya dengan berkaca-kaca. Apa yang kakaknya Ryan katakan barusan seakan menjadi pembuka untuk Abel merasa bisa di terima di keluarga Ryan.


"Kak, kenapa kakak sudah setuju aja. Kita baru saja mengenal kan," cicit Abel dengan suara sesak.


"Karena aku tahu Ryan adalah orang yang pemilih, dia tidak pernah main-main dengan pilihannya. Jika dia sudah menentukan kamu sebagai pasangannya, maka aku yakin bahwa keputusannya sudah benar." Jelas Rheana.


"Jika Ryan adalah pria yang gampang menerima, mungkin sudah banyak gadis yang aku kenal selama ini, tapi nyatanya hanya kamu yang berani Ryan bawa ke rumah." Tambah Rheana sedikit tertawa.


Abel ikut tertawa, ia tidak menyangka bahwa kakaknya Ryan yang cantik ini memiliki sifat yang tidak kalah cantik dari wajahnya.


Ryan benar-benar beruntung memiliki seorang kakak yang cantik dan juga sangat lembut.


"Kak Rheana baik banget, Ryan beruntung punya kakak." Ujar Abel jujur.

__ADS_1


Rheana tertawa, ia bahkan sampai memegangi perutnya karena merasa lucu setelah mendengar ucapan Abel.


"Aku mungkin baik, tapi jangan tanya bagaimana aku marah." Balas Rheana bergurau.


"Suami kakak sangat beruntung punya kak Rheana." Ujar Abel lagi.


Rheana hanya tersenyum mendengar ucapan Abel yang satu ini. Cakra beruntung memilikinya? Mungkin iya, tapi dirinya lebih beruntung karena Cakra sudah berubah dan sangat menyayanginya sekarang.


Tidak lama kemudian bubur mereka pun datang, Rheana dan Abel sama-sama menyantap bubur ayam di jam yang sudah hampir menunjukkan waktu makan siang.


Tidak terlalu buruk, karena rasa buburnya enak.


"Enak ya, Bel." Ucap Rheana mengomentari, dan Abel hanya mengangguk menyetujui.


Ditengah-tengah menikmati semangkok bubur, tiba-tiba ponsel genggam Abel berdering. Ia segera melihat siapa yang menghubunginya sekarang ini.


"Kak, sebentar ya." Ucap Abel meminta izin.


"Iya, Bel. Angkat aja," balas Rheana santai.


Abel segera mengangkat panggilan dari pihak rumah sakit dimana ibunya di rawat. Setiap kali panggilan itu masuk, hanya satu harapan yang ada di hatinya, yaitu kabar bahwa ibunya sudah sadar.


"Iya, halo suster." Sapa Abel duluan.


"Iya, Sus. Tapi ada apa ya, semuanya baik-baik saja kan?" Tanya Abelmulai khawatir.


"Ibu anda, ibu anda meninggal Nona."


Abel menjatuhkan ponselnya ke lantai setelah mendengar ucapan suster diseberang sana. Abel memegangi kepalanya, ia menutup mulut dengan perasaan sesak yang memenuhi rongga dadanya.


Rheana menyadari itu, ia menatap Abel dengan khawatir setelah melihat gadis itu menangis.


"Abel, kenapa kamu nangis? Siapa yang telepon?" tanya Rheana memegang tangan Abel.


"Hiks … mama … mama aku …" Abel menggantung ucapannya.


"Mama kamu kenapa?" tanya Rheana lagi.


"Mama aku meninggal, Kak. Hiks … mama ninggalin aku!!" Jawab Abel histeris.


Rheana terkejut, ia bangkit dari duduknya lalu berpindah duduk di sebelah Abel dan memeluknya erat.


"Hiks … mama pergi, mama ninggalin aku sendirian." Rancau Abel sambil terus menangis.

__ADS_1


"Sstttt … tenangin diri kamu, Abel. Kita kesana sekarang ya." Bisik Rheana seraya mengusap punggung gadis rapuh dalam pelukannya.


Abel semakin menangis, menumpahkan air mata didalam pelukan kakaknya Ryan. Abel tidak punya siapapun lagi, ia tidak lagi memiliki tempat untuk berkeluh kesah dan membagi cerita.


"Sayang." Panggil seorang pria yang merupakan suami dari Rheana.


Rheana menatap suaminya dengan teduh, ia ikut merasakan sedih yang teramat dalam mendengar suara Abel yang terus memanggil ibunya.


"Mas, anterin kita ke rumah sakit tempat ibunya Abel di rawat." Ucap Rheana pelan.


"Ada apa, Sayang?" Tanya Cakra namun Rheana menggelengkan kepalanya.


Rheana akan memberitahu Cakra nanti, namun tidak di depan Abel yang saat ini masih menangis dalam pelukannya.


Cakra tidak punya pilihan lain, apalagi istrinya sudah memintanya. Ia yang niat datang ke rumah sakit dan makan siang bersama istrinya, justru malah melihat Abel menangis dalam pelukan Rheana.


Rheana duduk di kursi penumpang bersama Abel, tangan wanita itu terus mengusap bahu dan punggung Abel yang gemetar.


Tidak terasa mereka pun sampai di rumah sakit tempat ibunya Abel di rawat. Rheana, Cakra dan Abel segera menuju ruangan dimana ibunya Abel di rawat.


"Mama!!" tangis Abel pecah ketika melihat ibunya ditutupi kain putih sampai seluruh tubuhnya.


"Hiks … mama!! Jangan tinggalin aku, Ma. Kenapa Mama ninggalin aku sendirian," tangis Abel semakin pecah, ia melingkarkan tangannya di perut sang mama yang sudah tidak bernyawa.


"Nona, tenang." Ucap suster pelan.


"Mama!!" panggil Abel semakin histeris.


Rheana ikut menangis, ia menangis dengan Cakra yang memeluknya. Rheana tidak sanggup jika dirinya berada di posisi Abel sekarang.


"Tenang, Sayang. Kamu jangan lupa ada baby disini, nanti dia ikut sedih." Bisik Cakra berusha menenangkan istrinya.


"Aku nggak sanggup, Mas. Kasihan Abel," balas Rheana lirih.


Abel masih menangis sambil memeluk tubuh tidak bernyawa ibunya. Anak mana yang tidak akan sakit dan hancur melihat orang yang telah melahirkannya telah pergi dari dunia ini untuk selamanya.


Kini Abel benar-benar hidup sebagai sebatang kara. Ia sudah tidak punya keluarga atau siapapun dalam hidupnya.


"Ma, aku sendirian. Kenapa Mama tega ninggalin aku, aku udah nggak punya siapa-siapa lagi sekarang." Lirih Abel tanpa melepaskan pelukannya di tubuh mamanya.


Abel benar-benar terpukul, andai saja bisa mungkin ia akan menggandeng tangan sang mama dan ikut pergi dari dunia ini.


ABEL, AYO PELUK SAMA AKU😫😫

__ADS_1


Bersambung...............................


__ADS_2