Dinikahi calon kakak ipar

Dinikahi calon kakak ipar
Makan siang bersama


__ADS_3

Rheana baru saja sampai di kelasnya, hari ini hanya ada satu jadwal mata kuliah, sehingga ia akan pulang lebih awal dari kemarin.


Ia juga tidak lupa bahwa hari ini Cakra memintanya untuk datang ke kantornya, dan membawakan makan siang. Jika memungkinkan, Rheana akan pulang dulu ke apartemen untuk memasak, namun jika tidak, maka ia akan beli saja.


“Hai.” Sapa Fikri melambaikan tangannya kepada Rheana.


Rheana tersenyum tipis, ia tidak mengucapkan apapun dan memilih untuk membaca buku yang kemarin baru saja datang, usai ia membelinya secara online.


“Aku boleh kan duduk di sebelahmu?” tanya Fikri meminta izin.


“Tentu saja, bahkan kau tidak perlu meminta izin untuk itu.” Jawab Rheana terkekeh.


Fikri tersenyum, pemuda itu duduk di sebelah Rheana dengan senyuman yang masih belum hilang dari wajahnya.


“Akhirnya aku melihatmu tertawa, ku kira kau sangat dingin dan datar, Rhe.” Ujar Fikri diakhiri tawa kecil.


“Tidak mungkin, bahkan saat di kampusku dulu, aku dijuluki gadis bawel dan ceria.” Sahut Rheana geleng-geleng kepala.


“Benarkah? dimana kampusmu dulu?” tanya Fikri antusias.


Belum sempat Rheana menjawab, dosen tiba datang dan membuat mereka langsung diam.


Rheana mendengarkan tiap kalimat yang keluar dari mulut dosen dengan seksama, ia sudah sangat mantap untuk belajar dan belajar.


Jika dulu ia sangat santai dan hanya main-main, maka di perkuliahan kali ini ia akan sangat serius, apalagi suaminya sudah mau membiayai.


2,5 jam berlalu, akhirnya mata kuliah pertama dan terakhir Rheana untuk hari ini selesai. Jam sudah menunjukkan pukul 10.30 siang, dan tidak memungkinkan baginya untuk pulang ke apartemen dan memasak.


Rheana akan membeli di luar saja untuk makan siang. Rheana hendak keluar dari kelas, namun panggilan Fikri menghentikan langkahnya.


“Rhea, kau merasa takut padaku ‘ya?” tanya Fikri tiba-tiba.


Rheana mengerutkan keningnya. “Apa maksudmu?” tanya Rheana tidak mengerti.


“Entah mengapa aku merasa bahwa kau takut padaku, mungkin kau mengira aku menyukaimu dan berusaha mendekatimu. Tapi jujur saja, aku benar-benar ingin berteman saja denganmu,” ucap Fikri menjelaskan.

__ADS_1


Rheana tertawa mendengar ucapan pria yang sepertinya lebih tua 1-2 tahun darinya.


“Kau ini bicara apa, aku tidak berpikir begitu. Aku hanya sedang terburu-buru, Fikri.” Sahut Rheana.


Fikri menghela nafas lega. “Jadi kita berteman ‘kan?” tanya Fikri dengan semangat.


Rheana mengangguk. “Tentu saja, selama kau tidak menyukai wanita bersuami ini.” Jawab Rheana diakhiri tawa.


Fikri bergidik. “Tentu saja, akalku masih sehat untuk menyukai wanita bersuami. Aku tidak punya cukup nyali menghadapi suami mu,” balas Fikri.


“Oh iya, satu lagi aku ini lebih tua darimu.” Ucap Fikri tiba-tiba.


“Sudah ku duga, jadi apakah aku harus memanggilmu Kak?” tanya Rheana dan dijawab gelengan kepala.


“Tidak, kau panggil nama saja. Lagipula kita berteman,” jawab Fikri.


Rheana manggut-manggut, ia kemudian pamit pergi karena bisa terlambat ke kantor suaminya jika ia terus mengobrol dengan temannya itu.


Rheana pergi dengan naik taksi, sebelumnya juga ia sudah memesan makanan via online dan mengirim alamat kantor Cakra sebagai alamat penerima.


Rheana turun dan tidak lupa membayar, ternyata makanan pesanannya juga sudah datang, dan menunggu kedatangannya.


“Maaf sudah menunggu, ini uangnya. Terima kasih ya, Pak.” Ucap Rheana memberikan uang lebih kepada ojol yang membawa makanannya.


“Sama-sama, Mbak.” Balas ojol itu kemudian pergi.


Rheana segera masuk ke dalam kantor suaminya, dan ia disambut cukup baik oleh para karyawan yang kebetulan berpapasan dengannya.


“Selamat siang, Nona Rheana.” Sapa para karyawan yang dibalas senyuman ramah oleh Rheana.


Rheana menaiki lift, dan menekan tombol 12, lantai dimana ruangan suaminya berada.


Sesampainya di lantai tujuan, Rheana segera keluar, dan ia terkejut melihat Cakra yang berdiri di depan pintu dengan penampilan yang benar-benar membuat Rheana pusing.


Cakra hanya mengenakan kemejanya, tanpa jas. Dasi yang sedikit acak-acakan, dan kedua tangan yang dikantongi di saku celananya.

__ADS_1


“K-kak Cakra.” Ucap Rheana gugip sekaligus terkejut.


“Hai, bagaimana hari ini?” tanya Cakra dengan ceria, tangannya menggandeng tangan istrinya pelan.


“Seperti biasa, Kak.” Jawab Rheana tersenyum.


Cakra mengajak istrinya masuk ke dalam ruangannya, dan mereka langsung duduk di sofa sebab waktu sudah menunjukkan jam makan siang.


“Aku tidak sempat memasak, jadi aku membelinya.” Rheana membuka bungkus makanan yang ia beli.


Makanan yang Rheana beli adalah salad sayur, dan paket ayam geprek lengkap.


“Makan nasinya dulu ‘ya, Kak.” Tutur Rheana seraya memberikan makanannya.


“Dimana nasimu?” tanya Cakra saat melihat Rheana hanya memakan salad.


“Aku sedang tidak ingin makan nasi, Kak. Pagi aku sudah sarapan,” jawab Rheana seraya melahap saladnya.


Cakra menggeleng, ia mengambil salad sayur di tangan istrinya lalu meletakkannya di meja.


“Makan nasi dulu, kita makan berdua.” Ucap Cakra lalu menyodorkan suapan pertama ke mulut istrinya.


Rheana terdiam, ia pasti terkejut dengan sikap Cakra yang berubah kesekian kalinya.


“Kau duluan, Kak.” Tutur Rheana mendorong pelan sendoknya.


Cakra menurut, ia melahap suapan pertama lalu bergantian menyuapi Rheana. Rheana melahapnya, bahkan terlihat menahan senyum karena tidak menyangka dengan sikap manis Cakra saat ini.


“Nanti kamu pulang duluan ‘ya, aku sepertinya akan lembur.” Tutur Cakra saat mereka selesai makan.


Rheana mengangguk. “Tentu, aku akan menunggumu di rumah.” Balas Rheana.


Cakra tersenyum simpul, ia mengusap kepala Rheana dengan sayang.


ENAK NGGAK SIH LIAT MEREKA GINI??

__ADS_1


Bersambung....................


__ADS_2