
Rheana duduk di ruang kerja suaminya dengan bosan. Saat di rumah tadi ia begitu semangat, tapi sampai disini ia malah bosan.
Rheana menundukkan kepalanya, ia mengusap perutnya lalu menatap suaminya yang sedang begitu fokus pada komputernya.
Rheana tidak berani mengganggu Cakra, ia takut pria itu akan memarahinya nanti.
"Sayang, kamu bosan?" tebak Cakra tanpa menatap istrinya.
Rheana menoleh, menatap suaminya yang masih fokus pada laptop, meski bibirnya berkata hal yang benar.
"Hmm … sedikit, Mas." Jawab Rheana pelan.
Cakra tersenyum tipis, ia mengalihkan pandangannya ke arah istrinya yang sedang hamil itu, lalu bangkit.
Cakra berjalan mendekati Rheana, kemudian duduk di sebelah istrinya itu.
"Mau jalan-jalan dan membeli sesuatu?" tanya Cakra menawarkan.
Tangan Cakra terulur untuk mengusap kulit halus dan putih milik istrinya. Ia juga memberikan kecupan kasih sayang di kedua pipi Rheana.
Rheana tidak menolak saat Cakra menciumnya. Ia juga menyukai kecupan dari Cakra yang terasa hangat dan memabukkan.
"Nggak mau, aku mau disini aja." Jawab Rheana menggelengkan kepalanya.
Rheana bangkit dari duduknya, ia kini duduk dipangkuan Cakra tanpa di paksa sama sekali. Tangan Rheana pun mulai melingkari leher suaminya yang tampan ini.
Cakra cukup terkejut dengan gerakan Rheana yang tiba-tiba. Alih-alih menolak, Cakra malah ikut melingkarkan tangannya di pinggang istrinya.
"Tumben mama Rheana duduk kaya gini tanpa harus di paksa." Ucap Cakra dengan tatapan mata yang hangat.
Rheana duduk menyamping, sehingga perutnya tidak akan tertekan olehnya dan oleh badan Cakra.
Rheana menangkup wajah suaminya, ia mencium hidung mancung Cakra dengan cepat.
"Kenapa di hidung, kan ada bibir yang lebih menggoda?" tanya Cakra lembut.
Rheana menggeleng polos, ia menutup mulut Cakra lalu mencium tangannya sendiri yang menutupi bibir suaminya.
Cakra mengerem, sepertinya Rheana ini sedang ingin mengerjai dirinya.
"Sayang, aku orangnya suka nggak tahan lho," tegur Cakra seraya mulai meraba tangan Rheana yang halus.
"Hmm, nggak tahan ngapain?" tanya Rheana berbisik.
Cakra memejamkan matanya ketika meraskaan bahwa tangan Rheana mengusap leher belakangnya dengan lembut. Hal itu semakin membuat Cakra kelojotan.
"Sayang!" tegur Cakra kesal.
Rheana tertawa, ia bangkit dari pangkuan suaminya sambil melambai-lambaikan tangannya.
"Aku mau tidur disana." Ucap Rheana menunjuk ke arah kamar pribadi Cakra yang tentu di ketahui oleh Rheana.
Cakra ikut bangkit, ia memegang kedua bahu Rheana lalu mendorongnya pelan hingga ke kaca yang ada di belakang kursi kerja miliknya.
Cakra menangkup wajah cantik istrinya, lalu mulai mencium bibir semanis cherry itu dengan tidak sabaran.
__ADS_1
Rheana turut membalas pangutan bibir suaminya. Benar-benar nikmat, ciuman di kantor dan posisi pintu yang tidak di kunci, sehingga kemungkinan bisa ada yang masuk.
Cakra dan Rheana tidak peduli, toh mereka adalah suami istri, jadi wajar saja jika bermesraan di kantor begini.
Apalagi Cakra selalu bilang. "Kantor aku, bosnya aku, pemimpinnya aku. Suka-suka aku lah mau ngapain."
Begitu lah Cakra mengatakannya. Hal itu juga yang membuat Rheana tidak takut berciuman di ruangan suaminya.
Setelah beberapa saat, Rheana dan Cakra pun melepaskan ciuman mereka. Cakra menjatuhkan kepalanya di bahu sang istri dengan nafas terengah-engah.
Rheana balas mengusap punggung dan leher belakang Cakra, ia melakukan itu hanya sekedar usapan saja, tidak bermaksud lain.
"Sayang, kalo kamu usap terus. Aku gendong kamu, terus tengok baby sekarang di sana." Ujar Cakra tanpa menatap istrinya.
Rheana tertawa, entah suaminya ini kenapa. Ia kan hanya mengusap saja, kenapa jadi Cakra mengancam akan menengok anaknya.
"Berkas-berkas kamu sudah menunggu, Mas." Bisik Rheana mengingatkan.
Cakra masih menyandarkan kepalanya di bahu sang istri, namun ia kini menoleh ke arah meja kerjanya yang terlihat banyak berkas menumpuk disana.
"Sayang!!!" rengek Cakra sambil melingkarkan tangannya di kedua bahu Rheana.
"Apa sih, Mas. Udah ah, aku kan mau tidur." Sahut Rheana seraya melepaskan pelukan suaminya.
Cakra menghela nafas, ia menangkup wajah Rheana lagi lalu memberikan kecupan bertubi-tubi di seluruh wajah cantik Rheana Cakra Dharmawan.
"Pesona Nyonya Cakra Dharmawan memang kuat." Bisik Cakra setelah selesai mencium istrinya.
Rheana hanya bisa tertawa, ia pun masuk ke dalam kamar pribadi suaminya. Tujuannya agar ia bisa tidur, sekaligus tidak mengganggu suaminya bekerja.
Rheana naik ke atas ranjang empuk yang ada disana. Ia merebahkan diri dan tidak lupa menyalakan televisi guna menonton sesuatu agar tidak bosan.
"Baby Peachyyy." Panggil Rheana lembut seraya mengusap perutnya.
"Akhhh!!" Rheana tiba-tiba memekik saat meraskaan tendangan baby nya.
Rheana tersenyum, ia kembali mengusap-usap perutnya dan lagi-lagi baby nya menendang.
Jujur saja, ini baru pertama kali Rheana rasakan setelah usia kandungannya hampir 7 bulan. Padahal yang ia tahu adalah, baby bisa mulai berinteraksi dari umur 5 atau 6 bulan.
"Baby peachyyy." Panggil Rheana gemas.
Apa mungkin bayinya mulai berinteraksi sejak memiliki nama panggilan. Rheana tidak tahu pastinya, yang jelas ia sangat bahagia merasakan bayinya aktif.
"Baby, baik-baik ya di perut mama. Nanti jika baby udah besar, kita bahagia sama-sama dengan papa." Bisik Rheana seraya terus mengusap perutnya.
Rheana merebahkan tubuhnya, ia tiba-tiba merasa mengantuk setelah berceloteh dengan bayi dalam kandungannya.
Rheana memejamkan matanya, dan perlahan mulai tidur. Rheana yang pulas di dalam kamar pribadi suaminya di kantor.
Sementara itu Cakra sedang fokus mengurus berkas-berkas, ia ingin melihat istrinya yang sudah tidak terdengar suaranya sama sekali. Tapi langkahnya terhenti ketika terdengar ketukan pintu.
"Siang, Pak." Sapa Bagas dengan sopan.
"Ya, siang." Balas Cakra kembali duduk di kursinya.
__ADS_1
"Berkas ini butuh tanda tangan anda segera, Pak?" tanya Bagas seraya menunjukkan dimana Cakra harus membubuhkan tanda tangannya.
"Bagas, bisa tolong belikan saya makanan?" tanya Cakra seraya melihat jam hampir menyentuh waktu makan siang.
"Tentu, Pak." Jawab Bagas.
"Saya akan kirim via WhatsApp apa saja yang harus di beli, sekalian saya transfer uangnya ya." Tutur Cakra.
"Baik, Pak. Saya akan menunggu," balas Bagas kemudian pergi keluar dari ruangan atasannya.
Setelah kepergian sang asisten, Cakra pun bangkit dari duduknya. Ia pergi ke kamar pribadi miliknya untuk menanyakan makan siang apa yang Rheana mau.
Namun sayangnya, ketika ia membuka pintu, ia melihat Rheana tertidur dengan pulas.
"Sayang." Gumam Cakra gemas.
Cakra sangat menyayangi dan mencintai wanita yang sedang tertidur itu. Ia sungguh-sungguh tidak akan bisa hidup jika tidak bersama istrinya.
Cakra mendekat, ia naik ke atas ranjang dan ikut merebahkan diri di sebelah Rheana. Tangan Cakra terulur untuk menyingkirkannya anak rambut yang menutupi wajah cantik sang istri.
"Shhhh …" Rheana tiba-tiba mendesis sambil memegangi perutnya.
Cakra yang melihat itu tentu saja panik, ia takut terjadi sesuatu dengan istri dan calon anaknya.
"Sayang, hei. Buka mata kamu, dimana yang sakit?" Tanya Cakra sambil menepuk pipi Rheana pelan.
Rheana membuka matanya, ia terkejut melihat Cakra ada disana dengan wajah panik.
"Mas, kamu kenapa?" tanya Rheana seraya berusaha untuk duduk.
Cakra duduk di sebelah istrinya, ia benar-benar panik melihat Rheana mendesis tadi.
"Kamu kesakitan, kok tadi mendesis sambil pegang perut?" tanya Cakra lembut.
Rheana tersenyum, ia memegang sebelah wajah suaminya, kemudian memberikan kecupan kasih sayang di pipi Cakra.
Entah sejak kapan Rheana jadi suka kecup-kecup Cakra begini.
"Aku tadi ngerasain baby nya nendang, jadi kaget." Jawab Rheana menjelaskan.
Rheana mengambil tangan Cakra, kemudian mengarahkannya ke perutnya. Ia ingin Cakra merasakan tendangan dari baby Peachyyy.
Tidak lama kemudian, tangan Cakra merasakan pergerakan dari perut Rheana. Cakra menatap istrinya dengan tatapan terkejut dan bahagia, sementara Rheana hanya tersenyum.
"Sayang, anak kita nendang!!" pekik Cakra senang.
Rheana mengangguk. "Iya, Mas." Balas Rheana singkat.
Cakra tiba-tiba menarik Rheana ke dalam pelukannya. Ia dekap dengan erat wanita cantik satu ini dengan kecupan di puncak kepala yang tidak berhenti.
"Sayang, aku bahagia banget. Makasih banyak ya," ungkap Cakra dengan sangat bahagia.
Rheana tidak membalas, ia hanya mengusap punggung Cakra dengan sangat lembut. Dekapan Cakra selalu berhasil membuat Rheana nyaman.
CRAZY UP ITU BERAPA BAB SIH MENURUT PENDAPAT KALIAN? NANTI AKU USAHAIN KALO SANGGUP, KALO NGGAK YA AKU KABUR🤣
__ADS_1
Bersambung........................