Dinikahi calon kakak ipar

Dinikahi calon kakak ipar
Candaan di pagi hari


__ADS_3

Terdengar suara tawa yang mengisi kamar pagi itu. Tampak si pria yang tidak henti tertawa, sementara wanitanya justru bersungut-sungut karena kesal.


Tentu saja itu adalah pasangan suami istri gokil, Rheana dan juga Cakra.


Pagi ini Cakra kembali menggoda istrinya dengan mencium dan menggigit pipi Rheana hingga wanita itu terbangun dari tidurnya.


Rheana yang sedang pulas tertidur sampai bangun karena merasakan sakit di pipi dan juga geli di lehernya.


"Nggak usah ketawa kamu, Kak." Ketus Rheana dengan tatapan tajam dan menusuk.


Cakra masih saja tertawa. "Ya suka-suka aku, Sayang. Orang kamu lucu, aku jadi ketawa." Sahut Cakra.


Rheana melotot, ia mengambil bantal sofa kemudian melemparnya tepat sasaran. Bantal yang tebal itu mengenai wajah Cakra yang tampan.


"Sukurin!" ketus Rheana dengan senyuman sinis.


Sementara Cakra, pria itu langsung bangkit dari tempat tidur. Ia turun dari ranjang kemudian mendekati istrinya.


Tangan Cakra hampir meraih tangan Rheana, namun wanita itu sudah duluan menghindar.


"Mau tangkap aku, nggak akan bisa!" celetuk Rheana kemudian menjulurkan lidahnya meledek.


"Oh, kamu nantangin aku, Sayang?" tanya Cakra dengan seringai di wajahnya.


Cakra berjalan cepat, ia sengaja melakukan itu agar Rheana tidak lari dan membahayakan janin dalam kandungannya.


"Sini nggak kamu, aku cium habis-habisan awas aja nangis." Celetuk Cakra mengancam.


"Ihhh, siapa yang mau di cium. Sana jauh-jauh!" balas Rheana mengibas tangannya meminta Cakra menjauh.


Cakra semakin melototkan matanya, ia lantas berlari membuat Rheana yang awalnya jalan akhirnya ikut lari.


Cakra menangkap tubuh istrinya sebelum terjadi hal yang tidak di inginkan. Cakra memeluk tubuh wanita itu dari belakang kemudian mengajaknya berdiri di depan cermin.


"Nakal ya bunda." Bisik Cakra seraya mencium dan menggigit telinga Rheana.


"Ahhmmm … jangan ah, sana!" Usir Rheana dengan suara yang indahnya.


Ingatlah bahwa titik sensitif Rheana ada di telinga, leher dan dadanya. Jika ketiga titik itu sudah di jamah oleh Cakra, maka tidak akan ada kesempatan untuk Rheana menahan suaranya.


"Kak, udah siang. Kamu harus berangkat kerja," tegur Rheana mengingatkan.


Cakra tidak menyahut, pria itu tetap sibuk menciumi leher dan mencetak tanda yang tidak sedikit. 


Rheana benar-benar akan habis oleh Cakra pagi ini, ia tidak akan bisa lepas dari cengkraman napsu suaminya.


"Awww … perut aku kram, Kak." Ucap Rheana mengadu.

__ADS_1


Mendengar hal itu lantas membuat Cakra menghentikan cumbuannya. Ia mendudukkan Rheana di kursi meja rias, lalu dirinya berlutut di hadapan wanita itu.


"Perutnya sakit lagi, mau ke rumah sakit aja?" tanya Cakra begitu perhatian.


Cakra mendongak, menatap istrinya dengan tatapan hangat. Tangan kanan Cakra mengusap wajah Rheana lembut.


"Masih sakit nggak, Sayang?" tanya Cakra lagi, kini tangannya mengusap perut Rheana yang semakin besar.


Rheana tidak menjawab, ia hanya terus menatap wajah suaminya yang terlihat begitu khawatir kepadanya.


Rheana tersenyum, hatinya menghangat merasakan kepedulian Cakra yang begitu besar padanya.


Tanpa Rheana sadari, kedua tangannya menangkup wajah suaminya. Hal tersebut membuat Cakra tersadar, ia melihat wajah Rheana dengan bingung.


"Mau sesuatu, mau sarapan apa hmm?" tanya Cakra seraya memegang tangan Rheana yang ada di wajahnya.


Rheana tidak menjawab, wanita itu mengikuti instingnya dan mulai mendekatkan wajahnya ke wajah sang suami.


Cakra tidak menolak, ia memiringkan kepalanya dan menerima sentuhan bibir istrinya yang lembut dan selalu manis.


Dengan posisi tersebut Rheana merasa perutnya sedikit tertekan, dan hal itu disadari oleh Cakra.


Cakra mengubah posisinya, kini ia berdiri di depan sang istri dan kembali menyatukan bibir mereka. Rheana tidak menolak sama sekali, ia malah melingkarkan tangannya di leher sang suami.


Pangutan bibir itu masih terus berlanjut, baik Rheana maupun Cakra sama-sama tidak mau ciuman itu berakhir.


Setelah beberapa saat, pangutan bibir itu akhirnya terlepas. Rheana menundukkan kepalanya seperti biasanya jika habis di cium Cakra, dan itu selalu berhasil membuat Cakra gemas karenanya.


"Kenapa sih nunduk terus, lantai lebih ganteng dari aku?" tanya Cakra usil.


Rheana mengangkat wajahnya, ia menggeleng sebagai jawaban.


"Aku mau keluar, mau makan." Cicit Rheana pelan.


Cakra segera menggendong tubuh istrinya ke ranjang, ia tidak akan membiarkan Rheana turun dan sarapan di bawah setelah istri itu tadi meringis.


"Makan di kamar aja, nanti aku suruh bibi bawa sarapannya kesini." Tutur Cakra lembut.


"Nggak mau, aku mau sarapan bareng-bareng." Tolak Rheana menggelengkan kepalanya.


"Nurut dong bunda, nanti sarapan bareng papa aja ya disini." Bisik Cakra lembut, kemudian menghadiahi kecupan di kening istrinya.


Rheana tidak menjawab, ia diam dan memilih untuk nurut kepada suaminya daripada malah terjadi hal yang ia inginkan, eh.


"Kak, aku nanti mau ketemu teman-temanku." Ucap Rheana pelan.


"Iya, aku tahu Sayang. Nanti jemput untuk antar kamu ke tempatnya ya," balas Cakra lembut.

__ADS_1


Cakra pun beranjak dari tempatnya, ia keluar dari kamar kemudian pergi untuk mengambil sarapan di bawah.


Sesampainya di lantai bawah, Cakra melihat kedua orang tuanya sudah duduk bersama dan sedang menunggu kedatangannya.


"Lho, Cakra. Rheana mana?" tanya Papa Wawan.


"Di kamar, Pa. Aku akan sarapan bersamanya di kamar, Rheana merasa perutnya sakit." Jawab Cakra seraya mengambil makanan di meja.


"Rheana sakit?!!" kejut Mama Mila.


"Iya, Ma. Tapi tidak apa-apa, hanya kram saja." Jawab Cakra pelan.


"Yaudah, kamu ke kamar aja. Nanti Mama sama bibi yang bawakan sarapannya ke kamar." Tutur Mama Mila.


"Tidak, Ma. Aku bisa di marahi Rheana jika tahu Mama yang membawa sarapannya ke kamar. Dia tidak mau merepotkan," tolak Cakra lalu meletakkan makanan yang sudah ia ambil di atas nampan.


Cakra menatap asisten rumah tangganya. "Bi, buatkan susu hamil untuk Rheana dan bawa ke kamar ya." Ucap Cakra sebelum pergi.


"Iya, Den." Balas bibi mengangguk sopan.


Cakra membawa sarapan ke kamar, saat ia sampai ia melihat kamar sudah rapi, dan Rheana sedang bermain ponsel di sofa.


"Siapa suruh beresin kamar sendiri?" tanya Cakra seraya meletakkan makanan di meja.


"Nggak ada, cuma aku pengen ngerjain sendiri." Jawab Rheana singkat.


Cakra duduk di sebelah istrinya, ia mencubit kedua pipi Rheana yang mulai chubby karena faktor kehamilannya.


"Kasian dedeknya, Bunda." Tegur Cakra mengingatkan.


Rheana tidak membalas, wanita itu menepis tangan Cakra dan memilih untuk menyantap sarapannya.


"Udah nggak sakit kan perutnya?" tanya Cakra seraya mengusap perut Rheana. Tidak ada bosan-bosannya Cakra melakukan itu.


"Nggak." Jawab Rheana singkat.


Cakra menunduk, ia mencium perut Rheana dengan penuh kasih sayang.


"Anak papa, baik-baik ya di perut bunda. Papa nggak sabar menantikan kehadiran kamu," bisik Cakra yang didengar oleh Rheana.


Rheana mengusap kepala Cakra sembari terus sarapan.


MAKIN LENGKET YAA MEREKA


Kalo keburu, aku update 2 bab lagi hari ini. Tapi nggak janji yaa🤣


Bersambung........................

__ADS_1


__ADS_2