
Rheana yang biasanya sudah bangun dari tempat tidur, kini malah masih bergelung di bawah selimut yang tebal. Ia bahkan tidak mempedulikan panggilan suaminya yang meminta dirinya untuk bangun.
Cakra sendiri kasihan melihat istrinya, namun Rheana harus makan sebab ini sudah siang.
"Sayang, makan dulu yuk." Ajak Cakra dengan lembut.
Rheana menggeleng. "Nggak, Mas. Badan aku lemas banget, aku mau tidur sebentar lagi." Tolak Rheana.
Cakra berbaring di sebelah istrinya, ia melingkarkan tangannya di pinggang sang istri dan memeluknya erat.
"Badan kamu hangat, kamu kayanya sakit. Ke dokter yuk," ajak Cakra seraya membelai wajah istrinya dengan lembut.
Rheana menduselkan wajahnya ke dada bidang Cakra yang hanya terbalut kaos rumahan saja.
Hari ini Cakra tidak pergi ke kantor karena memang jadwalnya kosong, sehingga ia tadi sempat untuk mengantar Ayla ke sekolahnya.
"Mas, kamu wangi banget." Gumam Rheana semakin menduselkan wajahnya ke tubuh suaminya.
Cakra tersenyum, padahal ia memang begini setiap hari tapi istrinya ini baru sekarang memuji jika dirinya wangi.
Uwekk ….
Rheana mendorong pelan tubuh suaminya lalu turun dari ranjang. Wanita itu masuk ke dalam kamar mandi dan muntah-muntah.
Ini sudah hari ketiga semenjak Rheana mual-mual begini, dan Cakra sangat khawatir. Berulangkali Cakra mengajak istrinya ke dokter, namun Rheana menolak terus.
Cakra turun dari ranjang, ia buru-buru menyusul sang istri dan membantu memijat tengkuknya.
Tidak bisa! Cakra tidak bisa lagi membiarkan istrinya begini, ia harus membawa Rheana ke dokter sekarang juga.
"Ayo kita ke dokter." Ajak Cakra langsung menggendong sang istri ala bridal style.
Rheana terkejut, namun ia tidak menolak suaminya yang mau menggendongnya. Saat diluar kamar, Rheana langsung minta diturunkan.
"Mas, nggak mau. Aku nggak mau ke dokter!" rengek Rheana seraya berusaha untuk turun.
"Tapi kamu lagi sakit." Kata Cakra sedikit menaikkan nada bicaranya.
__ADS_1
Rheana menekuk wajahnya, ia menunduk mendengar suara suaminya yang tinggi itu.
Melihat Rheana yang menunduk tentu saja membuat Cakra sadar bahwa ia sudah terlalu kasar. Cakra buru-buru menarik Rheana ke dalam pelukannya.
"Maaf, Sayang. Habisnya kamu sih nggak dengerin aku, kita ke dokter ya." Bisik Cakra dengan lembut.
Rheana tetap menggelengkan kepalanya. "Nggak mau." Balas Rheana masih menolak.
"Sayang!" tegur Cakra lalu menangkup wajah cantik sang istri.
Cakra menciumi seluruh wajah Rheana tanpa ada yang terlewat, ia bahkan nekat mencium bibir Rheana tanpa peduli akan ada yang melihatnya.
"Keras kepala banget, mama Rheana. Ke dokter aja susah banget sih, orang lagi sakit juga." Ucap Cakra dengan gemas.
Rheana mendorong suaminya menjauh, ia menatap Cakra dengan tatapan penuh permusuhan.
"Siapa juga yang sakit, kamu mah nggak peka." Ketus Rheana lalu turun ke lantai bawah.
Cakra mengerutkan keningnya mendengar penuturan sang istri. Apa maksudnya tidak peka, ia tidak tahu maksud kata-kata Rheana barusan.
Cakra lantas mengejar istrinya, ia memegang tangan Rheana tapi di tepis oleh wanita itu. Cakra hanya bisa menghela nafas dan tetap mengekor di belakang Rheana.
Rheana mengambil sesuatu dari atas lemari dapur lalu menuangnya sesuai takaran ke dalam gelas.
Cakra terlihat bingung, kenapa istrinya membuat susu untuk ibu hamil.
Otak Cakra tidak bekerja dengan baik, bahkan sampai Rheana menghabiskan satu gelas susu pun Cakra masih belum mengerti.
"Nggak peka juga?" Tanya Rheana kesal.
Rheana berdecak melihat suaminya diam saja, ia lantas membawa tangan besar Cakra ke perutnya yang masih rata.
"Aku nggak sakit, tapi aku hamil!" jelas Rheana sedikit kesal.
Cakra melongo, ia menatap wajah Rheana tapi Rheana menolak sehingga Cakra harus menangkup wajah cantik istrinya.
"Sayang, apa tadi kamu bilang? Hamil?" tanya Cakra tampak berbinar.
__ADS_1
Rheana melingkarkan tangannya di leher sang suami. "Iya, Mas. Aku hamil, kita akan punya anak oahi." Jawab Rheana.
Cakra tersenyum lebar, ia lantas mencium bibir Rheana dengan rasa bahagia yang memenuhi hatinya. Bukan hanya bibir, seluruh wajah Rheana terus di cap oleh bibir Cakra yang menggoda.
"Mas, ihh udah!!" tegur Rheana menahan wajah suaminya sambil tertawa.
"Kenapa nggak bilang kalo hamil, Sayang. Ya ampun, aku bahagia sekali!!!" Ungkap Cakra dengan sangat bahagia.
Rheana tertawa, ia mencium kedua pipi suaminya lalu mengigit pelan hidung mancung suaminya.
"Nggak apa-apa, aku malas aja kasih tahu kamu." Jawab Rheana asal-asalan.
Rheana menatap Cakra dengan tajam. "Aku hamil lagi, pokoknya kamu harus tanggung jawab. Aku hamil dan bulat lagi nanti kan gara-gara kamu!" pungkas Rheana sambil merengek.
Cakra tertawa dengan lepas, tanpa Rheana minta pun tentu saja ia akan bertanggung jawab selamanya untuk anak-anaknya.
"Gemes banget istri aku." Ucap Cakra lalu memeluk Rheana erat-erat.
Rheana tersenyum, ia pun sama bahagianya dengan Cakra saat kemarin dirinya tahu bahwa ia sedang hamil.
Sebenarnya kemarin Rheana hanya iseng meminta bibi beli testpack, tapi setelah di cek ternyata hasilnya positif.
"Kamu bahagia, Mas?" tanya Rheana mengusap-usap wajah tampan sang suami.
Cakra mengangkat tubuh Rheana, membuat istrinya itu memekik kaget.
"Kenapa masih tanya, aku bahkan sangat-sangat bahagia." Jawab Cakra seraya memutar tubuh Rheana dalam gendongannya.
Rheana dan Cakra tertawa bersama di dapur, mereka berdua benar-benar bahagia karena akhirnya diberikan kepercayaan lagi oleh Tuhan.
Mereka akan memiliki anak kedua, dan semoga hal itu membuat kehidupan pernikahan mereka semakin bahagia selamanya.
"Sayang, terima kasih atas semua kebahagiaan yang kamu berikan sama aku. Aku sangat-sangat mencintaimu!!" ungkap Cakra.
Rheana mengangguk kecil, ia lantas menunduk dan menyatukan kedua belah bibir mereka dalam tarian bibir yang memabukkan.
MBAK RHEANA dan MAS CAKRA, SELAMAT YAA🖤
__ADS_1
BTW, HAPPY NEW YEAR GUYS 🍻
Bersambung.............................