
Ryan terbangun dari tidurnya saat mendengar suara ketukan pintu kamar. Ia bangkit dari tempat tidur, kemudian membuka pintu kamarnya.
"Sudah kenyang tidurnya?" tanya Rheana meledek, disertai tawa yang menghiasi wajahnya.
Ryan tersenyum, ia senang melihat kakaknya itu kembali ceria. Rheana telah kembali ke setelan pabrik, menjadi seorang yang selalu ceria dan banyak senyum.
"Ada apa, Kak?" Tanya Ryan pelan.
"Ayo makan malam dulu, sejak datang kau belum makan apapun." Ajak Rheana seraya menarik tangan adiknya.
Ryan pasrah saja, ia tidak sadar bahwa waktu sudah malam. Mungkin karena perjalanan yang melelahkan membuatnya tidur begitu lama.
Saat sampai di meja makan, tidak ada siapapun disana. Tentu saja, pasti Oma dan Opa nya sudah makan duluan.
"Oma dan Opa di larang makan terlalu malam oleh dokter, makanya mereka makan duluan." Ucap Rheana menjelaskan sebelum Ryan bertanya.
"Kau kenapa tidak makan?" tanya Ryan seraya menarik kursi untuknya duduk.
"Aku ingin, tapi keponakanmu ini sepertinya ingin makan dengan om kecilnya." Jawab Rheana seraya ikut duduk di kursinya.
"Heh, aku bukan anak kecil lagi, Kak." Sahut Ryan tidak terima.
Rheana hanya tertawa tanpa bicara apa-apa lagi. Baginya, Ryan tetaplah adik kecil yang sangat ia sayangi, meski menyebalkan.
Rheana dan Ryan makan bersama, mereka sama-sama menikmati makanan yang sengaja Rheana masak demi adiknya ini.
"Kak, setelah makan bisa kita mengobrol? Aku sangat merindukanmu," ucap Ryan pelan.
"Tentu saja." Jawab Rheana mengangguk.
Mereka pun menghabiskan makanan masing-masing. Baik Ryan, maupun Rheana sama-sama merasa sangat kenyang, bahkan Rheana belum mampu jika harus menenggak susu hamilnya.
Rheana akhirnya memilih untuk mengobrol dulu dengan adiknya dulu di teras depan rumah.
"Kak, apa tidak merindukan mama dan papa?" tanya Ryan pelan, takut membuat kakaknya sedih.
Rheana tersenyum. "Tentu saja aku rindu, dan aku ingin sekali kembali." Jawab Rheana jujur.
"Lalu kenapa tidak kembali?" tanya Ryan penasaran.
__ADS_1
"Kau tahu alasannya." Jawab Rheana sangat pelan.
"Tapi mama sakit, kesehatannya drop karena terus memikirkanmu, Kak. Itulah alasan mengapa aku datang kesini, yaitu ingin meminta bantuan kepada Oma dan Opa untuk mencarimu, tapi ternyata kau ada disini." Ujar Ryan, ia bicara jujur tentang kesehatan sang mama.
Rheana sontak menatap Ryan dengan terkejut. Ia kaget mendengar kabar kesehatan ibunya.
"Mama sakit, sakit apa?" tanya Rheana terdengar begitu khawatir.
"Dokter bilang bahwa mama stres dan tertekan, ini tidak baik untuk kesehatannya. Ayo pulang, Kak." Ajak Ryan to the point.
Rheana terdiam, ia kembali menatap lurus mendengar ajakan Ryan untuk pulang ke rumahnya.
"Kak, apa kau masih mencintai kak Cakra?" tanya Ryan pelan-pelan.
"Aku tidak tahu." Jawab Rheana tidak kalah pelan.
"Jika kau tidak mencintainya, maka lepaskan dia. Bercerai dengannya, dan hiduplah bahagia dengan anakmu." Tutur Ryan dengan penuh perhatian.
Rheana menatap Ryan. "Cerai?" tanya Rheana sedikit terganggu dengan kata itu, namun apa yang adiknya ucapkan tidak salah.
"Iya, setelah itu kau tidak perlu lagi merasa takut. Kita akan tinggal bersama mama dan papa, bersama anakmu juga." Jawab Ryan dengan penuh semangat.
Semu yang ia rasakan seakan dari anaknya yang tidak ingin berpisah dari papanya.
"Kak, ayo kita pulang." Ajak Ryan lagi.
"Aku berjanji, kak Cakra atau siapapun tidak akan ada yang bisa memaksamu, semua keputusan ada ditangan mu sendiri." Tambah Ryan dengan penuh keyakinan.
"Ryan, ini sudah malam. Ayo tidur, kita bicara lagi besok." Ajak Rheana mengalihkan pembicaraan.
Ryan menghela nafas, ia mungkin terlalu terburu-buru, dan ia akan memberikan waktu kepada kakaknya untuk berpikir.
"Ryan, bagaimana dengan kak Velia?" tanya Rheana sebelum mereka pergi ke kamar masing-masing.
"Dia baik, kak Fikri selalu bersamanya." Jawab Ryan jujur.
"Kak Velia masih bersama Fikri?" tanya Rheana dijawab anggukan oleh Ryan.
Rheana memutar otak, ia teringat ucapan Faraz waktu itu yang mengatakan bahwa Ceo nya mencari seorang wanita.
__ADS_1
Jika Velia bersama Fikri, itu artinya yang Cakra cari adalah dirinya. Cakra mencari keberadaan nya.
Rheana masuk ke dalam kamarnya, ia merasa campur aduk ketika sadar bahwa wanita yang Cakra cari adalah dirinya, dan bukan Velia. Semua prasangka nya selama ini salah.
"Adek, papa cari kita ternyata. Apa ini alasan kamu beberapa hari ini uring-uringan?" tanya Rheana, seperti biasa ia akan berceloteh dengan bayi dalam kandungannya.
Rheana mengambil susu yang ada di nakas, kemudian menenggaknya hingga tandas seperti biasa. Setelah itu, ia berbaring dia atas ranjang dan menyelimuti tubuhnya.
Rheana akan memikirkan ucapan Ryan tadi, dan bicara kepada adiknya besok.
***
Sementara Cakra, ia baru saja pulang bekerja. Hari ini lebih baik dari hari-hari sebelumnya, mungkin karena ia sudah tahu tentang keberadaan sang istri.
Ryan juga sudah mengirim pesan kepadanya tadi dan mengatakan bahwa ia sudah bertemu dengan Rheana.
Cakra senang mendengar itu, setidaknya ia sudah menemukan setitik celah untuk bisa memperbaiki hubungannya dengan Rheana nanti.
"Cakra, kamu sudah pulang?" tanya Mama Mila seraya menghampiri anaknya.
Cakra tersenyum. Senyuman yang sudah lama tidak dilihat oleh siapapun sejak kepergian istrinya.
"Makan dulu ya, Mama sudah masak untuk kamu." Tutur Mama Mila dengan lembut.
"Iya, Ma. Tapi aku akan mandi dulu," balas Cakra kemudian langsung pergi ke kamarnya.
Mama Mila mengangguk, membiarkan putranya pergi ke kamarnya untuk bersih-bersih sebelum makan nanti.
Mama Mila terlihat tersenyum, membuat suaminya yang ada disana bingung.
"Kok senyum-senyum, Ma? Ada apa sih?" tanya Papa Wawan seraya merangkul bahu istrinya.
"Cakra, Pa. Mama senang Cakra sudah bisa tersenyum lagi," jawab Mama Mila.
Papa Wawan mengerti, ia tahu apa yang membuat putranya bisa kembali tersenyum, yaitu Rheana.
Pengaruh Rheana memang begitu besar, dan mereka benar-benar berterima kasih kepada wanita itu nanti karena telah membuat putra mereka kembali seperti dulu, meskipun belum sepenuhnya.
MBAK RHEANA EMANG PALING-PALING 😅
__ADS_1
Bersambung........................