Dinikahi calon kakak ipar

Dinikahi calon kakak ipar
Telepon menggemaskan


__ADS_3

Rheana sedang duduk bersama sang mama di depan televisi yang justru menonton mereka, sebab keduanya sibuk berbincang bersama.


Rheana memakan puding kesukaannya dengan sangat bersemangat, sementara Mama Erina hanya tersenyum melihatnya.


"Rhea, Cakra memperlakukanmu dengan baik kan?" tanya mama Erina lembut. 


Ada rasa penasaran hinggap di hati seorang ibu, meski ia tahu bahwa menantunya telah berubah dan kini sangat mencintai Rheana, mama Erina tetap saja sering kepikiran soal Rheana.


"Iya, Ma. Kak Cakra dan keluarganya memperlakukan dengan sangat baik. Kak Cakra juga lembut, dia nggak pernah kasar lagi." Jawab Rheana jujur, karena kenyataanya memang begitu.


Mama Erina senang mendengarnya, ia mengusap puncak kepala putrinya dengan sayang.


"Dan kamu masih berkeinginan untuk pisah dengannya?" tanya Mama Erina ragu-ragu.


Rheana menghentikan suapan pudingnya, ia terdiam mendengar pertanyaan dari mulut sang mama barusan.


Rheana menoleh, menatap ibunya yang sedang menanti jawaban darinya.


"Mama sendiri, apa Mama mau putri Mama berpisah dari suaminya?" tanya Rheana balik.


Mama Erina tersenyum lembut, ia menggenggam tangan Rheana dengan erat.


"Tidak ada seorang ibu yang ingin putrinya merasakan perceraian, tapi jika memang kedua pihak sudah ingin pisah dan mengakhiri pernikahan, kami sebagai orang tua hanya menerima." Jawab Mama Erina pelan.


Rheana meletakkan puding diatas meja, ia membalas tatapan sang mama dengan hangat. Belum sempat Rheana menjawab, suara melengking menghentikannya.


"Kakak!!!" pekik Ryan seraya berlari mendekati kakaknya.


Rheana tersenyum, ia menepuk sofa disebelahnya sebagai bentuk dirinya untuk meminta sang adik duduk di sebelahnya.


Ryan menurut, ia duduk di sebelah kakaknya dan tidak lupa untuk mengganggu Rheana.


"Kak, anakmu masih di dalam sini?" tanya Ryan seraya menusuk pelan perut Rheana.


Rheana memukul tangan adiknya, ia kesal sekali jika Ryan menusuk-nusuk perutnya begini, itu membuatnya geli sekaligus ngilu.


"Bagaimana kuliahmu? Lancar? Sudah menemukan pacar disana?" Tanya Rheana usil.


Ryan mendengus, ia menyadarkan kepalanya ke sofa. Ryan menatap sang mama yang hanya tersenyum melihat tingkahnya dan kakaknya.


"Ma, kak Rhea mengajarkan hal tidak benar. Dia mau aku pacaran di kampus!" adu Ryan menunjuk Rheana.


Rheana memukul tangan Ryan. "Kapan aku mengajari? Aku hanya bertanya!" balas Rheana sewot.


Mama Erina semakin terkekeh, ia merasa sangat lucu melihat interaksi kedua anaknya. Namun dalam hati ia sedikit sedih, mengingat sikap Ryan sangat jauh berbeda jika dengan Velia.

__ADS_1


Mama Erina sadar bahwa Ryan masih marah kepada kakak pertamanya itu, sebab sikap Velia yang dulu membuat Rheana menderita.


"Ma, baby ingin makan ayam rica-rica buatan Mama." Ucap Rheana seraya mengusap perutnya, seakan memberitahu bahwa ini kemauan anak dalam kandungannya.


"Baby baby, bilang ajak emaknya yang mau." Sahut Ryan sewot.


Rheana melototkan matanya, ia siap memukul adiknya namun di hentikan oleh suara Mama Erina.


"Sudah-sudah, kalian bertengkar terus, tapi jika berjauhan saling rindu." Celetuk Mama Erina.


"Siapa yang rindu, aku enggak!" balas mereka kompak.


"Tuh kan, emang adik kakak sejati kalian tuh." Ujar Mama Erina kemudian pergi ke dapur untuk memasak makanan yang putrinya inginkan.


Sepeninggal mama Erina, Ryan dan Rheana masih duduk di sana. Rheana memilih untuk menggonta-ganti channel televisi, daripada melirik adiknya yang usil itu.


"Kak Rhea." Panggil Ryan dan Rheana hanya berdehem.


"Kau bahagia kan tinggal disana?" tanya Ryan serius.


"Sangat bahagia, sebab tidak ada yang menggangguku." Jawab Rheana menganggap bahwa Ryan sedang bercanda.


"Aku senang mendengarnya, itu artinya kak Cakra memang sudah benar-benar berubah." Ujar Ryan seketika membuat Rheana sadar bahwa adiknya sedang serius.


"Kenapa memangnya?" tanya Rheana.


"Nggak apa-apa, aku senang jika kalian bersama lagi, dan keponakanku ini akan punya ayah dan ibu yang lengkap." Jawab Ryan terkekeh.


Rheana tidak menyahut, ia memilih untuk menonton televisi yang sedang menayangkan kartun si kembar botak.


"Udah gede nonton kartun, nonton tuh film romantis yang hot." Ledek Ryan seketika membuat Rheana melotot.


"Maaaa … Ryan suka nonton film dewasa!!" teriak Rheana mengadu.


Sementara Cakra di kantornya. Ia baru saja selesai melakukan pertemuan dengan pebisnis yang akan menaruh saham di perusahaannya.


Selama pertemuan, Cakra tidak henti memikirkan istrinya, membuat asisten pribadinya bingung.


"Pak, anda baik-baik saja?" bisik Bagas melihat atasannya yang terdiam.


Cakra mengangguk, bagaimana bisa ia tidak baik. Selama ada Rheana di sampingnya, maka semua akan baik-baik saja.


"Pak Cakra, saya terima kontrak kerja sama kita. Saya juga sudah tanda tangani semuanya." Ucap pria berjas hitam itu dengan yakin.


Cakra bangkit dari duduknya, ia menyalami tangan partner kerjanya dengan senang. 

__ADS_1


Benar kan? Memikirkan Rheana membuat semua urusannya berjalan lancar dan berhasil. 


Selesai dengan pertemuan itu, Cakra pun kembali ke ruangannya dengan Bagas. Ia belum sempat makan siang karena terlalu fokus pada pertemuan tadi.


"Pak, saya belikan anda makan siang seperti biasa?" tanya Bagas dengan sopan.


"Iya, tolong ya." Jawab Cakra seraya memainkan ponselnya.


Cakra mengirimkan pesan kepada Rheana yang ia namai dalam kontaknya adalah 'My Rhea'. Ia mengirim pesan, namun belum mendapat balasan padahal sedang online.


Karena tidak sabar, Cakra pun menekan tombol untuk menelpon istrinya, dan benar saja, telepon diangkat. Nomor yang Rheana gunakan tentu saja nomor baru.


"Apa? Aku kan lagi chatting sama kak Velia." 


Belum sempat Cakra berbicara, ia sudah di sembur oleh perkataan sang istri.


Cakra tertawa, ia gemas sekali melihat wajah istrinya yang sedang kesal.


"Kamu udah makan siang?" tanya Cakra dan Rheana membalasnya dengan gelengan kepala.


"Lagi nunggu mama selesai masak." 


"Makan yang banyak ya bunda, biar dedek bayinya sehat." Tutur Cakra dengan sayang.


"Hmm, aku matiin ya teleponnya." 


"Jangan! Aku masih kangen, mau memandangi wajah kamu yang cantik." 


Rheana mendengus dari seberang sana setelah mendengar gombalan dari suaminya. Sementara Cakra hanya bisa tertawa.


"Bunda, senyum dikit dong biar papa kerjanya makin semangat." Pinta Cakra dengan manja.


"Manja banget, jadi pengen tabok mulutnya." 


Tawa Cakra semakin keras, bahkan sampai memenuhi ruangannya. Entah sejak kapan selera humor Cakra serendah ini.


"Ketawa aja terus, dasar aneh."


Usai mengatakan itu, Rheana pun memutuskan panggilan mereka. Cakra hendak menghubungi Rheana lagi, namun tidak jadi karena ia belum bisa menghentikan tawanya sekarang ini.


Jika Cakra menelpon, yang ada Rheana malah memblokir nomornya.


MBAK RHEANA EMOSIAN😫


Bersambung...........................

__ADS_1


__ADS_2