
Acara akad dan resepsi selesai, Velia dan Fikri pun langsung pergi ke kamar mereka yang sudah di hadiahkan oleh Cakra untuk malam pertama.
Malam pertama, setiap kali menyebutnya wajah Velia langsung memerah. Ia takut, tapi juga mau. Apalagi setelah mendengar cerita Rheana, adiknya itu memang sangat pandai jika menggodanya.
"Sayang, sini dong. Ngapain sih jauh-jauh dari suami," tutur Fikri seraya menggandeng tangan istrinya.
Velia tertawa, ia jadi malu sendiri mendengar ucapan Fikri barusan yang menyebut dirinya sebagai 'suami'.
Velia tidak menolak ketika Fikri menarik tangannya masuk ke dalam kamar. Meraka langsung di sambut oleh wangi bunga mawar yang bertebaran di ranjang dan beberapa titik kamar.
Jangan lupa lilin-lilin yang ada di sekitar mereka, menambah kesan romantis malam ini.
"Kamu mandi duluan gih." Tutur Fikri seraya mengusap kepala istrinya lembut.
Velia menurut, ia pun beranjak masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Velia tidak kesulitan membuka gaun, sehingga ia tidak perlu meminta bantuan dari suaminya.
Alea berdiri di depan kaca, menatap dirinya sendiri yang kini sudah menikah dan berumah tangga.
Tidak pernah terbayangkan bahwa kehidupannya akan seperti ini setelah apa yang ia lakukan kepada adiknya. Kalau saja Rheana jahat, mungkin saat ini dia sudah mendekam di penjara yang gelap dan dingin.
Alea sangat bersyukur karena Rheana mau memaafkannya, dan kini ia telah bahagia bersama Fikri, suaminya.
Velia berdoa, semoga hubungan pernikahan Rheana Cakra akan terus baik-baik saja sampai anak mereka lahir, bahkan sampai harj tua.
"Malam pertama itu sakit, Kak."
Ucapan itu teringat oleh Velia, ia menatap wajahnya yang panas ketika membayangkan bahwa malam ini adalah malam pertamanya sebagai istri Fikri.
Ia bukan anak kecil yang tidak tahu harus apa pada malam ini, namun ia masih gugup. Gugup bukan berarti tidak mau, tapi hanya malu saja.
Velia berjalan mendekati shower, ia menyalakan dan membiarkan kucuran air itu membasahi kepalanya. Velia mau bersih malam ini, ia tidak mau membuat suaminya kecewa.
Sementara itu diluar kamar mandi, terlihat Fikri sedang berdiri di balkon kamarnya. Pria itu menatap pemandangan kota di malam hari dengan penuh kebahagiaan dan rasa syukur.
Fikri teringat pada kejadian beberapa bulan lalu saat dirinya menemukan Velia dan membawanya ke rumah sakit, bahkan pulang ke rumah.
Ia tidak menyangka jika menolong gadis itu membuatnya mendapatkan jodoh, dan hari inilah jodoh itu benar-benar menjadi kenyataan.
Fikri tersenyum kecil. "Aku dan Velia sudah menikah." Gumam Fikri tidak menyangka.
Hari ini mereka telah sah menjadi pasangan, dan itu membuat rasa syukur dalam diri seorang Fikri meronta.
__ADS_1
Setelah perjuangan beberapa bulan untuk merayu Velia agar mau menikah dengannya, akhirnya perjuangan itu berbuah manis.
Kini Velia adalah istrinya, cintanya dan miliknya. Gadis cantik itu hanya milik Fikri, selamanya.
Setelah 15 menit, terdengar suara pintu kamar mandi yang terbuka. Fikri menoleh dan masuk ke dalam kamar, ia melihat Velia hanya memakai bathrobe saja.
"Kamu mandi juga gih," ujar Velia tanpa menatap suaminya karena gugup.
Fikri mendekati istrinya, ia mencium kening Velia dengan penuh kasih sayang.
"Iya, Sayang. Aku mandi dulu ya, kamu jangan bobok. Aku udah pesan makanan," bisik Fikri lalu mencium ringan pipi Velia.
Fikri masuk ke dalam kamar mandi, hal itu membuat Velia bernafas lebih lega. Gadis itu memegangi dadanya yang berdetak kencang saat Fikri menciumnya tadi.
"Tenang, Velia. Dia suamimu." Ujar Velia untuk dirinya sendiri.
Tidak lama kemudian terdengar suara bel, Velia lantas mengintip dulu untuk melihat pelayan yang datang laki-laki atau perempuan, karena penampilannya benar-benar bahaya saat ini.
Tepat sekali, pelayan yang membawa makanan itu adalah wanita. Velia dengan cepat membuka pintu dan mempersilahkan pelayan itu masuk membawa trolley makanan.
"Terima kasih ya, Mbak." Ucap Velia seraya memberikan sebuah tip untuk pelayan kamar itu.
"Sama-sama, Nyonya. Semoga malam ini indah," balas pelayan itu ramah dan sopan.
Velia menghela nafas, ia memilih duduk di sofa sambil bermain ponsel, sembari menunggu suaminya yang belum selesai mandi.
***
Pasangan suami istri yang baru menikah itu kini terlihat sedang makan malam bersama. Seharian ini mereka sangat lelah dan lapar karena belum sempat makan tadi.
Fikri beberapa kali menyeka noda makanan di sudut bibir istrinya sambil geleng-geleng kepala.
"Kamu, nanti pipi kamu panas kena sambal." Tegur Fikri lembut.
Velia tersenyum, ia jadi malu sendiri karena makan berantakan.
"Tadi kita nggak sempat makan karena tamunya banyak, aku jadi laper gini." Ujar Velia seraya mengusap-usap perutnya.
Fikri mengangguk setuju, tamu mereka memang banyak dan itu cukup menguras tenaga. Namun dibalik rasa lelah itu, pasti ada rasa bahagia tersendiri di hati mereka.
"Minum pelan-pelan," tutur Fikri memberikan segelas air putih untuk istrinya.
__ADS_1
Velia menerimanya, ia menatap suaminya dengan penuh cinta lalu memberikan kecupan di pipi pria itu.
"Jadi suami perhatian banget, makasih ya." Ucap Velia dengan manis.
"Biar cepat, Sayang. Aku harus makan makanan selanjutnya," timpal Fikri dengan tatapan jahil kepada istrinya.
Velia tertawa, ia paham maksud ucapan suaminya tadi. Ia hanya bisa manggut-manggut saja.
"Iya, aku paham. Aku nggak bakal nolak," balas Velia lalu meminum sisa minumannya.
Fikri meletakkan sendok dan garpu yang ia gunakan, kemudian menatap istrinya.
"Makan kamu sudah selesai?" tanya Fikri pelan.
"Sudah." Jawab Velia mengangguk kecil.
"Tadi kamu bilang nggak akan nolak, jadi boleh sekarang?" Tanya Fikri hati-hati.
Velia terkekeh, jadi suaminya ini sudah tidak sabar. Baiklah, ia tidak akan malu-malu apalagi menolak, mereka sudah dewasa dan paham harus bereaksi seperti apa.
"Ayo!" Velia mengangkat kedua tangannya bermaksud minta gendong.
Fikri pun segera menggendong istrinya, Velia yang masih menggunakan bathrobe membuatnya menjadi lebih mudah untuk membuat istrinya polos.
"Ahhh."
Permainan dimulai dari ciuman manja di bibir dan seluruh titik wajah. Malam ini Fikri benar-benar akan mengeksekusi istrinya di atas ranjang.
Dan akhirnya malam panjang itu terjadi, Velia berhasil memberikan mahkotanya kepada sang suami, dan menjadikan pria itu sebagai yang pertama, dan semoga yang terakhir juga.
"Ahhhh … Velia, kamu istriku!" Erang Fikri dengan terus mengerakkan tubuhnya diatas sang istri.
Velia hanya bisa mendesahh, ia tidak punya cukup tenaga untuk memberontak dengan apa yang suaminya lakukan.
Tenaga Fikri benar-benar kuat, Velia sampai dibuat kualahan malam itu.
"Ahhh … Sayang, Sayang!! Aku sampai." Ucap Fikri kemudian menyemburkan cairan miliknya ke dalam.
Velia merasakan sesuatu yang baru pertama kali ia rasakan. Tidak lama ia merasa Fikri berbaring di sebelahnya dan memeluknya erat.
"Makasih ya, Sayang." Bisim Fikri lalu menghadiahi istrinya dengan kecupan kasih sayang.
__ADS_1
YEAYYYY, UDAH BUKA GAWANG 🤣😫
Bersambung...............................