Dinikahi calon kakak ipar

Dinikahi calon kakak ipar
Peluk cium lebih


__ADS_3

Cakra membuka laptopnya dan memilih untuk mengerjakan tugasnya yang sudah menumpuk. Cakra tidak mau liburannya dan Rheana nanti diganggu oleh telepon dari asistennya, Bagas.


"Kosongkan jadwalku dua hari ke depan." Ucap Cakra melalui sambungan telepon yang terhubung dengan Bagas.


"Baik, Pak. Saya juga akan mengirim dokumen yang membutuhkan tanda tangan anda sekarang."


Cakra hanya berdehem, lalu menutup teleponnya. Ia kembali memeriksa setiap email pekerjaan yang masuk, kiriman dari Bagas.


Cakra fokus bekerja, sementara Rheana di dalam kamar mandi baru saja selesai. Wanita hamil itu memakai daster motif polkadot berwarna putih dan tidak lupa kepalanya yang digulung handuk.


"Hmmm … segar!!" ucap Rheana mengendus aroma tubuhnya sendiri.


Setelah dirasa beres, Rheana pun keluar dari kamar mandi. Ia bisa melihat bahwa suaminya sedang fokus bekerja, dan Rheana tidak akan mengganggu sama sekali.


Rheana berjalan melewati suaminya, ia duduk di meja rias untuk mengeringkan rambut dan sekedar memakai perawatan wajahnya.


Sebelumnya Rheana tentu telah memeriksa skincare nya dan ternyata aman untuk bumil seperti Rheana, makanya wanita itu terus memakainya.


"Oh iya sampai lupa dedek belum minum susu." Rheana menepuk dahinya ketika melihat pantulan susu hamilnya berada di meja nakas.


Rheana segera mengeringkan rambutnya, setelah selesai ia pun beranjak duduknya dan mendekati nakas untuk minum susu.


Susu itu sudah pasti disiapkan oleh Cakra, entah kapan Rheana tidak tahu. Yang jelas jika Cakra membuat susu, maka rasanya jauh lebih nikmat.


Ketika Rheana selesai menenggak segelas susu itu, tiba-tiba ia merasakan sebuah tangan menyusup dari belakang dan melingkar cantik di perutnya.


"Mas." Panggil Rheana yang sudah tahu siapa pelakunya.


"Apa, Sayang." Sahut Cakra lembut.


Rheana memegang tangan Cakra yang berada di perutnya lalu menolehkan kepalanya sedikit.


"Lepasin, bukannya kamu lagi kerja." Pinta Rheana lembut.


Cakra mengendus aroma tubuh istrinya yang begitu wangi. Aroma vanilla dari tubuh Rheana benar-benar mengalihkan fokus Cakra yang tadi sedang bekerja.


"Kamu wangi banget." Cakra tidak menjawab ucapan sang istri dan malah memujinya.


"Aku suka." Lanjut Cakra lalu mencium bahu Rheana yang terbuka.


Rheana tidak membalas apapun, ia hanya diam menerima pelukan dari suaminya, dan pasrah ketika merasakan bahwa tubuhnya perlahan mundur di tarik Cakra.


Cakra duduk di pinggir ranjang dengan Rheana yang duduk di pangkuannya. Rheana mengubah posisi menjadi duduk sambil mengalungkan tangannya di leher sang suami.

__ADS_1


"Mas, aku mau tidur." Bisik Rheana dengan jantung yang berdetak kencang.


Cakra mengangkat wajah mungil istrinya. Semenjak hamil, wajah Rheana semakin bertambah cantik, dan selalu membuat Cakra resah tiap saat.


Cakra mencium kening Rheana cepat.


"Aku lagi kangen sama bunda Rhea, mau peluk sama cium boleh?" tanya Cakra dengan manja.


Rheana belum menjawab, wanita malah terus menatap suaminya yang sangat tampan. Rheana seringkali berkata di hatinya, perempuan mana yang tidak akan tertarik dengan sosok Cakra.


Cakra adalah pria tampan dengan sejuta pesona, meski sikapnya dulu sangat salah. Tapi satu kesalahan Cakra tidak bisa menutupi cinta Rheana untuk suaminya. Bagi Rheana, Cakra tetap pria yang menghuni relung hatinya sampai hari ini.


Karena tidak mendapatkan balasan dari sang istri, Cakra pun memberanikan diri untuk mendekatkan bibirnya ke bibir Rheana.


Menyatu sudah. Mata Rheana dan Cakra sontak terpejam ketika merasakan hangat dan kenyal bibir pasangan masing-masing.


Cakra melakukannya dengan lembut, ia tidak mau membuat Rheana tidak nyaman karena sikapnya sekarang.


"Ahhh."


Cakra dengan jahil mulai memegang aset pribadi Rheana yang nantinya akan dikuasai oleh anak mereka, membuat Rheana langsung mengeluarkan erangannya.


"Mas … katanya mau peluk cium aja. Shhh .." ucap Rheana ditengah-tengah rasa nikmat atas sentuhan Cakra.


"Niatnya cuma peluk dan cium, tapi aku nggak sekuat itu Sayang." Bisik Cakra kemudian mulai menciumi leher jenjang dan mulus milik istrinya.


"Eughhhh … Mas jangan cetak tanda!!" pekik Rheana ketika merasa bahwa Cakra mengigit lehernya.


Telat. Cakra sudah berhasil mencetak tanda yang lumayan besar di leher sang istri. Jika sudah begini, maka Rheana tidak bisa melakukan apapun selain pasrah.


"Sayang, ini buka ya." Ucap Cakra meminta izin seraya menunjuk kancing daster Rheana.


Dengan nafas terengah-engah ia mengangguk, membiarkan Cakra yang ingin membuka kancing dasternya.


Namun Rheana salah, Cakra bukan hanya membuka kancing, tapi menelanjanginya secepat kilat.


"Mas, kamu suka bohong!" gerutu Rheana kesal.


Cakra teekekeh, namun ia tidak membiarkan istrinya untuk bicara lebih banyak. Malam ini Cakra menginginkan Rheana.


Cakra mencium perut Rheana yang tidak tertutup apapun, ia mengusapnya lembut.


"Baby, seperti biasa ya." Bisik Cakra sebelum melepaskan satu-satunya kain di tubuh Rheana.

__ADS_1


"Mas … ahhhh."


Rheana tidak henti mengerang ketika suaminya itu mulai mempertemukan aset pribadi keduanya.


Malam itu benar-benar panas. Baik Cakra dan Rheana sama-sama mereguk kenikmatan bersama, tanpa adanya sikap egois.


Cakra selalu bisa memuaskan istrinya, begitupun sebaliknya.


Setelah permainan selesai, Rheana pun langsung tertidur dengan posisi membelakangi suaminya.


Cakra tidak mau tidur menatap punggung Rheana, alhasil ia memeluk tubuh istrinya dan ikut tertidur bersama Rheana.


Keesokan harinya, Cakra dan Rheana sudah siap untuk pergi. Cakra sudah mengambil cuti, dan sangat tidak sopan jika Rheana menolak ajakan suaminya berlibur.


"Cakra, kenapa nggak biarin kami ikut sih?!" tanya Mama Mila kesal.


"Soalnya aku mau berduaan sama istriku, Ma. Aku nggak mau diganggu," jawab Cakra seraya memasukkan barang-barang ke dalam bagasi.


"Oh, jadi kamu anggap mama ini pengganggu?" tanya Mama Mila kesal.


"Nggak juga sih, tapi kalo mama pikir gitu yaudah." Jawab Cakra seadanya.


Mama Mila ingin sekali menarik kuping putranya keras-keras, namun ia tidak tega juga melihat wajah tampan putranya meringis.


*Kalian hati-hati ya, Rheana ini kan sudah besar hamilnya." Tutur Papa Wawan.


"Iya, Pa. Lagipula hanya sebentar," jawab Rheana nurut.


Setelah di rasa semuanya beres. Rheana dan Cakra pun akhirnya pergi usai berpamitan dengan kedua orang tua mereka.


Sebenarnya mama Mila dan papa Wawan ingin ikut, namun Cakra menolaknya. Bahkan bukan cuma itu, Velia dan Fikri yang mau ikut saja tidak diperbolehkan oleh Cakra.


"Kamu benar-benar cuma mau berdua sama aku, Mas?" Tanya Rheana pelan.


"Iya, Sayang. Aku mau memanfaatkan waktu yang tersisa." Jawab Cakra spontan.


Rheana menatap suaminya, ia paham dengan maksud ucapan Cakra. Waktu tersisa, tentu saja karena anak mereka akan segera lahir ke dunia, dan Cakra harus memenuhi janjinya.


Rheana menatap jalanan dengan seksama. Hatinya sejak tadi membatin untuk dirinya sendiri.


"Kau yakin, Rheana?" batin Rheana untuk dirinya sendiri.


LUNAS YAA 3 BAB🖤. KALO KALIAN SEMANGAT KOMEN DAN LIKE, AKU JUGA SEMANGAT UPDATE GUYS 😚

__ADS_1


Bersambung....................................


__ADS_2