
Tampak dua orang beda jenis sedang duduk di sebuah kafe yang cukup ramai siang itu. Terlihat tangan si pria yang menggenggam tangan wanitanya dengan sangat erat.
“Nggak seharusnya kamu cinta sama aku, aku orang jahat dan dibenci oleh keluargaku, Fik. Aku tetap berada disini juga karena kamu yang cegah aku untuk pergi.” Ucap Velia dengan mata yang menatap Fikri dalam.
Fikri membalas tatapan Velia tanpa mau melepaskan genggaman tangannya. Kurang dari satu bulan yang lalu, Velia datang dan mengatakan akan pergi karena sudah tidak ada lagi yang membuatnya harus bertahan, namun Fikri mencegahnya.
Fikri maupun keluarganya sudah menerima Velia dengan masa lalunya, mereka tahu bahwa Velia bersalah, tetapi gadis itu sudah mengakui kesalahannya bahkan siap untuk bertanggung jawab.
Sudah berulangkali Fikri mnyakinkan Velia, namun gadis itu selalu menolak ajakan untuk menikah, karena masih terbayang akan kesalahannya pada adiknya yang kini tidak tahu dimana keberadaanya.
“Aku tulus cinta sama kamu, Vel. Aku dan keluargaku pun sudah menerima kamu dengan masa lalu kamu itu.” Ujar Fikri untuk yang kesekian kalinya.
“Kamu mau ya menikah sama aku?” tanya Fikri dengan penuh kelembutan.
Velia menundukkan kepalanya, ia menangis namun berusaha untuk menahan suaranya yang ingin terisak.
“Nggak bisa, Fik. Aku nggak bisa menikah sama kamu, maaf.” Jawab Velia tanpa menatap Fikri.
“Kenapa? kamu udah nggak cinta sama aku?” tanya Fikri sudah tidak terkejut akan penolakan yang Velia lakukan berulang kali.
“Kamu tahu itu bukan alasannya, Fik.” Jawab Velia lirih.
Velia mengangkat wajahnya, ia menatap Fikri dengan air mata yang menggenang di pelupuk.
“Nggak mungkin aku menikah dan berbahagia sendiri, aku harus cari Rheana dan menyatukannya kembali dengan Cakra. Disaat itu semua sudah aku lakukan, aku siap nikah sama kamu.” Tambah Velia.
Fikri tersenyum, ia mengangguk sebagai balasan. Ia mencintai Velia, dan ia akan menunggu sampai kapanpun, sampai Velia siap.
“Aku akan tunggu kamu, Vel. Aku sangat mencintaimu,” ungkap Fikri lalu mencium tangan Velia.
Velia balas mencium tangan Fikri, setelah itu Fikri pun mengantar Velia pulang ke kostnya. Memang, sejak hari dimana Velia bertemu Cakra di jembatan, sejak hari itu Velia memutuskan untuk menjauhi keluarganya.
__ADS_1
Velia melakukan itu bukan karena dirinya marah, tetapi ia tidak mau membuat seluruh keluarganya semakin menjadi membencinya. Kini fokus Velia adalah mencari keberadaan adiknya.
Sementara itu di rumah sakit, Cakra terbaring dengan beberapa alat medis yang menempel di tubuhnya. Kondisi Cakra kurang sehat, pria itu harus mendapat perawatan intensif di rumah sakit.
Cakra yang kurang makan dan kurang tidur membuat tubuhnya kekurangan cairan, bahkan dokter juga mengatakan bahwa maag yang Cakra idap bisa membahayakan nyawanya jika Cakra terus menyepelekan makan.
Mama Mila dan Papa Wawan menemani Cakra di rumah sakit, sebagai orang tua tentu saja mereka sedih melihat kondisi Cakra yang benar-benar memprihatinkan, belum lagi suara Cakra yang terus memanggil nama Rheana.
“Pa, kenapa Rheana belum juga ditemukan? mama udah nggak sanggup lihat Cakra seperti ini,” ucap Mama Mila sambil menangis.
Papa Wawan memeluk istrinya, ia mengusap bahu sang istri yang terlihat hancur karena kondisi anak mereka sekarang. Sebenarnya papa Wawan juga bingung mengapa anak buahnya sulit sekali menemukan Rheana, padahal biasanya anak buahnya itu paling cepat menemukan orang yang dicari.
Kesulitan keluarga Chandrama dan Dharmawan tentu saja karena opa dan oma Rheana di italia, mereka berdua merupakan orang yang cukup dipandang disana, sehingga untuk sekedar mencegah seseorang tahu keberadaan cucunya adalah hal kecil.
“Rh-rhe-a.” Panggil Cakra dengan terbata dan pelan.
Mama Mila dan Papa Wawan mendekat, mereka mengusap kepala Cakra yang sudah sadarkan diri.
“Cakra, Nak! kamu sudah sadar,” ucap Mama Mila dengan senang.
Maa Mila diam, ia tidak bisa menjawab karena dia sendiri tidak tahu dimana posisi Rheana sekarang ini.
“Ma, aku ingin Rhea kembali, aku ingin istriku, Ma.” Ucap Cakra memohon, matanya sudah berair karena menangis.
“Sabar ya, Nak. Papa sedang berusaha menemukan istrimu,” sahut Papa Wawan.
Cakra diam saja, ia memejamkan matanya bukan karena mengantuk, tetapi ia ingin mengenang senyuman Rheana yang ia rindukan.
“eummm … berhenti menciumku, Kak!”
“Aduhh … jangan digigit, kau pikir tanganku ini daging.”
__ADS_1
“Kau jahat, Kak. Kau membuat anakku pergi, dia pergi meninggalkanku.”
“Kau jahat, pergi dari sini.”
Cakra mengingat setiap kata-kata yang pernah Rheana ucapkan. Setiap tawa, ai mata dan rasa sakit Rheana yang harus dipertanggung jawabkan.
“Rhea.” Batin Cakra meringis sendiri.
Cakra memegangi perutnya yang terasa sangat sakit, ia tahu bahwa dirinya memiliki penyakit maag, tetapi ia tetap saja nekat menyepelekan makan karena terlalu fokus mencari istrinya.
***
Rheana berbaring dan tidak lupa memeluk guling. Ia sudah memejamkan matanya dan bersiap untuk tidur, namun entah mengapa lagi-lagi ia teringat pada suaminya.
Dulu sebelum tidur Rheana biasa berbincang dulu dengan suaminya, dan akan berakhir tidur dalam pelukan Cakra. Rheana memejamkan matanya sebentar, ia rindu sekali dengan bau harum yang menguar dari tubuh suaminya.
“Kak Cakra, aku sangat merindukanmu. Entah mengapa perasaanku tidak enak, kau baik-baik saja kan?” gumam Rheana sedih.
Rheana bangkit, ia yang awalnya ingin tidur jadi tidak mengantuk. Rheana pergi ke balkon kamarnya, melihat pemandangan di malam hari. Wanita yang sedang hamil itu duduk di kursi kayu yang ada disana.
“Kota ini memang indah, tapi akan lebih indah jika aku bisa melihatnya bersama kamu, Kak.” Ucap Rheana seraya mengusap-usap perutnya.
Rheana tersadar, ia memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Tidak, ia tidak boleh terus mengingat suaminya, ia sendiri yang memilih untuk pergi dari kehidupan Cakra, itu artinya ia harus siap dengan segala konsekuensinya.
“Italia menjadi salah satu negara yang paling aku suka, Kak. Dan hari ini, di tempat yang paling aku suka ini, aku melepaskan kamu Kak. Tolong pergi dari pikiran dan juga hatiku, biarkan aku bahagia dengan duniaku yang sekarang.” Ungkap Rheana dengan tangan yang terbuka lebar dan mata yang terpejam.
“Tidak, Rhea. Kamu mencintaiku, dan aku juga. Kita akan bertemu kembali, dan menjadi keluarga yang bahagia.” Ucap Cakra yang saat ini masih terbaring diatas bangsal.
Tanpa sadar kedua orang itu mengucapkan kata yang berlawanan, namun masih berhubungan. Dua orang yang beda tempat dan waktu, namun masih dengan perasaan yang sama.
Sama-sama mencintai.
__ADS_1
NGGAK SANGGUP AKU, PERTEMUKAN AJA YA MEREKA YA😫
Bersambung.......................