
Ryan dilarikan ke rumah sakit oleh warga sekitar, dengan Abel yang menemaninya juga. Abel tidak tahu harus menghubungi siapa, ia tidak tahu password ponsel Ryan, sementara dirinya tidak memiliki nomor keluarga Ryan.
Ryan kini sedang ditangani oleh dokter, Abel dilarang untuk masuk sehingga kini ia harus menunggu di kursi tunggu yang berada tepat di depan ruangan itu.
"Ryan, hiks … kenapa harus kamu yang terluka." Lirih Abel sambil menangis.
Kepala Abel tertunduk, ia menangis sejadi-jadinya dengan apa yang Ryan alami saat ini. Abel tidak mau jika Ryan kenapa-napa.
Ketika sedang menangis, ponsel Ryan yang ada di genggaman tangannya berdering, ia segera mengangkat panggilan itu ketika terlihat nama 'Kak Cakra' disana.
"Halo, Ryan."
"H-halo." Balas Abel dengan suara gemetar.
"Kamu siapa, kenapa pegang ponsel adik saya?"
"Saya Abel, Kak. Temannya Ryan yang waktu itu."
"Dimana Ryan, Abel?"
"Ryan, hiks … Ryan masuk ke rumah sakit Kak."
"APA?!! Rumah sakit mana?"
"Rumah sakit Sari Husada, Kak."
Setelah mengatakan itu, panggilan pun terputus. Ponsel Ryan yang masih menyala membuat Abel bisa melihat lock screen pria itu adalah foto dirinya.
"Ini kan foto aku." Gumam Abel melihat fotonya di ponsel Ryan.
Sementara itu di rumah Dharmawan, Cakra mengubungi Fikri dan Velia untuk memberi kabar tentang Ryan. Meskipun Cakra belum tahu alasan pastinya, tapi yang terpenting mereka datang dulu kesana.
Fikri dan Velia akan pergi duluan kesana, sementara Cakra akan menyusul. Ia tidak mungkin meninggalkan istrinya yang sedang tidur.
Tadi ia menghubungi Ryan untuk menanyakan keberadaannya. Ia mendadak khawatir memikirkan Rizi yang masih berkeliaran dan bisa saja menyakiti adik iparnya itu.
Cakra mendekati Rheana yang masih tertidur pulas setelah diajak olehnya berolahraga, ia mencium kening sang istri kemudian mengusap kepalanya lembut.
"Sayang, aku pergi ya. Aku nggak mungkin bangunin kamu, kamu sangat pulas sekarang." Bisik Cakra pamit.
Cakra pun segera mengganti bajunya, untung saja Rheana sudah berpakaian sebelumnya sehingga ia akan bisa menitipkan Rheana kepada sang mama.
"Ma!!" panggil Cakra seraya mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya.
Mama Mila membuka pintu, ternyata kedua orang tuanya belum tidur dan sedang menonton tv.
"Cakra, ada apa?" tanya Mama Mila.
"Ma, aku bisa titip Rheana? Aku harus ke rumah sakit." Jawab Cakra pelan.
"Mau apa ke rumah sakit malam-malam begini, Nak?" tanya Papa Wawan.
"Ryan masuk ke rumah sakit, Pa. Aku belum tahu alasannya, tapi aku harus kesana." Jawab Cakra dengan tergesa-gesa.
__ADS_1
"Yaudah, kamu pergi aja. Mama akan ke kamar dan jaga Rheana," tutur Mama Mila.
Cakra pun segera pergi meninggalkan rumah untuk pergi ke rumah sakit. Cakra tidak tahu apakah kedua mertuanya sudah tahu tentang kabar ini atau belum, tapi ia akan menelponnya nanti.
Karena hari yang sudah malam membuat jalanan renggang pengendara. Cakra bisa mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi sehingga ia bisa cepat sampai di rumah sakit.
"Suster, pasien bernama Ryan Chandrama." Ucap Cakra.
Belum sempat suster menjawab, ada seseorang yang memanggil Cakra dan itu adalah Fikri.
"Cakra." Panggil Fikri melambaikan tangannya.
Cakra mendekat. "Apa yang terjadi pada Ryan?" Tanya Cakra.
"Rizi melukainya dengan menusuk punggung Ryan, saat ini pria itu sudah berada di penjara." Jawab Fikri menjelaskan setelah mendengar cerita dari salah satu warga yang mengantar Ryan ke rumah sakit.
"Sialann, kita harus pastikan pria itu mendapatkan hukuman yang setimpal." Umpat Cakra begitu emosi.
Fikri manggut-manggut. Mereka pun pergi menuju kamar periksa Ryan, dimana ada Velia dan Abel yang masih menunggu di kursi tunggu.
"Abel, kamu harus pulang dan ganti baju." Tutur Velia dengan lembut.
Abel menggelengkan kepalanya. "Nggak bisa, Kak. Aku nggak bisa meninggalkan Ryan," balas Abel menolak pelan.
"Sayang, udah nggak apa-apa Abel disini." Tegur Fikri pelan.
Velia menghela nafas, ia meminta Abel pulang karena kasihan pada keadaan gadis itu yang benar-benar bermatakan. Bajunya kotor karena noda darah Ryan.
"Cakra, Rheana bagaimana?" tanya Velia teringat adiknya.
"Dia di rumah, aku tidak tega membangunkannya." Jawab Cakra singkat.
Tidak lama kemudian pintu ruang periksa Ryan terbuka. Seorang dokter keluar bersama suster.
"Dok, bagaimana adik saya?" tanya Velia langsung.
"Lukanya cukup dalam, tapi sekarang sudah lebih baik. Pasien butuh istirahat dan perawatan di rumah sakit selama beberapa hari." Jawab dokter menjelaskan.
Semua yang mendengar bisa bernafas dengan lega. Setidaknya Ryan akan baik-baik saja. Terutama Abel, gadis itu sekarang jauh lebih tenang dari sebelumnya.
Jam menunjukkan pukul 12 malam, Velia dan Fikri harus pulang karena mereka akan bekerja besok, mereka juga turut mengajak Abel dan Cakra lah yang akan menjaga Ryan malam ini.
"Tenang saja, Abel. Besok kamu bisa kesini lagi," tutur Velia lembut.
Abel tersenyum. "Iya, Kak." Balas Abel.
"Cakra, kau yakin akan menjaganya sendiri?" tanya Fikri memastikan.
"Ya, kau pulang saja. Aku akan pulang setelah besok gantian menjaga dengan mama Erina dan papa Rama." Jawab Cakra menganggukkan kepalanya.
Fikri manggut-manggut, ia pun segera pergi bersama istri dan teman adik iparnya. Sebelum pulang, mereka akan mengantar Abel pulang dulu.
***
__ADS_1
Keesokan harinya Ryan bangun dengan badan yang sedikit pegal-pegal, ketika ia membuka mata ia melihat sudah ada kedua mertuanya disana.
"Ma, Pa. Kapan kalian datang?" Tanya Cakra dengan pelan dan serak.
"Baru saja, Cakra. Semalaman mama mertua kamu ini nggak bisa tidur karena memikirkan Ryan, dan tadi pagi langsung ngajak kesini." Jawab Papa Rama pelan.
Ryan melihat ibu mertuanya yang menangis. Ia yakin jika istrinya ada disana, pasti Rheana juga bisa-bisa histeris.
Cakra teringat pada istrinya, ini sudah pagi dan ia belum bicara sama sekali dengan Rheana. Apakah Rheana sudah tahu kabar Ryan atau belum.
"Ma, Pa. Apa kalian memberitahu Rheana tentang kabar Ryan?" tanya Cakra.
"Tidak, Cakra. Kami belum bicara dengan istrimu sejak kemarin." Jawab Mama Erina.
Cakra manggut-manggut, ia pun pamit pergi karena sekarang Ryan sudah ada yang menjaga, maka gantian ia yang akan pulang.
Cakra sangat panik, ia takut istrinya akan marah padanya karena tidak memberikan kabar soal Ryan.
Jam menunjukkan pukul 10 pagi, artinya ia mengendarai mobil 1 jam lebih dari rumah sakit untuk sampai di rumahnya.
Sesampainya di rumah, Cakra segera masuk. Ia tidak mengucapkan salam apapun dan langsung ke kamarnya.
"Sayang." Panggil Cakra lembut.
Cakra melihat istrinya sedang menyisir rambut di depan cermin. Cakra berdoa di dalam hati, jangan sampai ia di hukum. Baru semalam buka puasa, masa udah marahan.
"Sayang." Panggil Cakra lagi seraya memeluk istrinya dari belakang.
"Lepasin, Mas!" pinta Rheana kesal.
"Kemana aja kamu hah?! Aku bangun kamu udah nggak ada." Sarkas Rheana dengan tatapan tajam.
Cakra menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia bingung harus memberitahu istrinya atau tidak sekarang.
"Darimana, istri tanya bukan dijawab." Ketus Rheana kesal.
"Dari rumah sakit, Sayang." Ucap Cakra pelan.
"Ngapain kesana?" tanya Rheana lagi.
"Ryan terluka karena Rizi." Jawab Cakra semakin pelan.
"APA?!!!" Pekik Rheana terkejut.
Cakra buru-buru menutup matanya, ia tidak kuat dengan tatapan istrinya yang tajam dan menusuk, bahkan melebihi sebuah belati.
"Sayang, ampun … aku nggak kasih tahu, soalnya kamu semalam pulas banget abis olahraga." Ucap Cakra seraya memeluk perut Rheana.
"Ck, awas. Aku mau lihat Ryan, kamu kenapa nggak bilang sih!" gerutu Rheana kesal.
NGGAK MAU MEMPERSULIT HUBUNGAN RYAN DAN ABEL😅
Bersambung........................
__ADS_1