
Seluruh keluarga Chandrama termasuk Rheana dan Velia kini ada di rumah Chandrama. Cakra dan Fikri tidak disana, sebab mereka berdua sedang bekerja di kantor masing-masing.
Ada pengantin baru juga disana. Ryan dan Abel baru saja kembali dari hotel setengah jam lalu.
"Cerah banget wajah pengantin baru." Ucap mama Erina seraya memegang wajah menantu termudanya.
Abel tersenyum malu-malu. "Mama bisa aja." Timpal Abel.
Rheana dan Velia hanya bisa terkekeh melihat wajah malu-malu Abel, apalagi wanita itu kini sedang memakai baju yang turtleneck yang menutupi sampai ke lehernya.
Baik Velia dan Rheana yakin jika ada sesuatu yang ditutupi di baliknya. Darimana mereka tahu?? Pengalaman bos.
Sementara mereka asik mengobrol dan menggoda Abel, kedua anak Rheana dan Velia justru sedang asik bermain dengan opa dan om mereka.
"Semalam Ryan ganas nggak, Bel?" tanya Rheana seraya menyenggol bahu adik iparnya.
"Pasti indah banget kan semalam?" tanya Velia menaik turunkan alisnya.
Abel hanya bisa menundukkan kepalanya, ia tidak tahu harus menjawab kedua kakak iparnya dengan apa.
Memang Ryan bisa dikategorikan ganas atau tidak jika bermain seperti semalam, Abel kan belum bisa mendefinisikan antara lembut dan ganas, sebab semalam pertama untuknya.
Jika ditanya semalam pasti indah, tentu saja. Ia dan Ryan sudah sangat menantikan malam indah mereka.
Selama bertahun-tahun mereka berpacaran, keduanya bisa menjaga adab dan gaya berpacaran, mereka tidak pernah melakukan interaksi lebih dari sekedar pegangan tangan dan cium bibir pun sesekali.
"Ada apa ini, apa yang kalian lakukan pada istriku?" tanya Ryan datang dan langsung menarik tangan Abel.
Kini Abel berpindah duduk ke sebelah Ryan di sofa yang kosong.
"Apaan sih, kita cuma ngobrol biasa aja." Jawab Velia mendengus.
Rheana terkekeh. "Sekarang bilangnya istriku, bukan pacarku pagi." Goda Rheana.
"Ck, kakak. Kita kan sudah menikah, tentu saja aku memanggilnya dengan sebutan itu. Memang kak Cakra dan kak Fikri panggil kalian pacar, nggak kan?" Sahut Ryan sewot.
Rheana dan Velia hanya tertawa sambil geleng-geleng kepala, mereka senang sekali menggoda adik mereka yang baru menikah kemarin.
Rheana yang masih asik tertawa tiba-tiba terhenti saat mendapatkan panggilan dari seseorang.
Rheana segera mengangkat panggilan itu, ia melihat nama sekretaris suaminya di sana.
"Iya, ada apa?" tanya Rheana langsung.
"Bu, bisa ke kantor sekarang? Pak Cakra mual-mual terus, sepertinya sakit dan butuh anda."
__ADS_1
"Apa, iya-iya saya ke kantor sekarang." Usai mengatakan itu, Rheana pun menutup panggilan teleponnya.
"Kenapa, Kak?" tanya Abel melihat wajah khawatir kakak iparnya.
"Mas Cakra sakit, dia mual-mual katanya. Ini pasti disuruh pulang nggak mau," jawab Rheana sambil menggerutu.
Rheana sangat mengenal suaminya, Cakra itu selalu mementingkan pekerjaan dibanding kesehatan tubuhnya. Inilah yang membuat Rheana seringkali merasa kesal.
Rheana tahu, tujuan sekretaris suaminya menelepon adalah agar mengajak Cakra pulang, karena hanya dia yang bisa.
"Ya ampun, aku antar ya Kak." Ucap Ryan bangkit dari duduknya.
"Boleh deh ayo." Balas Rheana.
"Ma, Pa. Aku titip Ayla ya, aku urus papanya dulu." Kata Rheana pada kedua orang tuanya.
"Iya sana, hati-hati ya." Balas papa Rama.
Rheana pun meninggalkan Ayla di rumah kakek dan neneknya, karena ia tahu bahwa Ayla tidak akan rewel jika bersama mereka, apalagi ada Cilla juga.
Rheana hanya diantar oleh Ryan, sementara Abel akan menunggu dirumah saja bersama Velia dan mertuanya, sambil membantu menjaga kedua bocah yang merupakan cucu Chandrama.
***
Rheana sampai di kantor suaminya, ia melambaikan tangan pada Ryan lalu langsung masuk ke dalam gedung bertingkat itu.
"Rheana, kamu disini?" tanya papa Wawan.
Rheana mengangguk. "Iya, Pa. Aku mau lihat mas Cakra, katanya sakit." Jawab Rheana.
"Iya memang, Rhe. Papa sudah suruh pulang, tapi dia nggak mau. Biarin dia dimarahin istrinya sekarang," sahut papa Wawan.
Rheana hanya tersenyum mendengar ucapan ayah mertuanya.
Papa Wawan melirik jam di pergelangan tangannya. "Papa pergi, Rhe. Mama kamu minta diantar beli sesuatu katanya." Kata papa Wawan.
Rheana mencium punggung tangan sang papa mertua. "Hati-hati ya, Pa." Ujar Rheana.
Usai mengatakan itu, Rheana pun masuk ke dalam lift dan menekan lantai tujuannya. Lantai dimana ruangan suaminya berada.
Sesampainya di lantai tujuan, Rheana pun mendekati meja sekretaris suaminya namun tidak ada siapapun disana.
"Bu Rheana, selamat siang." Sapa seorang karyawan wanita.
"Dimana sekretaris pak Cakra?" tanya Rheana setelah membalas sapaan wanita itu.
__ADS_1
"Pak Cakra dan sekretarisnya sedang ada di ruang rapat, Bu. Mungkin dalam 30 menit selesai, apa perlu saya sampaikan kepada beliau tentang kedatangan anda?" jelas wanita itu kemudian menawarkan.
Rheana menghela nafas, sudah benar dugaannya kan. Cakra pasti akan tetap mementingkan pekerjaan.
"Tidak perlu, saya tunggu di ruangan suami saya aja ya." Tolak Rheana kemudian masuk ke dalam ruangan Cakra.
Rheana pun menunggu suaminya di dalam ruangan pria itu. 30 menit yang dikatakan karyawan tadi akhirnya datang, dan benar saja bahwa Cakra langsung masuk ke dalam ruangannya.
"Sayang!!!" Cakra memekik senang melihat kedatangan istrinya, apalagi tidak ada Ayla.
Maksudnya Cakra bukan tidak suka akan kehadiran putrinya, namun saat ini ia sedang sangat membutuhkan Rheana.
Rheana bangkit dari duduknya, bukan masuk ke dalam pelukan suaminya yang sudah membuka kedua tangan, Rheana malah melipat tangannya di dada.
"Ada apa, Sayangku?" tanya Cakra mengerutkan keningnya.
"Kamu sakit, kenapa masih paksain kerja?" tanya Rheana langsung.
Cakra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ini pasti karena sekretarisnya yang memberitahu Rheana.
Ingatkan Cakra untuk memotong gaji sekretarisnya itu.
"Jangan mikir aneh-aneh, aku tahu kamu sakit tapi masih paksain kerja." Ketus Rheana.
Cakra tersenyum manis, ia mendorong tubuh istrinya agar kembali duduk, kemudian ia ikut duduk dan merebahkan diri.
"Sayang, aku mual-mual dari pagi." Adu Cakra seraya meletakkan kepalanya di pangkuan sang istri.
"Kayanya aku kena sydrom couvade deh." Tambah Cakra dengan lirih.
Rheana menghela nafas, bisa jadi Cakra mual-mual begini karena kehamilannya. Mungkin anak kedua mereka ingin papa nya saja yang menderita.
"Udah tahu sakit, kenapa bukan pulang?" tanya Rheana seraya mengusap kepala suaminya.
"Mau makan siang di sambil mangku kamu di atas kursi kerja aku." Jawab Cakra asal-asalan, tapi itu sebuah kejujuran.
Itulah yang sedang Cakra ingin lakukan, yaitu makan siang bersama dengan posisi Rheana diatas pangkuannya. Apalagi sambil ciuman, bukankah siang akan menjadi sejuk jika begitu.
"Apa?" Rheana tersentak mendengar permintaan aneh suaminya.
Cakra mendongak. "Sayang, mau ya?" pinta Cakra memelas.
Rheana mencubit hidung mancung suaminya, jika Cakra sudah menunjukkan ekspresi seperti ini, mana bisa Rheana menolaknya.
NGIDAM APA MODUS, PAK??
__ADS_1
Bersambung................................