Dinikahi calon kakak ipar

Dinikahi calon kakak ipar
Cakra sakit


__ADS_3

Rheana menghabiskan susu yang dibuatkan suaminya sambil bermain ponsel. Saat ini dirinya sedang melakukan chatting dengan sang kakak yang besok akan dilamar oleh kekasihnya.


Rheana beberapa kali tertawa saat melihat rengekan Velia, meski hanya sebuah tulisan saja. Ia tidak tahu bahwa kakaknya bisa setakut itu, padahal Velia dan Fikri sudah pasti akan sama-sama menerima perjodohan itu kan.


Rheana yang tertawa sendiri membuat Cakra bingung, pria itu duduk di sofa sambil memangku laptop dengan begitu serius.


Namun fokusnya teralihkan saat suara tawa istrinya terdengar. Cakra meletakkan laptop di meja, ia bangkit lalu membenarkan bajunya yang tertekuk.


"Kenapa ketawa-ketawa sendiri sih, asik banget main ponselnya." Ucap Cakra dengan suara yang sedikit berbeda.


Rheana menoleh, dan ternyata wajah Cakra sudah dekat dengannya. Kini hidung mereka sudah bersentuhan, hanya tersisa beberapa centi untuk bibir mereka saling menempel.


"Ketawain apa sih, hmm?" tanya Cakra dengan lembut.


Cakra mengusap pipi istrinya. Wajah Rheana yang putih bersih dan halus membuat Cakra selalu betah berlama-lama mengusap, apalagi menciumnya.


"Suara kamu beda, kamu pasti masuk angin gara-gara terkena hujan tadi." Ucap Rheana dengan tatapan masih tertuju pada Cakra.


Cakra terkekeh, usapan tangannya di wajah sang istri belum dihentikan. Kini tangan Cakra turun ke leher Rheana, semakin turun hingga ke perut.


"Dedek, udah malam bobok dong. Ajak bunda bobok," celetuk Cakra membuat Rheana tersenyum mendengarnya.


"Kak, aku buatin teh ya atau …" perkataan Rheana terhenti saat jari telunjuk Cakra hinggap di bibirnya.


"Ssttt … aku nggak apa-apa, aku cuma mau tidur sambil usap-usap perut kamu." Bisik Cakra dengan mata terpejam.


Rheana ikut memejamkan mata, sampai mereka tidak sadar bahwa kening mereka semakin menempel satu sama lain.


"Kak, badan kamu hangat." Ucap Rheana pelan.


Cakra tidak menyahut, pria itu naik ke atas ranjang, kemudian menjatuhkan kepalanya tepat di atas pangkuan istrinya.


Cakra meraih tangan istrinya, lalu membawanya ke kepala.


"Usap kepala aku, Sayang." Pinta Cakra manja.


Wajah Cakra menghadap ke perut Rheana, tangannya belum berhenti mengusap, dan kini bibirnya ikutan andil dengan menciuminya.


Rheana sendiri tidak menolak, ia meletakkan ponselnya di nakas dan kini fokus mengusap kepala suaminya yang berambut cukup tebal itu.


"Sayang, dia anak kita kan?" tanya Cakra seraya menatap kedua mata Rheana.

__ADS_1


Rheana tidak menjawab, ia diam dan terus mengusap kepala suaminya.


Cakra yang tidak mendapat jawaban istrinya hanya bisa diam. Selama mereka bertemu, Rheana belum pernah mengatakan 'anak kita' dia selalu bilang 'anakku' saja padahal jelas sekali bahwa itu anak mereka.


Cakra sedih, namun ia tidak terlalu memaksakan. Sebagai seorang calon ibu, Rheana tentu sakit hati mengingat bayinya hampiri tiada waktu itu.


"Kak, tidurlah di tempatmu sendiri." Ucap Rheana mengalihkan pembicaraan.


Cakra mengambil kedua tangan Rheana, lalu menciumnya dengan penuh kasih sayang.


"Sayang, bisakah kamu ubah panggilan kamu ke aku? Kita bukan adik dan kakak, mungkin panggilan 'mas' terdengar lebih mesra." Ucap Cakra mengutarakan keinginannya.


Rheana menunduk, menatap Cakra yang juga tengah menatapnya dengan penuh harapan.


"Kenapa kamu banyak minta? Lagipula apa pentingnya sebuah panggilan," balas Rheana pelan, namun membuat Cakra langsung diam tidak bicara.


"Lebih baik kamu tidur di tempat kamu, aku juga mau tidur. Aku capek, Kak." Ucap Rheana seraya memindahkan kepala Cakra dari pangkuannya.


Rheana berbaring, tidak lupa ia menyelimuti dirinya sendiri sampai batas perut. Cakra pun sama, ia berbaring dan masuk ke dalam selimut yang sama.


"Aku peluk kamu ya." Bisik Cakra lalu melingkarkan tangannya di perut sang istri.


Rheana hanya diam, ia tidak menolak ketika suaminya memeluk seperti itu. Lagipula ini sudah malam, dan ia sangat lelah untuk berdebat.


Keesokan harinya, Rheana terbangun ketika merasakan panas di perut dan juga lehernya. Ia bangkit lalu mengecek keadaan Cakra yang ia yakini sedang demam.


Tangan Cakra yang memeluknya dan nafas pria itu yang menerpa lehernya membuat Rheana khawatir karena suaminya sakit.


"Kak, kamu sakit." Ucap Rheana ketika memegang kening Cakra untuk memastikan.


Cakra sudah bangun, namun matanya sangat berat untuk sekedar terbuka sedikit. Kepalanya berat, dan seluruh tubuhnya terasa sangat panas.


"Kak, aku buatin kamu sarapan dulu. Ini selimutnya dibuka, nggak boleh selimutan." Tutur Rheana dengan buru-buru.


Cakra menggeleng, ia memegang tangan Rheana yang hendak menyingkap selimutnya.


"Aku nggak apa-apa, sini tidur lagi. Aku mau peluk aja, nanti pusingnya hilang." Pinta Cakra membuka kedua tangannya.


"Nggak, Kak. Kamu harus di periksa, kamu demam!" sahut Rheana menolak.


Rheana menyingkap selimut, kemudian membantu suaminya agar tidur lebih nyaman.

__ADS_1


Cakra memanfaatkan kesempatan dengan melingkarkan tangannya di leher sang istri ketika Rheana menunduk sedikit.


"Aduhh … Kak, perut aku tertekan." Ucap Rheana meringis.


Cakra kontan melepaskan pelukan di leher istrinya, ia menatap Rheana dengan khawatir.


"Sayang, nggak apa-apa?" tanya Cakra dan Rheana menjawab dengan gelengan kepala.


"Kamu tunggu disini, aku buatin bubur sama panggil dokter." Tutur Rheana kemudian keluar dari kamar.


Rheana tidak lupa menjepit rambutnya sebelum keluar kamar. Saat ia sampai di dapur, Rheana melihat ibu mertuanya sedang duduk sambil mengupas buah.


"Ma, selamat pagi." Sapa Rheana dengan senyuman.


"Rheana, kok sudah bangun? Ada apa, kamu butuh sesuatu?" tanya Mama Mila.


"Kak Cakra sakit, Ma. Aku mau buatin bubur sama teh hangat," jawab Rheana seketika membuat mama Mila bangkit dari duduknya.


"Cakra sakit?!" pekik Mama Mila.


"Mama panggil dokter dulu, pasti sakitnya kambuh." Ujar Mama Mila kemudian pergi untuk menghubungi dokter.


Rheana mengerutkan keningnya ketika mendengar ucapan sang ibu mertua. Penyakit Cakra kambuh? Memang Cakra sakit apa.


"Kak Cakra sakit apa." Gumam Rheana seraya memasak buburnya.


"Non, dulu den Cakra masuk ke rumah sakit karena frustasi nyari nona. Dokter bilang, dia nggak boleh telah makan apalagi stress, bahaya buat sakit maag nya yang udah kronis." Ujar salah satu art yang mendengar suara Rheana.


Rheana yang mendengar ucapan itu lantas terhenti menuang air ke dalam gelas. Ia terdiam dengan perasaan campur adik.


Cakra sakit karena mencarinya? Cakra sampai masuk ke rumah sakit karena terlalu memikirkannya? Suaminya sampai segitu besarnya dalam menemukannya?


Rheana diam saja, ia tidak menyangka Cakra akan mencari keberadaanya, bahkan sampai sakit. Selama di Italia, ia malah berpikir bahwa Cakra pasti tidak peduli ia pergi.


Tanpa sadar Rheana meneteskan air matanya. Ia jadi ingat bagaimana perlakuannya kepada sang suami sejak datang, sudah bicara ketus dan tidak sopan.


Tapi Rheana melakukan itu bukan tanpa alasan, ia masih terbayang akan siksaan Cakra dulu, yang membuatnya begitu menderita.


Dan sekarang, sekarang giliran ia yang cuek dan dingin kepada Cakra, tetapi ia tidak bisa terlalu cuek. Bagaimanapun Cakra adalah suaminya, ayah dari bayi dalam kandungannya.


DUH, MBAK RHEA MELLOW GUYS 😫😫

__ADS_1


Bersambung...............................


Jangan lupa mampir ke karya terbaru aku, judulnya 'Terpaksa menjadi pelakor'. kalian bisa search, atau buka profil aku ya. Tenang, jangan syok sama judulnya, aman kok😅😅


__ADS_2