
Rheana baru saja kembali setelah tadi dari kantor suaminya. Kini ia sedang membaringkan tubuhnya diatas ranjang nyaman, dan lembut di kamarnya.
Sambil berbaring, Rheana tidak henti tersenyum mengingat sikap lembut Cakra beberapa hari ini, meskipun ia tidak tahu alasan mengapa Cakra bisa berubah drastis, tapi yang jelas ia sangat bahagia.
“Semoga saja kak Cakra memang sudah benar-benar berubah.” Gumam Rheana senyum-senyum sendiri.
Rheana bangkit dari posisinya, ia masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri, sebelum mengistirahatkan diri.
Malam harinya, Rheana sudah menunggu Cakra yang belum juga pulang, sementara makan malam yang ia buat kemungkinan sudah dingin.
Entah mengapa hari ini Cakra pulang terlambat, waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, dan biasanya Cakra sudah kembali pukul 6 sore.
“Apa aku telepon saja ‘ya?” gumam Rheana bimbang.
Sejak tadi Rheana ingin menghubungi suaminya, namun ia takut mengganggu Cakra yang bisa saja terlambat pulang karena masalah pekerjaan.
Saat sedang menunggu Cakra, tiba-tiba telepon Rheana berdering.
“Ryan.” Gumam Rheana melihat nama panggilan yang kini terpampang di layar ponselnya.
Rheana segera mengangkat panggilan dari adiknya, dan itu panggilan video sehingga Rheana bisa melihat wajah adik yang sangat di rindukannya.
“Ada apa?” tanya Rheana dengan tatapan menyelidik.
“Besok aku akan masuk tes kuliah , Kak. Tolong bantu aku mengisi soal-soal ini,” pinta Ryan dengan wajah memelas.
Rheana terkekeh, ia duduk di sofa lalu lanjut melakukan panggilan video dengan adiknya.
"Fisika atau kimia?" tanya Rheana menaik turunkan alisnya.
"Tidak keduanya, hanya TOEFL." Jawab Ryan sumringah.
Wajah Rheana langsung murung, jika ujiannya seperti itu, maka jelas Rheana tidak bisa. Ia tidak benar-benar buta materi tersebut, tapi ia tidak terlalu pintar.
"Aku tidak bisa." Ucap Rheana menghela nafas kasar.
__ADS_1
"Kak Cakra, dia pernah mengatakan bahwa nilai tes TOEFL nya bagus." Ujar Ryan dengan cepat.
Rheana menautkan kedua alisnya, darimana Ryan mengetahui, dan kapan juga Cakra mengatakan itu.
"Tes TOEFL?"
Rheana menoleh dengan tatapan penuh keterkejutan ketika mendengar suara Cakra di sampingnya.
Ia bahkan sampai terjingkat sambil memegangi dadanya, dan menjatuhkan ponselnya ke lantai.
"K-kak Cakra." Ucap Rheana terbata.
Entah kapan Cakra bisa tiba-tiba ada disebelahnya, ia tidak mendengar suara pintu apartemen yang terbuka, apalagi mendengar suara langkah suaminya.
Cakra tersenyum simpul, ia mengusap kepala Rheana dengan lembut, lalu mengambil ponsel yang terjatuh di lantai, dengan suara Ryan yang terdengar memanggil Rheana.
"Hai, Ryan. Kau bilang ingin tes TOEFL?" Tanya Cakra pada Ryan.
"Kak Cakra, sejak kapan disana?" tanya Ryan balik.
"Tolong bantu aku." Pinta Ryan memohon.
Cakra tertawa pelan, ia meletakkan jas dan tas kerja miliknya di sofa, lalu mulai mengajari Ryan bagaimana tes TOEFL itu bisa lulus.
Rheana memperhatikan suaminya yang begitu serius dengan tatapan yang sulit diartikan. Rheana bukan hanya kagum pada ketampanan Cakra, tetapi juga pada kepintarannya.
"Boleh aku minta minum?" tanya Cakra pelan.
Rheana tersadar, ia buru-buru bangkit dari duduknya dan mengambilkan air minum untuk sang suami.
Bisa-bisanya Rheana lupa untuk memberikan Cakra minum, padahal suaminya baru saja pulang bekerja.
"Ini, Kak. Aku akan siapkan pakaianmu dulu," tutur Rheana seraya memberikan segelas air putih pada Cakra.
Cakra mengangguk pelan karena terlalu fokus mengajari Ryan.
__ADS_1
Sementara Rheana, wanita itu mengambil jas dan tas kerja Cakra untuk ia simpan di dalam kamar.
Rheana juga menyiapkan pakaian santai suaminya.
"Ini saja." Gumam Rheana meletakkan kaos putih polos dan celana hitam pendek.
Selesai dengan urusan pakaian, Rheana langsung keluar untuk memanaskan makanan yang sudah dingin.
"Kak, mau aku buatkan kopi?" tanya Rheana pelan.
Cakra tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.
"Hei kau, sudah paham atau belum? Jangan terus merepotkan kak Cakra!" Celetuk Rheana yang mengomeli adiknya.
Ryan berdecak diseberang sana. "Sudahlah, Kak. Aku tidak bertanya padamu, jangan ikut campur dulu." Sahut Ryan.
Rheana melotot, ia ingin kembali memarahi Ryan, namun usapan lembut di tangannya, menghentikan suaranya yang siap keluar.
Rheana menatap Cakra yang tersenyum kepadanya, dan itu berhasil membuat Rheana malu, kemudian memilih untuk pergi.
Rheana pergi ke dapur dengan jantung yang berdetak tidak karuan, bahkan ia sampai butuh 1 menit untuk berdiam diri, dan menghilangkan rasa gugupnya.
"Ah, kak Cakra benar-benar." Celetuk Rheana memijat pelipisnya.
Rheana mengambil makanan yang ia tata lalu memasukkan nya ke dalam microwave untuk dipanaskan. Hanya butuh 10 menit untuk Rheana menyelesaikan itu
Rheana kembali menata makanan nya di meja, dan ia juga akan membuat jus untuk suaminya sekarang.
Namun, ditengah keasikan Rheana membuat jus, tiba-tiba ia merasakan sebuah tangan melingkar di perutnya.
Rheana tegang, ia terdiam dengan mata terpejam saat merasakan sebuah kepala menyusup di lehernya.
"Rhea."
Ekhmmmm ... dilarang baper karena khawatir bikin kecewa 🤣
__ADS_1
Bersambung ................