
Ryan menggenggam kedua tangan Abel dengan begitu erat, ia berharap bahwa hal itu bisa mengurangi rasa sedih yang masih di rasakan oleh Abel sampai saat ini.
Abel juga berusaha menunjukkan sikap baik-baik saja, ia tidak mau jika Ryan menganggapnya masih sangat sedih.
"Aku udah nggak apa-apa, Ryan. Makasih ya, kamu sampai pedulikan aku segitunya." Ucap Abel penuh senyuman.
"Lo tau nggak, gue hampir kabur dari rumah sakit cuma karena mau ketemu lo. Gue seneng kalo lo udah baik-baik aja." Balas Ryan lembut.
"Lo nggak usah takut sendiri, Abel. Ada gue sama keluarga gue yang siap nemenin lo." Tambah Ryan lalu mencium punggung tangan Abel.
Abel tersenyum bahagia, kata-kata Ryan benar-benar berhasil membuat rasa sedihnya terobati. Apa yang Ryan katakan memang terbukti, seluruh keluarga pria itu sangat memperhatikannya, terutama mama Erina.
"Gue kemarin udah bilang kalo kita mau nikah." Celetuk Ryan tiba-tiba.
Abel melototkan matanya, ia memukul bahu Ryan sampai si pemilik meringis. Abel panik, ia langsung berganti mengusap lembut bahu itu.
"Aduh maaf ya, Ryan. Yang mana yang sakit?" Tanya Abel tidak enak hati.
"Nggak ada yang sakit, Sayang. Lo dateng kesini, sakit gue hilang." Jawab Ryan dengan merayu.
Abel hendak memukul Ryan lagi, namun ia urungkan karena takut menyakiti pria itu.
"Jadi mau kan nikah sama gue?" Tanya Ryan pelan.
"Kita masih kuliah." Cicit Abel menundukkan kepalanya.
"Iya, gue tahu. Kita bisa nikah setelah lulus, tapi gue mau lo jawab sekarang. Gue nggak rela ya kalo lo nanti malah jadi sama orang." Ujar Ryan dengan mata menyipit.
Abel tergelak, ia tertawa melihat ekspresi wajah Ryan yang menurutnya sangat lucu. Jodoh di tangan Tuhan, dan Abel akan selalu berdoa semoga dirinya dan Ryan memang berjodoh.
__ADS_1
"Sekarang kamu makan dulu ya, tadi mama Erina suruh aku suapin kamu." Ucap Abel seraya mengambil makanan rumah sakit di meja samping bangsal.
"Ih udah manggil mama gue mama, udah siap jadi mantu kayanya." Goda Ryan sambil mencolek dagu Abel genit.
"Ryan!!" tegur Abel merengek.
Ryan menarik Abel ke dalam pelukannya. "Gue sayang banget sama lo, Abel. Terus sama gue ya," ungkap Ryan sungguh-sungguh.
Abel membalas pelukan Ryan dengan hati-hati, takut membuat luka pria itu bertambah sakit.
"Aku juga, Ryan. Makasih udah hadir dalam hidup aku," balas Abel pelan.
Abel dan Ryan sudah saling mengungkapkan perasaan masing-masing, kini hanya tinggal menunggu waktu sampai mereka benar-benar bisa bersatu dengan status yang jelas.
***
Satu minggu sudah Ryan berada di rumah sakit, selama itu juga Abel tidak pernah absen menjaga Ryan, meski terkadang ia harus telat datang karena kuliah. Abel sebenarnya malas berkuliah, tapi Ryan memaksa sehingga dirinya tidak bisa untuk menolak.
Sampai hari ini juga Abel belum mengetahui jika ibunya dilenyapkan dan pelakunya adalah Ryan. Keluarga Chandrama belum berani memberitahu Abel. Namun demi kepentingan sidang besok, mereka semua memutuskan untuk memberitahu gadis itu.
"Kenapa, Kak. Kok kalian diam aja?" tanya Abel kepada keempat kakaknya Ryan.
"Besok kamu siap untuk menjadi saksi kan, Abel?" Tanya Velia lembut.
"Siap, Kak. Aku akan membuat Rizi mendapatkan ganjaran atas perbuatannya." Jawab Abel yakin.
"Sebenarnya ada hal yang ingin kami sampaikan sama kamu, Abel. Ini juga berhubungan dengan sidang besok," ucap Fikri dengan sedikit ragu.
"Iya, Kak. Ada apa?" tanya Abel semakin bingung.
__ADS_1
Cakra merogoh kantung celananya, ia mengeluarkan ponselnya dan memutar video dimana terlihat seorang pria berpakaian perawat sedang memberikan suntikan.
"Mama." Lirih Abel melihat siapa yang ada dalam video itu.
Tidak lama setelah perawat tadi memberikan suntikan, tidak selang beberapa lama mama Abel terlihat kejang-kejang dan seperti sulit bernafas.
"Mama!" Panggil Abel melihat kondisi almarhumah ibunya sebelum meninggal.
Cakra mengambil ponselnya, ia tidak mau jika Abel semakin histeris dengan video yang baru saja di tonton olehnya.
Rheana mendekati Abel, ia memeluk bahu gadis itu yang terlihat kembali rapuh, tapi mereka harus melakukan ini.
"Rizi pelakunya, dia memerintahkan orang itu untuk menyuntikan racun ke almarhumah mama kamu." Jelas Cakra pelan.
Abel semakin syok, ia sampai menutup mata dan mulutnya setelah mendengar pelaku kejahatan yang menghilangkan nyawa orang yang paling ia kasihi.
"Rizi, kenapa dia melakukan itu." Lirih Abel sambil menangis.
"Kamu nggak perlu khawatir, kami sudah mengirim video ini kepada pengacara kami dan kami menjamin bahwa almarhumah ibu kamu akan mendapatkan keadilan." Tutur Rheana lembut.
Abel tidak menjawab, ia tidak menyangka bahwa Rizi akan senekat ini. Padahal mamanya dulu begitu perhatian pada Rizi, apakah pria itu tidak punya hati nurani sedikit saja.
"Tolong buat Rizi mendapatkan hukuman yang berat, Kak. Aku nggak rela jika dia hanya dihukum ringan setelah apa yang dilakukannya." Pinta Abel dengan kepala tertunduk.
"Iya, Abel. Semua bukti kuat sudah kami miliki, dia akan mendapatkan hukuman yang sesuai dengan kejahatannya." Balas Velia seraya mengusap kepala gadis itu.
Abel tidak sabar hari esok datang, ia ingin melihat wajah Rizi yang penuh kehancuran itu menangis dan memohon keringanan hukuman.
Demi Tuhan, Abel tidak akan ikhlas jika hukuman Rizi nantinya ringan. Selama ini pria itu sudah terlalu banyak berbuat jahat, bahkan Ryan dan mamanya menjadi korban.
__ADS_1
UPDATE DUA BAB, NGGAK JANJI BISA LEBIH 😫
Bersambung.............................