
Terlihat seorang pria sedang duduk di balkon sambil menikmati segelas kopi di malam hari. Pria itu terlihat sedang tidak baik-baik, sebab memikirkan keadaan istrinya.
Fikri, pria itu adalah suaminya Velia. Seperti yang ia ceritakan kepada Cakra, ia khawatir dengan kondisi Velia meski ia tidak mengatakan detail sakit istrinya.
Fikri nyaris emosi setiap kali Velia menolak untuk berhenti dari pekerjaannya, hingga ia memutuskan untuk mendiami istrinya agar Velia bisa berpikir bahwa kesehatan diri sendiri itu penting.
"Sayang." Panggilan itu terdengar dari dalam kamar.
Fikri masih diam, ia tahu siapa yang memanggilnya namun ia tidak mau menyahut apalagi menghampiri Velia.
Indera pendengaran Fikri menangkap suara langkah kaki yang bergerak mendekati dirinya, lalu sesaat kemudian ia merasakan sebuah tangan melingkar di lehernya.
"Kamu ngapain disini?" tanya Velia dengan suara serak khas bangun tidur.
Fikri tidak menjawab, ia malah melepaskan pelukan istrinya itu dan memilih fokus pada ponselnya.
Velia menatap suaminya, ia tahu bahwa Fikri marah padanya, sebab sikap pria itu sangat berbeda dari biasanya yang selalu manja padanya.
Velia berjalan dan berdiri di depan suaminya, ia lalu duduk di pangkuan pria itu dan melingkarkan tangannya di leher Fikri.
"Babynya mau diusap sama papanya." Bisik Velia seraya membawa tangan Fikri ke perutnya.
Fikri tidak menolak, ia tidak mungkin ikut mencueki anak dalam kandungan Velia. Ia mengusapnya dengan lembut, bahkan sesekali menunduk dan menciumnya.
Velia tersenyum, ia mengira bahwa suaminya sudah tidak marah lagi padanya, tapi ternyata Fikri malah menyuruhnya untuk bangkit dari pangkuannya.
"Sudah malam, tidurlah." Ucap Fikri dengan dingin dan datar.
Velia menggeleng, lalu ia menduselkan kepalanya di curuk leher sang suami.
"Kamu kan tahu aku nggak bisa tidur kalo nggak dipeluk kamu." Bisik Velia dengan manja.
Fikri melepaskan tangan Velia yang ada di lehernya.
"Aku sedang bekerja, tidurlah!" Perintah Fikri dengan nada sedikit tinggi dari biasanya.
Velia tersentak, ia terkejut mendengar suara suaminya yang tidak seperti biasanya. Velia ingin menangis, namun ia sadar jika semua ini adalah kesalahannya.
"Kamu marah sama aku?" tanya Velia lirih.
__ADS_1
Fikri tidak menjawab, ia memilih untuk menatap lurus daripada menatap wajah istrinya yang kini sedang menangis dalam pelukannya.
"Kamu ganggu aku kerja, Vel." Ucap Fikri dengan menyebut nama istrinya.
Velia semakin sedih mendengar Fikri yang biasanya memanggil sayang, kini malah memanggilnya dengan nama.
Velia pun bangkit dari pangkuan suaminya, ia berlari masuk ke dalam kamar dan berbaring di atas ranjang.
Velia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, ia menangis dengan perlakuan suaminya beberapa hari ini.
Sementara Fikri, ia juga tidak tega dengan Velia, tapi ia harus melakukan ini agar istrinya itu mau berhenti bekerja dan fokus pada kesehatannya sendiri.
Fikri menghela nafas, ia menyeruput kopi nya sampai habis, lalu masuk ke dalam kamar. Fikri berbaring dengan posisi membelakangi Velia.
"Mas." Panggil Velia dengan suara gemetar.
Fikri tetap diam saja, membuat rasa sedih di hati Velia semakin besar.
Malam ini mereka tidur di ranjang yang sama, namun seperti tidur terpisah. Fikri yang biasanya merengek minta peluk, kini malah tidur membelakangi istrinya.
Velia hendak memegang bahu suaminya, namun ia urungkan karena khawatir malah membuatnya kembali bicara dingin padanya.
***
Rheana tampak sibuk menata sarapan di meja makan, ia tentu saja di bantu oleh art yang Cakra bawa dari rumah mama Mila.
Cakra tidak mau merekrut art baru karena ia sudah lebih cocok dengan para pekerja di rumah mamanya.
"Nyonya, ada lagi yang harus saya bantu?" tanya Bi Ijah.
"Nggak, Bi. Bibi bisa lanjutkan pekerjaan yang lain, aku mau bangunin mas Cakra dulu." Jawab Rheana dengan ramah.
Rheana pun pergi meninggalkan dapur, ia naik ke lantai dua untuk membangunkan suaminya yang masih asik tertidur sambil mencium pipi Ayla.
Rheana geleng-geleng kepala. "Dasar, anaknya terus yang dicium." Gumam Rheana.
Rheana mendekat, ia mengusap wajah tampan Cakra lalu menciumnya dengan bertubi-tubi.
"Kamu, Ayla terus yang dicium. Akunya kapan? Yaudah aku aja yang cium." Celetuk Rheana sembari terus menciumi wajah Cakra.
__ADS_1
Cakra tersenyum, ia membalik badan lalu menarik tangan istrinya hingga terjatuh diatas tubuhnya.
"Mas, bangun." Pinta Rheana lembut.
"Nunduk dikit." Pinta Cakra dan Rheana langsung nurut.
Cakra mencium kening dan kedua pipi istrinya sebagai pembuka di pagi hari yang indah ini.
"Bibirnya?" tanya Rheana memajukan bibirnya.
"Aku belum gosok gigi, nanti aja." Jawab Cakra seraya mengusap wajah istrinya.
Rheana mendengus. "Sombong banget." Cibir Rheana seraya bangkit dari atas tubuh suaminya.
Cakra terkekeh, ia memperhatikan istrinya yang sedang menyiapkan pakaian untuknya.
Cakra lalu menatap Ayla, ia menciumi wajah cantik putrinya lalu beranjak menghampiri istrinya.
"Ngapain?" tanya Rheana tidak bersahabat.
"Mandi bareng yuk!" ajak Cakra menarik turunkan alisnya.
"Nggak!" tolak Rheana dengan cepat.
Cakra menyeringai, ia mengambil kemeja di tangan istrinya lalu melemparnya ke ranjang.
"Mandi." Tekan Cakra lalu menggendong istrinya seperti koala.
"Mas, ahh aku udah mandi. Turunin aku!!" pinta Rheana merengek.
Cakra menggeleng, ke tetap membawa istrinya ke kamar mandi.
"Ayla … Ayla, tolongin mama, Nak!!" pekik Rheana seperti orang ingin diculik.
Cakra tertawa mendengar kehebohan yang dibuat oleh Rheana pagi-pagi begini. Rheana seperti anak kecil yang ingin diculik.
"Tadi katanya minta dicium, kita ciuman aja di bawah shower. Enak tahu!" bisik Cakra seketika membuat Rheana melotot.
AYLA BANGUN, TOLONGIN MAMA MU MAU DI EKSEKUSI PAPA CA😫😫
__ADS_1
Bersambung...........................