Dinikahi calon kakak ipar

Dinikahi calon kakak ipar
Mengingat kembali


__ADS_3

Cakra menatap Velia yang kini sedang diperiksa oleh dokter. Ia terpaksa mengantar Fikri dan Velia ke rumah sakit karena tidak ada mengantar mereka.


Kini Cakra duduk bersama Fikri yang tampak khawatir sekali. Jika Cakra boleh jujur, ia juga merasa khawatir melihat kondisi Velia sekarang.


"Velia adalah korban kecelakaan bulan lalu, aku menemukannya dan membawanya ke rumah sakit. Dia mengalami amnesia karena kecelakaan itu, dan dia tidak akan mengingat mu saat ini." Jelas Fikri tanpa menatap Cakra.


Cakra terkejut, ia kaget mendengar bahwa Velia mengalami amnesia karena kecelakaan.


"Dimana lokasi kecelakaannya?" tanya Cakra serius.


"Tol yang menghubungkan Jakarta dan Bandung. Dia seorang diri, karena itulah aku tidak bisa menemukan identitasnya." Jawab Fikri.


Cakra semakin terdiam. Velia seorang diri? Sementara sopir taksi itu mengaku kecelakaan bersamanya, dan Bandung? Lokasi itu berlawanan dengan lokasi kejadian pembunuhan yang dikatakan sang sopir taksi.


Cakra gemetaran, ia memandang Velia dengan tatapan mata yang kosong.


Velia telah membohongi semua orang. Tuduhan yang terlontar dari mulut semua orang terhadap Rheana adalah tidak benar.


Cakra bangkit dari duduknya, ia hendak pergi namun suara Velia yang sadar menghentikannya.


"Dokter!!" panggil Fikri kepada dokter yang saat itu sedang bicara dengan suster.


Dokter mendekati pasien, ia memeriksa Velia yang belum sepenuhnya sadar. Tangannya memegangi kepalanya yang semakin sakit.


"Dokter, kepalaku sakit." Ringis Velia mencengkram rambutnya sendiri.


"Tenang, Nona. Jangan memaksa untuk mengingat," tutur Dokter memberi instruksi.


Velia berhenti meringis, ia menatap Fikri yang kini sedang menatapnya. Ia lalu beralih menatap Cakra yang berdiri sedikit jauh.


"Cakra." Panggil Velia lalu kembali meringis kesakitan.


"Dokter, ada apa ini?" tanya Fikri dengan nada tinggi.


"Nona Velia sedikit mendapatkan ingatannya, ini adalah hal yang baik, Pak." Jawab Dokter usai melakukan pemeriksaan.


Fikri terdiam, ia menatap Cakra kemudian mendekati pria itu.

__ADS_1


"Pak, apa Velia benar-benar tunangan anda?" tanya Fikri lirih.


Kepala Cakra mengangguk. "Ya, dia tunangan saya." Jawab Cakra lantang.


"Apa setelah dia mendapat ingatannya sepenuhnya, anda akan kembali padanya?" tanya Fikri lagi.


Cakta diam, tidak menjawab apapun.


"Lalu bagaimana dengan Rheana, dia istri anda." Lanjut Fikri mengingatkan.


Cakra menatap Fikri dengan tatapan yang sulit diartikan.


Benar! Bagaimana dengan Rheana, wanita yang kini menjadi istri, dan selalu melayaninya dengan sangat baik.


Tapi Velia, ia juga belum sepenuhnya melupakan cintanya pada wanita itu.


"Saya mencintai Velia, Pak." Ungkap Fikri sungguh-sungguh.


"Bagaimana jika dia tidak mau denganmu setelah mengingat semuanya?" tanya Cakra balik.


Fikri menggeleng pelan. Pertanyaan Cakra berhasil menusuknya sampai ke ulu hati.


"Rheana istriku." Balas Cakra singkat.


"Dan Velia tunangan anda. Begitu egois, anda ingin keduanya?" tanya Fikri meledek.


"Asal kau tahu, Velia adalah kakaknya Rheana." Ujar Cakra kemudian pergi meninggalkan ruang rawat Velia.


***


Fikri menggenggam tangan Velia yang belum sadarkan diri setelah diberi obat oleh dokter tadi. Jika boleh, Fikri ingin terus menggenggam tangan Velia seperti ini.


Fikri merasa takut, ia takut Velia akan pergi darinya setelah mengingat semuanya.


Ia senang Velia mendapatkan ingatannya kembali dan bisa bertemu dengan keluarganya, namun ia khawatir Velia akan melupakannya.


Fikri yang sedang melamun tersadar saat merasakan tangan yang ia genggam bergerak. Fikri menatap Velia yang perlahan membuka matanya.

__ADS_1


"Vel." Panggil Fikri dengan riang.


Velia menoleh. "Fikri, dimana Cakra?" tanya Velia menatap ke arah pintu.


"Vel, kamu sudah mengingat semuanya?" tanya Fikri tersenyum, meski hatinya resah.


Velia mengangguk. Wanita itu berusaha untuk bangun, dan Fikri langsung membantunya.


"Dimana Cakra, Fik?" tanya Velia lagi.


"Dia pergi." Jawab Fikri lirih.


"Vel, kamu kakaknya Rheana?" tanya Fikri hati-hati.


Velia menatap Fikri dengan tatapan kosong.


"Dimana kamu kenal Rheana?" tanya Velia balik.


"Dia temanku di kampus, dia juga istrinya pak Cakra kan?" jawab Fikri diakhiri pertanyaan lagi.


Velia menatap Fikri dengan serius saat mendengar ucapan Fikri yang mengatakan bahwa Rheana adalah istrinya Cakra.


"Rheana adalah istrinya Cakra?" tanya Velia lirih.


Velia tiba-tiba menangis, ia menunduk sambil menutup mulutnya. Fikri tentu saja terkejut melihat Velia menangis.


"Vel, ada apa?" tanya Fikri khawatir.


"Hiks … aku tunangan Cakra, Fik." Jawab Velia sambil terisak.


Velia ingin pulang, ia ingin melepas selang infus yang menempel di tangannya, namun dihentikan oleh Fikri.


"Apa yang kamu lakukan, jangan macam-macam, Vel." Larang Fikri memegang tangan Velia.


"Aku harus pulang dan bicara dengan Cakra!" seru Velia sedikit tinggi.


MAU NGAPAIN YA VELIAAAA🤧🤧

__ADS_1


Bersambung..............................


__ADS_2