
Tampak sepasang suami istri sama-sama tertawa penuh rasa bahagia tatkala balon yang mereka pecahkan mengeluarkan balon-balon berwarna biru.
Balon biru itu tentu memiliki arti, ya artinya adalah bahwa bayi dalam kandungan si ibu adalah laki-laki.
Rheana dan Cakra, pasangan itu saat ini tengah menggelar perayaan kecil-kecil untuk sekedar mengumumkan jenis kelamin anak kedua mereka.
Orang biasa menyebut perayaan itu dengan sebutan gender reveal party.
"Wahh, ada jagoan nih kayanya." Ucap Ryan dengan penuh senyuman.
Rheana tersenyum senang, ia mengusap-usap perutnya yang sudah berusia hampir 7 bulan. Perutnya sudah tampak lebih besar dari ukuran perut normalnya.
"Baby boy, Sayang." Ucap Cakra lalu memeluk istrinya dengan tidak terlalu erat, pasalnya ia paham bahwa sang istri tengah mengandung anak mereka.
"Yaeyyy, aku mau punya adik laki-laki!!" Alya memekik senang ketika mengerti apa yang sedang dilakukan oleh kedua orang tuanya.
"Senang mau punya adik laki-laki?" tanya Abel seraya mengusap kepala keponakannya.
"Iya, aku jadi punya teman." Jawab Ayla seadanya.
Semua orang tertawa mendengar jawaban Ayla, tentu saja tidak masalah sama sekali jawaban Ayla. Wajar jika gadis kecil itu membutuhkan sosok teman.
"Nggak sabar ya baby nya lahir?" tanya Abel lagi.
"Iya, Tante. Nanti adikku lahirnya bareng kan sama bayinya Tante?" tanya Ayla dengan polos.
Abel terkekeh, ia mengusap-usap perutnya yang masih rata. Usia kandungannya baru berusia 3 bulan.
"Ya nggak dong, Sayang. Tante Abel lahirnya belakangan, kan bayinya masih kecil." Jelas Ryan lalu memangku keponakannya.
Ryan beralih menatap Cilla, ia membuka tangan meminta agar keponakannya yang satu lagi untuk duduk di pangkuannya.
Acara itu dilanjutkan dengan potong kue, persis seperti ulang tahun padahal hanya acara kecil-kecil untuk berbagi kebahagiaan bersama.
Tentu saja, Rheana dan Cakra bahagia karena mereka akan mendapatkan bayi laki-laki setelah selama ini sangat menginginkannya.
Cakra memeluk istrinya dari samping, ia menyusupkan tangannya ke perut sang istri lalu memberinya usapan penuh kasih sayang disana.
"Baik-baik di perut mommy ya, Nak." Bisik Cakra ditelinga istrinya.
Rheana menoleh, ia mengusap-usap wajah suaminya lalu memberikan kecupan ringan di pipi sang suami.
__ADS_1
"Duhh, ini gender reveal atau resepsi pernikahan kok berasa pasutri baru." Sindir Velia yang tidak jauh dari Rheana dan Cakra.
"Kedoknya sih gender reveal, Sayang. Aslinya mau ngulang masa-masa pengantin baru," timpal Fikri ikut terkekeh.
"Kakak." Rheana sedikit geleng-geleng kepala mendengar ledekan dari kakak dan kakak iparnya, walau demikian ia tetap bahagia mendengarnya.
Fyi, saat ini yang hamil bukan hanya Rheana, tapi juga Abel. Wanita itu baru menikah dengan Ryan beberapa bulan lalu, dan mereka bersyukur karena sudah diberikan kepercayaan dengan cepat.
Usia kandungan Abel baru menginjak bulan ketiga, dan kini gadis itu sedang memasuki trimester pertama, sehingga membuat Ryan seringkali mual dan muntah.
Ya, Ryan lah yang merasakan gejalanya sementara Abel tampak tenang saja seperti tidak sedang mengandung.
Semua orang terkadang merasa lucu melihat Ryan yang mual-mual, tapi Abel tentu saja kasihan pada suaminya.
Seperti sekarang ini, sedang enak main dengan kedua keponakannya ia malah merasa mual dan ingin muntah.
Ryan langsung bangkit dari duduknya dan berlari meninggalkan tempat acara untuk pergi ke kamar mandi.
"Bel, susul suami kamu dulu gih. Kasihan," tutur mama Erina.
Abel mengangguk. "Iya, Ma." Balas Abel manggut-manggut kemudian segera pergi.
"Lucu ya, Ryan yang ngidam. Dulu waktu hamil Fikri, aku yang mual-mual." Ucap mama Ani, ibunya Fikri.
Mama Erina terkekeh mendengar ucapan kedua besannya, ia mengangguk tanda menyetujui ucapan mama Mila dan mama Ani.
"Bukan hanya mereka, cucu kita pun semuanya lebih mirip ke ayah mereka." Kata mama Erina dan mereka semua mengangguk.
Sementara itu Ryan, pria itu tampak sedang dipapah oleh istrinya untuk duduk di kursi yang ada disana. Setelahnya Abel memberinya segelas air hangat yang ia dapatkan dari dispenser di rumah Rheana.
"Sayang, lemas banget." Ucap Ryan mengadu.
Abel tampak kasihan, ia pun langsung memeluk suaminya dan membiarkan Ryan menenggelamkan wajahnya di perutnya.
"Dedek, kasih papa aja mualnya. Lemas sedikit nggak apa-apa kok, asal mama terlihat sehat." Bisik Ryan sembari mengusap perut istrinya.
Abel tersenyum, ia menunduk lalu mencium kening suaminya dengan penuh kasih sayang.
"Iya, papa." Balas Abel menirukan suara anak kecil.
Ryan mendongakkan kepalanya. "Sayang, cium dong." Pinta Ryan.
__ADS_1
Abel melotot, ia lalu mencomot bibir suaminya yang asal saja meminta sesuatu.
"Nggak ingat tempat ih!" cibir Abel sementara Ryan hanya tersenyum dengan lebar.
Malam harinya selesai acara, Rheana langsung dibopong oleh Cakra untuk istirahat, tidak lupa sebelumnya Rheana sudah makan.
Cakra menggendong Rheana ala bridal style lalu mengajaknya ke kamar mereka, sementara Ayla sudah ada bibi yang mengurus.
Rheana mengalungkan tangannya di leher sang suami, dengan mata yang menatap wajah Cakra penuh damba dan kagum.
"Mas ganteng banget, anak kita pasti mirip kamu." Tutur Rheana seraya meraba wajah suaminya.
Cakra tersenyum simpul, senyuman yang selalu menjadi favorit Rheana.
"Iya, Sayang. Anak kita nanti mirip aku, tapi semoga sifatnya mirip kamu ya. Baik hati, lembut dan sopan." Balas Cakra seraya merebahkan tubuh sang istri di atas ranjang.
Rheana enggan melepaskan pelukan di leher suaminya, sehingga Cakra pun ikut berbaring di sebelah sang istri yang tengah mengandung anak kedua mereka.
Cakra mencium kening istrinya. "Selamat bobok, istriku sayang." Bisik Cakra lembut.
Rheana tersenyum, ia pun memeluk suaminya erat dan tidak lupa menjadikan dada bidang Cakra sebagai bantalan.
Bertahun-tahun menikah, dada Cakra masih menjadi pemenang dengan kategori tempat ternyaman daripada bagian tubuh lainnya.
Rheana selalu merasa hangat dan dilindungi.
Ekstra part next.
Jangan lupa mampir ke karya terbaru aku ya guys, judulnya 'Pesona suami yang tidak dicintai'. Kalian bisa search judul atau napen aku. Bisa juga langsung klik profil aku ya guys 🤗
Blurb :
"Aku tidak menerima pernikahan ini. Aku nggak cinta sama kamu, apalagi di usiaku yang masih muda sudah harus mengurus seorang anak!"
Bianca, gadis manja dan pecicilan harus dipaksa kedua orang tuanya untuk menikahi seorang duda beranak 1.
Ia yang tidak suka akan perjodohan tentu saja menolak, apalagi ditambah dengan seorang duda memiliki anak. Bianca tidak siap menjadi ibu sambung.
Akan tetapi paksaan tetap paksaan, ia akhirnya menikah dengan pria dewasa yang merupakan tetangganya saat ia kecil.
Bianca yang tidak cinta justru sebaliknya dengan sang duda, Raka Dewangga. Pria itu mencintai Bianca sejak gadis itu masih duduk di bangku SMP.
__ADS_1
Ia yang ditawarkan untuk menikahi anak tetangga nya dulu tentu saja tidak menolak, Raka bertekad akan membahagiakan Bianca.
Akankah Bianca luluh dengan cinta Raka dan menerima semua takdirnya? Atau ia malah kabur bersama sang kekasih karena tidak siap menjadi ibu sambung?