Dinikahi calon kakak ipar

Dinikahi calon kakak ipar
Aku juga mau


__ADS_3

Velia melipat tangannya dengan perasaan gugup. Ia duduk di hadapan pria yang begitu ia cintai, bersama kedua orang tuanya.


Malam ini, Fikri datang bersama keluarganya dengan membawa lamaran untuk memperjelas hubungannya dengan Velia, sang kekasih.


Fikri bisa melihat bahwa Velia sedang gugup, padahal ini baru sekedar lamaran, belum pertunangan dan akad nikah.


"Begini, Om, Tante. Saya dan keluarga saya kesini adalah untuk melamar putri kalian, Velia." Ucap Fikri dengan sopan.


"Saya sangat mencintai Velia, dan saya berniat untuk memperjelas hubungan kami. Saya ingin menikahi Velia, Om, Tante." Tambah Fikri seraya menunjuk Velia sopan.


Mama Erina dan Papa Rama saling pandang. Mereka menyambut baik kekasih putri mereka yang membawa tujuan baik.


"Kami sih setuju saja, Nak Fikri. Kami menyerahkan semuanya kepada Velia sendiri." Ujar Papa Rama.


Mama Erina memegang kedua bahu sang putri dari samping, membuat Velia yang sedang menunduk mulai mengangkat wajahnya.


Velia menatap kedua orang tua Fikri dengan sopan. Bagaimanapun Velia berhutang nyawa kepada mereka. Jika bukan karena Fikri dan keluarganya, mungkin ia sudah tiada.


"Velia, kami ataupun Fikri tidak akan memaksa jika memang kamu belum siap." Ucap Mama Fikri dengan lembut.


Sebagai orang yang pernah mengurus Velia selama beberapa saat, tentu saja ini dari Fikri itu menaruh rasa sayang yang begitu besar kepada Velia.


Mama Ani juga menginginkan Velia menjadi menantunya, karena ia tahu betapa baiknya gadis itu, terutama untuk putranya.


Velia masih diam, hal itu tentu saja membuat Fikri ketakutan. Ia takut sekali jika Velia akan menolaknya dengan alasan yang mungkin saja ia tahu.


"Velia, jangan membuat orang lama menunggu, Nak. Itu tidak baik," ucap Mama Erina menegur putrinya.


Velia menatap Fikri, ia menarik nafas lalu membuangnya perlahan. Ia menganggukkan kepalanya pelan, membuat semua orang tersenyum.


"Iya, Om, Tante. Aku mau menikah dengan Fikri," jawab Velia dengan sangat yakin.


Tentu saja Velia tidak akan menolak untuk menikahi pria yang dicintainya. Ia sudah lama menantikan ini, dan karena harus mencari Rheana dulu, rencana pernikahan mereka harus ditunda.


Fikri tersenyum penuh kebahagiaan, akhirnya hubungannya dan Velia akan segera diresmikan. Ia akan memperistri kekasihnya.


"Ma, langsung tentukan tanggal pernikahannya saja." Ucap Fikri tanpa sadar.


Velia melotot, sementara semua orang tertawa mendengar ucapan calon pengantin yang seperti tidak sabar. Mereka harus tunangan dulu sebelum pernikahan.


Velia sangat malu dengan tingkah Fikri, namun ia juga gemas sekali. Ingin ia mendekap erat tubuh kekasihnya dan mencubitnya.


Sementara itu di rumah Dharmawan, Rheana saat ini sedang makan malam bersama kedua mertuanya. Cakra tidak ikut karena masih terlalu lemas untuk berjalan.


Rheana awalnya ingin pergi ke rumah keluarganya untuk melihat lamaran sang kakak, namun karena Cakra sakit akhirnya ia mengurungkan niatnya.


"Ma, Pa. Aku sudah selesai, aku akan bawakan makan malam untuk kak Cakra dulu ya." Ucap Rheana seraya bangkit dari duduknya.


"Iya, Sayang. Jangan lupa minum obat dari dokter ya," sahut Mama Mila lembut.

__ADS_1


"Oh iya, Rhea. Kamu juga jangan lupa minum susu hamil kamu, kasihan anak dalam kandunganmu jika tidak mendapat nutrisi yang cukup." Tambah Papa Wawan mengingatkan.


"Iya, Papa." Sahut Rheana mengangguk paham.


Rheana membawa makanan untuk Cakra dan juga susu hamil untuknya sendiri. Ia membuka pintu kamar perlahan dan melihat Cakra sedang berusaha untuk bangun.


"Ngapain kamu?" tanya Rheana ketus.


"Mau bangun, biar nggak ngerepotin kamu terus. Dari pagi aku pasti bikin kamu repot terus," jawab Cakra diakhiri dengan senyuman.


Rheana tidak menjawab, ia meletakkan susu miliknya di meja nakas, sementara nampan berisi makanan Cakra di pangkuan pria itu.


"Bisa makan sendiri kan?" Tanya Rheana dengan dingin.


"Bisa, tapi aku maunya di suapin." Jawab Cakra manggut-manggut.


Rheana mendengus, ia memindahkan nampan itu ke pangkuannya sendiri.


"Bangun bisa, makan nggak bisa." Ketus Rheana, namun tetap menyuapi suaminya.


Cakra tersenyum simpul. Suka sekali melihat Rheana yang ketus, namun tetap perhatian. Dan juga wajahnya, wajahnya bertambah cantik jika sedang marah begini.


"Kenapa senyum-senyum, ayo makan." Tutur Rheana menyodorkan makanan ke depan mulut suaminya.


Cakra melahap suapan dari istrinya, ia mesem-mesem melihat Rheana yang menahan untuk menggerutu.


"Kapan kamu cek kandungan?" tanya Cakra teringat cek up kandungan sang istri.


"Kok Ryan, kan ada aku?" tanya Cakra terdengar kaget.


"Aku nggak mau ganggu kamu kerja, lagipula Ryan juga berhak untuk ikut memeriksa keponakannya." Jawab Rheana datar.


"Tapi kan aku ayahnya, Sayang. Apalagi aku kan belum pernah antar kamu cek," ujar Cakra pelan, namun masih terdengar oleh Rheana.


"Sama aku aja ya besok?" rayu Cakra seraya menggenggam tangan istrinya.


Rheana menepis tangan Cakra, ia bangkit dari duduknya dan memindahkan nampan makanan itu di atas kasur.


Cakra memegang tangan istrinya yang ingin pergi. Ia yakin bahwa Rheana marah padanya karena memaksa ingin ikut cek.


"Sayang, jangan marah. Kalo kamu mau sama Ryan, yaudah nggak apa-apa." Ucap Cakra yang tidak mau istrinya marah.


"Apaan sih!" ketus Rheana menepis lagi tangan suaminya.


Rheana berjalan mendekati sofa, ia meraih ponselnya dan menghubungi adiknya.


"Halo, Ryan."


"Iya, Kak. Kakak butuh sesuatu?" tanya Ryan dari seberang sana.

__ADS_1


"Enggak, aku cuma mau bilang, besok aku cek up kandungan sama kak Cakra."


"Oh begitu, baiklah Kak. Aku juga ada ekskul pagi di kampus, jadi tidak masalah untuk kali ini. Tapi tolong kak, mainlah kesini." Pinta Ryan dengan manja.


Rheana terkekeh. "Iya, aku akan main besok."


Rheana menutup telepon, kemudian meletakkan kembali ponselnya di sofa. Ia mendekati Cakra lagi, dan memangku nampan nya.


Rheana menatap Cakra yang sedang tersenyum lebar.


"Kenapa?" Tanya Rheana menaikkan sebelah alisnya.


"Makasih ya, kamu mau diantar aku besok. Aku jadi senang," jawab Cakra dengan begitu manis.


Cakra tadi mengira bahwa Rheana marah, nyatanya istrinya itu malah membatalkan pergi dengan adiknya, dan memilih pergi cek up bersamanya. Cakra sangat bahagia.


"Aku nggak tega aja, padahal males dianterin kamu." Balas Rheana lalu menyuapi Cakra lagi.


Cakra tidak kunjung membuka mulut, hal itu membuat Rheana geram dan ingin sekali marah-marah. Bibirnya baru hendak terbuka, namun Cakra tiba-tiba menarik tengkuknya dan menyatukan bibir mereka.


Rheana memejamkan matanya, merasakan bibir panas Cakra yang memainkan bibirnya dengan lembut.


Sendok ditangan Rheana jatuh tepat diatas piring dan menyebabkan bunyi yang menyadarkan mereka berdua.


Cakra pikir ciuman mereka sudah berhenti, namun siapa sangka jika Rheana tiba-tiba menyatukan bibir mereka kembali.


Rheana memejamkan mata, membuat Cakra ikut melakukannya. Sebelah tangan memegang tengkuk istrinya, sementara tangan lainnya memegangi pinggang istrinya.


Setelah beberapa saat, Rheana melepaskan ciuman mereka. Bibir Rheana yang merah bertambah merah karena liarnya ciuman Cakra.


"Sakit." Ringis Rheana memegangi bibirnya.


Cakra tertawa, ia mencium pipi Rheana singkat.


"Maaf ya, abis nagih banget. Aku juga rindu di dekap sama kamu tahu, apalagi melakukan hubungan yang dulu biasa kita lakuin." Ujar Cakra mengeluarkan keinginannya.


Rheana gugup, ia tahu maksud dari ucapan suaminya. Cakra ingin berhubungan dengannya.


"K-kak, aku–" Rheana menutup bibirnya saat tangan Cakra berada di mulutnya.


"Nggak apa-apa, aku paham Sayang." Ucap Cakra yang mengerti tatapan Rheana.


Rheana melepaskan tangan Cakra dari mulutnya.


"A-aku, aku juga mau." Cicit Rheana seraya meremat ujung bajunya.


MAU APA MBAK RHEA, YANG JELAS NGOMONGNYA 😫


Jangan lupa komen positif nya, dan mampir ke karya baruku 'Terpaksa menjadi pelakor'🖤

__ADS_1


Bersambung.........................


__ADS_2