
Rheana mengusap wajahnya yang masih tampak mengantuk. Gadis itu terpaksa bangun untuk menyetrika pakaian suaminya dan memasak sarapan sebelum pergi ke kampus.
Rheana berjalan dengan mata terpejam menuju kamar suaminya. Tampak beberapa kali tangannya mengucek mata dan berharap bisa segar.
"Duhh … jam berapa sih ini, kok gue masih ngantuk." Gumam Rheana seraya mengacak rambutnya sendiri.
Rheana meraba pintu kamar Cakra, namun bukannya pintu yang ia raba, ia malah merasa memegang tubuh seseorang.
"Buka matamu sebelum berjalan!" Suara bariton mengucek matanya lagi, ia khawatir bahwa dirinya belum sepenuhnya sadar sampai melihat Cakra sudah berdiri tegak di hadapannya.
Dikhawatirkan Cakra yang berdiri di hadapannya ini adalah hantu.
"Aku bukan hantu dalam halusinasimu." Ketus Cakra lalu segera masuk ke dalam kamarnya.
Rheana buru-buru menyusul, ia mendekati lemari pakaian dan mengambil baju yang akan Cakra gunakan besok.
"Aku tidak mau kemeja merah, itu membuatku terlihat galak." Tolak Cakra saat melihat warna kemeja yang Rheana ambil.
"Memang kau galak." Sahut Rheana pelan.
"Kau bilang apa?!" Tanya Cakra menajamkan pendengarannya.
Rheana gelagapan, ia dengan cepat menggeleng daripada harus menciptakan keributan di waktu subuh begini.
"Tidak ada." Jawab Rheana.
Cakra mendelik curiga, namun tidak memperpanjangnya. Pria itu memilih untuk duduk sambil memangku laptop dan mengerjakan pekerjaanya.
Cakra sendiri tidak tahu mengapa dirinya bisa terbangun, bahkan sebelum Rheana bangun.
Sementara Rheana, ia akhirnya mengambil kemeja biru langit dan jas cokelat serta celana yang senada dengan jasnya.
Rheana meletakkan itu semua di pinggir ranjang, lalu mengambil setrikaan yang ada di kolong meja dimana ada Cakra yang sedang duduk di sofanya.
__ADS_1
“Apa dia tidak mau tidur lagi.” Gumam Rheana melirik Cakra yang begitu serius.
Rheana mengambil setrikaan lalu membawanya ke tempat yang bisa dijadikan untuk menyetrika.
Rheana masih belum berhenti menguap, karena sejujurnya rasa kantuknya masih terasa, namun akibat tugas yang Cakra berikan, membuatnya harus bangun subuh seperti ini.
Hanya butuh waktu 10 menit untuk Rheana menyetrika pakaian suaminya, setelah selesai ia menggantung pakaian itu dan meletakkannya di gagang pintu lemari agar tidak kusut lagi.
“Kak Cakra, aku–” ucapan Rheana terhenti saat melihat Cakra tertidur dengan posisi duduk dan laptop yang masih menyala.
Rheana memperhatikan Cakra dengan penuh arti, ia mengambil selimut yang ada di ranjang lalu membawanya mendekati Cakra.
Wanita itu berlutut di depan suaminya, kemudian mengangkat laptop milik Cakra dan meletakkannya di meja.
“Jika masih mengantuk, kenapa harus memaksa untuk bekerja.” Celoteh Rheana seraya menyelimuti Cakra.
Rheana tidak langsung keluar dari kamar Cakra, ia masih betah memperhatikan wajah suaminya yang tampan dan tenang jika sedang tidur begini.
Tangan Rheana tanpa sadar mengusap wajah Cakra yang terasa begitu halus.
Rheana menyeka air mata yang sudah hampir menetes, ia buru-buru keluar dari kamar suaminya dan kembali ke kamarnya.
Rheana melirik ke araj jam dinding yang baru menunjukkan pukul 5 subuh. Ingin rasanya kembali tidur, namun rasanya tidak mungkin sebab ia harus memasak dan menyiapkan beberapa peralatan yang harus ia bawa ke kampus nanti.
Rheana pergi ke dapur dan memasak sarapan. Hari ini ia akan masak ayam goreng dan sayur bayam saja, terserah Cakra suka atau tidak, yang jelas pria itu sudah wajib memakannya nanti.
Masak dua makanan tadi tidak membutuhkan waktu yang lama, hanya dalam 30 menit ia sudah menyelesaikan masakannya.
“Aku tidur deh 30 menit, lumayan juga kan.” Gumam Rheana lalu duduk di sofa ruang tamu dan merebahkan diri disana.
***
“Jika kau tidak berniat untuk kuliah, maka jangan mengatakan ingin lanjut pendidikan. Membuang-buang uang saja,” ucapan itu membuat Rheana langsung membuka matanya.
__ADS_1
Rheana langsung terduduk dengan mata yang menyipit, ia benar-benar kaget melihat cahaya matahari yang sudah begitu terang.
“Astaga!! jam berapa ini?” tanya Rheana serak.
Cakra berdecih, ia melipat tangan di dada tanpa berniat menjawab pertanyaan yang istrinya lontarkan.
“Kak, aku sudah memasak sarapan untukmu, ayo makan dulu, aku akan memanaskan sayurnya.” Ucap Rheana tanpa sadar merangkul tangan Cakra.
Cakra pun mengikuti langkah Rheana menuju meja makan.
“Kau sarapan yang benar ya, aku akan mandi dulu.” Tutur Rheana setelah selesai melayani suaminya.
Cakra hanya diam, ia memilih untuk menyantap sarapannya agar bisa segera berangkat ke kantor.
Sementara Rheana, wanita itu terlihat sangat tergesa-gesa menyiapkan peralatan. Setelah beres, ia langsung mandi dengan cepat dan merias wajahnya dengan asal.
Rheana sudah tidak memikirkan penampilannya, ia keluar dari kamar dengan berlari.
“Kak Cakra, aku sudah terlambat. Boleh tidak aku ikut mobilmu?” tanya Rheana hati-hati.
“Tidak.” Jawab Cakra singkat.
Rheana menghela nafas, ia mendekati Cakra lalu mengamit tangan pria itu dan mencium punggung tangannya.
“Baiklah, aku berangkat ya Kak, sampai jumpa.” Rheana berlari keluar dari apartemen tanpa sarapan lebih dulu.
Sepeninggalan Rheana, Cakra tersenyum lebar. Inilah yang ia inginkan, menyiksa Rheana dengan rutinitasnya sendiri.
Namun bukan berarti ia tidak akan menyiksa Rheana secara fisik lagi, ia akan tetap memberikan pelajaran untuk wanita itu, pelaku pembunuhan kekasihnya.
“Ini baru pemanasan nya saja, Rhea.” Cetus Cakra diakhiri senyuman jahat.
MAU TAU VELIA DIMANA???
__ADS_1
Bersambung....................