
Seorang pria sedang duduk di kamarnya dengan senyuman yang tidak hilang sejak tadi. Wajahnya berseri-seri, bahkan beberapa kali terdengar decak tidak sabar dari bibirnya.
"Aku akan menikah dengan Velia, shhh … ya Tuhan, aku tidak sabar menantikan hari itu tiba." Ungkap Fikri dengan jantung yang berdetak kencang.
Semalam Fikri telah melamar Velia, dan lusa ia berencana membawa keluarganya ke rumah Velia untuk melakukan lamaran.
Velia yang sudah kembali ke rumahnya membuat Fikri tidak terlalu sering menemui kekasihnya, karena takut membuat kedua calon mertuanya tidak enak.
Suara ketukan pintu menyadarkan Fikri dari lamunannya, ia menengok dan ternyata itu adalah sang mama.
"Ma, masuklah." Tutur Fikri dengan senyuman di wajahnya.
Ibunda Fikri itu mendekat, ia mengusap kepala putranya yang ia ketahui sedang merasa bahagia saat ini.
Mama Ani tersenyum lebar, jika putranya bahagia, maka ia juga bahagia. Tidak peduli pada masa lalu Velia, asal putranya mencintai gadis itu, maka ia dan suaminya akan terima dengan tangan terbuka.
"Jadi lusa kita ke rumah Velia nya?" tanya Mama Ani lembut.
Fikri terkekeh, entah mengapa ia jadi malu sendiri mendengar pertanyaan dari sang Mama yang begitu mendukung hubungannya dengan Velia.
"Kok ketawa?" Tanya Mama Ani heran.
"Nggak apa-apa, Ma. Hehehe," jawab Fikri mengelak.
Mama Ani hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah putranya yang sedang di mabuk cinta. Ia tentu saja senang, putranya akan menikah sebentar lagi, hal yang paling ia nantikan sejak lama.
Sementara itu di rumah Chandrama. Kink Velia sedang duduk bersama kedua orang tua dan juga Ryan, namun Ryan hanya diam. Velia bisa menebak bahwa adiknya masih begitu kecewa.
"Mama dan Papa akan setuju jika memang kalian saling mencintai, dan kami juga akan menunggu mereka datang ya, Sayang." Ucap Mama Erina setelah Velia bercerita mengenai lamaran Fikri.
"Iya, Ma. Mereka akan datang lusa," balas Velia manggut-manggut.
"Papa lihat dia adalah pria yang baik, dia bahkan menerima masa lalu kamu tanpa terkecuali." Ujar Papa Rama tanpa menatap putrinya.
Velia tersenyum. Ia begitu beruntung bisa bertemu dengan Fikri, pria baik yang mau menerimanya.
Velia melirik ke arah Ryan yang sibuk bermain ponsel. Velia sedikit tidak enak dengan sikap dingin adiknya, namun ia juga sadar bahwa dirinya yang salah.
"Ryan, sudah bicara dengan Rheana?" tanya Mama Erina kepada sang putra.
"Sudah, Ma." Jawab Ryan seadanya.
"Bagiamana keadaan nya, dia baik kan disana?" tanya Velia langsung nyambung.
Ryan melirik kakaknya itu sebentar, ia hanya mengangguk singkat sebagai jawaban. Sungguh, di hati Ryan masih banyak rasa kecewa dan kesal, apalagi saat mengingat perlakuan kasar Cakra kepada kakaknya, Rheana.
Semua hal itu terjadi atas tuduhan Velia, andai saja tidak, pasti Rheana sudah sukses dengan pendidikannya di luar negeri.
__ADS_1
"Ma, Pa. Aku ke kamar dulu, ada tugas kampus yang belum ku selesaikan." Pamit Ryan kepada kedua orang tuanya.
"Iya, Nak." Sahut Mama Erina, sementara papa Rama hanya mengangguk.
Velia menundukkan kepalanya, ia menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. Tidak masalah untuk saat ini, tapi ia akan berusaha untuk mendapatkan maaf dari adiknya.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Rheana menggeliatkan tubuhnya dan turun dari ranjang. Entah mengapa ia merasakan pegal di bahu dan juga kakinya.
"Ya ampun, sudah sangat sore. Aku tidur begitu lama," gumam Rheana seraya berjalan pelan ke kamar mandi.
Rheana dengan santainya mandi dengan air dingin, ia ingin menyegarkan tubuhnya setelah tidur kurang lebih 3 jam. Benar-benar sangat lama, pantas saja tubuhnya pegal-pegal.
"Adek, laper ya. Nanti ya, kita makan." Ucap Rheana seraya menyabuni perut nya sendiri.
Setelah 20 menit, Rheana pun keluar dari kamar mandi dan langsung berpakaian. Ia yang sudah selesai mengenakan daster, namun mirip dress itu sedikit mengerutkan keningnya.
"Kak Cakra belum pulang?" ucap Rheana bertanya-tanya, biasanya jam segini Cakra sudah ada di rumah.
Rheana duduk di kursi meja rias, ia mengeringkan rambutnya dengan hairdryer lalu memberikan lip gloss agar bibirnya tidak kering.
Rheana keluar dari kamarnya, ia turun ke lantai bawah untuk mencari makanan yang bisa ia makan sekarang.
Sungguh, perutnya sangat lapar.
"Non, butuh sesuatu?" tanya seorang art di belakang Rheana.
"Iya, Bi. Aku laper mau makan, tapi nggak mau makan nasi." Jawab Rheana tanpa menatap art di belakangnya.
Rheana membuka kukas, ia mengambil jus dan menuangnya ke dalam gelas. Tidak lupa ia juga mengambil sebuah apel yang sudah di cuci bersih.
"Nona mau makan sesuatu, biar bibi buatkan?" tanya art itu dengan sopan.
Rheana membalik badan seraya mengigit apel di tangannya.
"Lagi pengen makan bubur, Bi." Jawab Rheana. "Tapi bibi nggak usah buatkan, nanti biar aku pesan online." Tambah Rheana tersenyum.
"Beneran nggak usah?" tanya asisten rumah tangga itu terlihat tidak enak.
"Bi, aku belum tahu nama bibi. Nama bibi siapa?" tanya Rheana duduk di kursi yang ada disana.
"Nana, Non." Jawab Bi Nana.
Rheana manggut-manggut, ia belum mengenal art yang ada di rumah mertuanya. Maklum, ia baru satu hari tinggal di sana.
"Nona bener nggak butuh apa-apa lagi?" Tanya Bi Nana menyakinkan.
__ADS_1
"Iya, Bi. Bibi boleh kembali melanjutkan pekerjaannya yang lain, makasih sebelumnya." Jawab Rheana ramah.
Rheana masih duduk di sana, ia lupa menanyakan keberadaan mertuanya. Apa mungkin mama pergi, dan papa belum kembali dari kantor.
Rheana menghela nafas, ternyata makan apel saja tidak membuatnya kenyang. Ia masih menginginkan bubur yang diaduk sambal.
"Dedek mau bubur, iya? Nanti ya, bunda pesen online." Celetuk Rheana seraya mengusap-usap perutnya.
"Buat apa pesan online kalo ada Papa yang siap antar." Ucap seseorang yang memperhatikan Rheana sejak tadi.
Rheana menengok ke asal suara, dan ia bisa melihat Cakra berdiri sambil menenteng tas kerja serta jas nya.
Cakra tersenyum, ia mendekati istrinya kemudian memberikan kecupan di kening Rheana dengan hangat.
"Gimana hari ini, Sayang? Dedeknya mau makan bubur?" tanya Cakra seraya meletakkan tas dan jas kerjanya di meja makan.
Rheana hanya diam, ia tidak menyahuti pertanyaan dari Cakra dan malah lanjut makan apel di tangannya.
Cakra tersenyum simpul, ia berlutut di hadapan istrinya yang terlihat terkejut dengan aksinya ini.
"Dedek, kamu mau bubur? Bunda mau pesan online ya? Padahal kan ada Papa yang siap beliin sama gerobaknya." Celoteh Cakra yang membuat Rheana hampir mengeluarkan tawanya.
"Kamu baru pulang kerja, jangan dekat-dekat aku dulu." Tegur Rheana berdalih, padahal ia gugup dengan sikap Cakra belakangan ini.
Cakra mendongak, ia mengulum senyum lalu mengusap pipi Rheana yang bulat.
"Suami kamu walaupun nggak mandi juga tetap wangi, Rhe." Puji Cakra untuk dirinya sendiri.
Rheana memutar bola matanya malas dengan ucapan Cakra barusan. Ia hendak bangkit, namun Cakra memegang pahanya untuk mencegahnya beranjak.
"Mau bubur kan?" tanya Cakra lembut.
Rheana tidak menjawab, membuat Cakra gemas dan langsung mencium bibir istrinya dalam-dalam.
Rheana memberontak, ia memukul dada Cakra karena ia tidak siap dan hampir kehabisan nafas.
"Makanya kalo ditanya suami tuh di jawab, Bunda. Dedeknya mau makan bubur, kalo bundanya mau makan apa?" tanya Cakra kembali dengan suara lembutnya.
Rheana menggeleng. "Aku sama anakku bisa pesan sendiri!" balas Rheana singkat.
"Nggak boleh, masih ada papa yang sanggup bayarin kalian," timpal Cakra seraya melingkarkan tangannya di pinggang istrinya.
Rheana berdecak, ia ingin protes lagi, namun Cakra sudah duluan mencium bibirnya dengan dalam. Cakra bukan hanya menempelkan bibir mereka, tetapi juga menggerakkan dan memainkan bibir semanis buah cherry itu.
KATA MAS CAKRA MANISNYA NGALAHIN WAJAH NENG AUTHOR, EAAAA🤣🤣
Bersambung..............................
__ADS_1
Makin sering aku update, makin sedikit komennya. Aku syedih😥