Dinikahi calon kakak ipar

Dinikahi calon kakak ipar
Iri dengki


__ADS_3

Suara riuh tepuk tangan terdengar memenuhi auditorium kampus yang begitu mewah. Tampak para tamu yang hadir menyambut rektor yang baru saja naik ke atas panggung untuk memberikan sambutan.


Benar, hari ini adalah hari paling dinantikan oleh gadis cantik berkebaya coklat susu itu. Gadis itu, yang telah berjuang menyusun skripsinya kini telah terbayar dengan manis.


Rheana, dengan dibantu oleh Cakra juga lah skripsinya bisa selesai tepat waktu. Ia berhasil menyelesaikan kuliahnya dalam kurun waktu 4 tahun saja.


Acara demi acara telah berlalu, kini waktunya proses pengalungan untuk para wisudawan dan wisudawati.


Nama Rheana tentu saja menjadi salah satu penerima gelar S.M.


Semuanya kembali duduk, dan tibalah saatnya penyebutan nama para wisudawan peraih ipk tertinggi.


Tidak pernah terduga oleh keluarga Chandrama sebelumnya bahwa salah satu putri mereka meraih nilai IPK tertinggi dan menyandang gelar cumlaude.


"Rheana Dwika Chandrama, dengan nilai IPK 3.7 dengan pujian." Ucap pembawa acara.


Rheana berusaha menahan air mata yang hampir saja merusak riasannya. Gadis itu naik ke atas panggung dengan perasaan bangga.


Bukan hanya Rheana yang bangga, tapi seluruh keluarganya dan juga Cakra yang turut hadir disana ikut merasa bangga.


Dibalik rasa bahagia Rheana dan keluarga Chandarama, ada satu orang yang merasa jengkel karena sang kekasih tampak sangat bahagia melihat adiknya menjadi lulusan terbaik.


"Sayang, duduk aja kan bisa." Bisik Velia seraya menarik ujung jas Cakra.


Cakra tidak menghiraukan perkataan kekasihnya, pria itu terlalu fokus pada Rheana yang kini sedang bicara di depan umum.


Hal itu membuat Velia semakin kesal, ia melipat tangan di dada seraya terus menatap Rheana yang kini sedang tersenyum lebar.


Velia yang sekarang bukan Velia yang dulu. Kini gadis itu selalu merasa iri hati kepada adiknya tanpa sebab.


"Sayang, kok kamu nggak bangun. Lihatlah, Rhea dapat penghargaan." Ucap Cakra seraya menarik tangan kekasihnya untuk bangun.

__ADS_1


"Aku nggak mau, aku capek." Tolak Velia ketus.


Cakra menatap kekasihnya dengan kening mengerut, ia heran dengan Velia yang tiba-tiba judes padanya dan bicara tajam.


"Kamu kenapa?" tanya Cakra heran.


Velia hanya mengangkat bahunya sebagai jawaban, yang membuat Cakra hanya bisa menghela nafas saat sadar bahwa kekasihnya itu marah.


***


Acara wisuda pun selesai, dilanjut dengan sesi foto bersama. Dalam foto pertama ada Rheana bersama kedua orang tua, lalu bersama Ryan dan Velia dan terakhir ramai, bersama Cakra juga.


"Mama bangga banget sama kamu, Sayang." Mama Erina memberikan buket bunga berisi jutaan rupiah kepada putrinya.


Rheana tersenyum, ia memeluk sang Mama dengan erat.


"Makasih banyak, Ma. Aku juga nggak nyangka bisa dapat nilai tinggi." Balas Rheana.


Papa Rama mengusap kepala putrinya, ia juga tentu saja bangga kepada semua putrinya.


Rheana melepaskan pelukan sang Mama lalu beralih memeluk papanya.


"Papa, makasih sudah terus mendukung ku." Ucap Rheana dibalas kecupan di keningnya.


"Kak, sumpah ya gue nggak nyangka lo pinter." Celetuk Ryan tiba-tiba, memecahkan momen haru antara Rheana dan kedua orang tuanya.


Rheana melotot, ia lantas menarik telinga adiknya.


"Kurang aja lo emang sama gue, selama ini nilai fisika lo baik-baik aja kan karena gue yang ngerjain!" ucap Rheana tanpa melepas jeweran di telinga adiknya.


"Iya-iya, ampun Kak!!" pekik Ryan meringis.

__ADS_1


Rheana melepaskan tangannya dari telinga Ryan, ia lalu menatap Cakra dan Velia yang sedang menatapnya dengan tatapan berbeda.


Rheana menarik nafas lalu membuangnya perlahan, bagaimanapun Cakra banyak membantunya dalam urusan skripsi, dan tentu saja ia harus berterima kasih.


Namun ada yang membuat Rheana ragu sejak tadi, yaitu tatapan Velia yang tajam kepadanya.


Rheana mendekati, dan saat itu juga Velia langsung merangkul tangan Cakra, seakan Rheana adalah pencuri yang akan mengambil miliknya.


"Kak Cakra, terima kasih sudah banyak membantuku dalam urusan skripsi, jika bukan karena mu mungkin aku belum selesai menyusunnya." Ucap Rheana tulus tanpa maksud apapun.


Cakra tersenyum tulus, entah sadar ataupun tidak, tiba-tiba saja tangan pria itu mendarat di kepala Rheana dan mengusapnya pelan.


"Sama-sama, tapi kamu juga harus berterima kasih pada diri kamu sendiri, saya hanya membantu sedikit." Balas Cakra.


Rheana tentu saja terkejut saat kepalanya diusap oleh Cakra, pada saat yang sama ia merasakan ada sesuatu yang mengancam dirinya.


"Kak Vel, makasih juga ya atas dukungannya." Ucap Rheana langsung.


Velia hanya menganggukkan kepalanya saja dan berusaha tersenyum meskipun rasanya berat.


"Apa yang akan kau lakukan setelah ini?" tanya Cakra.


"Saya akan melanjutkan S2 saya ke Amerika, Kak." Jawab Rheana yang tentu saja membuat Cakra dan Velia terbelalak.


"Langsung?" tanya Cakra lagi.


"Iya, saya juga sudah membicarakan ini kepada orang tua saya." Jawab Rheana mengangguk.


"Kamu tidak boleh pergi!" celetuk Cakra tiba-tiba.


Rheana dan Velia spontan menatap Cakra aneh, mengapa tiba-tiba pria itu berbicara demikian.

__ADS_1


WAHHH KENAPA TUHHH???


Bersambung............................


__ADS_2