
Rheana dan Cakra baru saja sampai dirumah sakit. Mereka datang untuk melakukan cek kandungan, dan Rheana sudah membuat janji bertemu dengan dokter.
Rheana dan Cakra masuk bersama ke dalam ruangan dokter wanita yang begitu dikenali oleh Rheana.
"Nyonya Rheana, Tuan Cakra. silahkan duduk." Tutur dokter Becca dengan sopan.
Rheana dan Cakra duduk di kursi yang berada tepat di depan si dokter. Rheana bisa membaca wajah terkejut temannya itu saat dirinya datang bersama Cakra.
Tentu saja Becca akan bingung sebab terakhir kali ia mengatakan untuk tidak memberitahu Cakra akan kehamilannya, dan wanita itu juga tidak tahu jika Rheana sudah kembali kepada Cakra.
"Baik, jadi langsung kita periksa saja ya. Mari ikut saya, Nyonya." Ajak Dokter Becca ke dekat brankar.
"Sini aku bantu, Sayang." Ucap Cakra seraya membantu Rheana untuk naik dan berbaring di atas brankar.
Dokter Becca menatap Rheana penuh tanya, sementara Rheana hanya tersenyum membalasnya.
Dokter Becca berusaha untuk profesional, ia mulai mengoleskan krim gel ke perut Rheana, kemudian memeriksa nya dengan menggunakan alat.
"Dengar itu? Itu adalah detak jantung bayi kalian." Ucap dokter Becca memberitahu.
Cakra menggenggam tangan istrinya, ada senyuman di wajah tampan Cakra. Senyuman penuh haru ketika mendengar detak jantung anaknya untuk pertama kali.
"Dok, apa sudah bisa usg?" tanya Cakra, ia ingin egois. Setelah mendengar detak jantung bayinya, kini ia juga ingin melihat gambarnya.
"Bisa, Tuan. Saya akan atur jadwal untuk melakukan usg ya," jawab dokter Becca menganggukkan kepalanya.
Rheana bisa merasakan genggaman tangan suaminya semakin erat, ia menatap Cakra yang masih senyum-senyum.
Setelah selesai diperiksa, Rheana pun turun dari brankar masih dengan dibantu oleh suaminya.
Rheana dan Cakra kembali duduk di depan dokter untuk mendengarkan laporan terkait perkembangan janin dalam kandungan Rheana.
"Bayinya sehat, ibu nya juga sehat. Usia kandungannya sudah jalan bulan keenam, dan sudah bisa melakukan usg untuk melihat jenis kelaminnya." Ucap dokter Becca memberitahu.
"Sebelumnya nyonya Rheana sempat bilang sering merasakan kram?" tanya dokter Becca yang dijawab anggukan oleh Rheana.
"Kram itu diakibatkan oleh beberapa hal, salah satunya beban pikiran. Jadi Nyonya tolong jangan banyak pikiran, apalagi tertekan. Dan jangan lupa mengkonsumsi makanan sehat ya." Tutur dokter Becca memberi arahan.
"Tapi itu bahaya nggak, Dok?" tanya Cakra membuka suara setelah ia menjadi pendengar seksama.
"Jika dibiarkan terus menerus tentu bahaya, Tuan. Karena itulah anda sebagai suami berperan penting dalam perkembangan janin dan ibunya. Tolong bantu istrinya ya," jawab dokter Becca.
"Kalo berhubungan itu bahaya nggak, Dok?" lagi-lagi Cakra bertanya, kali ini pertanyaannya dihadiahi oleh cubitan dari Rheana.
Dokter Becca tertawa, pertanyaan seperti ini memang sering ditanyakan oleh pasangan suami istri, terutama pasangan yang baru akan memiliki anak.
"Tidak bahaya asal mengatur tempo dan durasi ya, Tuan." Jawab Dokter Becca.
Dokter Becca menuliskan resep vitamin untuk Rheana, kemudian memberikannya kepada Cakra.
"Jangan lupa tebus obatnya di apotek ya, Tuan." Tutur dokter Becca.
__ADS_1
"Ayo pulang." Ajak Rheana seraya menarik tangan suaminya.
Cakra dan Rheana pun keluar dari ruangan dokter. Selama perjalanan menuju apotek, Rheana hanya diam karena kesal dengan pertanyaan Cakra tadi.
"Bunda kenapa diam aja?" tanya Cakra dengan sangat lembut.
Rheana masih diam. Jelas Cakra tahu alasannya, namun ia tetap bertanya.
"Karena pertanyaan yang tadi?" tanya Cakra membuat langkah Rheana berhenti.
"Kamu masih tanya?! Jelas iya dong! Kan malu kamu tanya kaya tadi." Jawab Rheana sewot.
Cakra terkekeh, ia merengkuh pinggang istrinya lalu memberikan kecupan di kening.
"Pertanyaan umum itu, Sayang." Balas Cakra lalu kembali melangkah menuju apotek.
Sesampainya di apotek, Rheana menunggu di kursi tunggu, sementara Cakra yang menebus obatnya.
"Rhe." Panggilan tiba-tiba itu membuat Rheana terkejut, bahkan sampai memegangi dadanya.
"Astaga, Becca. Bikin kaget aja, kenapa?" tanya Rheana masih mengusap dadanya.
"Maaf ya, aku cuma mau bilang. Besok ada waktu nggak? Tadi Faraz bilang hari ini dia ke Indonesia, siapa tau kita bisa kumpul bertiga lagi." Jawab Becca menjelaskan.
"Faraz ke Indonesia?!!" tanya Rheana memekik senang.
Becca mengangguk. "Iya, dia kan tinggal di Italia seperti kamu waktu itu kan." Jawab Becca.
"Nanti aku kirim pesan untuk alamatnya ya." Jawab Becca dan Rheana hanya mengangguk.
Becca pun pamit pergi untuk melanjutkan pekerjaannya. Tidak lama kemudian Cakra datang dengan wajah bingung.
"Kenapa dokter Becca kesini lagi?" tanya Cakra.
"Dia bilang selama hamil aku nggak boleh berhubungan." Jawab Rheana asal-asalan.
"Oh iya? Yang benar kamu?" tanya Cakra terkejut.
"Iya, makanya kamu nggak usah nanya aneh-aneh. Ibu hamil dilarang berhubungan." Jawab Rheana kemudian beranjak dari duduknya dan pergi duluan.
Cakra segera menyusul istrinya, ia harus berlari kecil untuk menyamai langkah Rheana.
"Sayang, jadi ke rumah mama?" tanya Cakra mengalihkan pandangannya.
Rheana mengangguk, hari ini ia berencana untuk pergi ke rumah kedua orang tuanya. Ia sedang ingin makan masakan sang mama.
***
Rheana dan Cakra baru saja sampai di rumah keluarga Chandrama. Rheana dan Cakra di sambut baik oleh mama Erina, sementara papa Rama sedang ke kantor, bersama Velia.
"Akhirnya kalian main juga, Mama sudah rindu sama kalian." Ucap Mama Erina kepada anak dan menantunya.
__ADS_1
"Maaf ya, Ma." Balas Rheana pelan.
Mama Erina mengusap kepala putrinya lembut. "Iya, nggak apa-apa." Ujar Mama Erina.
"Oh iya, bagaimana kabar cucu Mama ini?" Tanya Mama Erina beralih mengusap perut putrinya.
"Baik, Ma. Dokter bilang ibu dan bayinya sehat," jawab Cakra seraya tersenyum lebar.
"Kamu nggak ke kantor, Cakra?" Tanya Mama Erina seraya mengajak Rheana dan Cakra duduk.
"Ini aku mau ke kantor, Ma." Jawab Cakra seraya melirik jam yang melingkar ditangannya.
Cakra baru ingat jika dirinya harus ke kantor, ia bisa dimarahi oleh sang papa jika tidak masuk, padahal pagi tadi ia sudah melarang papa Wawan untuk ke kantor.
Bersama Rheana memang membuat Cakra seakan lupa diri, lupa waktu, dan lupa tugas-tugasnya di kantor.
Cakra menatap istrinya. "Sayang, aku ke kantor dulu ya. Nanti aku jemput kamu sore, jangan pulang sendiri." Ucap Cakra dengan lembut.
"Iya, Kak." Jawab Rheana singkat.
Cakra tersenyum, ia bangkit dari duduknya kemudian mengajak Rheana untuk mengantarnya sampai depan rumah.
Saat di depan rumah, Cakra berlutut di depan sang istri kemudian mencium perut besar Rheana.
"Adek, Papa berangkat kerja dulu ya. Kamu jagain bunda, bilang Papa kalo bunda nakal ya." Ucap Cakra membuat Rheana mendengus.
Cakra kembali berdiri tegak di depan istrinya, ia mengusap wajah halus Rheana dan memberikan kecupan di puncak kepala istrinya.
"Aku berangkat ya, Sayang." Pamit Cakra di balas anggukkan saja oleh Rheana.
"Cium dulu dong tangan suaminya, siapa tahu nanti tender aku lolos karena ciuman dari kamu." Tutur Cakra membuat Rheana langsung mencium punggung tangan suaminya.
"Hati-hati." Ucap Rheana pelan bahkan hampir tidak terdengar.
Cakra terkekeh, ia menangkup wajah cantik Rheana kemudian menghujaninya dengan ciuman bertubi-tubi.
Rheana memukul bahu sang suami.
"Kurang ajar kamu!" seru Rheana kesal.
Cakra hanya tertawa. Rheana yang kasar dan kerap malu-malu membuat Cakra gemas sekali. Jika bukan ingat kantor, Cakra pasti akan masuk kembali ke dalam rumah mertuanya dan izin untuk mengeksekusi Rheana diatas ranjang.
"Bye, Sayangku." Pamit Cakra dari dalam mobil seraya melambaikan tangannya.
Rheana menyipitkan matanya kemudian melenggang masuk ke dalam rumah tanpa membalas lambaikan tangan Cakra.
"Nyosor mulu, heran." Gumam Rheana geleng-geleng kepala.
CURIGA CAKRA JELMAAN SOANG😫🤣
Bersambung..............................
__ADS_1