Dinikahi calon kakak ipar

Dinikahi calon kakak ipar
Nyaris tertabrak


__ADS_3

Kedua teman Rheana tertawa terbahak-bahak setelah mendengar cerita wanita hamil itu yang salah menepuk orang. Entah bagaimana bisa wanita itu salah orang, dan dengan percaya diri langsung memukul bahu.


"Astaga, aku tidak bisa berhenti tertawa." Ucap Becca seraya memegangi perutnya.


"Dasar ibu hamil, bisa-bisanya dia main asal memukul orang." Tambah Faraz yang juga tertawa.


Rheana menekuk wajahnya mendengar ledekan dari teman-temannya ini. Ia juga kan tidak tahu mengapa bisa salah orang tadi.


Rheana tidak masalah jika kedua temannya meledek, asal jangan Cakra yang tahu, karena ia pasti akan habis di olok-olok oleh suaminya yang tampan itu.


"Jika kalian terus tertawa, lebih baik aku pulang saja." Ucap Rheana merajuk.


Mendengar ucapan Rheana seketika membuat Becca dan Faraz menghentikan tawa mereka. Keduanya menatap ibu hamil itu dengan melas.


"Duhh bumil ngambek, maaf ya." Ucap Becca seraya memegang tangan Rheana.


"Jangan marah, mau apa mau apa? Ice cream atau cokelat?" tawar Faraz yang tidak mau temannya itu sampai marah dan merajuk.


"Nggak mau apa-apa." Jawab Rheana seraya menyuap makanan ke dalam mulutnya.


"Oh iya, Faraz. Bagaimana dengan pekerjaanmu di Italia?" tanya Rheana mengalihkan pembicaraan.


"Lancar, sengaja aku ambil cuti karena ingin menemui istri dari ceoku." Jawab Faraz bergurau.


"Oh iya astaga, aku sampai lupa jika dia istri ceo Cakra Dharmawan." Timpal Becca membuat Rheana berdecak


Faraz menatap Rheana dengan hangat, ia senang mengetahui Rheana dan suaminya sudah baik-baik saja, meski hati kecilnya masih terus bergumam nama wanita itu.


Cinta tidak akan mudah di hilangkan, apalagi Faraz telah memendamnya selama bertahun-tahun, dan kini ia sudah tidak memiliki kesempatan lagi.


Faraz tidak masalah sama sekali, asalkan Rheana selalu bahagia.


"Kalian kan udah sukses, kapan mau nikah dan nyusul aku punya anak?" tanya Rheana seraya meminum jus miliknya.


"Aman itu, nanti kau tahunya aku mengantar undangan pernikahan." Jawab Becca santai.


"Aku belum kepikiran, cintaku sudah hangus sejak lama." Tambah Faraz tersenyum getir.


Rheana menatap temannya, ia menepuk bahu Faraz pelan sambil tersenyum lebar.


"Mungkin dia bukan jodohmu, Faraz. Bisa saja jodohmu ada disini, misalnya Becca." Tukas Rheana terkekeh, ia melakukan itu bukan untuk meledek, tapi mencairkan suasana.


"Rhea!" mata Becca melotot sempurna mendengar ucapan temannya itu.


Faraz tertawa, ia merangkul bahu Becca yang masih melototkan matanya.


"Jadi, apa kita harus bicara soal mas kawinnya?" tanya Faraz menaik turunkan alisnya.


"Ck, apasih." Balas Becca berdecak seraya menjauhkan tangan Faraz dari bahunya.


Jika sudah berbincang begini, waktu memang tidak terasa sama sekali. Mereka bertiga pun memutuskan untuk pulang karena Becca akan ada operasi besok, dan ia harus istirahat.


Sementara Faraz, pria itu besok harus pergi ke kantor pusat yang mana juga merupakan kantor Cakra untuk melaporkan keadaan perusahaan di Italia.


"Yakin nggak mau diantar kita, Rhe?" tanya Becca yang sudah duduk di kursi kemudi.


"Iya, bareng aja yuk." Tambah Faraz yang nebeng mobil Becca untuk ke tempatnya menginap.


Rheana menggeleng. "Nggak usah, suami aku sebentar lagi datang." Tolak Rheana.

__ADS_1


Becca melengos. "Iya deh yang punya suami mah beda." Ledek Becca.


"Itu kan ada Faraz yang siap dijadikan suami." Balas Rheana santai, sementara Faraz hanya menyimak saja.


Becca dan Faraz pun pergi meninggalkan Rheana yang menolak untuk diantar pulang. Mereka tidak akan memaksa jika Rheana ingin di jemput oleh suaminya.


Samentara Rheana, wanita itu duduk di kursi lobby sambil menunggu suaminya yang katanya sudah di jalan.


Rheana mengusap-usap perutnya sembari bermain ponsel untuk menghilangkan rasa suntuknya.


10 menit berlalu sejak Rheana duduk sambil bermain ponselnya, ia mulai bosan sehingga celingak-celinguk, berharap suaminya bisa segera datang.


Saat Rheana menatap ke depan, ia melihat ada tukang rujak yang sedang melayani seorang pelanggan. Rheana menginginkan itu.


"Dek, sambil nunggu papa. Beli rujak dulu yuk," ajak Rheana seraya mengusap-usap perutnya.


Rheana bangkit dari duduknya. Untuk sampai di tukang rujak itu, ia harus melewati parkiran outdoor yang lumayan luas.


"Kak Cakra lama banget sih, jadi aku jajan aja dulu deh." Celetuk Rheana seraya berjalan mendekati tukang rujak.


Rheana melewati mobil demi mobil yang terparkir, sampai ia tidak melihat dari arah kirinya ada mobil yang sedang berjalan.


"Akhhh!!" Rheana berteriak seraya menutup mata dan telinganya dengan kedua tangannya.


Rheana nyaris tertabrak mobil jika mobil itu berjalan cepat dan pengemudi itu tidak mengerem tepat waktu.


Rheana membuka mata, kepalanya terasa pusing dan perutnya kram. Mungkin hal itu terjadi karena dirinya syok dan kaget.


Tubuh Rheana lunglai, ia hampir saja terjatuh jika seseorang tidak memegang tubuhnya tepat waktu.


"Sayang."


Sementara Cakra, pria itu langsung menggendong dan membawanya ke mobil. Ia harus membawa Rheana ke rumah sakit sekarang.


Benar, pria itu adalah Cakra. Cakra sampai ketika Rheana baru saja berjalan dari lobby. Ia tahu bahwa istrinya menginginkan rujak yang ia lihat ketika dirinya turun tadi.


Cakra mengikuti Rheana, dan berniat untuk mengejutkan istrinya, tetapi malah ia yang terkejut karena Rheana hampir tertabrak.


"Sayang, sayang bangun …" pinta Cakra seraya menepuk pipi istrinya.


Rheana melenguh, wanita itu tidak sepenuhnya kehilangan kesadaran, hanya saja tadi ia syok dan kepalanya seperti berputar-putar.


"Kak, aku mau pulang." Ucap Rheana pelan.


"Kita ke rumah sakit dulu ya," ajak Cakra lembut, namun Rheana menggeleng.


"Aku mau pulang aja." Tolak Rheana kekeh.


Cakra akhirnya mengalah, ia tidak punya pilihan lain. Akhirnya Cakra memilih untuk membawa Rheana pulang ke rumah mereka.


Selama perjalanan Cakra enggan melepaskan genggaman tangannya di tangan sang istri, ia begitu khawatir ketika melihat Rheana nyaris tertabrak mobil tadi.


Jika sampai terjadi sesuatu pada anak dan istrinya, maka sampai kapanpun Cakra tidak akan memaafkan dirinya. Sudah cukup ia pernah hampir membahayakan nyawa mereka.


"Sayang, kamu yakin nggak mau ke rumah sakit?" tanya Cakra, suaranya lirih karena penuh kekhwatiran.


"Nggak, Kak. Lagipula aku tidak sampai tertabrak, aku hanya terkejut saja tadi." Jawab Rheana pelan.


Cakra mencium punggung tangan Rheana lagi, hal itu membuat Rheana merasa sangat dilindungi. Ia tersenyum, kemudian mengusap wajah lelaki di sebelahnya lembut.

__ADS_1


"Aku nggak apa-apa, Kak. Kamu nggak usah khawatir," ucap Rheana pelan.


"Aku nggak mau terjadi sesuatu dengan anak kita." Balas Cakra membuat Rheana tersenyum.


"Iya, Kak." Ucap Rheana lembut.


Setelah hampir 30 menit, akhirnya Rheana dan Cakra pun sampai di rumah mereka. Cakra tidak membiarkan istrinya untuk berjalan, sehingga ia memilih untuk menggendongnya.


"Kak, aku bisa jalan sen–" Ucapan Rheana terhenti karena bibirnya di cium Cakra.


Rheana berdecak, ia memukul pelan dada bidang suaminya yang masih terbalut kemeja putih polos.


"Kebiasaan, dasar kamu tuh tukang sosor." Cibir Rheana kesal.


"Gimana nggak sosor, orang kamu punya daya tarik yang bikin aku mau cium terus." Sahut Cakra tertawa.


Rheana tidak menjawab, wanita itu memilih untuk menyembunyikan wajahnya di dada sang suami yang terasa hangat dan nyaman.


"Lho Rheana, kamu kenapa Sayang??" tanya Mama Mila yang baru saja mengantar teh untuk papa Wawan.


Papa Wawan bangkit dari duduknya, ia mendekati anak dan menantunya yang di gendong.


"Cakra, ada apa dengan Rheana?" tanya Papa Wawan.


"Rheana tadi hampir tertabrak mobil, Ma, Pa." Jawab Cakra jujur, ia tidak mau menyembunyikan apapun dari kedua orang tuanya.


"Tertabrak?!!" pekik Mama Mila.


"Kamu gimana sih, Cakra?! Masa Rheana sampai hampir tertabrak, kamu jagain dia atau nggak?!" cecar Mama Mila kesal.


"Ma, kak Cakra nggak salah kok. Ini semua salahku yang kurang hati-hati," ucap Rheana membela suaminya.


"Kamu jangan belain Cakra terus, Rhea. Dia ini salah," ujar Papa Wawan lembut.


Papa Wawan beralih menatap Cakra. "Kenapa kamu malah bawa Rheana pulang, bukan ke rumah sakit?" tanya Papa Wawan memicingkan matanya.


Cakra menghela nafas, sepertinya ia sudah dilupakan oleh kedua orang tuanya semenjak kedatangan Rheana, apalagi Rheana sedang mengandung cucu mereka.


"Ma, Pa. Aku akan antar Rhea ke kamar, dia bisa syok mendengar pertanyaan kalian yang banyak itu." Ucap Cakra kemudian membawa Rheana ke kamar mereka.


Rheana mencubit perut Cakra. Bisa-bisanya Cakra bicara begitu kepada orang tua, apalagi segala menjual namanya.


"Kamu durhaka nanti, orang papa lagi ngomong juga tadi." Ujar Rheana menunjuk hidung mancung suaminya.


Cakra tertawa, ia mengigit jari telunjuk Rheana yang masih asik menusuk-nusuk hidungnya jahil.


"Aduhhh …. Sakit!!!" Ringis Rheana dengan manja.


"Aku suka deh kalo kamu manja, jadinya pengen aku gendong, sambil timang-timang." Celetuk Cakra seketika membuat Rheana ikut tertawa.


"Kok bisa sih anak kecil udah hamil." Goda Cakra.


"Bisa, soalnya dulu suka di rayu-rayu biar mau di tusuk." Balas Rheana kemudian menutup mulutnya.


"Ihh, bunda Rheana ngomongnya tusuk-tusuk." Goda Cakra sementara Rheana hanya mengerucutkan bibirnya.


APANYA YANG DITUSUK MBAK RHEA😫😫


Bersambung........................

__ADS_1


__ADS_2