Dinikahi calon kakak ipar

Dinikahi calon kakak ipar
Tukar cincin


__ADS_3

Terlihat sepasang kekasih yang tidak berhenti tersenyum kepada para tamu dan keluarga yang datang ke acara mereka pada malam hari ini.


Malam ini merupakan hari yang cukup membahagiakan, dimana mereka akan melangsungkan pertunangan.


Untuk sekarang mereka memang belum rencana untuk menikah, sebab keduanya masih sama-sama menimba ilmu di perguruan tinggi.


Pasangan itu tentu saja Ryan dan juga Abel. Sepasang kekasih yang sebentar lagi akan saling terikat dengan cincin di jari manis masing-masing.


Para tamu undangan yang hadir tidak terlalu banyak, hanya keluarga dan teman dekat saja. Teman-teman dari kedua pihak pastinya.


"Cantik banget pacar aku, eh salah. Maksudnya tunangan aku," bisik Ryan seraya menggenggam tangan Abel.


"Belum, kan belum tukar cincin." Sahut Abel terkekeh.


Ryan tersenyum, ia merapikan rambut tunangannya itu lalu sedikit mengusap wajahnya. Ryan terus menatap Abel sampai-sampai tidak sadar jika ada mata tajam yang memperhatikannya.


"Awwww …. Aduh, telingaku!!" Ryan meringis saat tiba-tiba merasakan bahwa telinganya ditarik seseorang.


"Bagus ya, di pandangi terus Abel nya. Sampai kakaknya sendiri disini nggak di lirik." Ucap Rheana seraya terus menarik telinga Ryan.


"Sayang, ya ampun. Lepasin ya, kasihan dong Ryan nya." Rayu Cakra sembari mengusap-usap punggung putrinya.


Rheana segera melepaskan jeweran di telinga adiknya, ia lalu beralih menatap Abel yang sedang menahan tawa.


"Baru tunangan aja kamu udah kaya mau dimakan, Bel. Hati-hati nanti kalo udah nikah," celetuk Rheana kepada calon adik iparnya.


"Kak, jangan bicara macam-macam ya. Aku tidak ganas seperti kak Cakra," sahut Ryan tidak terima.


Cakra melototkan matanya mendengar ucapan adik iparnya itu. "Hei! Bicaramu seperti orang yang sudah berpengalaman saja." Tegur Cakra.


Ryan tertawa kecil, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal setelah mendengar ucapan dari suami kakaknya.


"Ayo bangun, acara pertunangannya akan dimulai." Tutur Rheana kepada Ryan dan juga Abel.

__ADS_1


Fyi, Rheana dan Cakra berada di pihak Abel. Mereka berdua akan menjadi pihak Abel dari mulai hari ini sampai hari pernikahan, sehingga acara pernikahan akan di gelar di rumah Cakra dan Rheana nantinya.


Ryan dan Abel bangkit dari duduknya, mereka berdua sudah siap melangsingkan proses pertunangan malam ini.


"Ini, Nak. Pasang di jari manisnya ya," tutur mama Erina kepada putranya.


Ryan segera memasangkan cincin di jari manis kekasihnya, dan Abel pun melakukan hal yang sama.


Suara riuh tepuk tangan menandakan bahwa inti acara telah berjalan dengan lancar. Kini Ryan dan Abel sudah menjadi pasangan bertunangan.


Seluruh keluarga merasa senang karena kini Ryan dan Abel telah bertunangan, mereka harus berjuang lebih keras lagi untuk segera lulus kuliah dan menikah.


"Mau nikah nggak?" tanya Velia sembari menimang baby nya yang baru beberapa hari ia lahirkan.


"Mau lah," jawab Ryan sambil mencolek pipi baby Asyilla.


"Makanya semangat kuliahnya, terus lulus. Kalo udah lulus kan bisa nikah," tukas Velia seraya menjauhkan tangan Ryan dari pipi putrinya.


Ryan mendengus, ia juga tahu jika skenarionya seperti itu. Ryan harus lulus dan mendapatkan pekerjaan yang layak sebelum menikahi Abel.


Tentu saja, walaupun itu perusahaan keluarga, Ryan harus tetap profesional dengan memulai semuanya dari bawah.


Fikri menepuk bahu adik iparnya, lalu menatap Ryan dan Abel bergantian.


"Selamat ya! Aku doakan kalian berdua selalu bersama, sampai hari pernikahan, bahkan sampai tua." Ucap Fikri dengan tulus.


"Terima kasih, Kak Fikri." Balas Abel ramah dan sopan.


Selesai mengucapkan selamat kepada dua orang yang baru tunangan itu, kini keluarga Chandrama, Wiyasa dan Dharmawan berkumpul.


Ketiga keluarga besar itu duduk di meja bundar yang cukup besar dan siap makan malam bersama. Tentu saja ada Ryan dan juga Abel disana.


"Takut banget tunangannya hilang, lepasin tuh tangan." Celetuk Rheana saat sadar bahwa adiknya tidak mau melepaskan tangan Abel.

__ADS_1


Abel terkekeh, ia tidak menyangka jika mereka akan terpentok saling berpegangan tangan seperti ini.


"Kak, mulutmu bawel sekali. Astaga! Bagaimana bisa kak Cakra sabar menghadapimu." Sahut Ryan.


Rheana melotot, ia hendak membalas ucapan adiknya, namun dihentikan oleh Cakra dengan usapan di punggungnya.


"Mama, aku haus." Celetuk Cakra mewakili Ayla yang sedikit tidak bisa diam dalam pangkuan papanya.


Rheana menoleh, ia lantas mengambil alih untuk menggendong Ayla sambil menepuk-nepuk pahanya pelan.


"Anak mama yang cantik, haus?" tanya Rheana berceloteh.


"Laper juga, Ma." Timpal Ryan ikut menyahuti.


Rheana tidak menghiraukan ucapan adiknya. Ia bisa kena omel sang mama jika bicara kasar apalagi di depan kedua cucunya.


"Rhea, kamu mau menyusui Ayla?" tanya Velia tiba-tiba.


"Iya, Kak. Kenapa?" Sahut Rheana.


"Aku ikut, aku juga ingin menyusui Cilla." Jawab Velia ikut bangkit dari duduknya.


"Ya, kalian susuin sana anak kalian, biar nanti gantian papanya!" celetuk Ryan asal-asalan.


"Ryan, mulut kamu minta di garuk parutan?" tanya Mama Erina.


Ryan meringis, ia reflek menutup bibirnya sendiri saat mendengar ucapan sang mama yang sadis.


Semua orang tertawa melihat tingkah Ryan yang seperti anak-anak. Masih sering menggoda kedua kakak dan kakak iparnya ini, malah sudah bertunangan.


Mereka semua hanya berdoa, semoga Abel kuat menghadapi segala tingkah Ryan.


CIEEE, CELAMAT UNTUK RYAN DAN ABEL🖤

__ADS_1


Bersambung.................................


__ADS_2