Dinikahi calon kakak ipar

Dinikahi calon kakak ipar
Dia anakku!


__ADS_3

Rheana membuka pintu kamarnya dengan perlahan. Ia seketika memejamkan matanya saat mencium bau yang tidak asing dengan indera penciumannya.


"Bi, ada yang tidur di kamarku sebelumnya?" tanya Rheana kepada asisten rumah tangga yang ada disana.


"Iya, Nona. Belum lama ini den Cakra datang dan menginap di kamar nona." Jawab Bibi menjelaskan.


Rheana menatap sang mama. "Untuk apa kak Cakra kesini, Ma?" tanya Rheana pelan.


"Dia mencari kamu, Sayang. Dia sangat frustasi mencari keberadaan kamu." Jawab Mama Erina jujur.


"Bi, bibi boleh keluar dulu." Ucap Mama Erina pada asisten rumah tangganya.


Asisten rumah tangga itu pun pamit untuk pergi keluar dari kamar. Mungkin kedua majikannya itu perlu waktu untuk berbicara.


Mama Erina menatap putrinya, ia menggenggam tangan Rheana dengan erat.


"Mama tidak bisa bicara banyak, yang mama tahu adalah Cakra sangat mencintai kamu." Ucap Mama Erina dengan jujur.


"Ma." Lirih Rheana menundukkan kepalanya.


Mama Erina mencium kening putrinya hangat.


"Istirahatlah, Mama keluar dulu dan akan buatkan kamu makanan yang lezat." Tutur Mama Erina kemudian keluar dari kamar putrinya.


Setelah sang mama keluar, Rheana duduk di pinggir ranjang. Ia seakan tahu dimana posisi Cakra tidur, sehingga ia mengusapnya pelan.


"Kak Cakra." Panggil Rheana pelan.


Rheana perlahan merebahkan tubuhnya, ia mengambil salah satu bantal untuk ia peluk. Rheana tidak bisa menangis lagi, sehingga ia memilih untuk tidur dan mengistirahatkan tubuhnya.


Sementara itu di kantor Cakra, pria itu sedang duduk mengetikkan tiap kata untuk menyelesaikan pekerjaannya. Ditengah kesibukannya yang sedang bekerja, tiba-tiba sang asisten masuk.


"Sore, Pak. Anak buah kita mengatakan bahwa nyonya Rheana sudah sampai di rumah orang tuanya bersama adiknya." Ucap Bagas dengan sopan.


Cakra yang sedang mengetik seketika berhenti setelah mendengar laporan dari asistennya itu. Cakra mengalihkan pandangannya ke arah sang asisten.


"Kau bilang apa?" tanya Cakra menajamkan pendengarannya.


"Nyonya Rheana sudah kembali, saat ini berada di rumah keluarganya." Jawab Bagas dengan sopan.


Cakra bangkit dari duduknya. Mendengar bahwa istrinya sudah kembali membuat Cakra salah tingkah dan mendadak gugup.


"Kosongkan jadwalku hari ini, aku akan pergi menemui istriku." Ucap Cakra dengan begitu bersemangat.


Bagas hanya bisa pasrah, lagipula hari ini Cakra tidak memiliki jadwal apapun lagi, apalagi waktu pun sudah mau menunjukkan jam pulang.


Cakra memakai jas kerjanya, ia hendak keluar, namun dering ponsel membuatnya berhenti. Cakra melihat di layar ponsel itu tertera nama adik iparnya.


"Kak, datanglah ke rumah malam ini. Aku dan kak Rhea sudah datang, saat ini kakak sedang tidur." Ucap Ryan langsung.


"Iya, Ryan. Terima kasih." Balas Cakra kemudian menutup sambungan telepon mereka.


Cakra terlihat tidak sabar menanti malam, andai saja ia bisa mungkin sekarang ia akan berlari dan memeluk tubuh istri yang teramat dirindukannya.


"Pak, semua baik-baik saja?" tanya Bagas yang melihat Cakra diam saja.


"Ya, semua baik. Terima kasih sudah membantuku," jawab Cakra mengangguk singkat.


"Tentu saja, Pak. Itu sudah kewajiban dan tugas saya," ujar Bagas dibalas senyuman oleh Cakra.


Disisi lain, Velia dan Fikri juga sudah mendengar kabar tentang Rheana yang sudah kembali. Keduanya terlihat begitu bahagia.


"Fikri, Rhea sudah kembali!" pekik Velia seraya memeluk kekasihnya.


"Iya, Sayang. Akhirnya usaha kita berbuah manis, meskipun bukan kita yang menemukannya, tapi yang jelas dia sudah pulang." Balas Fikri seraya mengusap punggung kekasihnya.


"Ayo ke rumah keluargaku, aku ingin menemui Rheana." Ajak Velia tidak sabar.

__ADS_1


Fikri melepaskan pelukannya, ia mengusap kepala sang kekasih.


"Nanti malam saja, saat ini pasti Rheana sedang istirahat." Tutur Fikri dan Velia mengangguk paham.


***


Malam pun tiba, saat ini Rheana sedang duduk bersama keluarganya untuk menyantap makan malam bersama. Canda tawa menghiasi meja makan dengan gurauan dari papa Rama.


"Kamu rutin cek kandungan kamu kan, Sayang?" tanya Mama Erina lembut.


Rheana mengangguk. "Iya, Ma. Jangan khawatir, cucu mama baik-baik saja." Jawab Rheana.


"Cucu papa juga." Sahut Papa Rama.


Rheana terkekeh, begitupun dengan Ryan dan kedua orang tuanya.


"Ma, Pa. Ngomong-ngomong, dimana kak Velia?" tanya Rheana pelan.


Mama Erina dan Papa Rama saling pandang. Keduanya terlihat sedih karena tidak tahu dimana keberadaan Velia saat ini.


"Kami juga belum tahu," jawab Papa Rama pelan.


Meja makan yang tadi dipenuhi canda tawa berubah hening karena pertanyaan Rheana.


"Ma, aku mau nambah. Berikan nasiku lagi," pinta Ryan yang mengalihkan pembicaraan.


Akhirnya mereka semua kembali melanjutkan makan malam mereka. Rheana masih memikirkan tentang keberadaan kakaknya.


Setelah makan malam selesai, mereka berempat duduk di ruang tamu untuk bersantai. Rheana meminum susu yang diberikan oleh bibi hingga tandas.


"Makasih banyak ya, Bi." Ucap Rheana dengan senyuman manisnya.


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang memperhatikan Rheana dengan mata berkaca-kaca.


Senyuman dan tawa Rheana berhasil membuat dadanya berdesir. Ia rindu dengan senyuman dan tawa itu, ia rindu dengan aroma harum yang menguar dari tubuhnya.


Rheana yang mendengar suara itu hanya bisa diam sambil menundukkan kepalanya. Suara itu, suara yang begitu ia rindukan selama dirinya pergi.


"Cakra, masuklah." Tutur Mama Erina hangat.


Rheana menggenggam erat pakaian yang digunakan, ia benar-benar tidak berani mengangkat wajahnya dan menatap suaminya.


"Kak Cakra, duduklah." Pinta Ryan menepuk sofa di sebelahnya.


Rheana tidak menyangka Cakra akan datang ke rumahnya, atau memang ada orang mengatakan tentang keberadaannya saat ini sampai membuat Cakra datang.


"Rhea." Panggil Cakra yang seketika membuat Rheana memejamkan matanya.


Rheana bangkit. "Ma, Pa aku akan ke kamarku." Ucap Rheana hendak pergi namun tiba-tiba ia merasakan perutnya kram.


"Akhhh!!" pekik Rheana memegangi perutnya.


Semua orang panik, termasuk Cakra. Awalnya Cakra ingin menolong, namun karena sudah ditolong oleh kedua mertuanya, ia mengurungkan niatnya.


"Rheana, kamu kenapa Sayang?" tanya Papa Rama terlihat khawatir.


"Perut aku kram, Pa." Jawab Rheana seraya mengusap perutnya.


Mama Erina memapah Rheana untuk duduk. Wanita itu belum berhenti mengusap perutnya yang masih kram.


"Ryan, ambilkan minum." Pinta Mama Erina dengan panik.


"Pa, apa yang terjadi dengan Rheana?" tanya Cakra gelisah.


"Kamu tanya sendiri sama Rheana, kami berikan kamu waktu untuk berbicara." Jawab Papa Rama.


Papa Rama mendekati istrinya, ia memegang tangan sang istri kemudian mengajaknya pergi. Tidak lama kemudian Ryan datang membawa minum, dan memberikannya kepada sang kakak.

__ADS_1


"Kak, aku ke kamar dulu ya." Ucap Ryan kemudian pergi.


Kini di ruang tamu itu tinggalah Rheana dan juga Cakra. Rheana meletakkan gelas bekasnya minum di meja.


"Rheana." Panggil Cakra lembut.


Cakra perlahan mendekati Rheana, ia bersimpuh di hadapan istrinya dengan kepala tertunduk.


"Rheana, maafkan aku." Lirih Cakra, entah mengapa Cakra kehilangan segala kata-kata yang sebelumnya telah ia susun.


"Bangunlah, Kak." Pinta Rheana tanpa menatap pria di hadapannya.


Cakra mendongak, ia menolak permintaan istrinya untuk ia bangkit. Cakra menatap Rheana dengan nanar, namun saat tatapannya turun ke arah perut, ia mengerutkan keningnya.


"Rheana, perut kamu kenapa?" tanya Cakra dengan jantung berdetak kencang.


Rheana tidak menjawab, wanita itu diam sambil menggigit bibirnya.


"Aku harus istirahat, Kak. Tolong pergi dari sini," pinta Rheana tanpa menjawab pertanyaan suaminya barusan.


Rheana bangkit, ia hendak pergi namun tangannya dipegang oleh Cakra.


"Rhe, kamu hamil?" tanya Cakra dengan tangan yang masih memegang pergelangan tangannya.


"Lepaskan aku, Kak. Kamu menyakitiku," pinta Rheana berusaha melepaskan pegangan tangan Cakra.


Cakra segera melepaskan tangan istrinya, namun ia tidak membiarkan istrinya pergi begitu saja.


"Rheana, aku mohon maafkan aku. Dan tolong jawab pertanyaanku," pinta Cakra dengan sangat memohon.


Rheana mundur, menjauhi suaminya.


"Iya, Kak. Aku hamil," jelas Rheana dengan mata berkaca-kaca.


"Rheana, anak kita baik-baik saja saat kecelakaan itu?" tanya Cakra dengan nafas yang memburu.


Rheana menggeleng. "Dia anakku!!" Jawab Rheana seraya menutupi perutnya sendiri.


Cakra mendekat, ia menggenggam tangan istrinya. "Rheana, itu anak kita." Ucap Cakra dengan suara yang sesak.


Rheana melepaskan pegangan tangan Cakra dengan cepat.


"Kamu nggak punya anak, Kak. Kamu sudah membunuh anak itu dengan menyakiti ibunya!" seru Rheana dengan suara yang sedikit lebih tinggi.


"Rheana, tolong jangan katakan itu. Aku tau aku salah, dan aku sudah menyesalinya." Pinta Cakra kembali bersimpuh di hadapan istrinya.


Rheana menangis, namun ia memalingkan wajahnya dari tatapan Cakra.


"Pergi dari sini, Kak. Lupakan bahwa kita pernah memiliki hubungan yang didasari oleh kebencian. Biarkan aku hidup dengan bahagia," pinta Rheana dengan suara yang gemetar.


"Nggak, Rhea. Kita masih bersama, dan itu selamanya." Sahut Cakra menggeleng cepat.


Rheana menangis, dan hal itu disaksikan oleh Cakra. Sekali lagi Cakra telah membuat istrinya menangis.


"Pergi, Kak. Hiks … akhhh!!" Rheana menangis dan tiba-tiba meringis saat kram di perutnya bukan berkurang dan malah semakin bertambah.


Rheana memegang perutnya, ia berpegangan pada sofa dan tidak berhenti meringis.


"Mamaaaa!!" Teriak Rheana kesakitan.


Cakra mendekat, ia segera meraih tubuh istrinya yang sudah hampir terjatuh ke lantai.


"Rhea, kita ke rumah sakit sekarang." Ucap Cakra dan langsung menggendong istrinya.


MBAK RHEAAA😫😫


Dua bab yaa ... lunas ya aku💞

__ADS_1


Bersambung...........................


__ADS_2