
Ryan terlihat lesu di kelasnya karena teman yang biasa ia maki-maki tidak masuk. Entah mengapa hari ini Abel tidak datang ke kampus, dan tidak memberinya kabar sama sekali.
Ryan menatap dosen di hadapannya yang terus bicara, rasa-rasanya ia sangat lemas tidak ada Abel. Ya walaupun ia tidak mengakuinya secara langsung di depan Abel, tapi ia merasa kesepian jika tidak ada gadis itu.
Ryan mengambil ponselnya dari saku celana, ia melihat pesan yang dirinya kirim kepada Abel hanya dibaca saja, tapi sudah 2 jam pesan itu tidak kunjung dibalas.
Ryan menghela nafas, ia berharap jam pertama kuliah ini segera selesai dan dirinya bisa 'cabut' dari kelas untuk menemui Abel.
Ryan takut terjadi sesuatu dengan Abel, karena biasanya gadis itu tidak pernah mau bolos dari kampus.
"Anak ambis kaya dia nggak mungkin bolos." Celetuk Ryan seraya menetap kursi dimana Abel biasanya duduk.
Ryan mengacak-acak rambutnya dengan perasaan frustasi, ia benar-benar sudah kepanasan dengan materi yang dosen sampaikan.
"Yang di belakang itu kenapa?" suara dosen mengarah kepada Ryan.
"Ahh nggak, Pak. Ini kepala saya gatal," jawab Ryan berbohong, mana mungkin ia akan mengatakan bahwa dia frustasi.
"Jarang keramas mungkin." Pungkas dosen lalu lanjut menerangkan materi.
Ryan menatap dosen cengo, bisa-bisanya dosen lansia itu mengatakan bahwa ia malas keramas. Di rumah saja, Velia atau Rheana dulu selalu marah-marah karena Ryan sering mencuri shampo mereka. Lihatlah dosen tadi mengatakan dengan enteng.
"Malas keramas, males keramas, yang penting ganteng gue." Cibir Ryan geram sendiri.
Ryan yang sudah menunggu sejak tadi akhirnya merasa lega, sebab dosen tadi sudah pergi dari kelasnya. Ryan pun buru-buru meraih tas miliknya dan hendak pergi.
"Ryan, mau kemana?" tanya Abi, si ketua kelas.
"Cabut dulu." Jawab Ryan kemudian langsung pergi meninggalkan kelas.
Ryan berlari kecil menuju parkiran, dan ternyata cuaca sedang gerimis kecil. Buru-buru ia memakai jaket kulit dan helm full face miliknya.
"Abel, i'm coming!!" ujar Ryan tidak jelas karena mulutnya tertutup.
Ryan pun mengendarai motor sportnya dengan kecepatan tinggi, ia memang jarang membawa mobil, karena menurutnya lama sebab tidak bisa menyalip jalanan.
Hujan yang awalnya hanya gerimis kecil ternyata perlahan mulai banyak. Ryan meninggikan kecepatan motornya agar bisa segera sampai di rumah Abel.
"Effort banget gue buat Abel seorang." Gumam Ryan terkekeh.
Setelah melalui jalan dengan ditemani hujan, akhirnya Ryan sampai di depan rumah dimana ia bisa menurunkan Adel disana.
"Sepi banget, tapi gerbangnya nggak di kunci." Gumam Ryan menatap rumah itu dengan heran.
Ryan memberanikan diri membuka gerbang, lalu mendekati pintu masuk. Ia mengetuk pintu beberapa kali, namun tidak ada jawaban.
"Akhhh … sakit!!!"
Samar-samar telinga Ryan mendengar suara rintihan seorang gadis. Ia melirik kanan dan kiri, berusaha mencari suara tadi, namun sepertinya suara itu berasal dari rumah Abel.
__ADS_1
Ryan terdiam, ia mendadak panik ketika berpikir bahwa terjadi sesuatu kepada Abel. Ryan kembali mengetuk pintu, namun tidak ada yang menyahut.
Pranggg
Ketakutan Ryan semakin besar ketika mendengar suara pecahan dari dalam rumah. Tanpa pikir panjang, Ryan pun segera mendobrak pintu itu meski sedikit kesulitan.
Ryan masuk, ia yang baru saja melangkah langsung dikejutkan dengan pemandangan menyakitkan.
Abel berada di bawah tubuh pria yang ia ketahui sebagai kekasihnya. Pria itu berusaha untuk membuka pakaian Abel, tapi terus di tahan oleh gadis itu.
"Brengsekk!" umpat Ryan seraya mendekati Rizi lalu menarik pria itu.
"Apa-apaan lo?!" bentak Rizi tidak suka kesenangannya diganggu.
Ryan mencengkram kerah baju Rizi dengan tatapan tajam dan mematikan.
"Lo apain Abel, bajingann?!" tanya Ryan pelan namun mengandung banyak ancaman di dalamnya.
Rizi tertawa, ia melepaskan tangan Ryan dari kerah bajunya.
"Gue apain? Suka-suka gue lah, dia cewek gue dan pembantu gue." Jawab Rizi dengan bangga.
"Jaga mulut lo, sebelum gue hajar abis-abisan!" tegur Ryan masih berusaha sabar.
Ryan melirik Abel yang menangis seraya berusaha untuk merapikan pakaiannya. Hati Ryan sangat sakit melihat bagaimana air mata itu jatuh dari kata gadis yang dicintainya.
"Keluar dari rumah gue!" usir Rizi setelah beberapa saat.
"Apa hak lo?" Tanya Ryan menantang.
"Ini rumah gue, dan si nggak berguna ini cuma numpang disini." Jawab Rizi seraya menunjuk Abel.
Ryan mencekal tangan Rizi dan memutar jari-jari pria itu sampai Rizi meringis kesakitan.
"Sakit sialann, lepasin tangan gue!" teriak Rizi dengan umpatan.
"Ryan." Panggil Abel seketika membuat Ryan melepaskan tangan pria itu.
Ryan mendekati Abel, ia melihat luka di tangan dan dahi Abel, serta luka memar di tangan dan kakinya.
"Lo diapain aja sama dia, Abel?" tanya Ryan lembut.
"Aku nggak apa-apa, cuma ada kesalahpahaman tadi." Jawab Abel dengan senyuman.
Ryan memegang wajah gadis itu, namun ia dikejutkan dengan sesuatu basah mengenai tangannya. Ryan lantas menarik tangannya, ia terkejut melihat cairan merah di telapak tangannya.
Itu darah!
"Abel, leher lo berdarah!" ucap Ryan dengan sangat panik.
__ADS_1
Ryan segara menyibak rambut Abel, ia terkejut lagi ketika melihat goresan cukup dalam di tengkuk gadis itu.
Ryan beralih menatap Rizi, ia tahu bahwa laki-laki itulah yang telah membuat Abel penuh luka-luka seperti ini.
"Bangsatt lo, Rizi!!" Ryan maju lalu menghajar Rizi abis-abisan.
Terjadilah perkelahian antara Ryan dan Rizi, Abel sudah histeris seraya mencoba meminta agar kedua pria itu berhenti berkelahi, namun hasilnya nihil.
"Ryan, udah!!" ucap Abel pelan seraya memegangi luka di tengkuknya yang semakin sakit.
Ryan mencekik leher Rizi. "Lo bakal mati di tangan gue, Sialann." Ucap Ryan terus mencekik Rizi.
Abel mendekati, ia menarik tangan Ryan. Abel tidak mau Ryan menjadi pembunuh dan masuk penjara hanya karena membelanya.
"Abel, kita ke rumah sakit. Darah lo makin banyak," ajak Ryan menarik tangan Abel.
Abel menurut saja, saat ini ia benar-benar butuh seorang dokter untuk merawat luka-lukanya.
"Abel, sekali kaki lo keluar dari rumah ini, jangan harap bisa balik lagi." Ucap Rizi dengan sedikit sulit, sambil memegangi lehernya sendiri.
"DIEM LO!" bentak Ryan kesal.
Ryan ingin kembali menarik Abel keluar, namun Rizi lagi-lagi bicara.
"Ingat ibu lo, Abel. Ibu lo butuh biaya, kalo lo keluar, gua bakal cabut dana buat pengobatan itu." Ancam Rizi semakin membuat Abel tidak berkutik.
Abel menangis pelan, ia ingin sekali ikut Ryan dan terbebas dari pria gila seperti Rizi, tapi ia tidak sanggup jika melihat ibunya tiada.
Abel melepaskan tangannya yang dipegang oleh Ryan, dan hal itu membuat Ryan langsung menatapnya tidak percaya.
"Aku nggak bisa lihat mama meninggal, kamu pergi saja, Ryan." Ucap Abel dengan lirih.
"Nggak, Abel. Lo bisa mati jika terus ada di rumah ini!" Bantah Ryan tidak terima.
"Ryan, tolong pergi." Pinta Abel dengan suara sesak.
Ryan menolak, ia akan tetap membawa Abel pergi dari sana.
"Gue yang bakal tanggung biayanya, asal lo jangan pernah balik lagi ke rumah ini." Tegas Ryan tidak main-main.
Meskipun tidak mengerti dengan pembahasan Rizi dan Abel, Ryan tetap berkata demikian. Ryan yakin bahwa seluruh keluarganya akan mau membantunya untuk mengurus ini.
"Ryan, aku nggak bisa repotin kamu." Lirih Abel pelan.
Ryan tidak menjawab, ia menarik Abel keluar dari rumah dan pergi. Kini Abel dan Ryan sudah berada di motor sport pria itu.
"Gue jamin lo bakal mendekam di penjara, Rizi Mahesa!" ucap Ryan dengan tajam.
KOMENNYA MAKIN DIKIT, PADAHAL ITU YANG PALING AKU TUNGGU 🤧
__ADS_1
Bersambung......................................