
Rheana keluar dari kamar mandi dengan piyama biru tuanya. Sambil berjalan, tangannya tidak henti mengusap rambutnya yang basah dengan menggunakan handuk.
Aktivitas yang Rheana lakukan tentu saja tidak lepas dari pandangan Cakra saat ini. Pria itu duduk di sofa untuk mengerjakan pekerjaannya yang belum selesai.
"Cantik." Gumam Cakra dengan senyuman di wajahnya.
Cakra masih memperhatikan Rheana yang sekarang duduk di depan meja rias sambil mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.
Barang-barang Rheana baru saja datang saat wanita itu sedang mandi tadi. Sehingga kini Rheana bisa memakai skincare rutinnya. Tentu perawatan Rheana itu aman untuk bumil sepertinya.
Rheana bangkit dari duduknya, hal itu membuat Cakra ikut bangkit. Ia menatap Rheana, namun yang di tatap hanya diam sambil menundukkan kepalanya.
"Sayang, susunya." Tutur Cakra seraya memberikan segelas susu kepada istrinya.
Rheana menatap Cakra sebentar, ia menerima susu yang dibuat oleh Cakra kemudian meminumnya.
"Duduk dong minumnya, ibu hamil." Celetuk Cakra seraya mendorong Rheana pelan agar duduk di pinggir ranjang.
Rheana hanya menurut, tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya saat ini. Rheana hanya fokus mengecap rasa susu yang biasa ia minum, namun hari ini terasa begitu beda.
"Kamu suka susu yang di buat papa ya, Dek." Batin Rheana saat merasakan susu malam ini terasa sangat enak.
Satu gelas susu telah dihabiskan oleh Rheana. Andai saja boleh, mungkin Rheana ingin segelas lagi, karena rasanya benar-benar lezat.
"Sudah minum susu, sekarang waktunya baby sama bunda bobok ya, Nak." Ucap Cakra lembut, tangannya ingin mengusap perut Rheana namun ragu sekali.
Rheana hendak naik ke atas ranjang, namun lagi-lagi ia merasakan perutnya kram secara mendadak.
"Aduhh …" ringis Rheana memegangi perutnya.
Cakra tersentak, ia khawatir melihat istrinya yang mengaduh kesakitan. Cakra tidak mau terjadi apa-apa kepada istri dan calon anaknya.
"Sayang, kamu sakit? Kita ke rumah sakit ya?" ajak Cakra tergesa-gesa.
Rheana menggeleng, ia tetap berusaha naik ke atas ranjang dan tidur, tentu saja dengan bantuan dari Cakra.
Cakra duduk di pinggir ranjang, tepat di sebelah Rheana. Entah sadar atau tidak, tiba-tiba tangan Cakra sudah berada di perut istrinya yang membulat.
"Baby, jangan buat bundamu kesakitan ya. Kalo mau apa-apa, minta sama papa, sakitnya kasih ke papa aja." Ucap Cakra seraya masih mengusap perut Rheana.
Rheana menatap Cakra dengan perasaan tidak menentu, ada rasa hangat di dadanya saat Cakra mengusap perutnya seperti tadi.
Itu pertama kali, pertama kalinya Cakra mengusap perutnya yang sedang mengandung anak mereka. Dan percaya atau tidak, rasa kram di perutnya berangsur hilang seiring dengan usapan Cakra di perutnya.
"Sudah lebih baik, Sayang?" tanya Cakra tiba-tiba, matanya tidak pernah teralihkan dari sang istri.
Rheana mengangguk. "Udah, Kak." Jawab Rheana singkat.
Cakra masih tersenyum, ia beralih mengusap kepala Rheana lalu memberikan kecupan hangat di keningnya.
"Yaudah, sekarang istirahat ya. Ini sudah malam, bumil nggak boleh bobok malam-malam." Tutur Cakra seraya menarik selimut sampai perut istrinya.
Rheana mengangguk singkat, ia memiringkan tubuhnya sehingga membelakangi Cakra dan akhirnya tidur.
__ADS_1
Cakra menatap tubuh Rheana dengan sendu. Ia ingin sekali mendekap erat tubuh mungil itu, namun tidak ada keberanian yang cukup dalam dirinya untuk melakukan hal itu.
Rheana berada di kamar dan ranjang yang sama dengannya saja, ia sudah bersyukur. Apalagi jika mereka bisa kembali seperti dulu, maka rasanya pasti akan jauh lebih bersyukur.
"Maafin aku ya, Rhea." Bisik Cakra seraya mengusap tangan Rheana pelan.
Cakra beranjak, ia harus menyelesaikan pekerjaannya yang ia tinggal karena sibuk mencari istrinya waktu itu.
Cakra akan membereskan segela urusannya, termasuk hubungannya dengan Rheana. Ia berjanji akan berjuang mendapatkan cinta dan kepercayaan istrinya kembali.
***
Keesokan harinya, Rheana terbangun saat mendengar suara pintu yang di ketuk. Ia mengucek matanya dan hendak bangkit, namun ia baru sadar jika ada tangan yang melingkar di pinggangnya.
Tangan Cakra.
Rheana hendak menyingkirkan tangan itu, namun matanya tidak sengaja melihat ke wajah tampan Cakra masih tenang dalam tidurnya.
Rheana kembali menjatuhkan kepalanya di bantal, ia menatap wajah Cakra dengan lama. Meniti setiap garis wajah yang di miliki Cakra, serta rahang kokoh yang selalu memanggil untuk mengusapnya.
"Andai saja semua sikap baik ini kamu tunjukkan sejak dulu, Kak. Kehidupan pernikahan kita pasti akan sangat bahagia," ungkap Rheana yang terdengar seperti bisikan saja.
Rheana teringat sikap Cakra dari mulai mereka bertemu. Sikap yang berbalik arah saat dirinya baru pertama menikah dengan pria itu.
Rheana jadi berpikir, bagaimana jika sejak awal mereka menikah, keduanya sudah sama-sama menerima, dan sikap Cakra sebaik ini, mungkin mereka sudah bahagia sejak lama.
Tangan Rheana dengan ragu memegang wajah Cakta, ia mengusapnya dengan gerakan pelan karena khawatir akan membangunkan pria itu.
"Aku kasih kamu kesempatan, bukan untuk kembali sama aku, tapi kesempatan untuk kamu sedikit lebih dekat dengan anak dalam kandunganku." Ucap Rheana begitu pelan.
"Jika kamu ingin tahu, anakku ini sering menunjukkan tanda-tanda aneh. Kram tiba-tiba, atau apapun saat ada dan tidak ada kamu. Anak ini seakan tahu bahwa kamu papa yang dinantikannya." Tambahnya, masih dengan nada yang sama.
Rheana terus saja berceloteh, dan Cakra pun masih sangat damai dengan tidurnya. Karena hari semakin siang, Rheana pun beranjak untuk mandi dan siap-siap sarapan.
Gerakan Rheana yang turun dari ranjang membuat Cakra bangun. Pria itu perlahan membuka mata, dan sudah tidak menemukan istrinya disana.
Andai saja Cakra bangun sedari tadi, mungkin ia akan bisa mendengar ucapan Rheana saat dirinya masih tidur tadi.
Suara gemericik air membuat Cakra tahu bahwa Rheana sedang mandi. Cakra ikut bangkit, ia keluar dari kamar sembari menunggu Rheana selesai mandi.
"Lho, Cakra. Kamu turun sendiri, Rheana mana?" tanya Mama Mila yang sedang menyiapkan sarapan.
"Sedang mandi, Ma." Jawab Cakra seraya membuka kulkas, dan meminum air yang dingin disana.
"Kenapa kamu tinggal, seharusnya kamu tunggu, dan turun bersama dia, Cakra!" ucap Papa Wawan.
Cakra mengangguk, ia tidak berniat untuk sarapan duluan, ia hanya haus dan ingin minum, sementara sarapan akan bersama Rhea nanti.
Cakra kembali ke kamarnya, ia masuk bertepatan dengan Rheana yang keluar dari kamar mandi.
"Aku mau pakai baju, kamu bisa keluar dulu, Kak." Ucap Rheana tanpa menatap Cakra, dan tangannya sibuk memegangi handuknya.
Cakra mendekat, ia mengusap rambut Rheana yang tidak basah, lalu mencium pipi istrinya.
__ADS_1
"Apa-apaan sih!" protes Rheana seraya menjauh dari Cakra.
Cakra tidak membalas, ia membiarkan Rheana berdiri di sana, sementara dirinya mengambil baju dari lemari pakaian.
"Pakai ini ya, kamu cantik banget kalo pakai dress gini." Tutur Cakra memberikan dress berwarna cream kepada istrinya.
Rheana menerimanya, ia kembali masuk ke dalam kamar mandi karena tidak mungkin ia memakai baju di depan Cakra sekarang.
Cakra kembali mendekati lemari pakaian, ia akan mandi di kamar sebelah agar istrinya tidak harus terlalu lama menunggu siap.
Setelah Cakra keluar, tidak lama kemudian Rheana yang keluar dari kamar mandi dengan sudah berpakaian. Rheana tidak melihat kehadiran suaminya disana, dan ia mengira bahwa Cakra sudah duluan.
Rheana menyisir rambutnya, tidak lupa ia sedikit memberikan sentuhan makeup di wajahnya agar tidak terlalu pucat.
Pintu kamar di ketuk, Rheana mempersilahkan orang itu masuk, dan ternyata asisten rumah tangga.
"Permisi, Nyonya. Saya izin merapikan tempat tidur ya," ucap pelayan itu dengan sopan.
"Iya, Bi. Silahkan," balas Rheana ramah.
Rheana membiarkan asisten itu membersihkan kamarnya, ia pun keluar karena takut membuat kedua mertuanya menunggu untuk sarapan.
"Selamat pagi, Ma, Pa." Sapa Rheana, ia tidak melihat ada suaminya disana.
"Pagi, Sayang. Ayo duduk, Nak." Ajak Mama Mila lembut.
"Gimana tidurnya semalam, nyenyak kan?" tanya Papa Wawan lembut.
"Iya, Pa." Jawab Rheana sopan.
Sambil menunggu Cakra, mereka bertiga mengobrol bersama. Rheana yang asik tertawa membuat Cakra yang melihatnya dari arah tangga ikut tersenyum.
"Aku nggak akan buat senyuman dan tawa itu hilang lagi, Rhea." Ucap Cakra dengan yakin.
Cakra berjalan mendekati meja makan, hal itu berhasil menyita perhatian Rheana.
Rheana terpesona dengan penampilan Cakra pagi ini. Ia sudah berpakaian rapi dan siap ke kantor, hanya kurang dasi dan jas kerjanya saja.
Oh jangan lupa, bulu di sekitar wajahnya sudah di cukur sampai bersih, sehingga penampilan Cakra terlihat lebih menawan dari sebelumnya.
"Kamu lama sekali, kasihan istrimu harus nunggu untuk sarapan, Cakra." Kata Mama Mila geleng-geleng kepala.
"Iya, Ma. Maaf," balas Cakra lembut.
Cakra beralih menatap Rheana, yang mana membuat wanita hamil itu tersadar.
"Maaf ya buat kamu nunggu," ucap Cakra seraya menggenggam tangan Rheana yang ada di meja.
Rheana tanpa sadar tersenyum, namun senyuman hilang saat teringat dengan segala perlakuan Cakra sebelum ini.
ENAKK YAAA KALO MEREKA AKUR, KIRA-KIRA AKUR NGGAK YA??
Bersambung...................
__ADS_1