Dinikahi calon kakak ipar

Dinikahi calon kakak ipar
Ingin cepat nikah


__ADS_3

Sepasang kekasih sedang asik berpegangan tangan sambil menyusuri jalan taman di malam itu. Pasangan yang tidak henti melempar senyuman satu sama lain, sehingga membuat siapa saja yang melihatnya pasti akan ikut tersenyum.


Velia dan Fikri, ya pasangan kekasih itu adalah mereka. Fikri sengaja mengajak Velia ke taman sebagai bentuk peralihan rasa lelah setelah bekerja seharian.


Velia pun senang bisa menghabiskan waktu bersama kekasihnya. Ia yang sudah kembali sibuk di kantor membuatnya jarang bertemu dengan Fikri, ditambah pria itu yang juga mulai mengurus perusahaan keluarganya.


"Duduk di saja yuk, sambil makan jagung." Ajak Velia menunjuk ke dekat pinggir danau.


Fikri menatap Velia kemudian mengacak-acak rambut kekasihnya.


"Memang nggak takut ada buaya disana, nanti kalo tiba-tiba dia ngap gimana?" Tanya Fikri menaik turunkan alisnya.


"Aku nggak takut sama buaya, orang di sebelah aku juga biaya." Jawab Velia bergurau.


Fikri menatap kekasihnya serius, ia menggenggam tangan Velia dengan erat, lalu menciumnya dalam-dalam.


"Enak aja! Aku bukan buaya, aku dinosarurus." Sahut Fikri dengan kalimat yang berantakan.


"Dinosarurus, dinosaurus, Sayang." Tegur Velia membenarkan.


"Iya itu pokoknya." Balas Fikri terkekeh.


Velia ikut tertawa, menggemaskan sekali kekasihnya ini, bahkan ia sampai di buat gemas oleh nya.


"Ayo, jadi makan jagung atau nggak?" ajak Velia lagi seraya menarik-narik tangan Fikri.


"Jadi, Sayang." Jawab Fikri, kemudian pasrah ketika tangannya di tarik oleh sang kekasih.


Velia dan Fikri duduk di pinggir danau sambil menunggu jagung bakar pesanan mereka jadi. Velia dan Fikri mengobrol banyak hal yang membuat mereka berdua sama-sama tertawa.


"Tahu nggak, aku nggak sabar mau nikah sama kamu." Celetuk Fikri seraya mengusap pipi Velia yang lembut.


Velia tersenyum senang mendengarnya, ternyata bukan hanya dirinya yang merasakan itu, tetapi Fikri juga.


Setelah lamaran waktu itu, setiap malam Velia selalu berangan-angan, bagaimana jika dirinya dan Fikri menikah dan tinggal bersama, di rumah mereka yang sederhana. Pasti rasanya sangat menyenangkan.


"Iya, aku juga." Ucap Velia malu-malu.


Fikri mencubit kedua pipi Velia, kekasihnya eh ralat, calon istrinya itu sangat cantik dan membuatnya gemas sekali.


"Sabar ya, bulan ini menjadi bulan terakhir kamu tidur sendiri di kamar. Mulai bulan depan, kamu tidurnya di peluk aku." Ujar Fikri lalu mencium kening Velia dengan sayang.


Velia mengangguk. Pernikahan mereka akan digelar bulan depan, dan rasanya ia sudah tidak sabar lagi. Bahkan pertunangan yang diadakan minggu depan saja ia sudah tidak sabar menantikannya.


Sementara Velia dan Fikri sedang asik jalan-jalan bersama di taman. Di rumah kediaman Chandrama kini sedang berkumpul seluruh keluarga. Disana juga ada Cakra yang datang untuk menjemput istrinya.

__ADS_1


"Nggak mau makan malam dulu?" tanya Papa Rama melihat anak menantunya yang sudah mau pulang.


Rheana menggelengkan kepalanya. "Tidak, Pa. Kami langsung pulang saja," jawab Rheana.


Cakra mengusap punggung tangan Rheana, ia tahu bahwa istrinya itu sangat mengantuk, tetapi tidak berani untuk bilang ingin menginap kepadanya.


"Yaudah, tapi sering-sering main ya kesini. Minggu depan kan kakakmu tunangan juga, jadi bagus jika kamu ada disini." Ujar Mama Erina.


"Iya, Ma. Nanti aku sama kak Cakra menginap deh," balas Rheana manggut-manggut.


Cakra mengusap puncak kepala istrinya, ia beralih menatap kedua mertuanya dengan sopan.


"Ma, Pa. Aku sama Rheana pamit pulang ya, titip salam untuk Ryan." Ucap Cakra lalu menyalami tangan kedua mertuanya bergantian.


"Hati-hati bawa mobilnya ya, Nak." Tutur Mama Erina yang dibalas senyuman oleh Cakra.


Rheana mencium tangan papa dan mamanya, ia akan sering main ke rumah keluarganya itu, apalagi sebentar lagi Velia akan bertunangan.


"Pa, Ma. Titip salam buat kak Velia, dia pasti lagi jalan-jalan sama pacarnya tuh." Ucap Rheana membuat kedua orang tuanya terkekeh.


"Iya, Rheana sayang." Balas Mama Erina lembut.


Cakra menuntun Rheana untuk meninggalkan rumah kedua orang tuanya, ia membukakan pintu untuk istrinya masuk ke dalam mobil, lalu di susul olehnya yang duduk di kursi kemudi.


Cakra menyalakan mesin mobil, ia kembali menatap istrinya yang sudah memejamkan mata.


"Mau, Kak. Mau makan ice cream gelato," jawab Rheana pelan.


"Iya, kita cari ya." Balas Cakra penuh perhatian.


Cakra menyetir mobil dengan sebelah tangan, sementara tangan lainnya di gunakan untuk mengusap perut bulat Rheana.


"Tangan kamu ngapain?" tanya Rheana melihat usapan Cakra yang lembut.


"Mau menyapa baby-nya, sekalian izin mau tengok nanti." Jawab Cakra jujur.


Rheana melotot, ia menjauhkan tangan suaminya dari perut.


"Siapa yang izinin kamu buat main kuda-kudaan lagi sama aku." Ketus Rheana melipat tangan di dadanya.


Cakra mengerutkan keningnya mendengar ucapan istrinya.


"Main kuda-kudaan? Kan aku bilang tadi mau nengok baby." Ujar Cakra bingung.


"Apa bedanya, sama aja. Ujungnya kamu minta jatah!" Balas Rheana sewot.

__ADS_1


Cakra tergelak, ia sekarang mengerti kemana arah jalan pikiran istrinya. Cakra bahkan sampai memegangi perutnya yang sakit akibat terus tertawa.


"Kenapa sih, jangan aneh-aneh ya." Ujar Rheana kesal.


Cakra memelankan kendaraannya, ia melirik sang istri kemudian memberikan kecupan di pipinya.


"Kamu lucu banget, kan maksud aku tengok baby itu USG, kamu kenapa mikirin jatah." Ucap Cakra sambil terus tertawa.


Rheana melotot, ia menatap suaminya dengan kesal. "Kamu pasti bohong!" Sahut Rheana tidak mau kalah.


Cakra menghentikan tawa kerasnya. "Bohong apa sih, Sayang. Kan emang kita mau tengok baby nanti kalo jadwalnya udah keluar, makanya aku izin dulu sama baby nya sekarang." Jelas Cakra lembut.


"Nggak, kamu pasti bohong. Kamu mau minta jatah kan? Mau ngajak aku main panas-panas di atas ranjang?!" cecar Rheana melototkan matanya.


"Emang kalo aku jawab iya, kamu mau ngasih?" Tanya Cakra menaik turunkan alisnya.


Rheana gelagapan, kenapa dirinya jadi salah tingkah dan gemetaran begini, padahal biasanya tidak.


"Nggak!" Tolak Rheana langsung pada intinya.


"Yah, terus kalo aku lagi mau gimana, Sayang?" tanya Cakra memelas.


"Ya nggak gimana-gimana." Jawab Rheana ketus.


"Nggak dosa kan perkaos istri sendiri?" tanya Cakra usil.


"Jahat kamu kalo berani kaya gitu, aku pecat jadi su–" Ucapan Rheana terhenti ketika Cakra menarik tengkuknya dan mendekatkan wajah mereka.


"Su apa? Suami? Enak aja! Nggak akan aku biarin." Tekan Cakra sebelum akhirnya menyatukan kedua belah bibir mereka.


Cakra tentu sudah menghentikan mobilnya sebelum mencium sang istri, ia tidak akan mungkin memilih mencium Rheana dalam keadaan mobil yang berjalan.


Ciuman Cakra turun ke arah leher dan menggigitnya hingga meninggalkan bekas cukup besar.


"Kamu–" Ucapan Rheana yang ingin protes terhenti karena Cakra.


"Berani ngumpat, aku cium lagi." Ancam Cakra yang tentu saja untung baginya sendiri.


Rheana mendengus, ia memilih untuk diam dan melipat tangan di dada daripada harus di paksa ciuman oleh sang suami.


LAHH NYOSOR MULU PERASAAN😌


Bersambung...........................


Mending cerai hidup atau cerai mati?? waduhh apa nih pertanyaannya aneh-aneh aja 🙈

__ADS_1


__ADS_2