
Rheana melirik suaminya dengan sinis, dan tidak bicara apapun. Hari ini ia sudah dibuat menangis oleh pria itu, ia kesal sekali dengan Cakra yang seenaknya memberi surat pisah padanya.
Cakra yang saat ini sedang asik menggendong putrinya tentu saja sadar akan tatapan istrinya yang tajam dan mengintimidasi.
Cakra tidak mempermasalahkan itu, namun ia akan membujuk sang istri setelah menidurkan anaknya. Yang terpenting sekarang adalah, ia telah jauh lebih tenang karena Rheana tidak mau cerai dengannya.
"Anak papa yang cantik, bobok yuk. Ini sudah malam lho, kasihan mama nunggu giliran buat papa puk puk biar bobok." Celetuk Cakra pada anaknya yang sudah memejamkan mata sejak tadi.
Rheana melototkan matanya mendengar ucapan Cakra yang membawa-bawa namanya, ia melengos saat melihat Cakra berjalan mendekatinya.
"Sayang, Ayla nya udah bobok." Ucap Cakra pelan.
Rheana segera mengambil alih untuk menggendong putrinya, ia merebahkan baby Ayla di ranjang seperti biasa.
Rheana belum tega jika harus menidurkan Ayla di box bayi. Baby itu masih butuh tidur dengan kedua orang tuanya.
Setelah melihat istrinya sudah menidurkan anak mereka, Cakra lantas duduk di sebelah istrinya sambil menggenggam kedua tangan wanita itu.
"Sayang." Panggil Cakra lembut.
"Apa sih." Sahut Rheana sewot.
Cakra tertawa, ia selalu gemas mendengar suara Rheana jika sedang marah, apalagi wajahnya tambah cantik ketika sedang kesal begini.
"Cantik banget mama Rhea, sampai aku bayangin kalo kamu pakai gaun pengantin bakal secantik apa ya." Celetuk Cakra seraya menciumi punggung tangan istrinya.
Rheana tersenyum malu-malu, ia tidak tahu apa maksud kata-kata suaminya barusan, yang jelas ia menyukainya.
"Kamu pintar buat aku malu ya, Mas. Udah ah, sana tidur!" tutur Rheana tanpa mau menatap suaminya.
Cakra menangkup wajah cantik istrinya, sampai kini wajahnya dan wajah Rheana saling berhadapan.
"Kalo ngomong itu, suaminya di tatap." Ucap Cakra lalu mengecup cepat bibir istrinya.
Rheana tersenyum, ia memejamkan matanya saat bibir Cakra menempel singkat di bibirnya.
__ADS_1
"Kenapa cuma sebentar?" tanya Rheana menyipitkan matanya.
Cakra tertawa gemas, ia lantas mencium bibir istrinya lagi. Bukan sekedar kecupan seperti tadi, melainkan lumatann pernah perasaan tanpa diimbangi dengan napsu didalamnya.
Rheana mengalungkan tangannya di leher sang suami, ia cukup senang melihat hari ini Cakra banyak tersenyum.
Rheana tahu bahwa suaminya bahagia karena mereka tidak jadi bercerai, dan ia pun sama bahagianya. Kini Rheana tidak akan membiarkan rumah tangga mereka kembali goyah.
"Ayla nya di box baby aja ya, aku mau tidur sambil peluk kamu erat-erat." Pinta Cakra memelas.
Rheana tidak menjawab, ia meletakkan guling di pinggir ranjang, lalu menggendong dan menggeser posisi Alya lebih ke pinggir dari sebelumnya hingga kini ada space yang muat untuk dirinya dan Cakra.
"Kasihan Ayla dong, masa bobok sendiri." Ucap Rheana seraya merebahkan diri di samping putri kecilnya.
Rheana menoleh saat Cakra tidak ikut berbaring. "Sini, katanya mau peluk." Tutur Rheana.
Cakra tersenyum manis, ia pun merebahkan diri di sebelah istrinya yang posisinya memunggunginya. Cakra melingkarkan tangannya di pinggang sang istri dan mendekapnya erat.
"Makasih untuk kesempatannya, Sayang." Bisik Cakra seraya mencium rambut istrinya dengan sayang.
"Sama-sama, Mas. Sekarang, kita akan benar-benar memulai hidup kita dengan penuh suka cita." Balas Rheana lembut.
Cakra semakin mengeratkan pelukannya, tidak ada yang lebih nyaman dibanding memeluk tubuh istrinya erat-erat seperti ini.
"Malam, Sayang." Bisik Cakra seraya menghadiahi kening istrinya dengan kecupan.
"Malam juga, Mas." Balas Rheana.
Mereka berdua pun tidur dengan saling berpelukan, tanpa memindahkan Ayla ke box bayi. Rheana tidak akan tega melakukan itu.
Sementara itu di tempat lain, terlihat sepasang suami istri yang juga sudah berbaring diatas ranjang dengan saling berpelukan.
Tangan si pria yang mengusap perut istrinya membuat gelenyar nyaman memenuhi tubuhnya.
"Sayang, aku mau makan mie pedas." Ucap Velia pelan.
__ADS_1
Fikri yang sudah memejamkan matanya lantas terbuka kembali, ia menunduk guna melihat wajah sang istri yang sedang menginginkan sesuatu.
"Aku buatin dulu ya, kamu tunggu sini." Tutur Fikri tanpa banyak protes.
Velia menggeleng, ia ingin ikut dengan suaminya ke dapur untuk memasak mie. Memang sesekali Velia yang mengalami ngidam, tapi Fikri lebih sering mengalaminya.
"Aku mau ikut." Pinta Velia dengan manja.
Fikri tersenyum, ia lantas menggendong istrinya dan mengajaknya keluar dari kamar.
"Aku bisa jalan sendiri tahu." Cetus Velia namun malah dihadiahi kecupan di bibir oleh suaminya.
"Ngapain, kan ada aku yang siap gendong kamu." Timpal Fikri sembari tertawa.
Velia mencubit pipi suaminya gemas, ia bahagia sekali dengan pernikahannya bersama Fikri. Pria itu terlihat sangat mencintainya, apalagi setelah dirinya hamil.
Kebahagiaan Velia semakin besar tatkala mendengar kabar bahwa adiknya tidak jadi meminta cerai dari Cakra.
"Mas, kamu udah dengar belum Rheana batal minta cerai?" tanya Velia saat Fikri sudah mendudukkannya di kursi meja makan.
"Sudah, Sayang." Jawab Velia.
"Aku bahagia banget, sekarang adik aku udah nggak perlu sedih lagi, dia sudah mendapatkan kebahagiaannya." Ujar Velia dengan tulus.
Fikri tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. "Aku tahu kamu bahagia dengar nya, dan aku juga tahu kamu bahagia kan nikah sama aku." Timpal Fikri dengan percaya diri.
"Sangat, aku sangat-sangat bahagia menikah dengan kamu." Ungkap Velia membuat Fikri tersenyum lebar.
Fikri mendekat, ia menunduk lalu mencium kening Velia dengan penuh kasih sayang. Fikri berjanji akan selalu membahagiakan istrinya ini.
Velia pun berjanji akan selalu berbakti kepada suaminya, dan membuat pria itu bahagia. Ia akan menjadi istri dan ibu yang baik untuk keluarganya.
DUH MANIS-MANIS BANGET KAYA AUTHOR NYA 🖤🤣
Bersambung..........................
__ADS_1