
Rheana sedang duduk di ruang tamu seorang diri sambil menunggu Abel yang katanya mau datang untuk meminta bantuannya.
Ayla sedang bersama neneknya di kamar, semenjak suaminya pergi ke kantor. Rheana merasa sepi, tapi untungnya Abel mau datang.
Tidak lama kemudian orang yang ditunggu pun datang, gadis itu tersenyum lalu mendekati Rheana yang menyambutnya dengan baik.
"Kak Rheana, maaf ya aku ganggu waktu kamu." Ucap Abel setelah menyalami tangan kakak iparnya.
"Nggak apa-apa dong, tapi emang kamu mau minta tolong apa?" Tanya Rheana dengan lembut.
"Begini, Kak. Aku kan bekerja paruh waktu sebagai event organizer gitu, nah aku dapat tugas dari senior aku di tempat kerja." Jawab Abel berusaha untuk tetap tenang.
"Tugas apa?" Tanya Rheana penasaran.
"Sebentar, Kak." Jawab Abel lalu mengambil ponselnya dari dalam tas.
Abel memperlihatkan beberapa desain dekorasi pernikahan kepada Rheana yang terlihat begitu tertarik melihatnya.
"Kata seniorku, aku di suruh pikirkan konsep mana yang bagus untuk acara resepsi. Kakak tahu, aku bingung sekali." Ucap Abel mengeluh sedih.
Rheana tersenyum manis, ia mengambil ponsel Abel lalu mulai mencari-cari dekorasi yang bagus untuk acara pernikahan.
"Mudah saja, Abel. Kamu anggap saja kamu yang akan meikah, dan pasti kamu menemukan dekorasi yang bagus." Jelas Rheana lalu memberikan ponsel Abel kembali.
"Kalo seandainya kak Rhea menikah dan mengadakan resepsi lagi, kira-kira dekorasi yang mana yang akan kakak pilih?" Tanya Abel sambil melirik Rheana.
"Aku?" Tanya Rheana seraya menggeser layar ponsel Abel.
Rheana menekan sebuah gambar dekorasi perpaduan antara putih dan abu-abu. Menurut Rheana kedua warna itu terlihat sangat serasi dan mewah.
"Kenapa kakak pilih itu?" tanya Abel penasaran.
"Aku suka saja, sejak dulu aku selalu menginginkan pesta pernikahan yang bertema abu-abu begini. Terlihat elegan dan mewah." Jawab Rheana menjelaskan.
Abel manggut-manggut, ia pun melihat nomor dekorasi yang ada di ujung foto lalu mengingatnya untuk ia sampaikan kepada Cakra nanti.
"Tapi kak, masih ada lagi yang perlu Kakak bantu, dan ini masih terkait pesta pernikahan." Ucap Abel dengan melas.
Rheana tertawa, ia mengusap kepala Abel pelan.
"Hei, jangan begitu. Wajahmu lebih cantik saat tersenyum." Tegur Rheana.
"Baiklah, aku akan membantu. Apalagi yang harus aku bantu?" Tanya Rheana dengan cepat.
"Sekarang gaun, Kak. Kakak mau lihat fotonya dulu lalu pergi ke butik tidak?" tanya Abel pelan.
__ADS_1
"Harus banget ke butik, bukannya di foto juga bisa?" Tanya Rheana heran.
Abel gelagapan, ia tidak mau jika rencana calon kakak iparnya gagal hanya karena ia tidak becus melakukan tugasnya.
"Bisa, Kak. Kakak mau lihat foto saja?" tanya Abel dan Rheana mengangguk.
Abel pun segera menunjukkan beberapa foto gaun pernikahan mewah. Sangat cantik dan enak di pandang.
"Gaun mana yang menurut kakak cocok?" Tanya Abel.
"Cocok untuk apa?" tanya Rheana semakin bingung.
"Eumm, cocok dengan desain yang tadi kakak pilih. Aku akan menjadikan jawaban kakak sebagai jawabanku ke seniorku, Kak." Jawab Abel benar-benar gugup.
Rheana menghela nafas, ia tidak tahu dimana Abel bekerja sampai butuh jawaban atas pertanyaan ini semua.
Tapi karena tidak mau membuat Abel sedih, maka Rheana siap menjawabnya.
"Karena dekorasinya putih dan abu-abu, mungkin gaun yang cocok ini." Jawab Rheana menunjuk sebuah gaun pengantin yang sangat mewah.
Gaun berwarna abu-abu soft tanpa lengan, dengan hiasan payet seperti mutiara di seluruh bajunya. Bagian bawah gaun yang mekar akan membuat siapa saja yang memakainya bak seorang putri raja.
"Pilih dua, Kak." Ucap Abel dengan cepat.
"Apa?" tanya Rheana kurang jelas.
"Yang ini." Tunjuk Rheana pada gaun putih sederhana yang membentuk badan siapa saja yang memakainya.
Gaun itu tidak mekar seperti gaun sebelumnya, namun masih terlihat sangat mewah dengan hiasan-hiasan mahal yang ada pada gaun tersebut.
"Astaga!!" pekik Abel tiba-tiba.
"Ada apa?" Rheana yang terkejut langsung bertanya kepada calon adik iparnya itu.
Abel tersadar, ia terlalu senang karena tugasnya sudah selesai, sampai ia membuat Rheana terkejut.
"Tidak, Kak. Aku hanya kagum dengan selera kakak yang sangat bagus." Jawab Abel seadanya.
Rheana tersenyum lagi, ia merasa lucu dengan tingkah Abel hari ini yang biasanya malu-malu, kini sudah mulai terbuka.
"Sejak dulu aku menginginkan sebuah pesta mewah begini, tapi ya sudahlah." Jelas Rheana singkat.
Abel menatap Rheana dengan nanar, kakak dari kekasihnya ini termasuk orang yang sangat sabar, dan tidak pernah neko-neko.
Keluarga Ryan adalah keluarga kaya, begitupula dengan keluarga Cakra. Tapi Rheana tidak pernah sekalipun meminta sebuah pesta pernikahan yang mewah dan megah.
__ADS_1
Untungnya Cakra berinisiatif untuk membuat pesta ini, dan mengabulkan keinginan istrinya tanpa diketahui langsung oleh Rheana sendiri.
"Kak, jika nanti aku masih butuh bantuan. Kakak mau bantu aku?" tanya Abel.
"Tentu saja, tapi kamu bekerja dimana?" tanya Rheana balik.
"Salah satu event kecil-kecilan, Kak. Kami mengambil contoh dekorasi sebagai referensi saja." Jawab Abel benar-benar kebingungan.
Rheana hendak bertanya lagi, namun ia mendengar suara tangisan putrinya.
"Ya ampun, Ayla." Rheana bangkit dari duduknya lalu mengambil alih untuk menggendong Ayla.
"Maaf ya, Ma. Ayla nya rewel," kata Rheana tidak enak hati.
"Nggak apa-apa, Sayang." Balas Mama Mila.
Mama Mila melirik Abel, ia mengangguk pelan ketika paham arti tatapan dari gadis itu.
Ya, saat ini semua orang sudah tahu rencana Cakra, hanya Rheana saja yang belum mengetahui tentang pesta yang dibuat oleh suaminya.
"Susuin dulu gih Ayla nya, Rhe." Tutur Mama Mila.
"Tapi Abel …" Rheana menggantung ucapannya lalu menatap Abel.
Abel tersenyum, ia bangkit dari duduknya.
"Aku, aku harus pergi kak. Pekerjaanku masih banyak," ucap Abel lembut.
"Tapi kamu belum minum apa-apa, Abel." Timpal Rheana.
"Aku akan minum lain kali, Kak. Lagipula aku kan akan sering main kesini," sahut Abel dengan jelas.
Abel pun berpamitan dengan Rheana dan juga mama Mila, ia bisa gawat jika terus berada di rumah Rheana, karena kakaknya itu pasti akan terus bertanya dan ia semakin tidak bisa menjawabnya.
Setelah di luar rumah Dharmawan, Abel mengusap dadanya lega. Ia buru-buru mendekati mobil dimana ada kekasihnya di dalam.
"Aman, tugasku sudah selesai." Ucap Abel dengan bahagia.
Ryan mengusap kepala kekasihnya.
"Makasih ya sudah mau bantu menyiapkan semuanya." Kata Ryan dengan lembut.
Abel mengangguk, ia memeluk lengan Ryan dan menyandarkan kepalanya di bahu pria itu.
"Sama-sama, Ryan. Aku bahkan sangat bahagia bisa membantu," ujar Abel dengan jujur.
__ADS_1
NENG ABEL NYARIS KETAHUAN 😫😫
Bersambung.......................................