
Ryan mengantarkan Abel pulang tepat saat jam menunjukkan pukul 10 malam. Gadis itu terlalu asik mengobrol dengan kedua orang tua Ryan, sehingga lupa waktu.
Kini Ryan sudah ada di depan kost-an Abel. Abel tidak langsung masuk, melainkan mengobrol sebentar dengan Ryan yang kini duduk di kap mobilnya.
"Ngapain lo senyum-senyum?" tanya Ryan menyipitkan matanya.
"Aku lagi senang, soalnya mama papa kamu baik banget. Aku kira mereka nggak akan bolehin kamu temenan sama aku, Ryan." Jawab Abel dengan jujur.
Ryan tergelak, sungguh polos sekali gadis di depannya ini. Jangankan menjadi teman, andai kata Ryan merengek minta dinikahkan olehnya, sudah pasti di kabulkan.
Bukan karena Ryan di manjakan, tetapi karena selama ini Ryan tidak pernah membawa gadis ke rumah, apalagi mengenalkannya kepada orang tua.
"Abel, lo gemesin banget sumpah!" ujar Ryan lalu mencubit kedua pipi Abel.
"Dengerin ya Anabel. Jangankan jadi teman, kalo gue minta dinikahin sama lo sekarang juga, pasti mama papa gue setuju." Lanjut Ryan dengan yakin.
"Kenapa gitu?" tanya Abel dengan wajah yang sudah merah seperti tomat.
"Kamu nanyea? Kamu bertanyea-tanyea?" Ryan menyahut dengan ucapan yang sedang hits saat ini.
Abel berdecak, ia memukul bahu Ryan pelan, namun membuat pria itu meringis.
"Jangan gitu ah, aku nggak suka!" tegur Abel geleng-geleng kepala.
"Iya-iya, Sayang." Balas Ryan dengan lembut.
"Jadi kenapa kamu yakin kalo mama papa kamu bakal langsung nikahin kita?" tanya Abel lagi.
"Soalnya dari dulu, anak mereka ini nggak pernah bawa gadis pulang ke rumah, apalagi di kenalin." Jawab Ryan menjelaskan.
"Kamu suka perempuan nggak sih, Ryan? Kok aneh, cowok sekelas kamu yang ganteng masa nggak pernah bawa cewek pulang ke rumah buat di kenalin." Ledek Abel tertawa.
Ryan memegang tangan Abel, ia tersenyum lalu menatap wajah gadis itu dengan hangat dan serius.
"Lo nanya gue suka sama perempuan atau nggak?" tanya Ryan serius.
"Sekarang gue tanya balik, lo perempuan atau bukan?" tanya Ryan lagi sambil mengusap-usap punggung tangan Abel.
"Iya dong, aku perempuan tulen." Jawab Abel.
"Yaudah, berarti gue suka perempuan." Ujar Ryan lalu melepaskan genggaman tangannya.
Abel terdiam, ia berusaha mencerna ucapan Ryan barusan. Namun belum sempat ia bertanya, sebuah suara membuat mereka menoleh.
__ADS_1
"Wah-wah, ada yang lagi enak pacaran nih." Ucap pria yang datang dengan wajah kriminalnya.
"Rizi, mau apa kamu kesini?" tanya Abel terkejut sekaligus takut.
Ryan bangkit dari duduknya, ia menarik tangan Abel agar berlindung di belakang punggungnya. Ryan tidak akan membiarkan Rizi menyakiti Abel.
"Ohh rupanya mau berlagak jadi pelindung?" tanya Rizi tersenyum meremehkan.
"Mau apa lagi lo kesini?" tanya Ryan tidak bersahabat.
"Mau ngajak Abel pulang, dia kan pacar gue. Nggak mau lo kemana-mana bawa pacar orang." Jawab Rizi.
"Pacar? Heuh, lo nggak pernah jadi pacar Abel. Selama ini lo cuma siksa dia kalo lo lupa." Balas Ryan tersenyum meremehkan.
Rizi tidak menjawab, ia menolehkan kepalanya agar bisa melihat Abel yang berlindung di belakang punggung Ryan.
"Abel sayang, ayo pulang sama gue. Jangan bikin gue marah dan lakuin hal gila ya." Ajak Rizi dengan suara lembut yang menakutkan.
"Nggak! Aku nggak mau, Rizi. Sudah cukup, aku juga udah nggak butuh bantuan kamu lagi. Pergi dari sini!" Balas Abel menolak tanpa menatap Rizi.
Rizi mengepalkan tangannya. "Belagu lo ya! Mentang-mentang udah ketemu orang baru, lo jadi nggak tahu terima kasih!" sarkas Rizi dengan emosi.
"Jaga mulut lo ya." Tegur Ryan pelan.
"Nggak usah ikut campur lo!" balas Rizi sewot.
"Jangan berani sentuh Abel, Brengsekk!" umpat Ryan sudah hilang kesabaran.
Rizi tersenyum simpul, ia merogoh jaketnya dan mengeluarkan sebuah belati kecil.
"Kasih Abel ke gue, atau gue bunuh kalian berdua." Ancam Rizi dengan pelan, namun banyak ancaman.
Ryan tergelak, berani sekali pria itu mengancam Ryan Chandrama.
"Lo pikir gue takut? Maju lo!" pinta Ryan menantang.
Terjadilah aksi pukul-pukul antara Ryan dan Rizi, Abel berusaha untuk mencari pertolongan, namun belum ada yang datang. Bahkan disaat genting seperti ini, entah kemana perginya penjaga kostnya.
"Ryan, udah!!" teriak Abel ketika melihat Ryan memukuli Rizi dengan membabi buta.
Ryan menghentikan pukulannya, ia mencengkram jaket Rizi dengan tatapan penuh kebencian.
"Kalo lo berani ganggu Abel, apalagi berani sentuh dia. Mati lo sama gue!" Ancam Ryan tidak main-main.
__ADS_1
Tidak lama setelah itu, beberapa orang bapak-bapak datang. Mereka melerai Ryan dan Rizi yang masih saling pandang dengan tajam.
Ryan mendekati Abel, ia memeluk bahu gadis itu yang kini tengah menangis.
"Sstttt … udah jangan nangis, dia pasti bakal dapat pelajarannya." Bisik Ryan dengan lembut.
Abel memeluk Ryan erat, menangis dalam pelukan pria yang ia jadikan sebagai tempat berlindung.
Sementara Rizi, ia benar-benar panas melihat Ryan memeluk kekasihnya dengan sangat erat. Rizi memberontak sehingga pegangan di tangannya terlepas.
Sambil memegang belati kecil yang ia bawa, Rizi mendekat dan langsung menusuk punggung Ryan.
"Akhhhh!!!" teriak Ryan kesakitan.
"RYAN!!!" penggil Abel histeris.
Abel memegangi punggung Ryan yang mengeluarkan darah, dan perlahan-lahan pria itu mulai merosot dan jatuh ke tanah.
"Hiks … Ryan, kamu harus baik-baik aja." Ucap Abel dengan tangan yang penuh dengan darah Ryan.
Ryan semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Abel.
"Abel, gue suka sama lo. Gue cinta sama lo, lo nggak akan gue biarin terluka sedikitpun." Bisik Ryan sebelum akhirnya tidak sadarkan diri dalam pelukan Abel.
"RYAN, RYAN BANGUN!!" pinta Abel semakin histeris.
"Pak, tolong pak!! Bawa Ryan ke rumah sakit." Pinta Abel sambil menangis.
Sementara Rizi, pria itu sudah di bawa oleh beberapa warga untuk di serahkan kepada polisi. Rizi telah melakukan kekerasan di depan umum, dan mereka semua siap menjadi saksi.
"Hiks … Ryan, kamu harus baik-baik aja." Ucap Abel sambil menangis.
Saat ini ia dan Ryan sudah ada di dalam mobil pria itu. Salah satu warga yang menyetir mobil, dan akan membawa mereka ke rumah sakit.
"Ryan, aku juga cinta sama kamu. Kamu harus baik-baik aja, aku nggak akan bisa maafin diri aku jika sampai terjadi sesuatu sama kamu." Lirih Abel seraya terus memegangi punggung Ryan yang terus mengeluarkan darah.
Dress biru Abel kini sudah penuh dengan noda darah Ryan. Abel tidak peduli itu, yang terpenting sekarang adalah keselamatan Ryan.
Selama perjalanan itu, Abel tidak hentinya menangis. Ia merasa sangat bersalah karena apa yang terjadi pada Ryan ini adalah salahnya.
Seharusnya ia tadi ikut dengan Rizi, sehingga Ryan tidak perlu terluka parah begini.
"Ryan." Panggil Abel lirih.
__ADS_1
RYAN, KAMU MAH BIKIN ABEL SEDIH😫😫😫
Bersambung.........................