
Jam menunjukkan pukul 2 dini hari, seorang wanita terlihat tidak henti bolak-balik ke kamar mandi karena merasakan sakit di perutnya.
Rheana menangis, ia sejak tadi tidak hentinya mengubah posisi berharap rasa sakit perutnya bisa menghilang.
Cakra pun dengan setia menemani istrinya, ia terbangun saat merasakan pelukan ditubuh istrinya terlepas, dan kini kalang kabut sendiri melihat Rheana yang terlihat begitu kesakitan.
Cakra kini sedang menghubungi dokter kandungan istrinya, dan dokter menyarankan agar segera membawa Rheana ke rumah sakit, khawatir akan segera melahirkan.
"Akhhh, hiks … sakit, Mas!!" tangis Rheana pelan sambil terus memegangi perutnya.
Cakra mendekati istrinya, ia mengusap-usap pinggang bagian belakang Rheana dengan lembut.
"Sayang, aku habis telepon dokter. Kita ke rumah sakit sekarang ya," ajak Cakra seraya berjalan ke lemari pakaian untuk mengambilkan jaket istrinya.
"Aduh … shh, sakit banget Mas. Nggak kuat," ucap Rheana sambil mengusap perut, lalu pindah ke pinggang.
Cakra datang membawa jaket, ia memakaikan istrinya lalu segera menggendong sang istri keluar dari kamar.
"Mas, nggak kuat. Ini sakit banget, hiks …" lirih Rheana seraya meremat kaos yang dipakai oleh suaminya.
"Ssstt … Sayang nggak boleh ngomong gitu, kamu pasti kuat." Balas Cakra pelan.
Cakra pun pergi dari rumah tanpa memberitahu kedua orang tuanya, namun ia menitip pesan kepada penjaga agar memberitahu kedua orang tuanya. Takutnya nanti di rumah sakit, Cakra hanya fokus kepada Rheana saja dan lupa memberitahu orang tua dan mertuanya.
Selama perjalanan, Rheana masih menangis sambil meringis. Mereka tidak tahu apakah ini ingin melahirkan atau apa, sebab tidak ada cairan apapun yang keluar dari jalan lahir Rheana seperti tanda-tanda akan melahirkan.
Cakra menggenggam sebelah tangan istrinya, baru semalam ia bisa membuat Rheana bahagia, dan sekarang Rheana sudah kembali menangis karena rasa sakit.
Cakra tentu saja sedih, ia pernah bilang kan, jika bisa, maka Cakra mau dirinya saja yang merasakan sakitnya.
Karena jalanan yang sepi dan lancar, Rheana dan Cakra sampai di rumah sakit tidak terlalu lama. Saat sampai di lobby, mereka sudah ditunggu oleh dokter kandungan Rheana dan 2 orang suster yang membawa bangsal.
Cakra menggendong istrinya keluar dari mobil, ia lalu membaringkan tubuh Rheana di atas bangsal dan langsung didorong olehnya bersama suster.
"Sayang, tenang ya. Kita sudah di rumah sakit, kamu dan anak kita akan baik-baik aja." Bisik Cakra tanpa mau melepaskan genggaman tangan istrinya.
"Hiks … sakit banget, Dokter!" ucap Rheana kepada dokter kandungannya sekaligus temannya.
"Sabar, Nyonya. Kami akan memeriksanya," timpal Becca pelan.
Sampai di ruang periksa, Cakra masih belum melepaskan genggaman tangannya, apalagi kini Rheana seperti meremassnya.
"Akhhh, sakit banget Mas." Ucap Rheana pelan.
__ADS_1
"Sayang, aku disini. Aku ada buat kamu sama anak kita, baby peachyyy nanti sedih kalo lihat mamanya nangis." Bisik Cakra seraya mengusap-usap kepala istrinya.
Rheana masih menangis, dan Cakra terus berusaha menguatkan istrinya. Ia mencium kening Rheana, mengusap perut dan pinggang bagian belakang istrinya.
"Nyonya Rheana, masih harus menunggu sampai pembukaannya lengkap ya. Ini baru pembukaan 6," ucap dokter Becca setelah memeriksa Rheana.
"Berapa lama, Dok? Sakit banget," tanya Rheana dengan nafas terengah-engah.
"Sebentar lagi ya, Nyonya jangan mengejan dan tahan ya." Jawab Dokter Becca menjelaskan.
Rheana menganggukkan kepalanya pelan, namun ia tidak bisa untuk tidak meringis, karena rasanya benar-benar sakit.
Rheana kini tahu mengapa perjuangan seorang ibu tidak boleh dilupakan, karena saat melahirkan, banyak rasa yang diterima oleh seorang ibu.
"Sayang, sabar ya. Aku nggak bisa berbuat banyak. Coba aja bisa, lebih baik sakitnya kasih ke aku," bisik Cakra karena terlalu tidak tega dengan istrinya.
"Mau minum, Mas. Bisa tolong ambilkan air," pinta Rheana pelan dengan nafas yang terengah-engah dan sesak.
"Iya, Sayang. Sebentar aku beli ya, kamu nggak apa-apa ditinggal?" tanya Cakra lembut.
Rheana hanya mengangguk, ia mengusap perutnya sambil terus berbisik doa agar bisa melewati proses melahirkan ini dengan lancar.
Cakra merasa beruntung sebab penjual air mineral tidak jauh, ada minimarket mini di dalam rumah sakit yang menjual air dan beberapa camilan.
Cakra pun langsung pergi, ia sampai berlari karena takut istrinya membutuhkan sesuatu.
"Sayang." Panggil Cakra seraya membuka pintu kamar rawat.
Cakra mendekati istrinya, ia membuka penutup botol air lalu membantu Rheana untuk meminumnya.
Berjam-jam sudah berlalu sejak Rheana merasakan kontraksi di perutnya, namun sampai sekarang dokter belum mengambil tindakan, sebab pembukaannya belum lengkap.
Jam menunjukkan pukul 6 pagi, itu artinya sudah 4 jam mereka di rumah sakit dan Rheana belum juga ditangani. Rheana masih saja menangis dan meringis kesakitan, bahkan Cakra sampai menangis melihatnya.
"Sayang, kamu kuat ya. Ya ampun, aku nggak bisa lihat kamu kesakitan gini." Ucap Cakra seraya menyeka air matanya.
Rheana menatap sang suami yang menangis, tangan wanita itu terulur untuk menyeka air mata suaminya.
"Mas, aku kan udah pernah bilang. Aku nggak suka lihat kamu sedih, nanti aku sama baby ikutan sedih." Ucap Rheana sedikit terbata.
Cakra tidak menjawab, pria itu malah menunduk lalu mencium kening istrinya, dan memeluk wanita itu dengan hangat.
Setelah beberapa saat, pelukan mereka terlepas ketika ponsel milik Cakra berdering. Tertera nomor telepon rumah disana, buru-buru Cakra mengangkatnya.
__ADS_1
"Cakra, kamu sama Rheana pergi kemana pagi-pagi?" Tanya Mama Mila dari seberang sana.
"Rheana akan segera melahirkan, Ma. Di rumah sakit X ya,"
"APA!! Iya-iya, mama kesana sekarang sama orang tua Rheana."
Setelah mengucapkan itu, telepon pun diputuskan sepihak. Tentu saja mama Mila yang memutuskan panggilan mereka.
"Akhhh, Mas. Mas … panggil dokter, aku udah nggak tahan lagi." Pinta Rheana mencengkram dan sedikit mencakar tangan suaminya.
Cakra segera menekan tombol yang ada di tembok, tombol yang digunakan untuk memanggil dokter.
Tidak lama kemudian dokter pun datang bersama suster, dokter itu kembali memeriksa Rheana dan ternyata pembukaannya sudah lengkap.
"Suster, siapkan alat-alatnya ya." Ucap dokter kepada rekan kerjanya.
"Nyonya, pembukaannya sudah lengkap. Tahan ya," Ujar dokter Becca kepada Rheana.
Rheana tidak menjawab, wanita itu sedang merasakan sakit yang teramat di perutnya dan seluruh tubuhnya.
"Nyonya Rheana, siap?" Tanya dokter dan Rheana berusaha untuk mengangguk.
"Mengejan saat hitungan ke tiga ya, Nyonya. Satu, dua, tiga. Dorong!!" ucap dokter memberikan instruksi kepada Rheana.
Rheana berpegangan pada pinggiran bangsal dan juga tangan suaminya. Rheana mengejan sekuat-kuatnya.
"Sedikit lagi, ayo lagi Nyonya." Kata dokter Becca menyemangati.
Rheana menarik nafas dan membuangnya, ia kembali mengejan kencang bahkan sampai kepalanya terangkat.
"Sayang, kamu bisa, aku disini." Bisik Cakra seraya mengusap keringat di kening istrinya.
Rheana mengulangi hal yang sama, ia pun mengejan dibarengi teriakan sekeras-kerasnya.
Tangisan bayi langsung pecah dibarengi dengan Rheana yang terlihat begitu lemas dengan nafas yang masih tersengal-sengal.
Suster membawa bayi berlumuran darah itu untuk dibersihkan, sementara dokter harus menjahit jalan lahir Rheana yang robek.
"Sayang, anak kita lahir. Baby peachyy kita lahir Sayang." Bisik Cakra dengan air mata yang tidak bisa dibendung lagi.
"I-iya, Mas." Balas Rheana pelan.
BABY NYA APA YAAA??
__ADS_1
Bersambung............................