
Dua bibir saling menyatu, dengan tangan yang mulai membuka satu persatu lembar pakaian yang melekat ditubuh masing-masing.
Suasana dingin ac dan cuaca hujan diluar sana kini berubah menjadi panas, akibat sepasang suami istri yang sedang memadu kasih di atas ranjang.
Rheana berada di bawah kungkungan pria yang merupakan suami sahnya. Matanya terpejam saat bibir Cakra terus menelusuri leher jenjang dan bahunya yang sudah terbuka.
Cakra berhenti menciumi leher istrinya, ia mengangkat wajah dan menatap dalam mata Rheana yang terpejam.
Dalam hati Cakra tidak henti berdecak kagum, memandangi wajah cantik Rheana yang tiada tara. Baginya, Rheana adalah wanita paling cantik.
"Sayang, kamu yakin?" tanya Cakra seraya membelai pipi istrinya.
Rheana perlahan membuka matanya, ya menatap manik hitam Cakra yang mempesona. Cakra yang sudah bertelanjang dada begini membuat penampilannya begitu menggoda iman nya.
"Hmmm." Balas Rheana berdehem.
Cakra tersenyum simpul, ia tahu bahwa Rheana itu malu untuk bicara. Tidak mau membuat istrinya semakin tidak nyaman, Cakra memilih untuk menikmati bibir semanis cherry itu.
Rheana membalas pangutan bibir suaminya. Bibir panas Cakra akibat suhu tubuhnya membuat Rheana semakin bersemangat. Namun Rheana kalah ketika Cakra menggigit bibirnya.
"Ashhhh …" ringis Rheana dibarengi dengan suara indahnya.
Cakra merasa malam ini sangat indah. Diluar sedang hujan deras, sementara dirinya dan Rheana kini sedang memadu kasih di atas ranjang yang mulai panas.
"Ahhh, Kak!!" teriak Rheana seraya menjambak rambut Cakra ketika bibir pria itu hinggap di dadanya.
Cakra kembali melanjutkan penjelajahannya, ia kini turun ke perut Rheana yang bulat.
"Baby, papa mau main dulu sama bunda kamu ya." Bisik Cakra seraya mengusap dan membubuhkan ciuman penuh kasih sayang di perutnya.
Cakra semakin turun, ia menekuk kedua kaki Rheana yang seputih susu lalu menarik kain segitiga yang menutupi aset paling pribadi miliknya.
"Kak, jangan disana." Ucap Rheana dengan terengah-engah.
Cakra tidak menghiraukan, ia tetap melakukan aktivitasnya tanpa peduli dengan teriak penuh kenikmatan dari bibir istrinya.
Suara lenguhan dan teriakan kenikmatan Rheana bagai melodi yang mengalun indah di telinga Cakra.
Cakra puas bermain di bawah, ia kembali menjelajahi bibir istrinya dan menghisapnya penuh nafsu.
"Emhhhh … Kak, a-aku nggak tahan." Ujar Rheana dengan terbata dan nafas terputus-putus.
Mendengar hal itu, Cakra pun mulai memasukkan miliknya ke dalam pusat sang istri. Akhirnya malam ini ia bisa kembali merasakan kenikmatan dan kehangatan tubuh istri yang ia cintai.
__ADS_1
Cakra bergerak tidak terlalu cepat, ia masih punya akal sehat untuk bergerak kasar dalam kondisi Rheana yang sedang hamil begini.
Cakra tidak mau membuat Rheana ataupun bayi mereka kesakitan. Kenyamanan adalah yang utama.
Permainan malam itu terasa sangat nikmat. Aktivitas panas ini sudah lama tidak mereka lakukan, dan akhirnya rindu ini terbayarkan dengan puas.
Cakra menjatuhkan tubuhnya ke samping Rheana, ia menarik wanita itu ke dalam pelukannya, dan mendekapnya erat.
"Makasih ya, Sayang." Bisik Cakra seraya mengusap perut Rheana dan mencium keningnya hangat.
Rheana tidak menyahut, ia sudah sangat lelah dan mengantuk, sehingga tertidur ketika permainan selesai tadi.
Cakra tersenyum, ia mencium pipi Rheana dan ikut tidur menyusul istrinya. Malam ini bukan hanya indah, tetapi nikmat dan panas.
***
Keesokan harinya, Cakra bangun dari tidurnya dan tidak menemukan istrinya di sebelahnya. Ia turun dari ranjang, dan merasakan bahwa tubuhnya sudah kembali fit.
Menurut Cakra, aktivitasnya dan Rheana semalam benar-benar obat untuk menyembuhkan demamnya.
Cakra tersenyum lebar jika mengingat kejadian semalam, ia suka sekali melihat ekspresi penuh kenikmatan Rheana.
"Aku bisa gila karena kamu, Sayang." Gumam Cakra.
Cakra beranjak dari tempat tidur, ia langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Cakra berdiri di depan cermin. Ia melihat wajahnya benar-benar berseri pagi ini. Jangan tanya kenapa, karena kalian semua tahu alasannya.
Cakra mengambil pakaian di dalam lemari, ia harus pergi mengantar Rheana ke rumah sakit, sebelum ke kantor nanti.
Rheana memakai setelan formal seperti biasa. Kemeja putih dan jas tanpa dasi. Setelah merapikan penampilannya, barulah Cakra keluar dari kamar.
"Dimana ya istriku tersayang." Celetuk Cakra sambil terkikik sendiri.
Cakra menuruni anak tangga sambil bersiul, hal itu membuat para pekerja di rumah Dharmawan menjadi keheranan.
"Lagi senang kayanya den Cakra." Bisik seorang art, yang dibalas anggukan setuju oleh temannya.
Cakra pergi ke meja makan, namun ia tidak menemukan siapapun disana. Cakra pun di beritahu oleh art, katanya Rheana dan orang tuanya sedang sarapan di taman belakang.
Cakra lantas melangkah kesana. Dari kejauhan Cakra bisa mendengar suara tawa istrinya yang begitu lepas, hal itu membuat Cakra semakin tidak sabar untuk sampai.
Ketika sampai di pintu penghubung antara rumah dan taman belakang, ia bisa melihat Rheana tertawa karena candaan dari kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Hahaha, jadi mama duluan yang goda papa." Celetuk Rheana seraya memegangi perutnya.
"Iya." Jawab Mama Mila tertawa. "Gimana nggak mama godain, orang papa ganteng." Tambah Mama Mila.
Cakra berjalan mendekati Rheana, hal itu di sadari oleh papa Wawan dan mama Mila, namun tidak dengan Rheana yang tetap sibuk tertawa.
"Selamat pagi." Sapa Cakra seraya mencium kening istrinya.
Rheana berdecak, ia mendorong pelan Cakra karena malu dengan tindakan suaminya yang tiba-tiba.
"Akhirnya bangun juga. Sini duduk, kita sarapan." Tutur Mama Mila menepuk kursi di sebelah Rheana.
Cakra duduk di sebelah istrinya yang sibuk mengambil makanan untuk sarapan. Ia tidak melihat makanan di depannya, bagi Cakra melihat Rheana lebih enak.
"Jangan melihat istrimu terus, cepat habiskan sarapannya." Tegur Papa Wawan.
Rheana lantas menoleh, dan benar saja bahwa Cakra sedang memperhatikannya. Pandangan mereka bertemu, dan terkunci.
Tangan Cakra terulur untuk menyelipkan anak rambut Rheana ke belakang telinga wanita itu.
"Cantik banget sih bunda." Puji Cakra sangat pelan, sehingga hanya Rheana yang mendengarnya.
Rheana tidak menyahut, ia mengalihkan pandangannya dari sang suami.
"Cakra, kamu jadi antar Rheana kan?" tanya Mama Mila.
"Jadi, Ma. Aku akan antar Rheana cek kandungannya sebelum ke kantor." Jawab Cakra menganggukkan kepalanya.
Kening papa Wawan mengkerut. "Kantor? Memang kamu sudah merasa baik mau pergi ke kantor?" tanya Papa Wawan.
"Iya, Cakra. Jika kamu masih belum sehat, jangan memaksakan ke kantor." Tambah Mama Mila.
Cakra terkekeh. "Aku sudah sehat, Ma. Semalam Rheana memberiku obat yang sangat enak." Ujar Cakra seraya melirik istrinya.
Rheana yang saat itu sedang minum langsung tersedak, hal itu membuat Cakra langsung menepuk pelan punggung istrinya.
"Pelan-pelan, Sayang." Tegur Cakra lembut.
Rheana menatap Cakra dengan tajam. Benar-benar kurang ajar suaminya itu. Bisa-bisanya Cakra bicara soal kejadian semalam.
"Jadi udah nengok baby dia, Ma." Celetuk Papa Wawan terkekeh.
Mama Mila ikut tertawa, hal itu semakin membuat Rheana berapi-api kepada suaminya. Sementara Rheana kesal, Cakra malah biasa saja, malah ia senang sekali.
__ADS_1
EMANG MBAK RHEANA DOKTER PALING TEPAT YA MAS CAKRA 🙈🤣
Bersambung..........................