
Rheana baru selesai bersiap-siap, hari ini ia ada janji bertemu dengan Faraz untuk makan siang bersama, sekaligus mencari buku yang sedang Rheana inginkan.
Rheana memakai dress selutut berwarna cream dan rambut yang ia biarkan tergerai indah. Rheana menyemprot parfum ke beberapa titik tubuhnya.
"Kita jalan-jalan dulu sama om Faraz hari ini ya, Sayang. Kamu senang kan karena nggak di rumah terus." Celetuk Rheana seraya mengusap perutnya yang semakin hari semakin terlihat besar.
Usia kandungan Rheana sudah mau 4 bulan, wanita itu semakin merasa tidak sabar untuk kelahiran anak pertamanya ini.
Rheana yakin, saat baby nya lahir nanti, pasti ia akan sangat bahagia. Ia tidak akan merasa kesepian lagi, dan jutsru penuh tawa karena kelucuan anaknya.
"Rhea, Oma sama Opa mauā" Ucapan Oma Siwi yang baru masuk ke dalam kamar terhenti saat melihat cucunya sudah cantik.
"Eh, Nak. Kamu sudah cantik, mau kemana?" tanya Oma dengan senyuman hangat.
"Aku ada janji makan siang dengan teman SMA ku, Oma. Yang waktu itu aku ceritakan, aku bertemu di mall." Jawab Rheana seraya meraih tas selempang miliknya.
Oma Siwi tersenyum manis, ia mengusap kepala cucunya dengan penuh kasih sayang.
"Ya sudah, hati-hati ya. Oma dan Opa juga harus pergi bertemu teman-teman, jika ada sesuatu segera kabari Oma." Tutur Oma Siwi dibalas anggukan kecil oleh Rheana.
Oma dan Opa Rheana pergi duluan, sementara Rheana memilih untuk meminum susunya dulu karena tadi pagi belum sempat meminumnya.
"Nona Rheana, anda cantik sekali. Sudah mau pergi?" tanya kepala pelayan dengan sopan.
"Iya, aku ada temu janji dengan temanku." Jawab Rheana ramah, setelah itu barulah wanita itu pergi.
Rheana pergi dengan diantar oleh sopir, ia menuju tempat yang sudah dikirimkan alamatnya oleh Faraz tadi.
Saat sampai di sana, restoran tampak cukup ramai, dan ia melihat seorang pria yang ia kenali berdiri di depan pintu sambil melambaikan tangannya.
"Pak, nanti jemput ya." Ucap Rheana pada sopir pribadinya.
"Tentu, Nona. Saya akan menunggu saja, sudah ditugaskan oleh tuan dan nyonya besar tadi." Balas sopir bule itu dengan sopan dan bahasa asal sana.
Rheana mengangguk paham, ia pun segera menghampiri Faraz yang masih setia menunggunya.
"Hai." Sapa Faraz dengan hangat.
__ADS_1
"Hai, sudah reservasi kan?" tanya Rheana seraya berjalan masuk di sebelah Faraz.
"Sudah dong, masa iya aku ajak bumil jalan-jalan belum reservasi." Jawab Faraz sambil tertawa.
Rheana ikut tertawa, ia yang tidak tahu di meja mana akhirnya mengikuti saja Faraz berjalan. Ternyata mereka ke meja VIP.
"Wahh, kamu beneran udah sukses ya." Celetuk Rheana bermaksud menggoda temannya ini.
"Amin, padahal aku masih karyawan biasa." Balas Faraz tersenyum.
Faraz menarik kursi untuk Rheana duduk, kemudian di susul olehnya duduk. Kini mereka duduk berhadapan, dan tidak menunggu makanan saja.
"Sudah pesan makanan juga?" tanya Rheana menyipitkan matanya.
"Sudah, Nona." Jawab Faraz lembut.
Rheana terkikik. "Eh btw, kamu kerja dimana?" tanya Rheana sekedar mengisi obrolan mereka
"Perusahaan asal Indonesia, dan cukup terkenal kalau disana, disini mungkin belum terlalu." Jawab Faraz menaik turunkan alisnya, ceritanya ia sedang pamer dengan Rheana.
Rheana lagi-lagi tertawa, bertemu dengan Faraz lagi membuatnya bisa awet muda karena tertawa terus.
"Ngapain lamar pekerjaan, kamu aja cucunya tuan Chandra." Celetuk Faraz sambil tertawa bahkan sampai memegangi perutnya.
Rheana memukul pelan tangan Faraz. "Hentikan tawa mu itu, kita bisa jadi pusat perhatian." Bisik Rheana melirik sekitar.
Mendengar itu membuat Faraz sadar bahwa saat ini mereka ada ditempat umum. Image sebagai manager tegas akan luntur jika ada salah satu bawahannya yang melihatnya.
"Maafkan aku." Ucap Faraz kembali duduk dengan benar.
"Jadi apa nama perusahaannya?" tanya Rheana penasaran.
"Dharmawan Corporation, Dharmawan group." Jawab Faraz seraya membenarkan pakaiannya sendiri.
Rheana yang sedang tersenyum tiba-tiba menegang. Ia kenal nama itu, ia kenal marga keluarga itu, karena sampai hari ini namanya pun tersemat nama itu.
"F-Faraz, kamu kenal ceo nya?" tanya Rheana sedikit gugup.
__ADS_1
"Hanya tahu, tidak kenal. Aku juga belum pernah melihatnya secara langsung," jawab Faraz dengan santai, tanpa tahu yang Rheana rasakan saat ini.
"Siapa ceo nya?" tanya Rheana tanpa menatap temannya, ia tidak mau pria itu melihat matanya yang sudah berkaca-kaca.
Belum sempat Faraz menjawab, makanan pesanan mereka datang. Rheana dan Faraz pun mulai menyantap makanan, dan sejenak melupakan obrolan tadi.
"Setelah ini kita pergi cari buku jadi?" tanya Faraz seraya menyuap satu potong steak ke dalam mulutnya.
"Jadi, tapi kalo kamu sibuk aku bisa pergi sendiri." Jawab Rheana.
"Aku bisa kok." Timpal Faraz dengan cepat.
Rheana tersenyum kecil, ia pun lanjut menyantap makanan miliknya. Ia akan bertanya nama ceo tadi kepada Faraz, dan semoga saja perkiraan Rheana salah.
Setelah makan, mereka pun segera pergi meninggalkan restoran untuk ke toko buku. Saat di pertengahan jalan, telepon genggam Faraz tidak henti berdenting.
"Faraz, ponselmu sejak tadi bunyi terus. Banyak pesan masuk seperti nya," ucap Rheana pelan.
"Iya, di grup kantor sedang ramai pembicaraan tentang ceo kami yang sedang mencari wanita. Entah siapa, aku tidak menyimaknya." Balas Faraz menjelaskan.
Jantung Rheana berdegup kencang mendengar penuturan Faraz.
"Nama ceo nya siapa?" tanya Rheana tanpa menatap temannya itu.
"Cakra Dharmawan." Jawab Faraz dengan santai.
Botol minuman di tangan Rheana langsung jatuh dan membasahi bajunya saat mendengar jawaban dari Faraz.
"Astaga, Rhea. Bajumu basah semua," ucap Faraz terkejut.
"Faraz, bisa kita pulang saja?" tanya Rheana pelan.
"Iya, aku akan antar kamu pulang." Jawab Faraz mengangguk.
Rheana menundukkan kepalanya, ia memegangi dadanya yang sedang berdetak tidak karuan.
Siapa wanita yang dicari oleh Cakra, apakah Velia atau dirinya? Namun sepertinya bukan dia.
__ADS_1
ADUHH RHEAAAAAš¤£
Bersambung..............................