
Terlihat seorang pria ketakutan saat sadar bahwa rumahnya di datangi 2 pria berpakaian dinas kepolisian. Seluruh tubuh pria itu gemetaran, karena takut akan di penjara.
Rizi Mahesa, pria itu berusaha untuk kabur melalui pintu belakang rumahnya dan menemui kedua orang tuanya untuk meminta bantuan. Sayangnya, kedua orang tuanya saat ini sedang sama-sama sibuk mengurus kasus orang di pengadilan sehingga teleponnya tidak aktif.
Rizi berhasil kabur, ia melompat dari tembok rumahnya, dan lari menjauh dari rumah sebelum para polisi itu menemukannya.
Sambil berlari, tangan Rizi tidak henti mengepal. Ia tahu, ia tahu siapa pelaku yang sudah melaporkannya ke polisi.
"Ryan, brengsekk." Umpat Rizi dengan penuh emosi.
"Dan kau Abel, aku akan membuat hidupmu sangat menderita. Akan ku bunuh ibu dan juga dirimu sebelum aku mendekam di penjara. Itu janjiku." Tambah Rizi dengan emosi yang menggebu-gebu.
Rizi akan menyusun rencananya dulu, ia akan bergerak cepat karena tahu bahwa sekarang ia sudah dalam kondisi yang dicari-cari pihak kepolisian.
Rizi pulang ke rumah orang tuanya setelah menggunakan jasa ojek pangkalan. Setelah membayar, ia pun masuk ke dalam rumah itu dan pergi ke kamarnya sendiri.
"Ryan sialann, awas saja kalian berdua." Geram Rizi seraya menjambak rambutnya sendiri.
Sementara Rizi sedang ketakutan, Ryan dan Abel justru sedang mengobrol sambil menikmati ice cream di tangan masing-masing.
Ditemani dengan keramaian sore membuat mereka semakin senang. Ryan sengaja mengajak Abel untuk makan ice cream agar gadis itu tidak sedih lagi tentang kesehatan ibunya.
"Nanti malam ke rumah mama gue yuk!" ajak Ryan dengan entengnya.
"Ngapain?" tanya Abel bingung.
Abel bertanya bukan karena tidak mau, melainkan karena dirinya takut akan di tolak kehadirannya dalam keluarga Ryan yang bukan orang sembarangan.
"Numpang makan, numpang tidur. Bebas deh lo mau ngapain." Jawab Ryan asal-asalan.
"Ryan, kamu sehari aja bisa nggak sih serius kalo di ajak ngomong." Celetuk Abel diakhiri helaan nafas pelan.
"Bisa aja, kalo lawan bicaranya bukan lo." Timpal Ryan membuat Abel benar-benar geram.
Abel mengepalkan sebelah tangannya, lalu memukuli paha Ryan berkali-kali.
"Sakit, daripada lo pukulin mending lo dudukin." Ucap Ryan lalu langsung menutup mulutnya yang telah salah bicara.
"Ryan!" tegur Abel sedikit kencang sampai mengundang tatapan orang-orang sekitar.
"Eh iya iya, Sayang. Maaf ya," balas Ryan meringis kecil.
Abel tidak menjawab, hari yang semakin sore membuatnya sadar bahwa mereka harus bergegas pulang sebelum magrib.
Jika saja sang mama sadar, pasti Abel akan dimarahi karena keluyuran sampai sore hari begini.
__ADS_1
"Ryan, pulang yuk." Ajak Abel seraya membuang bekas ice cream nya ke tempat sampah.
"Iya ayo." Balas Ryan menyahut.
Ryan dan Abel pun beranjak pergi dari alun-alun kota yang ramai itu. Ryan akan mengantar Abel pulang dulu sebelum dirinya pulang ke rumahnya sendiri.
"Mau apa nggak ke rumah mama gue?" tanya Ryan mengulangi pertanyaannya.
"Mau, tapi aku kan belum siap-siap." Jawab Abel menatap dirinya yang sudah seperti gembel menurutnya.
"Nggak masalah, lo tetap cantik." Timpal Ryan jujur.
"Kamu pasti bohong!" cicit Abel pelan seraya menundukkan kepalanya.
"Iya, emang bohong." Sahut Ryan bercanda, karena ia memang jujur memuji gadis tadi. Abel benar-benar cantik.
Abel menekuk wajahnya. "Tuh kan, yaudah aku nggak mau pergi sekarang." Tolak Abel seraya melipat tangan di dada.
Ryan tertawa, ia mengacak rambut Abel dengan gemas.
"Gue bercanda, Abelia. Lo masih cantik kok," ucap Ryan dengan jujur.
"Ke rumah mama gue sekarang ya." Tambah Ryan merayu.
"Yaudah iya." Balas Abel menganggukkan kepalanya.
Ryan pun segera mengendarai mobilnya menuju rumah, ia akan mengajak Abel berkenalan oleh kedua orang tuanya.
Tidak terasa akhirnya mereka sampai di rumah Chandrama. Ryan dan Abel keluar bersama dari mobil.
Abel benar-benar dibuat kagum oleh rumah keluarga Ryan yang besar dan megah, bahkan mirip dengan rumah-rumah dalam dongeng.
Hal itu semakin membuat Abel insecure, ia bukan dari anak orang kaya, tapi bisa berteman baik dengan Ryan yang anak konglomerat.
"Kok lo ngelamun, ayo masuk." Ajak Ryan menarik tangan Abel.
Abel sedikit merapikan rambutnya, jangan sampai ia terlihat berantakan di depan orang tua Ryan dan berakhir melarangnya untuk berteman dengan putra mereka.
"Assalamualaikum, Mama!!" panggil Ryan berteriak.
"Nah itu dia anaknya pulang, Pa." Celetuk Mama Erina seraya berjalan dari arah kamarnya.
"Darimana kamu, Nak?" tanya Papa Rama pelan.
Abel menatap kedua orang tua Ryan dengan tanpa berkedip. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali saat melihat ibunda Ryan.
__ADS_1
Abel yakin pasti wajah ibunya Ryan dan wajahnya, masih cantikan ibunya Ryan.
"Main sebentar, Pa." Jawab Ryan seraya menyalami tangan kedua orang tuanya.
"Kamu bawa siapa ini, Ryan?" tanya Mama Erina dengan senyuman.
"Dia Abel, Ma. Temanku, dia juga datang ke acara nikahan kak Velia waktu itu." Jawab Ryan memperkenalkan.
Abel tersenyum manis, ia menyalami tangan kedua orang tua Ryan dengan sopan.
"Halo Om, Tante. Kenalin, aku Abel. Temen kuliahnya Ryan," ucap Abel sopan.
"Oh iya, ayo duduk Nak." Ajak Mama Erina dengan ramah.
Abel tersenyum canggung, ia tidak menyangka bahwa kedua orang tua Ryan sangat baik dan ramah, terutama mamanya.
"Papa nggak nyangka ada gadis yang mau temenan sama kamu, Ryan. Kamu kan juteknya lebih-lebih dari perempuan." Celetuk Papa Rama meledek putranya.
"Papa, walaupun aku jutek dan menyebalkan, tapi anak papa ini tampan." Sahut Ryan dengan percaya diri.
"Abel, kamu kesusahan nggak temenan sama Ryan?" tanya Mama Erina.
"Enggak kok, Tante. Aku yang lebih banyak nyusahin Ryan, dia bantu aku terus." Jawab Abel jujur.
"Oh iya?!" Tanya Papa Rama dan Mama Erina bersamaan.
"Ma, Pa." Tegur Ryan berdecak sebal.
Melihat reaksi kedua orang tuanya, membuat mereka benar-benar tidak percaya bahwa anak mereka ini bisa membantu orang.
"Nggak nyangka mama kamu ada manfaatnya juga buat orang lain." Celetuk Papa Rama terkekeh.
"Astaga!" Ryan memegangi dadanya yang terasa nyeri mendengar penuturan papanya barusan.
Sementara Mama Erina dan Abel tertawa melihat reaksi yang ditunjukkan Ryan.
Abel menatap Ryan dengan sendu, ia sangat iri kepada orang seperti Ryan. Bukan iri karena dia anak orang kaya, melainkan iri karena memiliki orang tua yang masih lengkap dan harmonis.
Ryan juga punya kakak yang sangat menyayanginya. Pasti Ryan tidak pernah merasa sedih selama ini.
Abel tersenyum, matanya berkaca-kaca jika mengingat perbandingannya sendiri. Ia hanya seorang diri saat ini, ibunya sakit dan belum juga sadar. Sementara ayahnya sudah tiada. Ia juga tidak memiliki saudara kandung di dunia ini.
NIKAH SAMA RYAN MAU? BIAR KELUARGA KAMU LENGKAP??
Bersambung............................
__ADS_1