Dinikahi calon kakak ipar

Dinikahi calon kakak ipar
Rindu keluarga


__ADS_3

Rheana melamun di balkon kamarnya dengan pikiran yang melayang. Pernikahannya dan Cakra sudah berjalan lebih dari sebulan, dan sampai hari ini semua keluarganya ataupun keluarga Cakra belum mau menerimanya.


Rheana rindu pada kedua orang tuanya, ia ingin sekali pulang dan menangis dalam pelukan ibunya. Rheana ingin makan masakan ibunya, ia ingin merajuk sampai membuat kedua orang tuanya kelimpungan.


Rheana merindukan itu semua.


“Sayang.” Cakra masuk ke dalam kamar untuk mengajak istrinya sarapan.


Rheana hanya pamit untuk membersihkan kamar mereka, namun Cakra sudah menunggu lama dan istrinya tidak kembali sehingga Cakra memutuskan untuk memanggil sang istri.


Rheana yang mendengar suara suaminya lantas menyeka air matanya yang hampir menetes, ia tidak mau terlihat sedih di depan suaminya.


“Kak, aku membuatmu menunggu ya. Sudah selesai sarapannya?” tanya Rheana seraya mendekati suaminya.


Cakra menggeleng seraya melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping sang istri.


“Belum, aku menunggu kamu.” Jawab Cakra lembut.


Rheana ikut mengalungkan tangannya di leher sang suami yang sudah rapi ingin berangkat bekerja. Ia tadi hanya izin untuk merapikan kamar, namun karena terbawa pikiran tentang keluarganya sampai membuat sang suami menghampirinya.


“Maaf ya membuat kamu menunggu, ayo kita sarapan.” Ajak Rheana seraya menggandeng tangan suaminya.


“Tidak apa-apa, Sayang. Oh iya, hari ini kamu jam berapa ke kampus?” tanya Cakra seraya mengusap tangan Rheana yang berada di pergelangan tangannya.


"Jam 10 Kak, itupun hanya satu mata kuliah saja dan aku sedikit malas." Jawab Rheana jujur.


Cakra terkekeh. "Ya sudah, jika kamu tidak mau masuk ya nggak apa-apa." Timpal Cakra semakin membuat Rheana terbahak.

__ADS_1


"Tidak, kau sudah membiayai aku. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang kamu berikan." Ujar Rheana langsung.


Cakra hanya tersenyum simpul, ia menarik kursi untuk istrinya duduk, sementara itu Cakra duduk di hadapan istrinya tepat.


"Oh iya, Mas. Besok jadi pergi?" tanya Rheana teringat pada rencana perjalanan dinas Cakra.


"Jadi, Sayang. Kamu tolong bantu aku kemas ya nanti malam, karena aku harus berangkat pagi sekali." Jawab Cakra yang dibalas anggukan kecil oleh Rheana.


Selesai sarapan, Rheana mengantar suaminya sampai kedepan pintu. Rheana berdehem saat Cakra ingin pergi begitu saja.


"Aku lupa, ciuman di pagi hari sebelum berangkat bekerja." Ucap Cakra lalu mencium kening dan seluruh wajah Rheana tanpa ada yang terlewat.


Rheana terkekeh, ia tidak menolak ciuman yang suaminya berikan, bahkan pasrah.


"Hati-hati dijalan ya, Kak." Tutur Rheana lalu mencium punggung tangan suaminya.


Sementara itu di tempat lain, terlihat satu keluarga dan seorang wanita yang bukan bagian keluarga sedang sarapan bersama.


"Fikri, apa kamu tidak akan berusaha mencari keluarga Velia?" tanya Amar, ayah Fikri.


Fikri yang sedang menyantap sarapan nya lantas terhenti, ia menoleh ke arah Velia yang juga terdiam.


"Tentu saja aku berusaha, Pa. Tapi aku tidak tahu harus mencari darimana, aku juga ingin Velia bertemu dengan keluarganya yang mungkin saja sedang mencarinya." Jawab Fikri.


Ani menatap Velia, ia sebenarnya tidak asing dengan wajah wanita yang ditolongnya itu, namun ia belum berani mengatakannya.


"Ma, kenapa?" tanya Fikri saat sang Mama terus menatap Velia.

__ADS_1


"Tidak, mama hanya sedang berpikir bagaimana jika Velia bertemu dengan keluarganya, mama pasti kesepian." Jawab Mama Ani pelan.


Velia tersenyum manis. "Tante, jika nanti aku bertemu dengan keluargaku, aku tidak akan lupa pada kalian. Kalian sudah menolongku, tidak mungkin aku akan melupakan kalian." Timpal Velia dengan sopan.


Fikri dan keluarganya menyukai Velia karena wanita itu sopan dan rajin, terkhususnya untuk Fikri yang memang menaruh perasaan pada wanita itu.


"Aku ada kelas jam 10 nanti, jadi aku akan tidur sebentar. Semalam aku hanya tidur sebentar," celetuk Fikri setelah menyudahi sarapannya.


"Mau aku buatkan sesuatu?" tawar Velia tiba-tiba.


Fikri menoleh. "Tidak, Vel. Terima kasih tawarannya, aku ke kamar duluan ya." Balas Fikri hendak pergi namun dihentikan oleh sang papa.


"Besok tolong gantikan papa ke Surabaya ya." Ucap Amar tiba-tiba.


"Kok tiba-tiba, Pa?" tanya Fikri kaget.


"Papa lupa, lagian kamu ini dibilang nggak usah lanjut sekolah, dan mending kerja." Jawab Papa Amar protes.


Fikri tertawa pelan. "Baiklah, besok aku akan pergi." Balas Fikri pasrah.


"Ajak Velia sekalian, kasihan dia dirumah terus." Ujar Mama Ani menyarankan.


Fikri menatap Velia yang hanya diam seakan sedang menantikan jawaban darinya.


Fikri tersenyum simpul, kemudian pergi meninggalkan meja makan untuk tidur kembali sebelum ke kampus nanti.


SAMA-SAMA KE SURABAYA GUYS :((

__ADS_1


Bersambung...................................


__ADS_2