
Rheana menatap Cakra dengan penuh pertanyaan. Ia tidak tahu mengapa Cakra membawanya kesana, karena sejak tadi pria itu hanya diam saja.
"Untuk apa kita kesini, Kak?" tanya Rheana untuk yang kesekian kalinya.
Cakra menoleh. Menenggak minuman kaleng ditangannya lalu mendekati Rheana.
"Pertanyaannya harus diganti, apartemen siapa ini." Ralat Cakra pelan.
Rheana terdiam, ia mengiyakan secara diam ucapan Cakra. Perkataan Cakra barusan juga sempat ada di otak Rheana.
"Ya, Kak. Apartemen siapa ini?" tanya Rheana.
"Apartemenku, tempat yang akan menjadi rumah kita selanjutnya." Jawab Cakra, dan tidak lupa senyuman evil diwajahnya.
Rheana mengerutkan keningnya, tidak paham tujuan Cakra mengajaknya kesana.
Tempat yang menjadi tujuan Cakra dan Rheana adalah apartemen, dan bukan tempat yang aneh-aneh.
Alasan Cakra membawa istrinya kesana masih belum diketahui oleh siapapun, kecuali author.
"Untuk apa, bukankah kau sudah ada rumah?" Tanya Rheana bingung.
Cakra terkekeh. "Memang benar, tapi disana aku terlalu memanjakan mu." Jawab Cakra.
Rheana menahan nafas. Cakra bilang memanjakannya? Padahal hanya ada penyiksaan siang dan malam.
"Di rumah utama, terlalu banyak pekerja yang membantumu, tapi disini tidak." Ujar Cakra lagi.
__ADS_1
Rheana semakin bingung, dan kebingungannya disadari oleh Cakra.
"Kesimpulannya, di apartemen ini kita hanya akan tinggal berdua. Kau akan mengurus segala pekerjaan di rumah ini, seperti mencici, masak, dan lain-lain." Jelas Cakra panjang.
"Aku tidak akan membiarkan ada seorang art yang membantumu disini." Ucap Cakra lagi.
Rheana tersentak, namun ia berusaha untuk tetap biasa saja.
"Tapi bagaimana aku akan melakukannya, sementara kau sudah mengizinkanku melanjutkan kuliahku?" tanya Rheana.
"Itulah yang aku sebut sebagai imbalan. Aku mengizinkan mu kuliah, bukan berarti aku membebaskan mu begitu saja." Jawab Cakra cuek.
Rheana menggeleng pelan. Ia memang bukan anak yang manja, namun jika masalah pekerjaan rumah tangga yang mendetail, tentu saja ia tidak tahu.
"Kak, aku tidak–" ucapan Rheana terhenti.
Rheana menarik nafas lalu membuangnya perlahan. Ia akan mengurus Cakra dan apartemen itu seorang diri.
Apa yang Cakra berikan sekarang memang tanggung jawabnya sebagai istri, namun ia berkuliah dan waktunya bisa saja bentrok.
"Kenapa kau melakukan ini, Kak? Kau tahu bahwa waktu kuliahku akan sangat bentrok dengan jadwalmu." Ucap Rheana pelan.
"Rhea, ingatlah bahwa kau hanya objek balas dendam, dan bukan istriku. Jadi, inilah yang memang seharusnya kau dapatkan." Sahut Cakra.
Cakra berjalan mendekati meja televisi, ia membuka laci kemudian mengambil beberapa kertas yang telah di klip menjadi satu.
"Baca ini!" Cakra melempar kertas-kertas itu ke wajah Rheana.
__ADS_1
Rheana menerimanya dengan terburu-buru, ia tidak siap dan hampir saja menjatuhkan kertas-kertas tadi.
"Apa ini?" Gumam Rheana mulai membolak-balik halaman.
Rheana telah membaca isinya, dan ia hampir saja mengeluarkan bola matanya saat melihat jadwal yang Cakra tuliskan.
"Siapa yang bangun jam empat subuh hanya untuk menyetrika pakaian?" tanya Rheana dengan polos.
"Kau." Jawab Cakra singkat.
Rheana menahan nafas. Jadwal yang Cakra berikan sangat diluar nalar, apalagi ada beberapa jadwal yang diyakini akan bentrok dengan jadwal kuliahnya.
"Bagaimana bisa aku memasak makan siang, sementara aku kuliah?" Tanya Rheana bingung.
Cakra menatap Rheana dengan penuh kekesalan.
"Cukup! Aku memberimu hukuman ini bukan untuk menerima banyak pertanyaan darimu." Protes Cakra.
"Kerjakan semuanya mulai besok, aku tidak mau jika kau lalai dalam tugasmu, sebagai seorang pelayan di rumah ini." Tekan Cakra diakhir kalimat.
Rheana menatap Cakra dengan nanar, ia sedikit sakit hati dengan ucapan Cakra yang menyebutnya sebagai seorang pelayan.
"Aku istri kamu, Kak."
WALAHHH, GIMANA TUH??
Bersambung......................
__ADS_1