
Dekorasi putih dan biru muda membuat pelaminan tempat diadakannya pesta pernikahan tampak indah dan lembut.
Nuansa keromantisan pun kental karena taburan bunga mawar merah dan juntaian karpet merah di lantai sebagai jalan para tamu untuk sampai kepada kedua mempelai.
Di atas pelaminan, tampak seorang gadis dan pria yang baru saja menyandang status baru mereka, yaitu sebagai sepasang suami istri.
Senyuman merekah tidak pernah hilang dari wajah keduanya tatkala setiap jepretan kamera menyorot mereka.
Hari ini adalah hari paling dinantikan oleh keduanya, hari dimana mereka bisa hidup bersama selamanya sebagai pasangan yang sah dan halal.
3 tahun, selama itu mereka harus menunggu agar bisa menikah. Bukan apa, keluarga mereka hanya ingin keduanya lebih dewasa sebelum pernikahan dilangsungkan dan sudah beres dengan pendidikan masing-masing.
"Kamu haus nggak, Sayang?" Tanya Ryan dengan lembut.
Tangan Ryan mengusap punggung tangan istrinya yang menggandeng mesra tangan kirinya.
Abel tersenyum dengan manis, ia menatap pria tampak dengan jas abu-abu itu dengan tatapan penuh cinta.
"Nggak, aku cuma sedikit pegal." Jawab Abel lalu menunjukkan kakinya yang memakai high heels.
Tujuannya memakai sepatu hak begitu adalah agar foto dirinya dan Ryan tampak bagus. Pasalnya tinggi Abel tidak lebih dari bahu Ryan.
"Duduk sini." Ryan mendorong pelan tubuh istrinya agar duduk di kursi pelaminan.
Ryan pun ikut duduk, ia menggenggam tangan istrinya lalu menatap jari manis yang tersemat cincin pernikahan mereka.
"Akhirnya kita sah juga ya, udah lama nunggu momen ini." Ucap Ryan tanpa menatap istrinya.
Abel membalas genggaman tangan suaminya, ia mengangguk menyetujui ucapan Ryan barusan. Mereka berdua memang menantikan hal ini sejak lama.
"Untung kita sama-sama sabar dan setia ya, Ryan." Timpal Abel tersenyum lebar.
Ryan menatap wajah istrinya yang tambah cantik dengan riasan dari mua pilihan Rheana.
"Panggil apa tadi?" tanya Ryan mengangkat kedua alisnya.
"Panggil apa ya, nggak panggil apa-apa deh kayanya." Jawab Abel tersenyum menggoda.
Ryan menunduk, ia mencium punggung tangan istrinya dengan gemas. Jika bisa sih mau cium wajah, tapi sadar mereka masih harus menerima tamu.
__ADS_1
"Nggak sabar mau malam pertama." Bisik Ryan dengan wajah menggodanya.
Abel melotot, ia memukul lengan suaminya dengan kesal. Ia juga menatap ke sekitar, khawatir akan ada yang mendengar ocehan pria di depannya ini.
"Mulut kamu minta dicium." Celetuk Abel menanggapi godaan suaminya.
Ryan tergelak, tentu saja ia ingin dicium dan mencium serta menikmati malam indah sebagai pasangan yang sah.
"Duhh, pengantin baru ketawa-tawa terus ya, bahagia ya?" tanya mama Erina yang tiba-tiba datang.
"Iya dong, Ma. Mana ada orang nikah malah nangis di atas pelaminan." Jawab Ryan tertawa.
"Ada, coba kamu papa jodohin sama tetangga depan rumah. Kamu nangis nggak?" tanya papa Rama menggoda putranya.
Abel menahan tawa ketika melihat ekspresi wajah suaminya, tentu ia tahu tetangganya yang dimaksud oleh papa mertuanya itu.
"Ya nangis lah, Pa. Aku mending kabur deh daripada nikah sama botita gitu." Jawab Ryan membuat ketiganya tertawa.
Mama Erina mengusap kepala menantunya, ia sangat berharap pernikahan Ryan ini akan sama bahagianya dengan pernikahan kedua anaknya yang lain.
Ryan akan tetap tinggal bersamanya, mama Erina tidak mau ditinggal oleh anak-anaknya.
"Kamu temui Rheana sama Cakra dulu gih, mereka mau pulang. Kasihan Rheana nya mual-mual terus." Tutur mama Erina pada keduanya.
"Ya ampun, iya deh Ma." Timpal Abel lalu mengajak suaminya untuk menemui kakak iparnya.
Sementara itu di sudut pesta, terlihat empat orang dengan dua laki-laki dan dua perempuan sedang duduk bersama.
Satu diantara dua wanita itu tampak pucat karena faktor kehamilannya yang masih muda membuatnya mual-mual terus, apalagi mencium bau-bau aneh menurutnya.
"Pulang aja, Rhe. Wajah kamu udah pucat gitu," tutur Velia kepada adiknya.
"Iya, Cakra. Bawa istrimu pulang dan suruh istirahat." Tambah Fikri yang juga ada disana.
Cakra menatap istrinya, ia tidak henti mengusap punggung sang istri dengan lembut.
"Sayang, pulang yuk." Ajak Cakra lembut.
Rheana menggeleng, ia tidak mungkin meninggalkan pesta pernikahan adiknya begitu saja.
__ADS_1
"Kakak!!" Ryan dan Abel datang kemudian langsung mendekati Rheana.
"Kak, kau mual-mual ya. Pulang saja, Kak. Tidak apa-apa," tutur Ryan langsung.
"Apaan sih, lebay." Timpal Rheana.
Baru bicara begitu Rheana langsung memalingkannya wajahnya untuk menahan rasa mual.
"Kak Rhea pulang aja nggak apa-apa, lagipula semuanya sudah selesai. Kakak lagi hamil, nggak baik terlalu lelah." Tutur Abel dengan lembut.
"Udah pulang aja. Ayla biarin, kan ada kakek neneknya, kalo mertua kamu mau pulang duluan, nanti kita yang antar Ayla pulang." Ucap Velia menimpali.
Akhirnya setelah paksaan dari kakak dan juga adiknya, Rheana mau untuk pulang. Ia ingin merebahkan diri dan tidur karena rasanya ia benar-benar lemas.
Rheana terpaksa meninggalkan putrinya sebab Ayla tampak masih asik dengan Cilla untuk bermain.
"Ma, Pa. Aku sama Rheana pulang duluan ya, jika kalian mau pulang tidak apa-apa, nanti Ayla pulang dengan Fikri." Ucap Cakra pada kedua orang tuanya.
"Ya ampun pucat banget wajah kamu, Rhe. Sudah sana pulang saja, Ayla biar sama kami." Tutur mama Mila.
"Aku pulang ya, Ma, Pa." Pamit Rheana mencium punggung tangan kedua mertuanya.
"Hati-hati ya." Tutud papa Wawan.
Rheana dan Cakra akhirnya pergi, sebelumnya mereka juga sudah pamit dengan papa Rama dan mama Erina. Mereka berdua tentu mengizinkan.
Cakra menggendong istrinya tanpa peduli pada tatapan para tamu. Ryan dan Abel yang menikah, tapi mereka berdua yang romantisan.
Rheana sendiri tidak menolak, ia mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami dan membenamkan wajahnya di dada bidang Cakra.
"Kasihan banget Istriku ini." Bisik Cakra lalu mencium puncak kepala istrinya.
Rheana hanya bergumam, ingin rasanya ia mengoceh pada suaminya lalu mengatakan bahwa ia lemas seperti ini karena perbuatannya yang membuat ia hamil lagi.
Walaupun begitu, Rheana juga sama bahagianya dengan Cakra.
BAB PERTAMA DI 2023, KALIAN HEALING KEMANA??
Bersambung..................................
__ADS_1