
Cakra membuka pintu kamar dengan perlahan. Ada harapan besar di hati Cakra, bahwa saat ia menyalakan lampu kamar nanti, ia akan melihat tubuh istrinya berbaring disana.
Namun nihil, harapannya tidak terkabulkan. Tidak ada siapapun di kamar itu, bahkan kamar terlihat masih begitu rapi.
Cakra masuk dengan langkah yang gontai, ia memejamkan matanya, menghirup dalam-dalam udara kamar yang bercampur dengan aroma tubuh istrinya.
Cakra menatap meja rias, ia biasa melihat Rheana duduk di sana. Tatapannya beralih ke arah lemari pakaian.
Cakra berjalan mendekati lemari pakaian, kemudian membukanya. Terlihat baju-baju istrinya masih tersusun rapi di sana.
Rheana pergi tanpa membawa apapun.
"Kamu pergi kemana, Sayang." Gumam Cakra sedih, sambil mengusap salah satu baju Rheana.
Cakra mengambil dress Rheana, ia peluk baju itu seraya dirinya berjalan ke arah ranjang, sisi dimana Rheana biasanya berbaring di sana.
Cakra merebahkan tubuhnya, ia semakin mengeratkan pelukannya pada baju Rheana, berharap bahwa saat ini tubuh istrinya lah yang ia dekap.
"Kak Cakra." Cakra membuka mata dan terkejut melihat Rheana sedang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Sayang!!" binar mata Cakra terlihat jelas, ia dengan cepat mendekati pintu kamar, dimana ada istrinya.
Cakra hendak memeluk, namun semua itu hanya khayalan belaka. Rheana tidak ada di sana, Rheana sudah pergi meninggalkan nya.
Cakra keluar dari kamar, ia melihat ruang tamu dan dapur, tempat biasanya Rheana akan memasak dan menyajikan kopi tanpa Cakra minta.
"Hahaha, lucu ya Kak filmnya." Tawa Rheana terdengar di telinga Cakra saat mereka menyaksikan film bersama dulu.
"Hari ini kamu mau makan apa? Jangan jawab terserah karena itu akan menyusahkan ku."
"Kak Cakra, aku rindu."
"Kak Cakra, ayo makan. Aku sudah memasak makan malam untuk kamu."
"Kak Cakra, sakit!!! Hiks … lepaskan aku!!"
"Aku tidak bersalah, Kak. Aku tidak melenyapkan siapapun."
Cakra jatuh terduduk saat ingatannya berputar tentang bagaimana ia menyiksa Rheana. Setiap senyuman manis yang Rheana berikan selama ini kepadanya, justru ia balas dengan senyuman palsu.
Dan di awal pernikahan mereka, apa yang Cakra lakukan? Ya, menyiksa Rheana tanpa ampun, bahkan Rheana meminta untuk menyudahi siksaannya, Cakra seakan tuli.
"Rheaaaaaaa!!" Cakra berteriak kencang sampai memenuhi apartemennya.
Cakra memukul dirinya sendiri, berharap apa yang Rheana rasakan selama ini bisa hilang dan berganti kepadanya.
__ADS_1
Cakra lebih baik disiksa pukulan oleh Rheana daripada istrinya itu harus pergi meninggalkannya.
"Sayang, aku mohon beri aku kesempatan." Lirih Cakra dengan kedua tangan menutup matanya sendiri.
Cakra tidak bisa hidup tanpa Rheana. Ia mencintai istrinya. Ia butuh Rheana.
Cakra tidak akan terus berkata menyesal, sekarang tugasnya adalah mencari keberadaan istrinya.
Sementara itu di kediaman Chandrama, kedua orang tua Rheana tidak kalah hancur seperti Cakra. Mereka begitu merasa bersalah kepada Rheana yang ternyata tidak bersalah selama ini.
"Pa, Mama mau Rheana kembali." Pinta Mama Erina dengan suara lemah.
Papa Rama mengusap bahu istrinya pelan.
"Papa akan suruh orang untuk mencari Rheana ya, Ma." Balas Papa Rama lembut.
"Nggak, Pa!" larang Ryan dengan tegas.
Mama Erina dan Papa Rama memandang Ryan dengan penuh pertanyaan. Apa maksud teriakan putra mereka itu.
"Jangan cari kak Rheana, biarkan dia mencari kebahagiaannya di luar sana." Jelas Ryan seraya mendekati kedua orang tuanya.
"Kalian pasti nggak tau, kak Rheana merasa sesak hidup diantara mama dan papa, terutama suaminya. Sekarang waktunya dia bahagia, biarkan dia pergi, Ma, Pa." Tambah Ryan mencoba memberi pengertian.
"Bicara apa kamu, Ryan. Rheana anak papa, papa berhak mencari dia," balas Papa Rama.
Ryan tersenyum remeh. "Baru sekarang, Pa? Bahkan papa dulu membiarkan kak Rheana menikahi pria jahat seperti Cakra, papa bahkan nggak nolong kak Rheana saat kak Rhea disiksa di depan mata papa!" timpal Ryan dengan menggebu.
"RYAN!" bentak Mama Erina seraya bangkit dari duduknya.
"Aku senang kak Rheana pergi, dia sudah mengambil jalan yang benar." Ujar Ryan kemudian pergi meninggalkan kedua orang tuanya menuju kamarnya.
Mama Erina kembali menangis dalam dekapan suaminya. Ucapan putranya tadi benar-benar menusuk hatinya. Apa yang Ryan katakan benar semua, ia hanya diam saat Rheana dipaksa menikah dengan Cakra dulu.
"Mama bukan ibu yang baik, Pa." Lirih Mama Erina.
Papa Rama membalasnya dengan usapan lembut, ia juga merasa seperti istrinya karena tidak mempercayai Rheana selama ini.
***
Matahari bersinar dengan begitu terang, memancarkan cahaya yang terasa begitu hangat ditubuh.
Seorang wanita cantik kini tengah berdiri di balkon kamarnya, untuk menjemur diri karena baik untuk kesehatan janin dalam kandungannya.
"Baik-baik diperut Bunda ya, Nak." Ucap Rheana seraya mengusap perutnya.
__ADS_1
"Rheana, Sayang." Panggil seorang wanita paruh baya dibelakang Rheana.
Rheana membalik badan, ia berlari pelan kemudian memeluk wanita paruh baya itu dengan dekapan penuh kehangatan.
"Oma, euummm … selamat pagi." Sapa Rheana kepada neneknya, ibu dari sang papa.
"Pagi juga cucuku, bagaimana tidur kamu semalam?" tanya Oma Eli sambil mengusap wajah cucunya lembut.
"Nyenyak sekali, aku nyaman tidur disini." Jawab Rheana jujur.
Oma Eli terkekeh, begitu pula dengan Rheana. Tawa mereka terhenti saat Opa Chandra datang dengan mata menyipit.
"Kalian tertawa terus, aku sudah lapar menunggu untuk sarapan. Benar-benar ya!" ucap Opa Chandra dengan suara serak karena usianya.
Rheana menggandeng tangan Opa nya. "Maaf ya, Opa …" Rheana memasang wajah seimut mungkin.
Opa Chandra tertawa lalu mencubit pipi Rheana.
"Kau ini, sudah mau punya anak tapi malah masih bertingkah seperti anak-anak." Ledek Opa Chandra.
"Ya sudah, ayo kita sarapan. Sebelum kita pergi ke bandara, penerbangan nya nanti siang jam 2." Ajak Oma Eli.
Rheana bersama kakek dan neneknya pun pergi untuk sarapan bersama. Hari ini, mereka semua akan pergi ke Itali, tempat Opa Chandra dan Oma Eli selama ini.
Nenek dan kakek Rheana memang jarang ke Indonesia, mereka lebih memilih tinggal di Italia karena cuaca salju.
Rheana menghubungi kakek dan neneknya saat Cakra masih diluar kota, niatnya hanya ingin temu kangen sekaligus memberitahu kabar kehamilannya, bahkan kedua orang tuanya saja tidak tahu bahwa kakek dan neneknya ada di Indonesia.
Tetapi semua rencana Rheana hancur karena kenyataan yang ia terima, ia mendatangi kakek dan neneknya yang tinggal di bungalor dan menceritakan semua permasalahannya dengan Cakra.
Kakek dan nenek Rheana murka setelah mendengar cerita cucunya, bahkan Opa Chandra ingin menghajar Cakra dengan tangannya, namun Rheana melarang.
Atas permintaan Rheana juga nanti mereka bertiga akan kembali ke Italia, Rheana benar-benar ingin pergi meninggalkan Cakra, bersama kenangannya.
"Kamu sudah yakin dengan keputusan kamu, Sayang?" tanya Oma Eli lembut.
Rheana tersenyum tipis. "Iya, Oma. Aku ingin pergi, bersama anakku. Aku ingin hidup bahagia dengannya," jawab Rheana pelan.
Suara Rheana sedikit bergetar saat menjawab pertanyaan dari neneknya. Ada rasa sesak di dada Rheana saat mengingat kondisi nya saat ini.
Ia sedang hamil muda, namun ia malah memutuskan untuk pergi meninggalkan suaminya karena telah merasa lelah. Ia lelah dengan segala permainan Cakra, dan sudah saatnya ia pergi.
"Kak Cakra, aku masih mencintaimu dan aku tidak tahu sampai kapan. Aku dan anak kita pergi ya, semoga kamu mendapatkan kebahagiaan kamu setelah ini, begitu juga denganku." Batin Rheana lalu menyuap makanan ke dalam mulutnya.
MBAK RHEA, KAMU HARUS BAHAGIA YA☺️
__ADS_1
Bersambung.......................